Heart Sounds (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 21 May 2016

“Kita pergi ke karaoke, bagaimana?” pertama kalinya Zack mengajakku ke luar untuk berkencan. Bahkan aku tidak tahu ia menganggap ini kencan atau bukan.
“Hmm. Kapan?” jawabku yang sok jual mahal.
“Gimana kalau besok?”
“Boleh,” kataku.
“Asyiikk,” jawaban tak terduga darinya.
Hari H datang. Aku begitu excited. Tanpa ingin ku tunjukkan padanya. Sudah pukul 15.00. Dia belum juga menghubungiku. Gggrrr… Gggrrr… ponselku bergetar.
“Kita jadi kan?” tanyanya memastikan.
“Jadiiii…” jawabku dengan penuh semangat.

Di sana ia berdiri. Dengan kacamata dan senyumnya yang menawan. Ia menungguku di parkiran kantor. Ya, di kantor. Hari ini hari minggu. Tidak akan ada yang mengenali kami.
Aku diam. Menunggunya memilih lagu. Aku ingin mendengarnya bernyanyi. Ia mulai menekan keyboard mesin pencari. Ia memilih beberapa lagu yang tidak ku hafal. Ya Tuhan, aku senang mendengar suaranya. Ia terlihat sangat tampan ketika sedang bernyanyi.

“Kamu hidup di zaman kapan? Lagu-lagu yang kamu pilih ini sangat jadul. Sedangkan aku anak masa kini,” tukasku menggodanya. Dia menantangku memilih lagu untuk ku nyanyikan. Dengan malu-malu aku mulai memilih lagu. Ku pilih lagu yang ku suka. Ia tidak keberatan pada awalnya. Sampai akhirnya ia menghentikan nyanyianku pada lirik “But right now i wish you were here,”

“Katamu kau anak masa kini. Ini kan juga lagu jadul. Dasar,” katanya sambil mencubit pelan lenganku merasa gemas. Satu dua lagu kami nyanyikan bergantian. Beberapa lagu pun kami nyanyikan bersamaan meskipun salah satu dari kami tak hafal lagu yang diputar. Ku rasakan tangannya menyentuh jemariku. Ia menggenggam tanganku. Kehangatan tangannya menjalar ke seluruh tubuhku. Mengalahkan suhu ruang karaoke yang sangat dingin pada saat itu.

Aku terbangun. Tersenyum karena mimpiku semalam. Mimpi mengenai kencan pertamaku dengan Zack. Malam ini ia berjanji untuk menemuiku. Sudah pukul 21.00 setelah sejam yang lalu ia mengatakan akan ke tempatku. Aku masih menunggunya. Dengan menahan kantuk, aku terus menunggunya yang masih bekerja pada hari minggu. Bahkan ia mengirimiku fotonya yang masih sedang bekerja. Kau pikir aku tidak percaya padamu? Kau tidak perlu mengirimiku fotomu seperti itu. Batinku merasa lucu dengan tingkahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Ia bahkan tidak menghubungiku lagi. Ku pikir ia tidak akan datang, sampai beberapa saat kemudian ponselku berdering.

“Masih bangun?” suara yang sangat ku kenal di seberang sana.
“Masih. Aku kan nungguin kamu,”
“Aku sudah di depan,”

Kakiku bergegas ke luar gerbang. Melihat sosoknya di tengah kegelapan malam. Ku suruh ia masuk. Sesampainya di dalam, ia langsung memelukku. Ku rasakan kehangatan tubuhnya menyelimutiku. Wajahnya yang pucat menandakan lelahnya ia pada saat itu. Dalam hatiku berkata, “Aku harus merelakanmu,”

“Pagi.. Cassandra…” Zack, seperti yang biasa ia lakukan, menyapaku dengan senyumnya yang khas sambil mengelap kacamatanya. Kali ini aku mengacuhkannya. Ini untuk yang pertama kalinya. “Kamu jadi ikut acara kontak jodoh itu?” tanyaku di tengah-tengah pembicaraan kami yang sedang santai.
“Jadi nih,” Jawabnya dengan pasti.
“Aku gak habis pikir. Kamu anggap aku ini apa? Acara itu live dan kamu masih mau ikut?”
“Kamu gak ngerti. Ini hanya gimmick. Semua sudah diatur di belakang layar,” tukasnya membela diri.
“Tetap saja kamu tidak menghargai aku,”
“Beginilah yang aku tidak suka dalam menjalin hubungan. Ribet..”
“Ya sudah kalau kamu tidak suka. Aku memang ribet seperti yang kamu bilang,”
Aku pergi meninggalkannya yang masih kebingungan dengan amarahku. Ini adalah pertengkaran pertama kami. Yang sengaja ku buat. Aku ingin, ia menjauhiku.

Semakin hari rasa ini semakin tak tertahankan. Perasaan ingin memilikinya begitu dalam. Hingga aku menjadi sosok yang berbeda. Aku yang sekarang, adalah bukan aku yang sebenarnya. Aku mulai bersandiwara untuk posesif, menerornya dengan pesan-pesan yang dipikirnya tidak masuk akal. Aku mulai gelisah ketika suatu hari ia tidak segera membalas pesanku. Sebelumnya aku adalah sosok manis yang sabar menunggu balasan pesan darinya. Kalau gak kerja, pasti lagi nonton bola. Begitulah aku yang sebelumnya. Selalu positive thinking dengan apa yang ia lakukan. Kenapa aku gelisah?

“Kenapa kamu gelisah? Bukankah ini yang kamu inginkan? Kau menjauhinya karena tidak ingin egois katamu. Katamu dia akan lebih bahagia dengan yang lain..” Jawab Wulan merasa kesal dengan keputusanku yang ku ceritakan beberapa waktu lalu. “Aku sudah bilang. Jangan terus menerus menyalahkan dirimu. Kamu berhak bahagia. Kenapa kau terus memikirkannya yang bahkan tidak tahu kondisimu yang sebenarnya,” lanjut Wulan lagi dengan ceramah panjangnya.
“Terima kasih cintakuuu. Aku tidak apa-apa.. terima kasih atas nasihatmu itu.. tapi keputusanku sudah bulat,” Jawabku sambil memeluk sahabat terbaik sepanjang masa itu.

Sesampainya di rumah. Aku mengirim Zack sebuah pesan. Pesan perpisahan.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyuman. Itu yang ku rasakan hari ini. Zack mulai menjauhiku. Aku tidak suka perpisahan seperti ini. Ku coba menyapanya. Ia masih menjauhiku. Ku coba untuk menghiburnya. Ia menatap sinis ke arahku. Aku menyerah.

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu seperti ini,” Kataku dengan tulus. Sambil ku ulurkan tanganku padanya. Di tengah-tengah pekerjaan kami.
“Ya. Tidak apa-apa..” Jawabnya dengan santai. Senyumnya kini kembali.
“Jadi kita berbaikan? Kau boleh menghukumku seperti di film fifty shades of grey,” Tanyaku sedikit menggodanya untuk mencairkan suasana.
“Kau mau aku hukum seperti itu?” tanyanya balik dengan tampang sedikit mesum.
“Dasar kau ini. Hahaha,” Kini kami kembali normal.

Depan mesin photocopy sangat penuh dengan orang. Di belakangku sedang ada manager yang mengarahkan bawahannya. Hari yang sangat sibuk untuk bekerja. Di sana-sini orang. Kepalaku pusing melihatnya. Ku langkahkan kakiku ke dalam toilet. Aku merasa sangat mual. Sekembalinya aku ke meja kerjaku, gejala yang ku rasakan saat pertama kali kini muncul lagi. Aku menggigil. Gigiku gemetar. Ini di kantor. Aku tak bisa hanya diam meringkuk di meja kerjaku. Aku jalan cepat menuju pantry. Menyeduh air hangat di dalam gelas. Dan hanya menyentuh permukaan gelasnya. Tidak untuk diminum. Menggigil ini tak kunjung hilang. Aku kehabisan akal. Aku kembali ke meja kerjaku. Di depanku ada Zack. Ia tak memperhatikanku. Syukurlah. Ia tak sadar dengan kondisiku sekarang. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku kembali ke toilet. Ku hangatkan tanganku di bawah mesin handdryer. Gigiku masih gemetaran. Apa yang harus ku lakukan? Ku masuk ke dalam toilet dan hanya berdiam diri di sana. Hingga menggigil ini reda dengan sendirinya.

“Aku sudah lelah dengan hubungan ini. Aku tidak tahan menunggu tanpa kepastian. Aku sudah menemukan pria lain. Aku akan fokus padanya,” Kataku dengan lirih pada Zack yang kini ada di hadapanku.
“Aku memang berengsek. Menjauhlah dari si berengsek ini,” Jawabnya dengan raut sangat kesal.
“Aku tidak mengatakanmu seperti itu. Aku hanya bilang aku lelah menunggu. Kita masih bisa menjadi teman baik,”
“Tapi aku tidak dapat ke tempatmu lagi bukan?”
“Ya. Karena aku harus menjaga perasaannya,”
“Ya sudah kalau begitu. Urus saja pria itu,”
Ia pergi dengan menyisakan kebingungan di benakku. Aku tidak tahu bahwa ia akan semarah ini. Bahkan ia menghujat dirinya sendiri. Aku tidak suka perpisahan seperti ini. Kamu bukan ber*ngsek. Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya.

Tidak tahan dengan sikapnya yang kembali menjauhiku. Aku mencoba untuk menghubunginya kembali. Satu jawaban yang selalu ia lontarkan.
“Urusi saja pria itu,”
“Maafkan aku. Aku hanya menjadikannya alasan. Aku tak bermaksud untuk meninggalkanmu,”
“Oh begitu. Tapi aku sudah dekat dengan wanita lain. Aku mengenalnya setelah kau memberitahuku bahwa kau juga akan fokus ke pria lain. Aku pikir kau serius mengatakan ingin dengan pria itu,” Jawabnya dengan pasti.
“Tidak apa-apa. Kau sama dia saja. Jaga ia baik-baik. Selamat berbahagia dengannya. Ku doakan kalian menjadi pasangan yang cocok,”
“Terima kasih,”

Aku baru saja ingin menyuruhmu mencari wanita lain. Ternyata kita memiliki pemikiran yang sama. Bahkan kau melakukannya sebelum aku suruh. Aku sedih karena kita sepemikiran untuk hal seperti ini. Tapi aku bahagia kau telah menemukan penggantiku. Selamat tinggal. Aku mencintaimu. Kertas yang ku pegang kini basah. Samar-samar tertulis vonis dokter: “Pembengkakan Kelenjar Getah Bening,”

THE END

Cerpen Karangan: Sandra Auliana
Facebook: https://www.facebook.com/sandra.auliana

Cerpen Heart Sounds (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Listen To The Sound Of My Heart

Oleh:
“Dengar.. dengar suaraku memanggil namamu!!! Kau dimana, bisakah kita tetap bersama selalu? Dapatkah aku menggapaimu? Mungkinkah kau juga merasakan yang kurasakan kini? Ahhkkk… sungguh terlalu…!!! Kau memang berada dekat

Akankah Kau Kembali? (Part 3)

Oleh:
Empat hari selanjutnya, Bilqis mengajak Kelvin pergi, tapi Kelvin menolaknya. Dia beralasan bahwa dia sedang menyelawat temennya yang kecelakaan padahal Kelvin sedang menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Bilqis. “Lo

Lupa

Oleh:
Aku masih berdiri di bawah senja yang sama. Di bawah jingga yang sama. Juga di bawah temaram yang sama. Saat lembayung senja mulai mengirimkan pasukan merah saganya, mengusir sore

Kado Kesedihan

Oleh:
Namaku riska, saat ini aku duduk di bangku sekolah kelas 11 atau 2 sma, usiaku masih terbilang muda yaitu 16 tahun. Pagi ini aku masih bermalas-malasan di tempat tidur,

Kunanti Kinanti

Oleh:
Hari ini tahun ajaran baru, yang artinya aku resmi duduk di bangku kelas 12. Leganya, karena artinya ini tahun terakhirku harus berdamai dengan orang-orang yang senantiasa mengusik ketenanganku ditambah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *