Gerimis Merah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 4 February 2017

Langit tampak begitu temaram, sesekali suara bergemuruh menggema sayup-sayup dari balik awan, mengabarkan pada semesta bahwa rintik-rintik air hujan bisa jatuh kapan saja membasahi bumi. Angin hanya berhembus perlahan dan kicauan burung di antara rindang pepohonan seperti menghilang tanpa isyarat, tenggelam dalam wibawa alam yang tersirat dibalik redupnya matahari sore ini.

Aku mempercepat laju motorku, ancaman dari hujan yang dapat turun sewaktu-waktu serta kesadaran bahwa diriku sudah telat datang ke tempat perjanjian sejak hampir satu jam yang lalu membuat aku hanya bisa pasrah pada kenyataan saja.
“Semoga hujan tidak turun.. semoga dia masih di sana…” Gumamku berulang-ulang seperti melafalkan mantra.

Aku begitu resah, aku yang baru saja lulus dari SMAN 3 Bandung dua minggu yang lalu ini benar-benar tidak pernah menduga bahwa ban motorku harus pecah dua kali sore ini, pertanda apa gerangan? Pikirku penuh tanya.

Untuk seorang pemuda yang terbiasa mengendarai motor setiap hari menuju sekolah, aku sepenuhnya mengerti jika kejadian pecah ban di tengah jalan merupakan hal yang lumrah dan bisa terjadi kapan saja pada siapa saja, tetapi mengapa mesti sekarang? Mengapa harus hari ini?

Aku bukan orang yang suka mempersalahkan nasib, tapi mengingat bahwa hari ini mungkin adalah hari terakhirku bisa memandangi paras cantik Samya, gadis yang telah menjadi kekasihku sejak tiga tahun yang lalu, aku mulai berpikir betapa nasib seperti sengaja mempermainkanku kali ini, apalagi setelah aku menyadari bahwa telepon genggam yang biasanya tak pernah lupa kusertakan kemanapun ternyata tertinggal di kamarku.

Sekarang aku hanya bisa menggerutu dalam hati, harapanku kini ada pada diri Samya seorang.
Semoga saja gadis itu cukup sabar menunggu kedatanganku.

Aku tahu betul bahwa tak lama lagi Samya akan pergi dan menetap di Perancis, tinggal bersama kedua orangtuanya yang telah cukup lama bekerja di kedutaan besar RI di negara itu, ia akan segera meninggalkan negara ini, membawa jauh sejuta kenangan yang telah kami lalui bersama-sama.

Aku berusaha memacu motorku lebih cepat lagi menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan oleh gadis itu sebelumnya, aku benar-benar tak sudi menyia-nyiakan sedetikpun saat-saat terakhirku bersama gadis itu.

Tak berapa lama butir-butir air mulai berjatuhan satu demi satu, menyisakan dingin udara menusuk-nusuk ragaku yang tengah memacu motor dalam kecepatan tinggi. Dari balik helm aku menyaksikan jalanan yang mulai basah dibasuh gerimis, dan tiba-tiba saja aku merasa waktu seolah berjalan mundur, mundur, kemudian berhenti tepat pada hari ketika takdir mempertemukanku dengan Samya untuk pertama kalinya.

Aku tak dapat membayangkan betapa bodoh raut mukaku saat itu, ketika tanpa sadar aku mengulurkan tanganku kepadanya untuk berjabat tangan, Samya hanya bengong sambil menatap kedua mataku, kami bertatap-tatapan sejenak dengan tangan bertautan, tanpa sepatah katapun. Hanya debaran jantung dan desah nafas masing-masinglah yang dapat kami dengar dan rasakan saat itu.
Aku dan dia seperti dibekukan waktu, hingga akhirnya sebuah teriakan menyadarkan kami berdua,
“HEH! SIAPA YANG NYURUH SALAMAN?! AYO PUSH UP 15 KALI!!” Bentak salah seorang senior yang melihat kelakuan ganjil kami ketika acara MOS berlangsung, Aku dan Samya segera mengambil posisi push up sambil menahan senyum. kami seperti merasakan getaran yang sama, dalam perasaan yang tiada terungkap lewat sepatah katapun.

Aku baru sampai pada hitungan sepuluh kali push-up ketika langit tiba-tiba menghadiahi bumi dengan rintik-rintik air yang jatuh perlahan dan lambat laun semakin menderas bersama guntur yang bersahut-sahutan.
Dan lagi, tanpa sadar aku menarik tangan Samya, membawanya berteduh di emperan kelas, bersama puluhan senior dan siswa baru lainnya yang juga tak ingin basah oleh hujan di pagi hari yang dingin itu. Kemudian semua terjadi seperti sebelumnya, Aku hanya terdiam di sebelah Samya yang tampak gelisah dalam keheningan yang diciptakan oleh kami berdua, tiada sepatah katapun terucap dari bibirku dan tiada sedikitpun kami berdua saling mengenal, namun sudah dua kali aku menyentuh jemari Samya dan gadis itu tidak kuasa menolaknya.

Sunyi baru beranjak di antara kami beberapa hari kemudian, ketika aku tanpa sengaja berpapasan dengan Samya di koridor kelas, kali ini aku tak mau dibodohi oleh perasaanku sendiri, maka tanpa basa-basi aku berusaha memulai percakapan, aku tak ingin semuanya berakhir beku seperti hari kemarin, hampa tanpa kata-kata.
“Hmm.. eh.. gini.. kenalin, a.. aku Zein…” Ujarku terbata-bata, tidak biasanya aku merasa kikuk dalam sebuah perkenalan, tapi entah mengapa, kali ini semua terasa lain.
Samya hanya memandangku sejenak dengan senyum mengembang, kemudian Samya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya: selembar kertas dan sebatang pulpen.
‘AKU SAMYA, SENENG DEH BISA KENALAN SAMA KAMU’
Tulis gadis itu di atas selembar kertas.
Aku terpaku dengan pandangan bingung,
Sesombong inikah dia? Apa dia tak sudi berbicara denganku? Betapa angkuhnya! Batinku kesal.
Seakan mampu membaca isi hatiku, buru-buru Samya menulis sebaris kalimat lagi di bawah kalimat sebelumnya,
‘MAAF YA.. BUKANNYA SOMBONG, TAPI BEGINILAH KEADAANKU!’
Setelah membaca kalimat tersebut Aku seperti membeku di atas kakiku, aku tatap matanya lekat-lekat seolah Samya adalah seorang pembohong besar.
Tiba-tiba Samya mengangguk, dia seperti memahami tatapan penuh tanya dariku yang membutuhkan pembenaran dari kalimat yang ia tulis barusan.
Dan aku pun tercekat dengan mata terbelalak tak percaya setelah aku yakin dengan kejujuran yang dipancarkan dari sepasang mata indah gadis itu.
Gadis ini… tak dapat berkata-kata?

Roda-roda motor kesayanganku masih gagah membelah gerimis yang kian menderas, aku benar-benar berusaha secepat mungkin menemui Samya yang tentu sudah sedari tadi menungguku di tepi sebuah danau kecil di belakang taman dekat sekolah, tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan kami berdua.
Sesekali padatnya kendaraan yang memenuhi ruas-ruas jalan memaksaku untuk sedikit melambatkan motor, dalam hati aku mengumpat, aku tidak bisa membiarkan Samya menunggu lebih lama, tidak baik membiarkan seorang wanita menunggu sendirian di sore hari yang muram seperti ini.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana Samya amat membenci kemacetan, meski gadis itu tiada dapat mengucap sepatah katapun karena pita suaranya telah lama dirusak oleh penyakit Laryngitis parah yang mampu melumpuhkan saraf-saraf lisannya, namun aku dapat merasakan ketidaksukaan gadis itu pada padatnya jalan lewat desahan nafas panjang yang berulang-ulang setiap kali kuantar ia pulang ke rumahnya dengan motor kesayanganku.
Jika sudah begitu, aku hanya bisa menghibur Samya dengan mengajaknya bicara mengenai apa pun yang sekiranya dapat menarik perhatian gadis itu, dan Samya hanya perlu merespon dengan anggukan atau gelengan kepala saja.
Pada saat-saat seperti ini, meski ia tak dapat menanggapi celotehku dengan kata-kata, tapi aku mampu merasakan bahwa wanita itu menjadi lebih tenang, dan aku semakin merasa bahwa aku mampu menghangatkan hatinya dengan ketulusan yang mungkin tak akan pernah ia temukan lagi dikemudian hari.

Seusai jalanan kembali lancar, aku tentu akan berhenti berceloteh, dan Samya pun akan mengencangkan pelukannya pada pinggangku, membuat darahku seakan berdesir begitu kencang diantara perasaan bahagia yang membuncah, tumpah ruah memenuhi relung-relung hatiku yang terdalam.
Dari situlah aku menyadari, keputusanku untuk menjalin kasih dengan Samya tidaklah salah sama sekali, biarpun cemoohan dan komentar miring selalu saja terdengar dari mulut para penggunjing, namun tak sekalipun aku terpengaruh, karena di depan cinta semua suara-suara pengganggu yang mempermasalahkan ketidaksempurnaan Samya itu memang seperti tak ada artinya. Menguap begitu saja.

Kini aku menatap jalan dengan mata berembun.
Semuanya terlihat begitu memilukan sekarang, kenyataan bahwa kekasihku tercinta akan segera pergi ke tempat yang teramat jauh membuat dadaku menyesak hebat, kiranya inilah yang aku sebut sebagai kekhawatiran yang datang dari keberadaaan cinta.

Aku tidak bisa menepis ketakutan yang terus membayangiku sejak Samya mengatakan rencananya untuk tinggal bersama kedua orangtuanya di jantung kota Paris, Perancis. Aku takut jarak akan mengaburkan kasih sayang kami perlahan-lahan, karena jarak bisa berarti kehidupan, dan kehidupan memang tak pernah terlepas dari jarak, maka bagaimana sepasang anak adam dapat mencintai satu sama lain dengan jarak yang merintangi kehidupan mereka berdua? Cinta tentu akan terasa hambar tanpa pertemuan.

Aku bisa saja berjanji untuk menunggu Samya kembali, entah kapan. Tapi itu semua pasti tak akan semudah membalikan telapak tangan, bukankah kesetiaan sama beratnya seperti pengorbanan? Aku tidak ingin Samya terbebani dengan janji-janjinya, karena aku tahu janji adalah hutang, dan hutang haruslah ditebus dikemudian hari, bagaimana jika suatu hari aku atau dia menemukan orang lain yang pantas untuk kami cintai?
Sejujurnya aku tak pernah menginginkan hal itu terjadi: kami berpisah dan menemukan cinta kami masing-masing. Karena aku hanya menginginkan Samya seorang! Hanya gadis itu!
Aku ingin merasakan kebahagiaan bersama ia dengan segala kekurangannya, bagiku ketidaksempurnaannya bukanlah sebuah masalah, lagipula bukankah tak ada seorangpun di dunia ini yang mencapai derajat kesempurnaan? Lantas apa gunanya pula aku mempermasalahkan kesempurnaannya?

Dibalik semua pikiranku yang mengawang, aku masih saja menyesali keterlambatanku hari ini,
Pertemuan hari ini sesungguhnya sudah aku nantikan sejak peristiwa menyedihkan dua minggu yang lalu, tepat pada hari perayaan kelulusan SMA ku dan Samya.

Saat itu, ditengah hiruk pikuk euforia siswa yang berhamburan setelah acara kelulusan, Samya menarik tanganku menjauhi kerumunan yang bising, menuju danau kecil di belakang taman dekat sekolah, di sana Samya menumpahkan tangisnya dalam rengkuhan tanganku yang masih tidak mengerti, barulah setelah Samya memandang sedih kepadaku dengan airmata yang tertahan di pelupuk matanya, aku menyadari bahwa gadis ini sedang mengisyaratkan sebuah perpisahan yang teramat menyakitkan.

“Jadi.. sebulan lagi kamu akan pergi menyusul kedua orangtuamu? tinggal di perancis?” Tanyaku setelah Samya menunjukan email dari Ibunya di Perancis sana lewat telepon genggam miliknya, kami berdua kini tengah duduk berdampingan di pinggir danau tersebut.
Samya merebahkan kepalanya ke pundakku, ia mengangguk pelan dengan kepala bergetar menahan tangis, Samya mengerti betul betapa aku mencintainya tanpa syarat, karena selama dua tahun kami menjalin kasih, tak sekalipun aku membuat ia bersedih apalagi menangis, begitupun sebaliknya.

Aku betul-betul memahami apa yang Samya rasakan meski tanpa kata-kata, dan kali ini Samya seakan tak ingin membuatku memperburuk perasaanku sendiri, maka sekuat mungkin Samya terlihat seperti mencoba menahan airmatanya mengalir, mungkin ia ingin menangis sepuasnya di dalam kamarnya nanti, sebab sekarang ia hanya ingin mendengarkan suaraku yang selalu menenangkan hatinya.

Aku mengambil sebuah kerikil dan melemparnya ke tengah danau, sebisa mungkin kutepis kesedihanku dengan memandangi riak air yang meluas perlahan, untuk saat ini aku tak kuasa menatap kedua mata Samya yang telah bertahun-tahun menemaniku dalam kedamaian tanpa cela, kedamaian yang mungkin tak semua orang bisa menemukannya. Samya memang cantik meski ia tak mampu berbicara, tapi aku tahu bukan itu yang membuat diriku bertahan selama ini, kecantikan memang patut dikagumi, namun tentu terlalu hina jika kita mengukur cinta dari kecantikan yang hanya bersifat sementara.
Aku sendiri sebenarnya tak begitu paham perihal apa yang membuatku bisa mencintai Samya sedemikian rupa.
Aku mencintai Samya karena cinta, cuma itu yang ada di pikiranku.

Kami berdua menghabiskan hari itu dalam sunyi tanpa suara di pinggir danau tempat aku menyatakan cintaku kepada Samya tiga tahun silam, kami berdua terpekur menyelami perasaan masing-masing, larut dalam diam yang membingungkan, diam yang menggores perih sanubari kami berdua.
Di atas sana langit seperti membaca isi hati kami, arak-arakan awan yang berseri lambat laun menggelap dan menjelma menjadi mendung yang mengundang hujan.
Tiba-tiba Aku berdiri, mengagetkan Samya yang tengah bersandar di bahuku.
Untuk sejenak aku menatap tajam ke arah Samya, ia tertegun, dan seketika gelombang keputusasaan itu pun pecah, mengalir begitu saja dari mulutku.
“Jadi begini akhirnya? Ini yang kamu mau?! Pergi begitu saja?!” ujarku ketus dengan mata memerah, entah karena marah atau sedih.
Samya terperanjat, baru kali ini aku berbicara dengan nada tinggi seperti itu di depannya.
“Kenapa kau harus pergi sekarang!? Tidakkah aku berarti untukmu walaupun hanya sedikit?!” lanjutku dengan intonasi yang menghakimi dan menusuk.
Samya yang tak mampu berkata-kata hanya terisak sambil berusaha meraih tanganku, tapi aku mengelak, dan aku pun pergi meninggalkan Samya di tepian danau itu sendirian, dengan sebaris kalimat terakhir yang tentu melukai perasaan Samya:
“Aku menyesal! Aku menyesali pertemuan kita! Jika tahu akan begini, lebih baik kuakhiri hubungan kita sejak dulu!!”
Kemudian gerimis pun datang membasahi sore yang kelabu itu, menemani benci menghampiri kami dalam cinta yang terluka oleh dilema.

Cerpen Karangan: Arief Agoomilar
Blog: agoomilar.tumblr.com
Arief agoomilar, lahir dengan nama Lengkap Arief Fajar Gumilar, penulis sekaligus penikmat sastra yang saat ini tinggal di kota Bandung untuk menyelesaikan studi S1 nya di bidang kependidikan Bahasa Inggris Fakultas pendidikan bahasa dan seni Universitas Pendidikan Indonesia

Cerpen Gerimis Merah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awal Kisah Baru

Oleh:
Anggi tengah duduk tak sabar sambil menanti seseorang yang spesial baginya. Hari ini, hari yang spesial bagi Anggi, hari ini ia resmi meninggalkan masa teenager, ia resmi meninggalkan angka

Senja Merindukan Bulan

Oleh:
Mentari terlihat indah… Angin yang berlalu membuat hati terasa syahdu… Rindu yang kian lama terpendam belum juga terobati. Hati yang selalu menanti kehadirannya walaupun hanya sebatas mimpi. Tapi apalah

Payung Untuk Lael

Oleh:
Aku berdiri di depan jendela kaca. Pandanganku menerabas ke luar. Terdampar pada pinus-pinus di pucuk bukit yang perlahan ditelan kabut. Bintik air bertebaran seperti serbuk. Apa mungkin akan hujan?

Istri Yang Tersakiti

Oleh:
Hay namaku Eka aku berusia 22 tahun saat ini aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Saat ini hidupku memang berkecukupan tapi kurasa kebahagiaan ini kurang

Benang Tersembunyi

Oleh:
Kedua orangtuaku sudah bercerai sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Dulu sewaktu SD, terkadang aku sangat iri melihat teman-temanku yang mempunyai orangtua lengkap dan mereka hidup bahagia. Tidak sepertiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *