Gaun Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

20 Desember 2014
“Enggak usah banyak-banyak. Keluarga inti sama kerabat aja udah cukup rame kan, Mas. Sekalian berhemat buat hidup kita nanti kedepannya.”
“Tapi ini kan sekali seumur hidup, yang. Aku janji bakalan kerja lebih keras dan kamu enggak akan kekurangan apapun.”
“Tapi seribu undangan itu berlebihan, Mas…” Ersa menyentuh lengan calon suaminya itu. Ia beri senyuman tipis dan melanjutkan perkataannya. “Kita undang teman-teman yang bener-bener masih berteman sama kita, teman sekantor kamu, teman kantor aku, teman kerja ayah bunda sama mama papa kamu, ditambah anak yatim. Teman-teman instagram dan facebook kita nanti tau sendiri waktu kamu ngepost foto pernikahan kita.”
“Kalau mereka bilang kok enggak kirim undangan, gimana? Nanti dikira sombong.”
“Kamu umumin aja di wall kamu. Undang secara umum aja. Mubazir cetak undangan banyak-banyak, belum tentu datang juga mereka.”
“Begini ya susahnya nikah sama orang ekonomi.” Huta bukan mengeluh, justru terkekeh. Segalanya bagi Ersa adalah sesuatu yang efektif dan efisien. Calon istrinya itu bukan orang pelit, hanya selalu memilih untuk berbagi dengan siapa. Bukan soal berapa yang akan mereka keluarkan, tapi apakah layak dan pantas menghabiskan uang sebegitu banyak untuk sebuah pesta perayaan yang kebanyakan dihadiri oleh orang-orang yang mampu cari makan sendiri.
“Tujuan kita adain pesta itu kan buat ngasih tau tetangga, kerabat, teman-teman kalau kita udah resmi nikah, biar enggak ada fitnah kalau mereka ketemu kita lagi jalan berdua. Nah sekarang udah ada cara efektif buat umumin itu tanpa harus modal banyak. Upload foto di semua akun sosial media kita, enggak sampai seminggu, aku yakin satu angkatan kita tau semua kalau kita nikah.”
“Iya iya sayang.” Huta mengalah. Ia mencoret hampir setengah dari daftar nama-nama tamu undangan yang ingin diundangnya. “Berarti besok kita udah bisa kasih tau pihak catering, kan?” Esra megangguk. Dibawanya cangkir kosong di atas meja menuju dapur yang ada di belakang mereka, kemudian menuangkan teh hangat ke sana.
“Hari ini ayah pulang telat. Jadinya bunda enggak masak. Kita makan malam di luar aja enggak apa-apa?” Esra menyerahkan cangkir itu pada Huta. Huta meneguknya hingga setengah, kemudian mengangguk.
“Sekalian mampir ke percetakan ya.”

Persiapan pernikahan Esra dan Huta sudah mendekati delapan puluh persen. Wajar saja, hari besar mereka tidak sampai sebulan lagi. Esra bersikeras tidak ingin memakai jasa wedding organizer karena ia yakin bisa mengatasi semuanya. Berbekal izin kerja setengah hari hingga hari pernikahan yang ia dapat dari bosnya, ayahnya sendiri, Esra membuktikan bahwa keyakinannya itu bukan bualan semata. Kebaya tradisional untuk akad, gaun pengantin untuk resepsi, make up artist, wedding cake, interior design, semua sudah diatasi tanpa kendali berarti. Esra memang sosok wanita mandiri dan terorganisir. Tidak salah Huta jatuh cinta padanya.

24 Desember 2014
“Bekal makan siang?”
“Udah semua. Kamu tenang aja.”
“Undangannya!” Huta menepuk jidatnya sendiri. Ia berlari ke lantai atas, menuju kamarnya untuk mengambil satu kantong plastik berukuran sedang yang berisi undangan pernikahannya dengan Esra.
“Tugasnya cuma bawa undangan aja itu pun lupa.” Esra menggeleng heran disambut gelak dari mama Huta.
“Kalian hati-hati ya sayang. Besok natal, jalanan pasti macet.” Mama mengecup pipi kiri Esra.
“Mudah-mudahan pagi ini masih lancar Mah.” Semoga saja. Belum pernah Esra mendengar jalur Surabaya-Madiun lengang pada malam natal.

Esra dan Huta akan menemui keluarga dan kerabat Huta di sana untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan kabar gembira mengenai pernikahan mereka. Sebenarnya Esra keberatan mereka berangkat sehari sebelum hari libur namun Huta baru mendapatkan izin hari ini dari perusahaannya.

“Udah semua.” Huta turun dengan senyum yang mengembang.
“Yakin?” Esra menggodanya.
“Udah semua.” Huta mengulangi dengan nada pasti. “Udah ada kabar dari Hosa, Ma?” Huta menyalimi tangan mamanya.
“Belum. Masih sibuk sama tugas mungkin. WA sama BBM mama juga enggak di read dari dua hari yang lalu. Ini anak hobi banget bikin orangtua kuatir.” Mama mengecup pipi kiri Huta dengan raut risau.
“Kalau lusa belum ada kabar juga, Huta yang jemput dia ke sana. Mama tenang aja.” Hosa, adik perempuan Huta satu-satunya yang sedang kuliah di Singapura itu sudah dua hari ini tidak ada kabar. Terakhir Hosa memberitahu sudah memesan tiket pulang sehari sebelum tahun baru nanti. Hosa akan stay di Indonesia hingga pesta pernikahan Huta pertengahan Januari tahun depan.
“Kamu kira Singapura itu Madiun?” Mama menepuk pundak Huta yang tekekeh. “Hati-hati. Sampaikan salam mama sama bude pakde kamu ya.”

Esra bernafas lega mendapati jalan tidak sepadat yang dibayangkannya. Mereka hanya terjebak macet sekitar setengah jam, setelah itu jalanan aman lancar. Esra ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Mereka akan tiba dan istirahat di rumah bude Huta di Jombang sore nanti. Esoknya pagi-pagi sekali mereka akan melanjutkan perjalanan ke Madiun, ke rumah sepupu dan keluarga dari pihak papa Huta. Ada sekitar lima rumah yang akan mereka datangi. Kemungkinan mereka akan menginap sehari di Madiun baru esoknya kembali ke Surabaya.

25 Desember 2014
“Kita ke rumah siapa dulu, Mas?” Esra menatap lurus ke jalan yang belum disinari cahaya matahari. Sehabis subuh tadi mereka langsung berangkat meninggalkan rumah bude dan pakde Huta.
“Marnis,” jawab Huta datar. Esra melotot dan menoleh ke arah Huta yang ternyata sedang menahan tawa.
“Sepupu yang tergila-gila sama kamu itu?” tanya Esra dengan suara yang makin meninggi. “Aku enggak ikut! Anterin aku ke rumah paklik kamu aja.” Tawa Huta pecah, membuat Esra mencubit lengannya lantaran kesal. “Apa yang lucu, huh?”
“Aduh, sakit yang.” Huta meringis namun masih ada tawa terselip di sana. “Kamu itu lucu. Kita udah mau nikah ini, masa kamu masih cemburu gitu.”
“Siapa yang cemburu?” Esra mengelak. “Sukanya Marnis ke kamu itu udah enggak wajar, tau! Waktu tau kita pacaran, dia sengaja dateng ke Surabaya, terus tinggal di rumah kamu.”
“Itu kan dia mau nyari kerja yang, suudzon mulu deh.”
“Cari kerja? Yang ada dia itu bikin kerjaan. Nyari kerja apa itu namanya anterin sarapan sama makan siang tiap hari ke kantor kamu. Nyuciin baju sampai celana dalam kamu sekalian.” Esra masih mengomel di sebelah Huta yang sedang konsentrasi dengan jalan.
“Baju orang satu rumah yang dicuciin yang. Dia segan aja kali karena numpang tinggal di rumah.”
“Dia blokir aku dari semua akun media sosialnya.”
“Nah yang itu baru agak aneh.”
“Agak aneh? Kalau dia enggak pernah utak-atik HP kamu mungkin sampai sekarang kamu enggak akan pernah kasih HP kamu itu password. Kalau aku nelpon, apa enggak bisa dibiarin aja kalau emang kamu lagi mandi atau apa. Kenapa harus dia yang angkat?”
“Masa kita bahas itu lagi yang.”
“Memang harus dibahas! Siapa tau dia masukin racun ke minuman aku nanti.”
“Hush! Kamu ini kenapa sih? Kita ini udah mau nikah. Enggak mungkin dia naksir aku kaya dulu lagi.”
“Kita liat aja nanti.”

Satu jam perjalanan berikutnya dilanda kesunyian. Huta sudah mencoba beberapa kali mengajak Esra mengobrol, namun tidak ditanggapi Esra sama sekali. Selanjutnya Huta memilih diam. Barangkali Esra hanya butuh beberapa waktu untuk menenangkan diri, mengumpulkan kembali kedewasaannya.

26 Desember 2014
“Enggak ada yang perlu kamu takutkan, kan?” Huta meraih tangan Esra dan menggenggamnya, sedangkan tangan kanannya tetap pada kemudi.
“Enggak seburuk yang aku kira,” kata Esra pelan. Ia mengeratkan genggaman tangan mereka. “Maafin aku kemarin ya Mas,” katanya lagi penuh penyesalan.
“Kalau ada sepupu laki-laki kamu yang naksir kamu dan anterin makan siang tiap hari buat kamu, mungkin aku akan bunuh dia.” Usaha Huta mencairkan suasana berhasil. Ia mendengar tawa kecil keluar dari mulut Esra.

Sekeras apapun watak Esra, jika ia membuat kesalahan, ia akan meminta maaf. Menjadi anak paling tua di keluarganya membuat Esra tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Ia biasa memimpin dan mengambil keputusan. Huta mengenal karakter Esra dengan baik. Huta tidak akan banyak menuntut, karena ia tahu Esra akan mengetahui sendiri jika dirinya sudah membuat kesalahan. Keseringan pertengkaran kecil mereka diawali oleh Esra namun juga diakhiri dengan permintaan maaf dari Esra. Calon istrinya ini begitu keras kepala namun begitu besar hati. Huta tidak mengharapkan wanita yang sempurna untuk menjadi istrinya. Yang seperti Esra saja sudah lebih dari cukup.

“Mas?” panggil Esra manja.
“Ya sayang?” jawab Huta tak kalah manja.
“Kamu yakin mau nikahin aku?”
“Kok nanyanya gitu?” tanya Huta kaget. Ia menoleh sebentar ke arah Esra yang ternyata sedang menatapnya dengan wajah berbinar. “Kamu kenapa, sayang?” Huta membelai wajah Esra dan merasakan wajah itu tertarik membentuk sebuah senyuman.
“Kok rasanya selama kita sama-sama, aku banyak tuntutan ke kamu ya Mas. Bahkan masalah pernak-pernik pernikahan semuanya sesuai keinginan aku. Kok kamu bisa sabar hadepin aku? Aku udah lakuin kebaikan apa bisa pantas dapet suami kaya kamu.”
“Kamu buat aku pengen berenti sekarang juga, terus nyiumin kamu sampai kamu kehabisan nafas.” Huta tersentuh, tentu saja. Wanitanya ini baru saja mengatakan betapa Huta begitu baik untuknya. Namun Huta tidak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tidak pernah merasa seperti itu, dituntut ataupun merasa seperti sosok yang begitu sempurna untuk Esra.
“Aku serius, Mas. Kalau kamu mau lari, belum terlambat. Kamu masih punya waktu.”
“Aku enggak akan ke mana-mana. Aku cinta kamu, Esra. Sampai kapanpun.” Huta menarik tangan Esra dan mengecupnya. Huta tidak tahu apa ia bisa lebih bahagia dari ini.

27 Desember 2014
“Ma, tenang dulu. Semua baik-baik aja.” Huta memeluk tubuh Mamanya yang terduduk lemah di sofa ruang tamu. Di ruang tengah, Papanya sedang sibuk berbicara di telepon dengan pihak rumah sakit di Singapura.
Tadi pagi mereka baru mendapat kabar bahwa Hosa mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu. Kondisinya sekarang sudah membaik, hanya saja Hosa mengalami patah tulang sehingga sulit untuk bisa kembali ke Indonesia sesuai dengan jadwal tiket yang sudah dipesannya.
“Ma, Hosa udah enggak apa-apa. Dokternya bilang Hosa udah boleh pulang, tapi harus ada yang dampingi.” Papa ikut duduk di sebelah Huta.
“Biar Huta yang jemput Hosa, Ma. Huta berangkat besok, tanggal 29 kami sama-sama balik ke Indonesia.”
“Mama ikut…” Mama masih terisak. Kedua orangtua Huta memang masih bekerja. Namun fisik mereka sudah cukup renta untuk menempuh perjalanan jauh.
“Cuma sehari, Ma. Kalau Mama ikut, kita harus cari dua tiket. Ini satu tiket aja belum tentu dapat. Biar Huta telepon Bang Hasan dulu. Kemarin katanya dia sekeluarga enggak jadi tahun baru di Singapura. Siapa tau tiketnya belum direfund.”

Huta naik ke atas menuju kamarnya. Mengepak beberapa helai baju ke dalam ransel, menyiapkan passport dan segala kebutuhan lainnya, baru kemudian meraih telepon genggamnya.
“Bang, tiket punya keluarga abang kemarin jadi direfund?” Huta menghubungi Hasan, rekan kerjanya di perusahaan. “Oh. Adik aku sakit, rencananya mau besok pagi berangkat, tanggal 29 sama-sama balik ke sini.” Huta melirik jam dinding kamarnya. Hampir jam sembilan malam. “Oke bang. Aku tunggu kabarnya ya bang.”
Tiket pesawat milik keluarga Bang Hasan ternyata sudah direfund dua hari yang lalu. Bang Hasan saat ini sedang mencoba menghubungi temannya yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan untuk menanyakan tiket pesawat ke Singapura esok pagi. Tidak sampai lima menit, telepon genggam milik Huta berdering.
“Ya Bang?” Bang Hasan menjelaskan beberapa hal dan Huta manggut-manggut. “Oke Bang. Terimakasih banyak Bang.”
Untunglah Huta mendapatkan satu seat di maskapai penerbangan milik negara tetangga itu. Bagi Huta tidak masalah harus naik maskapai apa, yang terpenting ia bisa bertemu dengan adiknya segera.

“Halo, sayang.”
“Kenapa Mas? Baru sejam yang lalu kamu nelpon aku dari kantor. Udah nyampe rumah?” Esra berkata di seberang sana.
“Udah.” Huta berdehem.
“Ada apa?” Esra mengenal Huta. Pasti ada hal penting yang ingin ia sampaikan jika menelepon lagi dalam rentang waktu yang belum lama.
“Besok pagi habis subuh aku berangkat ke Singapura.”
“Kenapa?” Huta menangkap nada terkejut di sana. Dengan tenang ia berusaha menjelaskan perihal adiknya. “Kamu sendirian, Mas? Enggak apa-apa?” Esra berujar sedih. Entah kenapa Esra menjadi sedih padahal Huta hanya pergi selama satu hari.
“Nyari tiket satu aja susah banget ini yang. Lagian kasian juga papa sama mama. Kan cuma mau jemput Hosa, besoknya balik lagi.”
“Aku anterin ya, ke bandaranya.”
“Enggak usah. Aku pakai taksi aja. Jam lima aku udah harus di bandara. Gaun hitam kamu gimana?”
“Lain waktu aja kita carinya, kalo kamu udah balik aja nanti. Lagian makenya juga masih lama.” Esra dan Huta memang sudah membuat rencana besok pagi untuk mencari gaun hitam untuk pesta lajang Esra minggu depan. Mereka mengangkat tema ‘R.I.P Masa Lajang’ dan mengatur dress code berwarna hitam.
“Yang?”
“Iya?”
“Aku ke rumah kamu sebentar malam ini, ya?”
“Udah jam sembilan Mas. Kenapa?”
“Sebentar doang.” Kemudian Huta memutuskan sambungan. Ia meraih box berpita ungu yang ada di tempat tidurnya dan berangkat menuju rumah Esra.

“Cuma mau nganterin ini.” Huta menyerahkan kotak berpita pada Esra begitu Esra membuka pintu rumahnya. “Aku pulang dulu ya,” pamit Huta dengan senyuman mengembang.
“Kamu jauh-jauh ke sini cuma buat anterin ini doang?”
“Iya.”
“Enggak mau masuk dulu?”
“Segan sama ayah bunda.”
“Duduk di depan bentar?” Esra menunjuk bangku bambu yang ada di teras rumahnya. Huta akhirnya mengangguk.
“Sebentar aja kan?” Huta memastikan. Sudah pukul sepuluh, ia tidak ingin menganggu waktu istirahat Esra.
“Ya ampun Mas, kayanya kamu enggak senang ketemu aku ya,” kata Esra sebelum masuk ke dalam, meletakkan kotak berpita pemberian Huta di atas sofa ruang tamu.
“Sini,” Huta menepuk tempat kosong di sebelahnya. “Aku bukannya enggak senang,” ia rangkul tubuh Esra lalu mengecup pelan puncak kepala tunangannya itu. “Udah malam ini sayang,” katanya lembut.
“Ya udah pergi aja sana,” rajuk Esra. Ia melepaskan rangkulan Huta dan mendorong tubuh Huta menjauh.
“Bentar lagi, aku masih kangen.” Huta mendekat ke arah Esra dan menarik tubuh wanita itu ke arahnya. Wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang tak sampai sejengkal.
“Ayah sama bunda udah tidur,” lirih Esra. Huta menyengir dan memajukan wajahnya untuk mempertemukan bibir mereka. Pelan, hangat, lama. Andai saja tubuh mereka mampu bertahan tanpa hirupan oksigen, tautan bibir itu tidak akan lepas. “Aku cinta kamu, Mas,” bisik Esra dalam hembusan nafasnya.
Huta mengangguk dan tersenyum. Kedua dahi mereka menyatu, wajah mereka saling merasakan tiupan nafas satu sama lain. “Aku udah dapat apa yang aku butuhkan. Aku beneran harus pulang sekarang. Bye, sayang.” Kecupan singkat Huta berikan pada pelipis Esra. Setelah itu ia menghilang bersama mobilnya, meninggalkan Esra yang merasa tidak rela Huta pergi begitu saja.

28 Desember 2014
Tangis histeris mengganggu pendengaran Esra. Ia tidak ingin berada di sini, tidak pernah. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya akan pernah duduk di dalam ruangan berisi wajah-wajah penuh air mata dan kekhawatiran, serta mulut komat-kamit yang tiada henti memanjatkan doa. Di sebelahnya ada Bunda, masih setia menggenggam tangan Esra dan duduk dalam diam setelah Mama pingsan dan dibopong ke Posko Kesehatan bersama Papa. Tayangan di televisi masih menyiarkan berita yang itu-itu saja sejak pagi tadi, tidak membuat kepanikan orang-orang di ruangan ini berkurang.

“Itu, Ibu wali kota,” bisik Bunda sambil menunjuk Bu Tri Rismaharini yang duduk di bangku deretan depan, merangkul seorang Ibu yang menangis tersedu-sedu.
“Bunda, aku ke toilet dulu.” Esra berdiri namun Bunda menahan tangannya. “Aku enggak apa-apa, Bunda. Cuma sebentar.” Esra memberi Bunda senyum tipis.
Langkah Esra yang gontai menarik perhatian beberapa wartawan yang asik merekam suasana ruangan crisis center dengan kamera mereka. Esra memberi mereka tatapan marah. Bukan marah karena wartawan itu merekamnya, namun karena mereka pertanyaan mereka yang memuakkan. ‘Apa hubungan anda dengan korban?’ Korban apa maksud mereka? Masih melihat sinis ke arah para wartawan, Esra berjalan menuju toilet terminal 2 Bandara Juanda itu.

Toliet begitu ramai. Kuping Esra menangkap suara isak tangis. Ia menggeleng heran, lalu masuk ke salah satu bilik. Esra mengeluarkan telepon genggamnya, mencari nama Huta dalam deretan kontak.
“The number you are calling is not active or out of…” Esra memutuskan panggilan. Ia membuka line, kemudian mencari profil Huta dan menekan tombol free call di sana. Nada panggilan tunggu bersenandung. Esra tertegun melihat foto profil yang tampil pada layar telepon genggamnya. Ada Huta di sana, tersenyum memamerkan deretan gigi rapinya ke arah kamera.
Panggilan berakhir dan foto pun menghilang karena tidak ada jawaban. Esra tersentak melihat pesan yang terakhir kali dikirimkan Huta jam lima tadi padanya. Pesan itu belum Esra baca.

‘Mowning yang. Aku pergi, ya. Jangan nakal selama aku gak ada. Oh ya, semoga kamu suka hadiahnya. Love you.’

Hadiah?
Hati Esra sempat bertanya-tanya. Namun tak lama ia sadar. Kotak berpita itu. Kotak yang ia letakkan di sofa ruang tamunya tadi malam. Kotak yang terlupakan oleh Esra karena perasaan tak relanya melihat Huta meninggalkan rumahnya. Dengan langkah seribu Esra keluar dari toilet, keluar dari Bandara Juanda yang berkali lipat lebih ramai dari biasanya, kemudian menaiki salah satu taksi, dan kembali ke rumah.

Kotak itu masih di sana, di atas sofa ruang tamunya, belum tersentuh dan belum terjamah, seolah menunggu Esra untuk membukanya. Dengan perlahan Esra membuka tutupnya. Matanya membulat ketika menyadari isi kotak itu dan kemudian tangisnya pecah. Tangis yang sudah sejak tadi pagi ia tahan. Tangis yang enggan ia keluarkan karena ia yakin tidak ada hal buruk yang terjadi. Tangis yang ia anggap sama saja dengan percaya oleh sesuatu yang belum pasti. Tangis yang masih Esra simpan karena ia masih menyimpan harapan.
“Ya Allah… Ya Allah…” Esra menarik keluar isi kotak tersebut dan membawanya ke pelukannya. Tubuhnya ambruk ke lantai dengan linangan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Sebuah gaun hitam. Esra tidak tahu kapan Huta sempat membelinya dan kenapa Huta membelinya padahal mereka sudah berjanji akan mencarinya bersama-sama. Yang Esra tahu, Huta tidak ingin Esra harus menunggunya pulang untuk membeli gaun hitam itu.
“Aku yakin kamu enggak apa-apa. Kamu udah janji enggak akan ke mana-mana,” isakan Esra semakin parah, membuatnya sulit bernafas. “Ya Allah selamatkan Huta. Huta enggak boleh ke mana-mana.” Tubuh yang kelelahan menopang beban itu akhirnya terkulai lemas di lantai. Matanya perlahan tertutup dan bibirnya berhenti berdoa.

30 Desember 2014
Esra masih di dalam ruangan yang paling dibencinya ini. Ruangan yang semakin hari semakin sesak dan terdengar memilukan. Sudah tiga hari, Esra, Bunda, Mama dan Papa Huta setia menunggu kabar dari pihak manapun mengenai keberadaan Huta dan penumpang lainnya sekarang. Di sebelah Esra kini ada seorang psikolog. Ia memberi Esra kata-kata penyemangat yang harus Esra akui sama sekali tidak membantu. Satu-satunya bantuan yang diberikan psikolog yang Esra rasa berguna hanyalah ketika Esra sudah tidak kuat dan ingin menangis, psikolog itu akan meminjamkan pundaknya.

Televisi di depan mereka masih menyala. Namun kali ini ada hal baru yang disampaikan oleh para pembawa berita itu. Sebuah penemuan. Puing-puing pesawat dan beberapa jenazah telah ditemukan. Mendengar hal itu, ruangan crisis center menjadi riuh dengan suara isak tangis. Esra mendengar ibu walikota berbisik pada Mama, “semua hanya titipan, Bu. Semua hanya titipan.” Dan psikolog di sebelahnya berujar, “Dia sudah tenang di sana, di tempat yang lebih baik. Kamu harus percaya, semua hal terjadi karena alasan. Tuhan menyayangi dia sehingga memanggilnya lebih cepat.”

20 Maret 2015
Esra berdiri di depan makam kosong dengan nisan bertuliskan nama satu-satunya lelaki yang pernah menghancurkan hatinya sedemikian rupa. Muhammad Hutama. Gaun hitam selututnya tersibak diterbangkan angin. Bunda merangkul pundak Esra dan membisikkan kata-kata menenangkan.
“Huta sengaja memberikan kamu gaun ini. Kamu cantik sekali, sayang. Huta selalu tau cara membuat kamu terlihat cantik.” Begitu kata Bunda. Esra tersenyum. Beban dan rasa tidak rela itu masih bersemayam di hatinya. Penyesalan, kekesalan, bahkan dendam yang entah pada siapa masih terselip di sela perasaan kehilangannya. Tapi Esra tahu, Huta sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum sekarang.
“Aku suka hadiah kamu, Mas,” kata Esra lirih sambil mencium batu nisan itu.

END

Terinspirasi dari kisah kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014.

Cerpen Karangan: Dhea CLP
Facebook: Dhea Mezita

Cerpen Gaun Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


When You Love Someone

Oleh:
When you love someone Just be brave to say That you want him to be with you Mengakulah hal yang tersulit dalam cinta adalah sebuah pengakuan. Pengakuan tentang perasaan

Sebut Saja Karena Cinta

Oleh:
Gadis jelita berambut lurus yang sedang terbaring lemas di ruang ICU itu Amour Resky, talian kasih pujangga idola remaja, Rahmet Firza. Keduanya telah lama merajut cinta dengan segala kerahasiaan

Tidak Berani Mengungkap Kenyataan

Oleh:
Aku dan Harry sudah bersahabat selama setengah tahun. Sejak pertama kali aku ketemu dia, aku merasa hari-hariku terasa lebih ringan. Aku masih ingat waktu itu adalah hari pertamanya sebagai

Cinta Sejati

Oleh:
Awal pertemuanku dengannya di sebuah halte bus. Waktu itu, aku dan temanku urip melintas di depan halte bus jalan pramuka. Urip yang membawa motornya dan aku membonceng di belakang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Gaun Hitam”

  1. Meisya says:

    ya Allah kak, sedih banget :’)
    terus berkarya ya kak, ditunggu karya-karya selanjutnya!

  2. call me andy says:

    selalu suka sama karyanya kaka dhea, terus berkarya dong ka. aku mau lebih banyak baca cerita-cerita dari kaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *