Hadiah Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 29 May 2013

Sinar mentari pagi hangatkan hati, burung bersiul penghibur lara, angin berhembus tenangkan kalbu, senyum indah sejati terpasang dari raut wajah sang adik yang sedang membawakan segelas teh hangat untuk sang kakak.
“kak, ini teh nya di minum.”
Laki-laki berparas tampan yang sedang menyiapkan koran jualannya itu menjawab “simpan saja dik di meja.”
Pagi ini cuaca berpihak padanya, tak ada tetesan air hujan yang jatuh seperti hari kemarin, tampaknya hari ini jualan akan habis cepat, pikirnya seraya tersenyum manis.

Setelah koran-korannya rapih dan sepeda berdiri kokoh, ia kayuh sepeda itu dan berhenti di setiap rumah untuk menawarkan jualannya, kebetulan Reno sang pedagang membeli koran dengan modalnya sendiri, hasil dari jualannya itu ia belikan koran dan sisanya ia sisihkan untuk keperluan sekolah adiknya. Terkadang jika jualannya tak habis sampai siang hari, ia terpaksa meminjam ke tetangga nya.

Keadaan tersebut sering terjadi ketika mereka di tinggal mati kedua orang tua nya sejak 3 tahun lalu, saat itu pula Reno duduk di bangku SMA kemudian ia terpaksa di keluarkan pihak sekolah sebab tak mampu membayar SPP, sementara Nayla adiknya masih berumur lima tahun, berkat kerja keras sang kakak yang tak kenal lelah akhirnya Nayla dapat bersekolah hingga saat ini.

Sang adik Nayla tak merasa malu dengan kondisi ekonomi keluarga nya, namun ia bangga, Tuhan telah memberikan kakak yang terbaik untuknya, namun anak yang genap beranjak delapan tahun itu sering merindukan sosok seorang ayah dan ibu di hatinya, Ayah yang selalu memberinya senyuman, dan ibu yang selalu memberinya pelukan, menjaganya, memeluknya, merangkul, menenangkannya di saat ia menangis
“ayah, ibu lihatlah Nayla yang sudah bersekolah ini, ini semua berkat ka Reno kakak yang tak kenal lelah dan selalu bersabar dalam menghadapi hidup ini.” ungkapnya memeluk boneka Teddy seraya mengeluarkan butir-butir air mata di pipi manisnya.

Senyum indah terpancar dari raut wajah Reno ketika Sang Surya tepat berada di ubun-ubunnya, ternyata perkiraannya tak meleset, Koran hari ini habis terjual, belum sempat ia mengayuh sepedanya, tiba-tiba bola matanya tertuju ke arah seorang gadis yang berdiri tepat di pertengahan jalan, melihat wanita itu Reno segera menyelamatkannya meski ia tak memperdulikan diri nya sendiri kemudian akhirnya wanita itu berhasil di selamatkan, namun sayang Reno yang mendorong gadis itu tertabrak oleh sebuah mobil dan terpaksa ia di larikan ke rumah sakit terdekat.
Beruntung nyawa nya masih bisa di selamatkan, merasa bersalah gadis itu langsung menjenguknya untuk meminta maaf.
“hey, maafkan aku yah sudah membuat kamu celaka.”
Laki-laki yang terbaring tak berdaya itu menjawab dengan menggeserkan kepalanya mencoba untuk bersandar dan memberikan satu senyuman manis.
“iya, tidak apa-apa, asalkan kamu selamat.”
“kenapa kamu mau menolong ku?,padahal aku bukanlah siapa-siapa buat kamu.”
“hehe, hey ingat hidup itu hanya sekali, jadi buat apa kita hidup jika tak saling membantu orang lain.”
“meski kamu taruhkan nyawa mu?.”
“iya, meski nyawa ku menghilang aku rela, karena aku yakin Tuhan mempunyai rencana yang terbaik untuk umatnya.”
“siapa nama mu?.”
“nama ku Reno, nama mu siapa dan barusan kamu mau bunuh diri, kenapa?.”
“nama ku Sifa, aku bosan hidup seperti ini, aku bosan dengan dunia ini.” Ucap Sifa penuh tangis
“lebih menderita jika kamu menjadi orang yang putus asa, aku yakin indah itu akan ada pada waktu nya kita hanya tinggal menunggu keindahan untuk menjemput kita.” Tegas Reno yang kemudian membungkam mulut Sifa.

Beberapa jam kemudian muncul seorang pria dan seorang wanita dari balik pintu ruangan, ternyata mereka adalah ayah dan ibu Sifa, mereka sangat baik sampai-sampai Reno di suruh tinggal di rumah mereka, namun Reno menolaknya secara baik.

Desember berganti, Januari pun kembali, satu bulan lamanya telah mereka lewati, tepatnya di tanggal 14 januari 2013 ini, satu hari sebelum acara ulang tahun Sifa di mulai, Reno Sang penjual Koran kebingungan hadiah apa yang nanti akan diberikan untuk Sifa, rupanya ia mencintai gadis yang di tolongnya sebulan yang lalu, namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya, karena ia tak mau persahabatannya hancur karena cinta. Melihat kakaknya yang terdiam termenung Nayla Sang adik menghampirinya
“kakak kenapa masih belum berangkat? kan sudah siang.”
“oh iya, ya sudah kakak berangkat dulu.”
Tanpa berpikir kembali Reno segera mengayuh kendaraan tak bermesin itu, sangat di sayangkan cuaca pagi ini sangat mendung, awan hitam menutupi mentari, hujan pun berjatuhan membasahi Lebak, sebuah kabupaten yang berdiri di provinsi Banten yang terkenal dengan suku adatnya, suku Badui dan alat tradisionalnya yaitu Angklung.

Hujan itu kemudian membasahi Koran jualan Reno, hatinya sangat terpukul namun ia percaya bahwa hujan adalah anugerah dari Tuhan, ia pun berteduh di sebuah kios pakaian yang sudah tertutup dekat pasar, dilihatnya nenek tua yang berada di sampingnya yang sedang menggigil kedinginan, timbul rasa iba di benak Reno, jaket yang terpasang ditubuhnya ia berikan kepada nenek tua itu dan memasangkannya.

Hujan telah sirna, matahari pun nampak jelas namun hatinya masih murung karena Koran jualannya basah di guyur hujan, terpaksa ia pulang dengan tangan hampa, di tengah perjalanan ia teringat Sifa, lalu ia pun berencana untuk mampir ke rumah Sifa yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya berteduh.

Dan akhirnya ia telah sampai di kediaman Sifa, belum sempat jemarinya menyentuh batang pintu terdengar pembicaraan yang cukup keras, ia pun mendengarkan pembicaraan yang terdengar seperti suara ayah dan ibu Sifa, rupanya tanpa ia sadari Sifa mengidap penyakit Jantung dan terpaksa harus ada pendonor yang rela jantungnya di ambil kalau tidak ia tidak akan selamat dan menurut Dokter pribadi keluarganya, jika esok tidak ada pendonor, Sifa akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Tak lama kemudian dari balik gerbang Sifa muncul dengan raut wajah yang ceria melihat Reno yang berdiri di depan pintu Sifa pun segera menghampiri Reno.
“hey Reno, sedang apa kamu di sini?.”
“hey Sifa tadi nya aku hanya ingin menemui mu tapi nanti sajalah, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, besok saja sesudah acara ulang tahun mu.”
“loh ko begitu, ya sudah terserah kamu, mari masuk ke dalam.”
“maaf Sifa, aku sedang terburu-buru.”

Ayunan kaki yang terus melangkah, putaran waktu yang terus bergulir, Reno pemuda penjual Koran berjalan menyusuri tepian jalan dengan membawa luka kecewa terhadap sahabat yang di cintainya itu, “mengapa Sifa tak pernah cerita tentang penyakitnya itu kepada ku?, Ya Tuhan jika Engkau ijinkan aku, aku rela menukar nyawa ku untuknya asalkan dia tetap hidup dan selalu tersenyum.” Harapannya seraya mengangkat kedua tangannya ke atas langit.

Suara alunan adzhan terdengar di telinganya ia pun segera bergegas menuju masjid yang berada tepat di sampingnya.
Malam menjelang, Nayla merasa heran mengapa kakak nya itu tak kunjung pulang, biasanya Reno tak penah pulang selarut ini, ia pun duduk di sebuah pohon yang berada di halaman rumah menunggu kakaknya pulang, tanpa terasa ia tertidur di bawah pohon.

Fajar kembali, manusia pun kembali melanjutkan aktifitasnya, namun berbeda dengan ayah Sifa wajahnya begitu ceria ketika mendapatkan telepon dari Pak Anjar seorang dokter pribadi milik keluarganya ternyata sudah ada pendonor jantung untuk Sifa, hati Sifa begitu ceria mendengarnya, akhirnya ia bisa hidup dengan tenang tanpa ada rasa takut di hatinya tanpa menunggu lama ia bersama ayah dan ibu nya segera ke rumah sakit yang dulu Reno di rawat dan Pak Anjar telah menunggu kehadiran mereka.
“selamat yah pak.” Sapa pak Anjardengan ramah.
“iya dok, terus…” belum sempat ayahnya bicara Sifa langsung memotong pembicaraannya.
“jadi siapa dok pendonor berhati mulia itu, saya ingin sekali bertemu dan berterima kasih padanya.”
“maaf Sifa saya tak berani memberitahu orangnya, karena dia telah berpesan kepada saya untuk tidak memberitahu identitasnya.
“ya sudah lah, jadi bisa kita mulai operasinya sekarang dok?.” Tanya ayah Sifa.
“oh tentu pak, ayo silahkan Sifa masuk ke ruang operasi.”
“baik dok.” Ucap Sifa yang kemudian melirik ke arah ayah dan ibunya dan ayahnya pun menganggukan kepalanya pertanda ia yakin dengan operasi yang akan di jalankan anaknya.

Tiga jam lamanya telah terlewati namun dokter belum keluar dari ruang operasi, keringat dingin terus mengguyur sepasang suami istri yang sedang menunggu anaknya di ruang operasi, dan akhirnya dokter Anjar keluar kemudian memberikan kabar gembira bahwa operasi berjalandengan baik dan anaknya pun selamat, kabar itu sontak membuat ayah dan ibu Sifa seperti melayang, hati mereka sudah lega dan tenang melihat anaknya sembuh.

Beberapa jam kemudian Sifa bangun dari alam sadarnya dan segera bertanya-tanya soal si pendonor itu kepada Sang Dokter, merasa kasihan kepada Sifa akhirnya Pak Anjar membawa Sifa ke ruang mayat dan menunjukan jenazah si pendonor itu.
“Sifa itu lah si pendonor berhati malaikat itu.” Mendengar penjelasan dokter ia pun segera membuka penutup yang menutupi tubuh si pendonor, maka tak di sangka dan di duga si pendonor itu adalah Reno sahabat yang paling ia cintai, melihat Reno yang terbaring tanpa sedikit nafas yang keluar dari mulut dan hidungnya itu sontak membuat hati Sifa berantakan, air matanya pun sedikit demi sedikit menetes hingga terjatuh di antara wajah Reno.
“kenapa Reno kamu lakukan ini, aku tak mau kamu pergi gara-gara aku, aku sangat mencintai mu Reno.”
Tak lama kemudian Pak Anjarmemberikan sepucuk surat kepada Sifa ternyata surat itu dari Reno.

Hey sifa, semoga lekas sembuh yah danmaafkan aku semua ini aku lakukan karena aku tak ingin wanita yang aku cintaiberhenti tersenyum, selama ini aku mencintai mu namun aku sadar diri karenapria seperti ku yang hanya penjual koran tak pantas untuk menjadi kekasih mudan aku takut jika aku jujur padamu aku takut persahabatan kita hancur, sekalilagi aku minta maaf hanya ini yang dapat aku berikan untukmu ini lah hadiah terakhir ku, aku titipkan naylapadamu, tolong beritahu dia bahwa aku menyayanginya seperti aku menyayangi mu.
Salam manis reno

~TAMAT~

Cerpen Karangan: Reka Kurniawan
Facebook: ekha pinkboysz

Cerpen Hadiah Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lembaran Kertas Hijau

Oleh:
Namaku rara aku sekarang bekerja di suatu perusahaan di kota surabaya, dulu aku mempunyai seseorang kekasih yang namanya fadli, iya.. fadli merupakan sosok yang sangat aku sayangi. Setelah hubungan

Whitn’t

Oleh:
Bahkan angin jauh lebih beruntung daripada aku, angin mampu mebuat dia merasakan kehadirannya, sedangkan diriku? tidak sama sekali. Sesak, itu yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa memandang dia

Angel

Oleh:
Dear Diary, Kapan ya aku bisa kayak mereka? Main sama temen-temen. Bercanda bareng. Kejar-kejaran. Terakhir aku melakukan hal itu saat aku masih kelas 7 smp, dan sekarang bahkan sudah

Mengapa Dia Bukan Milikku?

Oleh:
Di pelupuk mata masih teringat indahnya kebersamaan di antara aku, kau dan sahabat-sahabat kita. Kala senang, sedih, duka dan gembira selalu kita jalani bersama. Sungguh indah semua itu, rasanya

Bunga Abadi

Oleh:
“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *