Goodbye, Davin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 September 2015

Ini adalah malam tahun baruku yang kedua, yang aku lewati bersama dengan Davin, kekasihku. Kami juga berkenalan di saat malam pergantian tahun. Saat itu, aku menghabiskan beberapa jam terakhir sebelum tahun baru di alun-alun Kudus, Jawa Tengah. Aku pergi seorang diri, berharap akan ada keajaiban saat aku melihat kembang api. Nyatanya harapanku terkabul, Tuhan mempertemukan aku dengan pujaan hatiku.

Awalnya, Davin sangat menyebalkan. Aku yang sedang asyik membeli harum manis -sejenis permen kapas- tapi tiba-tiba saja dia datang dan merebut harum manis itu dari tanganku. Yang aku tahu saat itu, Davin adalah laki-laki yang mengerikan. Bagaimana tidak, dia sudah berlagak seperti preman dengan tatto di tangan kanannya. Aku hanya mendengus kesal dan membiarkan dia mengambil jatah harum manisku, daripada aku harus berurusan dengan laki-laki mengerikan seperti Davin. Ternyata, tidak hanya itu. Saat aku sedang asyik berdiri melihat kembang api, Davin kembali datang bersama teman-temannya, yang sama mengerikannya dengan dia. Aku sempat heran, kenapa orang-orang sekitar tidak merasa takut dan mengusir Davin saat itu. Padahal jelas-jelas penampilannya sangat mengerikan.

“Hallo gadis manis.” Ucap Davin saat itu. Aku hanya menatapnya sekilas dan berusaha untuk tidak mendengarkannya. Tapi, semakin aku tidak mendengarkannya, dia semakin menggodaku. Sampai akhirnya kesabaranku mulai habis.
“Apa maumu?!” bentakku.
“Nomor teleponmu.” Jawabnya dengan senyum jahil.
“Aku tidak akan sudi memberikan nomor teleponku pada preman sepertimu.”
“Oh.. Ayolah gadis manis…” dia menggerak-gerakkan alisnya. Menjijikkan.

Setelah akhirnya aku merasa terdesak, dengan terpaksa aku memberikan nomor teleponku padanya. Sejak saat itu, kami mulai dekat. Davin yang awalnya berlagak seperti preman, berubah seratus delapan puluh derajat. Di kali kedua kami bertemu, Davin terlihat sangat tampan. Dia memakai baju lengan panjang berwarna biru laut dengan celana jeans hitam dan sepatu kets warna hitam. Dia juga memperlakukan aku dengan manis. Dia romantis dan benar-benar seperti laki-laki yang selama ini aku impi-impikan. Dan saat Davin berkata bahwa dia menyukaiku sejak awal kita bertemu di malam pergantian tahun, aku jadi merasa tersanjung. Jadi alasannya membuatku kesal karena dia ingin lebih dekat denganku.

Sampai akhirnya, dia menyatakan perasaannya, dan dengan senang hati aku menerimanya. Semua masih bertahan sampai detik ini.
“Selamat pagi, sayang.”
“Pagi.” Jawabnya singkat.
“Malam tahun baru kedua, nih.” Kataku semangat. “Ada rencana apa?”
“Aku lagi cape, males kemana-mana.”
“Kok gitu?” tanyaku dengan nada kecewa.
“Naya, aku lagi cape dan nggak pengen kemana-mana.”
“Davin, tapi ini?”
“Malam tahun baru nggak harus ke luar dan menghabiskan uang untuk hal yang nggak penting, kan? Kita udah dewasa, seharusnya kita sisihkan uang untuk rencana pernikahan kita.” Sahutnya.

Aku menatapnya beberapa detik sebelum berlari ke kamar. Pagi ini, Davin sengaja ke rumahku untuk mengantarkan sarapan, seperti biasanya. Tapi hari ini dia terlihat aneh, sensitif dan tidak bersikap lembut seperti biasanya. Seharian itu, kami terus berselisih paham. Davin benar-benar membuatku super kesal. Bukannya meminta maaf, dia justru makin menjadi-jadi. Membentakku, berkata bahwa dia tidak menyukai sikap kekanak-kanakanku dan hal-hal lainnya. Jujur, baru kali ini aku melihat Davin seperti seekor singa yang siap melahap mangsanya hidup-hidup.

“Jangan pulang, Davin.”
“Buat apa aku di sini? Aku bosan denger kamu marah-marah terus.”
Aku berdecak kesal. Davin yang sejak tadi marah-marah. Tapi aku berusaha sabar, aku tidak mau masalah kecil makin menjadi runyam.
“Di luar masih hujan, Davin. Kamu bisa pulang kalau hujan sudah reda.”
“Aku bisa pakai jas hujan.”
“Tapi, Dav…” aku menarik tangannya. “Sebentar aja, tunggu sampai hujannya reda.”
“Ini udah malem, Naya!”
“Kamu bisa nginep di sini.”
“Besok pagi aku harus pergi ke Jakarta, kamu lupa?” nada suaranya meninggi lagi. “Kamu emang nggak pernah denger, ya, kalau aku cerita? Kamu anggep aku apa?”
“Davin!” bentakku. “Aku cuman nggak mau kamu kehujanan! Kamu kenapa, sih? PMS?”
“Terserah!” dia meraih jaketnya dan berjalan pergi. “Aku pulang.”

Davin memang begitu. Apa yang menjadi kemauannya harus dituruti. Padahal, hujan di luar masih sangat deras. Aku sebagai kekasihnya tidak ingin dia kehujanan, memangnya salah?
Aku mengantarnya sampai luar. Setelah itu, aku berbalik. Baru saja tanganku ingin membuka pintu rumah, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras. Aku menoleh dan ternyata …
“DAVIIIINNN!!!” teriakku.

Aku berlari menembus derasnya hujan dan memeluk tubuh Davin. Aku membuka helmnya dan cairan merah itu menghiasi wajah tampannya.

“Davin! Bangun, Dav!” aku menggoncang-goncangkan tubuhnya, tapi dia tetap tidak bergerak.
“Naya.” Panggil seseorang yang ke luar dari mobil itu. Mobil yang tadi menabrak Davin.
“Kak Rio…” air mataku kembali menetes. Jadi, yang menabrak Davin adalah kak Rio? Kakak kandungku sendiri?
“Nay, maaf. Aku … Maksudku, tadi Davin ke luar dari rumah tiba-tiba banget, aku nggak ngerti dan akhirnya…”

Saat itu juga, langit berubah indah disuguhi beberapa kembang api yang beraneka warna. Aku menatapnya beberapa detik, dan kembali beralih pada Davin.
“Dav, tahun baru… Kedua dan terakhir… Dav…”
“Nay…” kak Rio berusaha menghiburku.
“Selamat tahun baru, Davino Saputra. Aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu. Ini… Malam pergantian tahun yang menyakitkan. Kalau aja tadi kamu dengerin omonganku, semua nggak akan terjadi, Dav!”

Pergantian malam tahun baru di tahun ini sangat menyakitkan. Sangat berbeda dari tahun lalu dan tahun lalunya lagi, yang aku lewati dengan bahagia bersama Davin.
Davin … Aku harus melewati tahun-tahun berikutnya tanpa Davin. Tanpa laki-laki egois yang selama ini aku cintai. Laki-laki yang selama ini sudah mencintaiku tanpa alasan. Davin, selamat tahun baru.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaalyasavitri.blogspot.com
Facebook: Anadya Alyasavitri
Follow my twitter: @Anadyaal

Cerpen Goodbye, Davin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Tanpa Tuan

Oleh:
“Hai aku kembali! Di saat sang langit menangis namamu terlintas di benakku. Seolah mendekap padahal jauh. Kamu tahu kenapa namaku tak tertera di setiap surat yang ku kirim? Agar

Janji Untuk Ibu

Oleh:
Benar sekali, terkadang apa yang kita inginkan memang tak melulu sesuai apa yang kita butuhkan. Terpaksa atau tidak, sakit atau tidak sakit, sudah sepantasnya aku menerimanya dengan penuh ketabahan,

Dika, Terima Kasih

Oleh:
“Dika… di mana kamu sekarang? Aku masih menunggumu sampai saat kini.. ku mohon kau kembali Dika.. aku akan dijodohkan dengan pria yang tidak ku kenal…” Sore hari yang sunyi,

Cintaku Tak Akan Padam

Oleh:
Masih ku ingat tentang hari itu. “bi kita putus, aku udah gak sanggup pacaran sama orang yang egois kayak kamu” kata-kata itu mengalir begitu saja tanpa aku sadari. “hah?

I Always Love You

Oleh:
Pada hari itu seorang gadis terlambat masuk sekolah setelah melewati pekan liburan. Gadis itu bernama Evita Wulandasari Bunga Zainal siswa dari SMA ternama di jakarta. Saat sampai di sekolahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *