Hampa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Namaku Azalea Melody Azahra. Aku hanya seorang wanita biasa yang jauh dari kata sempurna, aku mengalami tunanetra. Sejak tiga tahun yang lalu aku tertabrak oleh orang yang tak mau bertanggung jawab kepadaku hingga aku mengalami kebutaan. Waktu itu hari ulang tahunku tepat ke-17 tahun, pada hari itu orang yang ku sayang memberiku kejutan, aku ingin dibawa ke tempat yang indah katanya. Tetapi saat di perjalanan tiba-tiba ada mobil yang menabrak motor kami, kami terjatuh dan tak sadarkan diri. Tiba-tiba aku terbangun dan semuanya gelap gulita, tak ada satu pun cahaya yang menerangi penglihatanku. Yang aku dengar saat itu adalah seorang wanita paru baya yang sedang menangis tepat di sampingku. Ya aku mengenali suara itu, suara itu adalah suara ibuku, aku tak tahu mengapa ibuku menangis pada saat itu.

“Ibu Lea di mana? Mengapa semuanya gelap? Bawakan Lea sebatang lilin kecil Bu, oh ya di mana Elang? Mengapa kini Lea bersama Ibu? Elang sudah berjanji kepadaku bahwa sekarang ia akan mengajakku ke tempat yang indah, apa ia berbohong kepadaku?” Ibu tak menjawab dan hanya terus menangis, dan ku raba-rabalah tubuh ibu hingga aku mendapati bahunya. “Jawab Bu, kenapa Ibu hanya terus menangis? Di mana Elang? Apakah dia berbohong? Tolong jawab pertanyaan Lea Bu!”

Tiba-tiba ibu memelukku dengan erat.
“Lea sayang maafkan Ibu Nak, Ibu tak mau mengatakan hal ini padamu, Ibu takut sekali Nak jika ibu katakan akan melukai hati kecilmu.”
“Katakan saja Bu cepat tolong katakan!”
“Elang sudah tidak ada Nak ia meninggal, dan kini ka-mu.. kamu buta,”

Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil memukul-mukul kecil bahu ibu, tetapi ibu hanya terus memelukku dengan erat. Tiga tahun setelah kejadian itu kini aku tak punya semangat hidup lagi, hidupku hanya bergantung pada sebatang tongkat untuk menunjukkan arah jalanku. Setiap pagi dan sore hari aku selalu pergi ke taman dekat dengan komplek rumahku, hanya di taman itulah aku merasakan kedamaian. Selalu ada burung-burung kecil dan semerbak harumnya bunga yang menyambutku setiap kali aku ke tempat itu. Saat aku sedang duduk di bangku taman, tiba-tiba sepertinya ada orang yang duduk di sampingku.

“Kamu siapa? Mau apa kamu? Tolong jangan sakitiku,”
Tak ada jawaban darinya, dan tiba-tiba ia menarik tanganku dan menulis kata-kata di telapak tanganku.
“Namaku Bintang aku bisu, siapa namamu?”
Begitulah yang ku rasakan kata demi kata yang ia tuliskan di telapak tanganku.

“Kamu bisu? Maafkan aku sudah berpikir yang tidak baik tentangmu, aku Azalea panggil saja aku Lea,”
“Salam kenal yah, maukah kamu menjadi temanku?”
“Ya aku mau kok jadi temanmu, oh ya apa kamu selalu ke tempat ini juga?”
“Terima kasih yah sudah mau jadi temanku, sejak tiga hari yang lalu aku sering ke tempat ini, dan aku baru pindah ke komplek ini seminggu yang lalu, blok A no. F5 di situlah rumahku,”

“Wah kalau begitu berarti kita tetanggaan dong rumahku hanya berjarak melewati dua rumah dari rumahmu, aku di blok A juga nomor F8,”
“Kak ayok pulang Mamah sudah menunggu,” tiba-tiba ada suara anak perempuan yang memecahkan pembicaraan kami, sepertinya anak perempuan itu berumur antara 14 sampai 15 tahun. “Perkenalkan namaku Dinda, aku adiknya Kak Bintang salam kenal yah, dan maaf Kak Bintang sudah ditunggu Mamah untuk pergi hari ini,”

Sejak kejadian itu aku jadi akrab dengan Bintang dan adiknya. Setiap pagi dan sore hari kami selalu pergi ke taman. Tak kecuali Dinda, ia hanya sore hari saja pergi ke taman untuk menemani Bintang, karena pagi harinya ia harus bersekolah terlebih dahulu. Seiring berjalannya waktu sepertinya aku mulai suka dengan Bintang. Ia baik dan selalu membimbing arah jalanku, karena ialah aku menjadi semangat hidup kembali dan move on dari segalanya. Aku akan memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatiku, entahlah reaspon Bintang terhadapku apa, yang pasti aku sudah mengungkapkan semuanya.

“Bintang aku suka, cinta, dan sayang banget sama kamu,”
Tiba-tiba Bintang mencium keningku dan mulai menulis kata-kata lagi di telapak tanganku.
“Aku juga suka, cinta, dan sayang banget sama kamu. Kamu tetesan embun pagi yang menyejukkan hatiku, kamulah sebagian dari hidupku, kamulah yang membuat hidupku lebih bersemangat kembali dan kamulah segalanya untukku maukah kamu menjadi kekasihku selamanya hingga kita menjalin mahligai rumah tangga Azalea?” Merasa Bintang menulis kata-kata seperti itu aku senang sekali bahwa cintaku tak bertepuk sebelah tangan, dan aku pun menerima lamaran Bintang bahwa ia ingin menikahiku. “Ya Bintang, ya! Aku mau jika itu bersamamu,”

Akhirnya pun aku menjalin hubungan dengan Bintang. Tak peduli 2 sejoli yang satu buta dan satunya lagi bisu menjalin hubungan yang dinamakan cinta. “Lea aku ingin mendonorkan retinaku ini untukmu, bersediakah kau menerima retinaku ini? Karena aku ingin kau melihat indahnya dunia kembali Azalea,”
“Benarkah? Jika kau ikhlas aku bersedia Bintang,”

Tiga hari setelah itu aku pergi ke rumah sakit bersama keluargaku dan keluarga Bintang. Aku dan Bintang mulai menjalani operasi, saat operasi selesai dokter membuka perlahan kain kasa di mataku. Aku mulai menghitung mundur 3, 2, 1 ku lihatlah wajahku kembali di sebuah cermin, dan saat ku melihat sekeliling ruangan aku melihat ibu, ayah, sepasang suami istri, dan seorang gadis remaja, menurutku mungkin sepasang suami istri dan gadis remaja itu adalah orangtua dan adiknya Bintang. Aku langsung memeluk ayah dan ibuku, setelah aku selesai memeluk mereka tiba-tiba gadis itu juga memelukku.

“Selamat yah Kak pencangkokan retinanya berhasil,”
“Terima kasih, apakah kamu yang bernama Dinda?”
“Ya Kak benar aku Dinda, Adiknya Kak Bintang,”
“Ya ampun ternyata kamu cantik sekali ya Dinda,”
“Ah Kakak tidak kok biasa saja Kakaklah yang begitu cantik,”
“Oh ya di mana Bintang?”
“Itu Kak di balik tirai itu,”

Dibukalah tirai itu oleh Dinda, dan tergeletaklah seorang laki-laki di atas kasur yang berperawakan tinggi, putih, berhidung mancung, bertubuh atletis, dan mempunyai tahi lalat kecil di pinggir kiri bibirnya, dan ia sangat tampan jika dibayangkan.
“Masya Allah itu Bintang,”
“Iya Kak, itu Kak Bintang,”

Aku sangat terkesima melihat bahwa Bintang sangatlah tampan ia agak sedikit mirip dengan Elang kekasihku dulu, hanya saja Elang tak mempunyai tahi lalat di bibirnya seperti Bintang. Di sisi lain aku sedih karena kini Bintang buta dan ia rela dengan tulus mendonorkan retinanya hanya untukku, dan di sisi lain aku bahagia karena bisa bertemu orang sebaik dan setulus dia apalagi aku bisa menjadi kekasihnya. Tiba-tiba suster masuk memecahkan keheningan untuk merapikan alat medis dan suster itu pun berkata, “Kemungkinan saat ini Bintang belum sadar mungkin esok hari ia akan pulih kembali,”

Dua hari setelah itu aku mulai bermain ke taman kembali bersama Bintang, dan pada saat itu tepat hari ulang tahunku yang ke-21 tahun. Bintang memberiku hadiah sebuah kalung yang sangat cantik berliontinkan lambang melody, dan memakaikannya ke leherku. Ya katanya itu sesuai dengan namaku “Azalea Melody Azahra”. Saat Bintang selesai memakaikan kalung ke leherku, aku mulai bermain kejar-kejaran bersamanya. Saat aku mulai berlari ke arah timur taman, Bintang berjalan ke arah barat taman dan menuju ke arah jalan raya, naas Bintang tertabrak oleh truk besar, dan lagi-lagi tak mau bertanggung jawab.

Dengan deraian air mata yang membasahi pipiku, aku pun berlari menghampiri Bintang dan memeluknya sambil berteriak sekencang-kencangnya, menurutku Tuhan tak adil. Mengapa musibah selalu datang padaku, aku kehilangan orang yang ku sayang dan menyayangiku dengan tulus untuk kedua kalinya tepat di hari ulang tahunku lagi. Elang dan Bintang pergi meninggalkanku di kejadian yang sama, mungkin aku tak ingin merasakan cinta lagi hingga Tuhan mengambil nyawaku dan aku bersama langit dan Bintang kembali di surga nanti, walaupun terasa hampa tanpanya.

Cerpen Karangan: Ajeng Azhari Adinda
Facebook: Ajeng Azhari ADinda
Minta kritiknya yah 🙂 karena kritikan sama halnya motivasi untukku.
Instagram: dindull89

Cerpen Hampa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta dan Keadaan

Oleh:
“Rudi.. Jangan lupain aku ya..” sebuah ucapan terakhir dan lambaian tanganya, sampai sekarang tak pernah kulupakan. Aisyah nur aini. Adalah teman kelas sekaligus sahabatku di sekolah. Orangnya baik, pintar,

Kisah Cinta

Oleh:
Rintik hujan mengguyur area pemakaman, bulir-bulir air mata mengiringi kepergiannya, seseorang yang sudah tenang bersemayam di balik gundukan tanah merah dengan taburan mawar putih, iringan doa mengantarkannya ke gerbang

Surat Terakhir Mu

Oleh:
Perjumpaan pertamaku mengawali senja dengan guratan permata jingga, terdiam di atas hamparan bebatuan dengan dihiasi gemericik air yang berjatuhan. Ilyas namaku, seorang musafir muda dari tanah jawa. Mencoba mencari

Pergi Yang Tak Pernah Kembali

Oleh:
Hidup bagimu seperti sebuah labirin yang kau harus berjalan di dalamnya, meskipun lelah kau harus tetap berjalan untuk bisa keluar dari labirin itu agar kau dapat bertahan hidup. Tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *