Heart Attack

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

Aku terkesiap ketika melihatmu datang hari ini. Kemarin kau bilang kau sedang sibuk dan tak bisa datang. Iya, aku sangat tahu jika dirimu begitu sibuk. Namun, aku juga tahu kalau dirimu selalu mengutamakan aku. Ketika kau bertanya seberapa besar aku mencintaimu, jawabannya adalah tidak bisa kau ungkapkan. Dan kau langsung tertawa saat itu. Hatiku menghangat ketika melihat tawamu. Namun apa kau tahu? Semua ini hanyalah kepura-puraan.

Semua ini adalah kepura-puraan yang aku mainkan. Kau terlalu buta untuk bisa melihat kebohonganku karena kau terlalu mencintaiku. Apa kau tahu alasan aku melakukan ini? Itu karena dirimu!!! Semua yang kulakukan ini karena dirimu!! Kau membuatku terpuruk lima tahun lalu. Kau mempermalukan aku! Dan yang lebih parah, kau menghancurkan hatiku yang tulus mencintaimu. Apa kau tak pernah ingat itu?

Gadis yang kau permalukan di depan umum, gadis yang selalu kau sakiti hatinya, gadis yang dulu amatlah polos dan tak mengerti cinta kini berubah setelah melihatmu. Gadis polos itu mencintaimu. Dan kau merusak kesan cinta pertamanya. Gadis itu berubah menjadi gadis pendendam. Iya, aku ingin membuatmu merasakan hal yang sama.

“Aku menunggumu sejak tadi…” kau berucap dengan lirih. Aku memasang senyum yang selalu berhasil membuatmu tenang.
“Maafkan aku, kukira kau tak datang,” kukira kau akan marah padaku. Namun ternyata kau tersenyum. Tetapi aku bisa menangkap bahwa dirimu kecewa. Dan aku cukup puas.

Dua bulan sudah aku bersamanya. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membalaskan sakit hatiku. Terserah kalian mau bilang aku apa. Aku hanya gadis yang tersakiti oleh cinta.

Hari berikutnya kau menemuiku lagi.
“Tania, aku pengen kita makan malam sama-sama hari ini,” aku tersenyum puas dalam hati. Tentu saja aku tak ingin pergi dengannya. Meski jauh dalam di lubuk hatiku, aku menginginkannya.
“Ada begitu banyak tugas menumpuk di kantor dan harus kuselesaikan. Maaffin aku ya?” aku berharap kau marah besar. Namun seperti biasa kau hanya tersenyum menanggapi penolakkanku. Apa kau gila?

Kau pergi. Aku muak denganmu. Mengapa kau tak marah saat aku selalu saja menolakmu? Mengapa kau selalu tersenyum ketika aku tak menanggapimu? Lalu di hari berikutnya aku tak sengaja bertemu sahabatmu. Sahabat yang diam-diam menyukaimu. Iya, dia menyukaimu. Awalnya aku biasa saja setelah tahu dia menyukaimu. Toh, aku juga sudah tak mencintaimu. Namun ternyata aku salah, aku uring-uringan karena dia menyukaimu.
Aku tersadar. Rasa cinta ini tak pernah hilang meski lima tahun berlalu. Aku akui itu. Namun otakku mendorongku untuk terus menyakitimu. Membalaskan dendamku. Cintaku dipenuhi oleh ego.

“Semalam Yuan mabuk dan dia terus manggil nama kamu. Tania! Kenapa kamu selalu bikin dia uring-uringan? Dia itu cinta mati sama kamu. Kenapa kamu selalu cuekin dia?” aku menatap Sofia sinis. Mengapa ia begitu memperhatikanmu? Ah aku lupa jika dia mencintaimu, Yuan.
“Aku udah pernah bilang ke kamu. Aku gak peduli sama dia,” Sofia terlihat marah padaku. Namun aku mengabaikannya.
“Sebenarnya apa sih yang buat kamu nyakitin hati Yuan terus? Aku gak tega lihat dan dengerin dia setiap malem curhat sama aku tentang keluhannya. Dan itu tentang kamu,” aku terdiam. Benarkah? Yuan tersakiti karena aku? Hei, bukankah aku seharusnya senang? Namun mengapa hatiku juga terasa sakit.
“Kalau begitu suruh dia lepas aku,” ucap ringan. Itu membuat Sofia menganga tak percaya.
“Mana mungkin dia bisa lepas kamu sedangkan dia terlalu cinta sama kamu,” nada suara itu bergetar. Aku menyeringai.
“Bukannya kamu suka sama dia? Kenapa gak manfaatin keadaan ini aja?” Sofia diam. Aku meninggalkannya setelah melemparkan tatapan sinis padanya. Ia masih bungkam bahkan setelah aku sampai di luar cafe.

Dan kini, giliran aku yang terdiam ketika melihatmu yang sedang menatapku. Aku mengernyit ketika menyadari tampilanmu begitu berantakan. Aku menghampirimu yang memanggilku parau. Kau menyuruhku untuk naik di mobilmu. Aku menurut saja. Dan cuek terhadapmu. Biarkan saja terus seperti ini hingga kau menyerah dan melepasku. Aku akan sangat puas karena kau telah merasakan apa yang aku rasakan.

Kau membawaku ke sebuah taman. Taman private. Aku yakin kau pasti menyewanya.
“Kenapa kamu berantakan?” pertanyaan itu aku ajukan sebagai bentuk formalitas saja. Apa perlu kuakui kalau aku sedikit peduli?
“Apa yang salah denganku? Aku mencintaimu. Sangat. Dan itu tulus, namun mengapa kau seakan bersikap seolah tak mencintaiku?” kau menatap mataku dalam. Aku ingin menghindari tatapan itu karena itu adalah salah satu kelemahanku.
“Karena aku memang tak pernah mencintaimu,” ucapanku yang dingin membuatmu kaku. Wajahmu berubah pias.
“Karena aku hanya ingin membalaskan dendamku!” kau mengernyit tak mengerti. Apa kau lupa denganku? Tentu saja kau lupa. Ada begitu banyak gadis yang selalu mengelilingimu.
“Balas dendam?” kau membeo. Aku menatapmu tajam. Air mata menggenang sudah di pelupuk mata.
“Ya! Membalaskan dendam gadis polos yang jatuh cinta pada seniornya lima tahun lalu! Membalaskan dendam gadis yang kau permalukan dulu! Dan juga gadis yang sudah kau rusak cinta dan hatinya! Apa kau lupa dengan gadis itu?! Gadis itu adalah aku!!!” aku menangis. Kau pun sama.
“Aku selalu menahan rasa sakit di hatiku karena ulahmu. Dipermainkan olehmu adalah hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku menangis namun kalau dulu justru tidak peduli. Apa kau memang seperti itu…?” Hatiku ingin tinggal. Sangat. Menumpahkan keluh kesahku padamu. Namun otakku tak ingin lagi berada di sini. Dendamku tuntas. Dan aku akan pergi, selamanya.
Akan tetapi kau lagi-lagi mencegahku. Menarikku dalam pelukanmu yang hangat. Kau memelukku dengan penuh rasa sayang. Jadilah aku menangis sejadinya di dalam dekapanmu.

“Aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku dulu.”
Kau terisak. Membuat basah pucuk kepalaku. Aku menutup mataku erat.
“Aku mencintaimu sungguh. Tapi aku sadar bahwa aku tak berhak memilikimu.”

Kau hanya tak tahu. Aku juga mencintaimu. Gadis polos yang naif ini masih mencintaimu. Aku memilih pergi meninggalkanmu. Rasa sakit itu masih ada. Berbekas. Kertas hati yang kau berikan minggu lalu sudah kubuang semua. Melupakanmu adalah cara terbaik untukku. Aku ingin melupakanmu meski tak yakin akan bisa berhenti mencintaimu.

“Bagiku, cinta itu egois,” lirihku sebelum benar-benar meninggalkanmu. Yuan.

The End

Cerpen Karangan: Sheny Dzalika
Facebook: Shenyy

Cerpen Heart Attack merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First And Last Love

Oleh:
Mencintai dan dicintai bukankah itu keinginan semua pasangan yang menjalain kasih? tapi bagaimana jika kita tahu bahwa semua itu tidak kita miliki akankah kita tetap melanjutkannya? Hari ini adalah

Malam Sepi

Oleh:
Di suatu malam yang sepi, terjadi hujan lebat yang mengguyur sepanjang waktu, tak pernah terdengar suara-suara dirinya yang begitu merdu. Bayangannya yang terus menari nari di pikiranku, membuat diriku

Seharusnya Percaya

Oleh:
Hari ini hari yang menegangkan buatku, mau gak mau, suka gak suka aku harus berani terus terang kepada keluargaku. Selama hampir 2 tahun ini aku diam-diam menjalin hubungan dengan

Terakhir

Oleh:
Gadis berwajah oriental itu tersenyum padaku. Diangkatnya gelas yang ada di tangannya, seolah mengatakan ‘mari minum’ yang kubalas juga dengan mengangkat gelasku. Plak! Sebuah tamparan mendarat di kepalaku. “Kenapa

Menjadi Pelampiasan Sementara

Oleh:
Ini cerita waktu menjelang akhir semester 1 kelas xii, tak kusangka akhir-akhir ini pertemana kami semakin dekat meskipun kami beda sekolah aku dan mira 1 sekolah tapi kalau dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *