Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 November 2017

Keringat keringat sebesar biji jagung mulai diproduksi tubuhku. Mengalir dari dahi ke pipi, dari tangan berjatuhan dan tertiup angin, mengalir di kaki yang tertutup celana panjang sekolah. Dengan sekuat tenaga aku kayuh pedal sepeda di pagi hari itu. Tidak seperti biasa rasanya sangat berat, mungkin karena dari tadi aku terus mengayuhnya sekuat tenaga, jadinya staminaku terus terkuras.

Tanpa mempedulikan pengguna jalan lain dan pikir panjang, aku terobos lampu merah di perempatan. Bunyi klakson mobil dan motor seolah mendobrak dobrak gendang telingaku. Muka muka pengendara jalan lain yang jengkel dengan kelakuanku sekilas terekam di bola mataku, tapi tidak sempat aku hiraukan mereka.
“di dalam hati, “maaf maaf” aku teriakan bagi pengguna jalan yang merasa terganggu dengan cara mengendarai sepedaku yang sembrono itu.

Aku harus buru buru ke sekolah supaya tidak telat. Aku tidak biasanya seperti ini, karena kemarin malam aku harus mencari boneka beruang dan bunga mawar merah yang kutaruh di dalam tas, dan membuat tasku terlihat lebih berisi dari biasanya, guna kuberikan kepada Anggi teman sekelasku, yang sudah dari kelas satu sma aku memendam perasaan terhadapnya dan sekarang aku kelas dua sma. Dan hari ini aku bertekat menyatakan perasaanku kepadanya apapun yang terjadi perasaanku harus tersampaikan. Walaupun aku tau kalau itu tidak akan mudah. Karena Anggi itu terkenal cuek dan tidak mudah bergaul, cenderung suka menyendiri, paginya diantar dan pulangnya langsung dijemput, dan dia juga sering absen pas jam olahraga, tapi itulah yang membuatku tambah penasaran terhadapnya.

Leganya dadaku karena aku berhasil masuk gerbang sekolah tepat sebelum pak satpam menutup gerbang sekolah. Di kelas seperti biasa aku duduk di tempat dudukku yang biasa. Mataku mulai mencari cari keberadaan Anggi, ke kanan, dan ke kiri tidak juga kulihat keberadaanya, kulihat tempat duduknya masih kosong, yang berjarak dua bangku ke kanan itu dari tempat dudukku.

Tetttt, bel tanpa masuk pun berbunyi. Tapi tidak juga kulihat sosok Anggi duduk rapi di tempat duduknya seperti hari hari sebelumya
“Mungkin dia berhalangan hadir hari ini.” kataku di dalam hati sambil menghela nafas panjang.

Keesokan harinya, seperti kemarin Anggi tidak juga menampakkan dirinya masuk sekolah. Begitu pula tiga hari ke depan, Anggi seolah hilang tertiup angin musim panas bulan itu.
Dengan sekuat tenaga kukumpulkan keberanianku guna menanyakan keadaan Anggi ke wali kelasku, waktu istirahat. Terasa aneh bagiku setelah wali kelasku mendengar nama Anggi seperti dia terkejut, dan tidak berkata sepatah katapun, dia hanya memberikan secarik kertas yang isinya adalah alamat Anggi kepadaku.
“Jalan gunung puri, perumahan pantai indah, no : 13” kurang lebih itulah isinya.

Sepulang sekolah, dengan rasa penasaran yang begitu besar, kuhetikan taksi sambil membawa boneka dan mawar yang hendak aku berikan kepada Anggi, saat aku menyatakan perasaanku nanti. Kuberikan alamat itu ke supir taxi, sekitar setengah jam berlalu hatiku terasa dak, dik, duk membayangkan apapkah Anggi mau menerimaku atau tidak, akhirnya aku berhenti di sebuah rumah tingkat dua dengan pagar warna putih yang sangat besar, yang menurutku cukup mewah.
“Hatiku semakin dak, dik, duk melihat rumahnya”

Tett… tett…, suara bel yang kupencet yang tersedia di luar pagar. Ada sekitar sepuluh kali kupencet bel itu, tapi tidak nampak satupun orang terlihat di halaman rumah yang luas itu. Tett… tett… kembali kupencet bel rumah itu, tidak lama kemudian akhirnya nampak laki laki paruh baya memakai baju putih lengan pendek, topi hitam, dan celana panjang hitam, membukakan pintu pagar rumah itu

“Maaf dek, adek mencari siapa ya” Satpam itu langsung menegurku.
“Maaf pak saya mencari Anggi, apa benar ini rumahnya” Tanyaku balik.
“I ‘ iya benar memangnya adek ini siapa ya, apakah teman non Anggi” Dengan muka sedikit tegang dan nada bicara yang sedikit terpatah patah satpam itu menjawabku.
“Iya pak saya teman sekolahnya, saya khawatir sudah hampir satu minggu Anggi tidak masuk sekolah, memangnya Anggi kenapa ya pak?”

Tanpa mengelurkan satu patah katapun, akhirnya satpam itu mempersilahkanku masuk dan disuruhnya aku menunggu di ruang tamu yang cukup mewah itu menurutku, dengan hiasan ukiran ukiran kayu dan lukisan lukisan binatang yang mendominasi hiasan di ruang tamu itu.

Tidak lama kemudian akhirnya datanglah seseorang wanita tua membawa air minum untuk dia sajiakan kepadaku. Disusul dengan wanita yang masih muda memakai baju panjang putih dan rok hitam di bawah lutut, dan duduk di sofa depanku, sambil melihat boneka dan bunga yang kutaruh di sofa sebelah kiriku.
Lama kami berbincang membicarakan sekolahku, bagaimana Anggi kalau di sekolah, yang akhirnya ku tau kalau dia adalah ibunya Anggi.

Sudah hampir satu jam kami berbincang, akhinya
“Boleh saya ketemu dengan Anggi?” Permintaanku menyela pembicaraanya.
“Baiklah kalau itu memang maumu” Dengan sedikit tersenyum dia mengatakannya.
Akhirnya dibawanya aku di depan sebuah kamar yang berada di lantai dua. Dan dipersilahkanya aku masuk kamar itu. Pikiranku mulai melayang ke mana mana, kekhawatiran mulai melanda diriku
Dengan tangan kanan kuraih daun pintu itu, dan kubuka pintu itu pelan pelan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah kakiku masuk kamar itu.

Bagai jantungku berhenti berdetak, hancur berkeping, sekujur tubuhku mulai kaku menegang, boneka dan bunga yang kupegang dengan tangan kiri pun jatuh ke lantai, berbarengan dengan air mataku yang terus mengalir, menetes ke bawah tanpa bisa kubendung, melihat keadaan Anggi yang terbujur kaku di tempat timur, mukanya pucat, dan terpasang alat bantu pernafasan dan alat deteksi jantung, waktu seolah berhenti berputar.
Kulihat ke arah ibunya yang teryata sudah tidak kuat juga menahan kesedihan, melihat keadaan anaknya sekarang.
“Apa yang terjadi” Tanyaku ke ibunya.
Tidak satu kata pun terucap dari mulutnya, yang terlihat hanyalah air mata yang terus mengalir membasahi pipinya…

Cerpen Karangan: Wakhid
Facebook: Ryu Takumi

Cerpen Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Ku Menjadi Kenyataan

Oleh:
Aku tersenyum, sembari melihat foto para idolaku yang terpampang di dinding kamarku. Tepat pada tahun 2012, dan tepat waktunya pun pada saat liburan sekolah, aku pun berlibur ke rumah

Puisi Terakhir

Oleh:
Suatu hari di waktu senja terlihat seorang anak laki-laki berjalan gontai menuju arah pulang, begitu sepi sore itu tak ada kendaraan yang melintas hanya angan dan hayalan temani dia

Senja

Oleh:
Kecewa, mungkin hanya kata itu yang dapat mewakili apa yang sekarang Senja rasakan. Seketika air matanya pun jatuh berguguran membasahi pipinya yang kemerah-merahan. Air mata Senja yang kini berguguran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *