Gita Ferentika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 22 April 2017

Aku tersenyum puas saat melihat postan di blogku sudah selesai. Blog milikku yang sudah memiliki banyak viewers. Kenangan-kenangan indah sampai pahit kembali terngiang di kepalaku. Tulisan yang barusan aku post di blog itu mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun silam, dimana kedua orangtuaku pisah. Saat itu harapanku hancur, pupus, aku sudah tidak mempunyai pegangan lagi, tidak ada lagi tempatku bersandar, tempat berbagi cerita, padahal merekalah motivasiku untuk selalu mewujudkan cita-citaku. Pecahan-pecahan kaca atau dentuman benda-benda semacamnya serta isak tangis kerap kudengar.
Kenapa harus aku yang mengalami? Kenapa aku tidak bisa menikmati masa kecil yang senantiasa bahagia layaknya anak-anak lain seusiaku ini? Dapatkah aku menukarnya?

Akhirnya kupejamkan mataku, kutarik nafasku dalam-dalam berusaha menghapus kenangan itu. Hidupku sekarang sudah cukup nyaman, mempunyai banyak teman dan dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku. Dan aku bertemu dengannya, sosok pria yang baik dan membuatku jatuh hati padanya. Namun, takdir berkata lain. Aku berpisah dengannya karena takdir yang membawanya pergi, dan aku tidak bisa mengelaknya.

Matahari pagi begitu indah, memancarkan sinarnya yang cukup hangat. Burung-burung berkicau mengiringi setiap langkah kaki siapa saja yang dilihatnya. Mentari pagi ini menjadi harapanku agar aku selalu dalam kebahagiaan. Setiap hari, kebiasaanku setelah bangun tidur, hal pertama yang aku lihat adalah indahnya cahaya pagi yang selalu terselip di tiap-tiap bagian tirai jendela kamarku, dan selalu mengucap harapan-harapanku.

Pagi ini seperti biasa seperti layaknya murid-murid lainnya yang ingin menuntut hak dan melaksanakan kewajiban demi cita-citanya masing-masing. Beberapa langkah kutelusuri lorong-lorong koridor yang masih sepi, mungkin hanya beberapa murid saja yang terbiasa berangkat pagi sepertiku.

“Gita?” aku menoleh ke belakang saat tiba-tiba ada yang memanggilku, ternyata Mia teman sebangkuku.
“ya?” jawabku sekenanya.
“Udah sarapan belum? Kantin yuk, belum sarapan nih belum masuk tuh” lontar Mia cepat,
“Boleh deh, eh tapi tumben dateng pagi ini, kenapa? Salah pasang alarm?” tanyaku sambil berjalan menuju kantin.
“Hehehe”

Yap! dia Mia Mahatei a.k.a Mia, teman sebangkuku. Orangnya memang begitu sih, supel tapi lumayan pintar. Paling susah berangkat pagi, sekalinya pagi malah kepagian katanya sih salah pasang alarm. Setelah itu mereka pun masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.

Aku penulis blog (blogger) yang isinya semua sastra, mulai cerpen sampai puisi. Tapi nggak ada satu orang pun yang tau. Aku kurang percaya diri, aku malu menunjukkan siapa aku. Tapi aku bukan Nerd dan juga Insecure, aku normal seperti gadis lainnya.

Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid berhamburan ke luar kelas, ada yang ke kantin untuk mengisi perutnya atau ada yang hanya mengobrol saja. Tapi lain halnya denganku, aku ke kantin bukan untuk sekedar makan atau mengobrol biasa. Tapi setiap hari yang aku lakukan bersama teman-temanku termasuk Mia adalah membully anak-anak yang terlihat cupu atau anak-anak baru. Ini bukan sisi yang baik dariku, aku seperti ini bukan tanpa alasan. Yap! Kejadian beberapa tahun lalulah yang menyebabkan aku seperti ini. Itu pasti, aku depresi dan stress. Awalnya aku seperti freak tapi aku berubah karena itu bentengku, siapapun tidak ada yang berani macam-macam denganku.

“Git, anak baru tuh huuuuu.” ucap Mia. “Iya git arah jam duabelas, ada anak baru cewek cantik.” tambah Kayla.
Kutolehkan kepalaku ke arah jam duabelas. Tepat! terlihat anak baru cupu yang kebingungan karena kantin ini sudah lumayan penuh. Kupanggil anak itu yang kutau namanya Anes, aku yakin dia anak baik yang pastinya polos dan nggak tau apa-apa. Tapi tiba-tiba ada cowok yang sok jadi pahlawan, yang kutau namanya Vero Varianz, a.k.a Varo. Aku pernah lihat dia sebelumnya, tapi di mana? Ah! Aku ingat. Iya, dia ketua tim basket sekolah yang digemari banyak siswi cewek. Yah, kayak saat ini nih, harusnya kan mereka bantu aku, ngejauhin ini cowok. Dan kayaknya fans-berat banget. Apa namanya? Verolicious atau Vero Lovers? biar kayak public figure.

“Mia, kania, lo berdua tuh apaan sih! Nggak liat gue lagi emosi gini.” bentakku pada mereka. Yang malah dibales mereka cengiran biasa ditambah dua jarinya berbentuk V dengan istilah kata Piss.
Disaat aku sedang mengocehi Mia dan Kania, tiba-tiba si cowok supe-hero ini bicara dengan nada sedikit membentak.
“Ini anak orang, lo mikir nggak sih ini termasuk kasus pembullyan dan gak pantes anak seusia lo sok berkuasa di sekolah ini, lo cewek.” skak varo
“Ini urusan gue, lo nggak usah sok ikut campur, lo bukan orangtua gue.” bentakku pada Vero. “Gue cuman mau bilang ini doang sih, tapi yang pasti kalo lo nggak bebasin anak ini bakal gue aduin Kepsek. Lo cewek, masa depan lo masih panjang. Lo pernah mikir nggak seandainya lo yang ada di posisi ini.” ucap vero.
Sedangkan Anes hanya tertunduk termanggu dengan air mata yang bercucuran dengan deras, Aku hanya diam oleh kata-kata Vero dan perlahan-lahan sosok itu pergi dari hadapanku. Kata-kata Vero tadi sayangnya nggak aku dengar sama sekali, karena menurutku itu basi.
“Udah ah yuk.” aku, Mia dan Kania memutuskan untuk pergi dari kantin. Bersamaan dengan itu pula bel pulang berbunyi.

Seperti biasa, rumah selalu sepi, setiap hari. Aku bosan, Aku penat, Aku ingin pergi! Tapi saat kakiku menginjak anak tangga pertama ingin bergegas ke kamar, suara isak tangis yang kurasa itu Mama dari dalam kamarnya. Lalu dengan bergegas kulangkahkan kakiku ke kamar Mama.
Dan ternyata benar, dari sudut ruangan dekat tirai terlihat seorang wanita paruh baya duduk berselonjor dengan tangan yang memeluk erat sebuah foto yang kutau itu foto keluarga kami. Marah dan kesal bercampur sedih menjadi satu. Kudekati Mama, lalu kupeluk dia erat-erat.

“Tadi papa kamu ke sini git, dia bilang mau ngajak kita pindah ke rumah barunya, tapi saat mama tau ternyata di sana juga ada istri barunya, mama baru kamu git, kamu mau?.” Ucap mama sambil terisak.
“Nggak ma, gita udah nyaman di sini, berdua sama mama, rumah kita nggak kalah besar dan mewahnya kok ma dengan rumah papa, kita punya bibi yang ngurusin rumah dan makan, kita punya pak Ujang yang bantu bersihin taman dan nganter gita ke sekolah, gita udah nggak butuh sosok papa lagi ma.” Jelas aku di pelukan mama.
“Kamu nggak boleh benci papa seperti itu git, papa kamu nggak salah, ini takdir git yang udan garisin kita kaya gini.”
“Udah deh ma, nggak usah bela papa lagi, mama udah disakitin dan gita nggak terima itu” Ucapku sambil terus memeluk mama. Dan tanpa kusadari mama sudah tidur sedari tadi, dalam dekapanku.

Malam ini, di balkon kamarku. Aku kembali memposting sesuatu di blog mengenai kejadian hari ini.
Bahwa takdir itu memang sudah ada garisnya dan kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alur dan mengubahnya semampu kita.
Kututup laptopku, dan kutengadahkan kepalaku menghadap langit malam yang luas ditambah banyaknya hamparan bintang-bintang yang selalu setia membantu menerangi malam bersamaaan dengan bulan yang sangat indah, dengan angin malam yang sejuk membuat siapapun terlena oleh buaiannya.
Rasanya hati ini lega seperti tidak pernah ada masalah apapun yang telah terjadi kemarin dan hari ini.
Hidup ini rumit jika kita membuatnya menjadi rumit tapi hidup ini akan indah jika kita membuatnya selalu istimewa di setiap detiknya. Sekarang hanya ada Aku dan Mama, tidak ada Papa atau siapapun yang dapat merusak kebahagiaanku.

Seperti biasa, pagi ini aku harus kembali kesekolah untuk menuntaskan apa yang ingin aku tuntaskan dan mengejar mimpi-mimpi ku. “Ma, gita berangkat, Assalamu’alaikum” kucium telapak tangannya sebagai tanda hormatku kepadanya.
“Wa’alaikum salam hati-hati”.

Aku berjalan melalui koridor dengan banyak murid yang berlalu-lalang hingga sampailah aku di depan kelasku. Pelajaran hari ini adalah Sastra. Jujur, aku suka sastra.
Aku suka semua genre sastra, Puisi, Pantun, Cerpen dan lainnya.
Aku suka cerpen dan sajak-sajaknya Chairil Anwar dan Kahlil Gibran.
Aku juga suka dengan novel karyanya Asma Nadia dan Habiburrahman El-Shirazy yang selalu terdapat petuah-petuah islamiah di dalamnya.
Dan terakhir aku suka Dilannya Ayah Pidi Baiq.
Aku memang terkenal Bad Girl tapi itu bukan aku sebenarnya, karena ketahuilah! Perbuatan tidak menjamin baik buruknya seseorang tersebut, dan itu adalah Aku.

Bel istirahat pun berbunyi, seperti biasanya setiap hari kantin selalu penuh. Dan ini kebiasaan aku untuk mengusir siapapun yang berani duduk di mejaku dan teman-temanku. Terlihat Anes sudah kembali ceria setelah kemarin kubuatnya menangis. Ia terlihat tunduk dan takut ketika melihat ke arahku.
“Git, anes tuh git, kerjain lagi yuk” ucap Mia. “Eh, tapi kerjain apaan yaa?.” Tambah Mia. “Iya juga ya? Kerjain apaan?.” Tambah lagi oleh Kania.
“Gue kerjain di makanan yang dia pesen ya, gue pedesin aja gimana ya?.” ucap Kania.
“Boleh tuh boleh, hahaha.” Mia tertawa lepas.

Mulailah Kania dengan segala triknya mengerjai Anes. Lalu tiba-tiba terdengar jeritan dari Anes yang kepedasan. Aku, Mia dan Kania hanya tertawa terbahak-bahak. Namun tiba-tiba seperti ada yang menggebrak meja kami, dan rupanya itu Vero. Dia lagi dan lagi. Tapi kali ini aku harus berani maju.
“Lo nggak cukup apa kemaren buat dia nangis dan malu di depan teman-teman satu sekolah.” Ucap Vero.
“Lo tuh kenapa sih selalu ikut campur aja urusan orang, lo nggak punya temen atau lo mau ikut gabung berteman bareng sama gue?.” ucap aku sesekali melirik Mia dan Kania.
“Eh git, udah deh lo nggak usah sok berkuasa terus di sekolah ini, lo itu kaya cewek yang nggak punya harga diri dan nggak tau malu.” ucap salah satu teman Vero yang kutau namanya Angga.
“Lo juga kenapa ikutan sih, cowok mulut banci gitu hahaha.” ucap gue sambil tertawa. “Iya, banci, culun huu hahahaha.” Tambah Kania.
“Eh git, lo tuh mikir ya. Dasar lo anak Broken Home -yang ditinggal Bokap karena selingkuh dan sekarang Nyokap lo gila kan nggak waras, haha dan ini pengumuman buat lo semua termasuk Mia sama Kania, kalian nggak ada yang tau kan? Ya karena gita malu!.” skak Angga.
JLEBB!! Bagai disambar petir. Kata-kata itu secara langsung menusuk hatiku yang paling dalam. Memang nggak ada yang tau. Dan kebetulan Orangtua Angga pernah satu perusahaan sama Papa yang otomatis tau semua soal berita keluargaku, tentang Mama dan Papa.

Kulangkahkan dengan cepat kakiku ke arah kamar mandi. Aku lari sekencangnya. Kutumpahkan semuanya, kuluapkan semuanya tangisanku di sana, kukunci dan nggak ada yang tau.
‘Apa mungkin ini Karma? Apa mungkin ini hukuman?’ Batinku.

“Git, lo nggak apa-apa?.” kudengar itu suara Vero, langsung buru-buru keseka air mataku dan bergegas keluar, tenyata benar itu Vero.
Setelah itu aku diajak Vero ke rooftop sekolah yang katanya bisa ngelepasin semua beban yang ada di hati. Satu fakta yang aku tau dari Vero ternyata Vero juga nggak punya Papa (meninggal) dan katanya di sini dia suka meluapkan semua emosinya. Dan terakhir, Vero baik. Saat semuanya pergi jauh dariku, dia setia tetap bersamaku, menemaniku. Mulailah dari situ aku cerita semuanya ke dia dan aku juga memberitahu dia kalau aku penulis blog dan nggak ada yang tau.

Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Vero. Saat Mia dan Kania yang kuanggap sahabat terbaikku bahkan sebagai keluarga sendiri, ternyata malah pergi menjauhiku ketika aku bukan siapa-siapa lagi. Dan sekarang namaku yang sudah tercoreng di sekolah. Ternyata faktanya mereka hanya ingin terkenal dan popular.

Aku mulai menulis lagi di blog setelah lumayan lama aku tidak aktif.
“Cinta?
Apa itu cinta?
Apa definisi Cinta yang sesungguhnya? Bukan dari novel teenlit yang sering kubaca. Menurutku cinta itu, sesuatu perasaan yang menjalar ke hati seperti petir
Perasaan yang seperti angin, tidak dapat dipegang tetapi cukup dirasa
Tidak permanen dan kadang kala dapat hilang.
Lalu, bagaimana menurutmu?”

Postanku yang entah keberapa itu sebenarnya menggambarkan bagaimana perasaanku. Ya, entah dari mana datangnya -Entah dari mana asalnya perasaan ini tumbuh.
Yang jelas saat ini aku merasa, aku mencintainya seutuhnya, sebagaimana gadis remaja seusiaku.
Ya, bersamanya kurasa nyaman. Bersama Vero aku merasa tenang. Namun, kisahku ini tidak bertahan lama, karena suatu kejadian yang memisahkan aku dengan dia.

Saat itu hujan deras, dan motor yang kutumpangi bersamanya licin sehingga jatuh terjembab kedalam kubangan yang cukup besar. Saat itu memang terdapat sebuah bus yang melaju kencang dan karena hujan jadi tidak terlihat cukup jelas. Padahal saat itu di atas motor, kami sedang tertawa bersama melepas kebahagiaan kami -karena baru saja hari itu Vero menyatakan cintanya kepadaku. Kepalaku terkena batu yang cukup besar lalu aku dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Tetapi ternyata benturan itu menyebabkan mata sebelah kiriku rusak dan akhirnya tidak seimbang. Sehingga aku membutuhkan seorang pahlawan yang mau mendonorkan matanya untukku.

Aku masih ingin menulis.
Aku masih ingin melihat Vero dan Mama bahagia.

Sampai akhirnya tiba saatnya aku operasi mata karena dokter sudah menemukan pendonor yang tepat untukku. Hatiku teramat sangat gembira. Tetapi saat semuanya selesai dan lancar, ternyata salah. Aku salah! Aku merasa ada separuh yang hilang dari diriku -entah, aku tidak tahu itu apa.

‘Vero kemana? Apa sejak aku operasi dia nggak ada? Atau mungkin dia pergi meninggalkanku setelah tau kalau aku buta?’ Batinku

“Selamat ya sayang, mama senang kamu bisa melihat lagi.” peluk mama kepadaku. “Mama kangen banget sama kamu.” tambah mama.
“Iya ma, gita juga senang bisa ngeliat lagi.”
“Selamat ya gita, tante senang bisa ketemu kamu lagi.” ucap mama Vero seraya mendekapku.
“Iya tante, makasih.” Ucapku seraya memeluknya. “Oh ya, vero nggak ada ya? Sibuk ya?” tambahku pada mama Vero.
“Tante, kenapa kok diem? Gita salah ngomong ya tan?.” tanyaku lagi pada mama Vero.

Entah apa yang ada di pikiranku, fikiran buruk tentang Varo, namun kuusir fikiran itu, karena aku yakin semuanya baik-baik saja. Tetapi setelah aku melihat keraguan dari balik mata mama Vero, fikiran itu datang lagi, dan aku rasa ini s.e.r.i.u.s dan bukan main-main.

“Vero… Udah nggak ada sayang, vero sudah bersatu sama kamu. Saat kamu membuka mata, kamu bisa melihat dan merasakan Vero.” ucap mama Vero terharu.
“Jangan bilang kalau Vero yang ngedonorin matanya buat aku? Ma? Tan? Jawab!”
“Iya sayang, dia nggak tega ngeliat kamu kehilangan semangat kamu lagi, dia sayang sama kamu” jawab mama.

Aku hanya bisa menangis dan meratapi semuanya. Aku kehilangan laki-laki yang aku sayang untuk kedua kalinya. Pertama papa yang tega ninggalin aku sama mama sendirian. Dan sekarang aku kehilangan Vero, cinta pertamaku, dia yang mengajarkan aku betapa berharganya hidup ini, bagaimana menjadi orang baik dan bagaimana caranya mencintai dan arti cinta itu sendiri.

“Hidup itu berharga git, jangan pernah kamu sia-siain hidup itu dengan semena-mena. Karena kita nggak punya banyak waktu.”
“Aku yakin papa kamu itu baik, nggak jahat. Nggak ada orangtua manapun yang mau nyakitin atau ngecewain anaknya. Percayalah!.”
“Kalau menurut aku cinta itu indah. Iya, perasaan yang indah dan membuat siapapun berbunga-bunga saat merasakannya. Dan sekarang aku ngerasain itu sama kamu. Aku cinta kamu saat ini, nggak tau besok. Mungkin iya. Tapi intinya aku cinta kamu! Hahaha.”

Kulihat mamaku dan mama Vero pun ikut menangis. Dan sekarang di sini, di depan makam Vero aku berdiri, aku hanya bisa menangis dan bilang kalau semua ini nggak mungkin, semua ini mimpi, tapi apalah daya tak sampai.
Aku akan ingat semua apa yang pernah kita lewatin. Karena hidup itu waktu yang sangat berharga.

Cerpen Karangan: Rizka Dewi
Blog: rezekidewi.blogspot.com
Namaku Rizka Dewi a.k.a Rizka. Asal Lampung. Hobi menulis.
Twitter: @rizkaadewi1
instagram: @ryzkadw
Email: ryzka.dw16[-at-]gmail.com
Cek yaa blogku rezekidewi.blogspot.com. Random isinya hehehe. salam kenal buat semua penulis dan pembaca.
Sekian!!

Cerpen Gita Ferentika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secarik Kertas

Oleh:
Matanya memerah, kulihat begitu dalam kesedihan yang dia pancarkan. Aku takut aku akan merasa iba padanya, “kita putus” dan lagi aku tegaskan kata itu kepadanya. Seketika itu pun airmatanya

Senja Yang Menghilang

Oleh:
Salah satu hal yang selalu kau antisipasi dalam hidup adalah tidak lain kau berubah pikiran oleh karena terpengaruh orang lain, dan sepertinya itu amat berlaku untuk berbagai hal yang

Dalam Lamunku

Oleh:
Saat ini aku terdiam dan terpaku, tak tau apa yang harus aku lakukan.. Saat itu ketika aku berkata nafas dan hidupku adalah kamu dan aku bisa mati tanpa kamu..

Krisan dan Bulan Sabit

Oleh:
Bulan tampak malu-malu. Hanya memperlihatkan separuh wujudnya untuk bumi bagian Semarang, kota kelahiranku. Sudah sejak sejam tadi sebenarnya aku ingin segera memandang langit Semarang, tapi baru bisa kesampaian setelah

Maafkan Diriku Yang Tak Mengenalmu

Oleh:
Sekarang ini serasa badai bagiku, orang tua menjodohkanku dengan pria yang sama sekali tak kusukai, tak ada jejak ketampanan di wajahnya. Segala hal tentang dirinya tidak ada yang bagus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *