Heart

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 March 2014

Aku melangkah menuju ruang tunggu di rumah sakit ini. Ibuku melarangku untuk menemaninya berkonsultasi dengan dokter yang menangani penyakitku. Dengan bosan, aku pun menuju ruang tunggu. Kulihat tidak terlalu banyak orang disana. Mungkin karena saat ini sedang jam sibuk.

Aku mencoba menyapa seorang wanita yang duduk di sampingku. Sepertinya dia lebih tua dariku beberapa tahun. Dari raut wajahnya, sepertinya dia orang yang ramah.

“Permisi, Kak. Sendirian saja, ya? Siapa yang sakit?” Dengan sopan aku bertanya padanya. “Ah, tidak. Aku kesini dengan adikku. Dia yang sedang menjalani tes kesehatan disini. Kamu sendiri bagaimana, Dik?” Dia pun menjawab pertanyaanku. Akhirnya, aku menemukan teman bicara yang menyenangkan. Karena selama dirawat di rumah sakit ini, atau lebih tepatnya keluar masuk rumah sakit, aku tidak pernah menemukan teman bicara seramah kakak ini, kecuali para dokter dan suster yang merawatku.
“Oh, aku kesini bersama ibuku. Tapi, ibu belum keluar dari ruangan dokter yang merawatku. Mungkin masih ada yang dibicarakan. Oh, ya. Nama kakak siapa? Masa aku gak tahu siapa teman bicaraku. Ya, kan, Kak?” Ia tersenyum padaku. Mungkin di pikirannya aku ini lucu. Salahku juga langsung mengajak bicara, tapi tidak bertanya namanya.
“Namaku Nadira. Panggil saja Dira atau Kak Dira. Kalau namamu, siapa Dik?” Ia menjulurkan tangannya padaku. Mungkin dia ingin mengajakku berkenalan. “Aku Kanaya, Kak. Teman-teman biasa memanggilku Naya. Nama kakak bagus sekali. Emm, kak Dira. Adik kakak sakit apa? Apakah penyakitnya cukup parah? Maaf lho kak kalau aku terlalu ingin tahu. Habis aku orangnya agak penasaran juga.” Aku membalas uluran tangannya sambil tersenyum.
“Namamu juga bagus, Naya. Sesuai dengan orangnya. Cantik.” Aku tersipu. Ternyata kak Dira juga bisa bercanda. “Dokter bilang, adikku menderita kelainan hati. Sebenarnya, sejak kecil ia tidak menderita penyakit itu. Tapi, sejak dia masuk SMA, ia mulai mengalami gejala penyakit tersebut. Hingga sebulan yang lalu, dokter memvonisnya menderita kelainan hati. Oh, ya. Itu adikku.” Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke arah kiri tempat ini. Seorang anak laki-laki melangkah menuju tempat kami bicara.
“Kak, dokter mau bicara denganmu. Ayo, kita kesana sekarang!” Dia memanggil kak Dira dengan sebutan kakak. Tidak salah lagi, dia pasti adiknya kak Dira.
“Naya, kakak kesana dulu, ya? Sampai bertemu nanti. Senang bisa bicara sama kamu.” Kak Dira sepertinya ingin pergi sekarang. “Iya, kak. Sampai jumpa. Aku juga senang sudah kenal dengan kakak.” Dia kemudian berdiri. Kulihat kak Dira menggandeng adiknya. Senang sekali rasanya punya kakak seperti kak Dira. Aku juga mau.

Aku kemudian melangkah menuju ruangan dokter. Tiba-tiba aku teringat adiknya kak Dira. Aku pikir dia juga orang baik seperti kak Dira. Tapi, kenapa dia harus mengalami penyakit itu? Aku yakin, kak Dira pasti sedih jika harus kehilangan adiknya. Ya, Tuhan. Jagalah adiknya kak Dira. Buatlah dia menjadi sehat kembali. Tanpa sadar, aku mendoakan dia. Aku tak tahu jika itulah awal cerita tentang aku dan dia.

Hari ini, hari pertamaku masuk sekolah. Sebenarnya aku sudah kelas XI. Tapi, ayah memintaku untuk pindah sekolah. Sejak aku diduga mengidap kanker otak, kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke kota dengan tujuan supaya aku lebih mudah untuk berobat. Dan, hari ini aku menjadi murid baru di sekolah ini. Salah satu sekolah elit di kotaku dan aku tercatat sebagai murid di sekolah ini.
“Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Kanaya Adinda Ayumi. Saya murid pindahan dari SMAN 3. Semoga teman-teman semua bisa menerimaku di kelas ini. Terima kasih.” Itu adalah perkenalanku satu jam yang lalu. Aku diterima di kelas XI Bahasa 2. Ya, sesuai impianku sejak kecil. Aku ingin masuk program bahasa dan menjadi seorang penulis.

Sejak aku tahu kalau aku mengidap penyakit mematikan itu, aku mulai mempergunakan waktuku dengan sebaik-baiknya. Aku lebih sering menghabiskan waktuku bersaama ayah dan ibuku di rumah daripada keluar rumah tak karuan dengan teman-temanku. Karena itu pula, aku sering disebut teman sekolahku kuper. Dan, pada akhirnya aku tidak mempunyai sahabat dekat.

Aku sendiri tidak terlalu memikirkan penyakitku ini. Bagiku, semua sudah digariskan oleh Tuhan di alam sana. Dan aku tidak bisa melawan takdir Tuhan. Aku hanya tidak ingin menjadi beban untuk orang lain, termasuk orangtuaku. Karena itu, aku selalu mencoba menyembunyikan sakit yang kurasakan dan selalu tersenyum setiap hari. Aku tidak ingin orangtuaku khawatir.

Tiba-tiba aku tersadar. Teman sebangkuku sepertinya orang yang ku kenal. Paling tidak aku pernah bertemu dia di suatu tempat. Tapi, ini sangat aneh. Bagaimana mungkin aku mengenal orang-orang di kelas ini? Padahal baru hari ini aku masuk di sekolah ini. Kuberanikan diriku untuk menyapanya. Aku ingat sekarang. Dia adalah adiknya kak Dira. Orang yang aku temui di rumah sakit bebarapa hari yang lalu.

“Maaf, kamu adiknya Kak Dira, ya? Kamu ingat nggak sama aku? Aku yang di rumah sakit beberapa hari yang lalu dengan Kak Dira.” Aku bertanya padanya. Dia menoleh sekilas kepadaku. Kemudian dia sibuk kembali membaca bukunya.
“Maaf, kita kan belum kenalan. Boleh aku tahu siapa namamu?” Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia menatapku tapi tidak membalas uluran tanganku. Sombong sekali dia, pikirku. Beda dengan kak Dira.
“Dika, kita ke kantin, yuk! Aku lapar nih.” Seorang anak perempuan menghampiri kami. Jadi, namanya Dika. Coba bilang dari tadi. Tapi, siapa gadis ini?
“Aku belum lapar. Kamu sendiri saja kesana atau ajak teman-teman cewekmu. Aku lagi malas keluar kelas.” Akhirnya dia menyahut. Apa hubungan Dika dengan gadis ini? Sepertinya mereka begitu dekat.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau. Tapi, nanti pulang sekolah bareng, ya? Jangan lupa!” Kulihat Dika menganggukkan kepalanya. Itu artinya mereka akan pulang sekolah bersama. Kemudian gadis itu keluar bersama teman-temannya. Tinggal aku dan Dika serta beberapa siswa lainnya di dalam kelas. Memang, bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu.
Aku masih memikirkan Dika ketika jam pelajaran olahraga berlangsung. Hari ini, guru olahragaku tidak hadir karena ada urusan. Jadi, kami hanya bermain basket saja di lapangan. Beberapa teman laki-laki sedang asyik bermain basket, sementara yang lainnya duduk-duduk di pinggir lapangan. Aku memilih duduk di bangku pinggir lapangan. Sendirian. Aku masih belum terbiasa denagn teman-teman baruku.

“Kanaya, mau main basket bareng aku?” Seseorang menyapaku. Dika, akhirnya dia bicara padaku. “Maaf, Dika. Bukannya aku tidak mau, tapi aku sedang kurang enak badan. Jadi, kalau kamu mau main silahkan saja. Maaf, ya. Aku tidak bisa ikut.” Apa yang terjadi padanya? Ternyata dia juga bisa bersikap ramah kepadaku.
“Ya, sudah. Aku main dulu, ya” Dia kemudian menemui teman-temannya. Hmm, akan ada tanding basket hari ini. Harus ku akui, aku juga tergila-gila dengan basket. Tapi, karena penyakitku aku tidak bisa leluasa memainkannya.

Permainan masih berlangsung. Tim Dika sudah unggul jauh melebihi tim lawan mereka. Teman-temanku yang lain bersorak-sorai mendukung tim mereka masing-masing. Setelah dilihat-lihat, ternyata Dika jago sekali bermain basket. Sepertinya, aku mulai mengaguminya.

Buk, tiba-tiba bola basket mengenai kepalaku. Aku tidak tahu siapa yang melemparnya padaku. Aku kehilangan keseimbangan dan terduduk. Tapi, aku tidak pingsan. Aku masih bisa melihat teman-temanku mengerubungiku. Kulihat Dika membangunkanku dan memapahku menuju ruang UKS. Dan, aku merasakan darah mengalir dari hidungku.
Dika mendudukkanku di ranjang. Ia mengambil kapas dan mencoba menyumbat hidungku untuk menghentikan pendarahan hidungku. Dika begitu baik, batinku.

“Kamu baik-baik saja, kan? Aku betul-betul minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku, Naya.” Ia menggenggam tanganku. Sepertinya itu permintaan maaf yang tulus. Kutatap matanya. Aku bisa melihat sinar ketulusan itu.
“Iya. Tidak apa-apa kok, Dika. Tenang saja, aku pasti memaafkanmu.” Aku tersenyum padanya. Entah kenapa, aku selalu merasa nyaman jika di dekatnya. Ketika ia menatapku, hatiku berdebar tak karuan. Aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sepertinya, aku jatuh cinta padanya.

Aku menikmati rasa ini. Di akhir hidupku, aku ingin sekali merasakan yang namanya jatuh cinta. Dan tak ku sangka, akhirnya aku pun merasakan hal itu. Dika, terima kasih karena telah menuntunku untuk menemukan cintaku.

Bel masuk belum berbunyi. Aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku. Sebenarnya, pagi tadi kepalaku sangat sakit. Aku muntah beberapa kali. Naluriku mengatakan bahwa keadaanku tidak baik-baik saja. Namun, kupaksakan diri untuk masuk sekolah hari ini.

“Hei, kamu yang bernama Naya, ya? Kamu jangan suka mengganggu hubungan orang lain. Gara-gara kamu deketin Dika, dia sekarang mengacuhkanku. Semua ini gara-gara kamu.” Tiba-tiba gadis yang kulihat menghampiri Dika kemarin membentakku. Aku tidak mengerti maksudnya. Apa hubungan mereka? Apa mungkin mereka…?
“Aku tidak mengerti maksudmu. Siapa yang mendekati Dika? Aku hanya berteman dengannya. Kamu sendiri, siapa? Kenapa kamu marah-marah kepadaku?” Aku mencoba melawannya. Padahal kepalaku makin sakit sekarang. Ya, Tuhan. Kuatkan aku.
“Oh, kamu belum tahu ya siapa aku. Aku Alina, pacarnya Dika. Sekarang aku peringatkan sama kamu. Jangan ganggu Dika lagi. Kalau sekali lagi aku melihat kamu deketin dia, hati-hati saja!” Dia mengaancamku. Aku betul-betul tidak suka dengan sikapnya.
“Alina, hentikan! Kamu ini kenapa, sih? Aku dingin sama kamu bukan karena dia. Tapi, karena sikapmu sendiri yang kasar. Aku tidak suka itu!” Tiba-tiba Dika datang menghampiri kami. Ia menggenggam tangannya. Seakan menahan api amarahnya.
Aku merasa pusing. Penglihatanku berkunang-kunang. Aku tidak tahan lagi. Tuhan, jangan kau ambil nyawaku sekarang…

Aku membuka mataku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbaring di tempat ini. Sepertinya aku dirawat di rumah sakit. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi.
Ternyata Alina pacarnya Dika. Mengetahui kebenaran itu, hatiku terasa sakit. Aku merasa sedih. Itu artinya tidak ada lagi kesempatanku untuk bersama Dika.

Sayup-sayup kudengar pembicaraan dokter dengan ayahku di luar kamar. Aku mendengar kalau penyakitku semakin parah. Ya, Tuhan. Apakah semua pengobatan yang kujalani akan sia-sia?
“Naya, kamu sudah sadar, Dik? Ini Kak Dira.” Aku melihat kak Dira masuk ruanganku. Bagaimana dia tahu kalau aku dirawat disini? “Iya, Kak. Kak Dira darimana? Kenapa Kak Dira bisa menjengukku kesini?” Aku bertanya padanya.
“Tadi Dika yang memberitahu Kakak. Mungkin sebentar lagi dia akan kesini. Kakak keluar dulu, ya? Mau cari makanan. Mungkin Ayah dan Ibumu mau bertemu kamu.” Bersamaan dengan keluarnya kak Dira, ayah dan ibuku datang menemuiku.
“Ibu, Naya sudah tahu semuanya. Mungkin lebih baik kita hentikan saja pengobatan ini. Naya tidak mau hanya terbaring di rumah sakit tanpa bisa menikmati dunia luar. Ibu, Naya nggak mau meninggal disini.” Aku memohon kepada ibuku. Kulihat ibu menangis.
“Naya, kamu harus dirawat dulu sampai kondisimu stabil. Nanti, setelah kamu agak baikan, kamu boleh kok keluar dari sini. Ya, sayang?” Sekarang ayah yang bicara padaku. Aku pun menganggukkan kepalaku. Aku menerima permintaan ayah.
“Ayah, adik dari wanita tadi adalah temanku. Namanya Dika. Dia menderita kelainan hati. Aku mau, jika nanti aku sudah tidak ada lagi, aku ingin mendonorkan hatiku untuknya. Aku serius, Ayah!” Aku sudah memikirkan hal ini sejak pertama kenal Dika. Aku ingin membantunya. Apalagi sekarang ku sadari kalau aku menyayanginya.
“Naya, apa yang kamu pikirkan? Kamu pasti sembuh. Ayah yakin, kok. Kamu jangan menduga yang tidak baik.” Sepertinya ayah makin sedih setelah mendengar permintaanku. “Naya hanya ingin menolongnya. Naya ingin memberi kehidupan yang baru untuk orang lain. Naya mohon, Ayah, Ibu. Ini permintaan Naya yang terakhir. Bila memungkinkan, semua organ tubuh Naya yang masih bagus didonorkan saja. Bukankah hanya otak Naya yang sakit?” Kulihat ibu menangis. Mungkin permintaanku kali ini agak berlebihan. Tapi, ini semua dari lubuk hatiku yang terdalam.
Aku berharap ayah dan ibuku bisa mengerti dengan pilihanku. Aku tidak mau meninggal begitu saja. Setidaknya ada hal baik yang bisa aku lakukan untuk orang lain. Terlebih untuk Dika. Aku sangat menyayanginya. Aku takut jika waktu yang kumiliki tidak banyak lagi untuk bersama dia.

Hari ini, aku mengajak Dika untuk menemaniku pergi ke suatu tempat. Walaupun tubuhku masih kurang sehat, tapi aku sangat ingin pergi. Syukurlah, Dika mau menemaniku.
“Kita sudah sampai.” Aku memberitahunya. Sengaja hari ini aku mengajak Dika ke makam kakakku. “Makam siapa ini?” Dika bertanya padaku. Mungkin ia tidak mengerti dengan maksudku.
“Ini makam kakakku. Kak Ryan. Dia meninggal empat tahun yang lalu. Dia kakak terbaik bagiku.” Aku bercerita tentang kak Ryan kepadanya. “Oh, lalu kenapa dia meninggal? Dan apa tujuan kamu mengajakku kesini?” Dika kembali bertanya. Sepertinya dia sangat penasaran.
“Kakakku meninggal karena kecelakaan. Sebuah bis menabrak dia dan motor yang dikendarainya dari belakang. Padahal, saat itu ia ingin membelikanku hadiah ulang tahun. Ia meninggal setelah dua hari dirawat di rumah sakit.” Aku mengingat bagi masa itu. Ketika aku menangisi kepergiannya.
“Maaf kalau gara-gara aku, kamu jadi teringat peristiwa itu.” Dika menggenggam tanganku. Mungkin ia mencoba menguatkan hatiku.
“Aku ingin memperkenalkan kamu dengan kakakku. Aku pernah janji sama kakak, jika ada orang yang sangat aku sayangi, aku akan membawa orang itu kepada kakakku.” Kulihat ekspresi wajah Dika. Ia sangat terkejut.
“Maksud kamu, Naya? Jadi, aku…” ia tak meneruskan ucapannya. Ternyata kamu tidak tahu kalau aku sangat menyayangimu, Dika.
“Iya, aku sangat menyayangimu, Dika. Aku rasa, aku telah jatuh hati padamu. Aku mengatakannya sekarang karena aku takut jika waktuku tak mengizinkanku. Aku takut jika aku meninggal lebih dulu sebelum aku sempat mengatakan semuanya padamu.” Aku menatap matanya. Ia semakin tak mengerti.
“Maksud kamu apa? Jika aku meninggal. Kamu sakit, Naya? Kenapa tidak cerita?” Ia terlihat marah padaku. Padahal aku tidak bermaksud seperti itu. Kupikir ia sudah tahu tentang penyakitku.
“Kamu tidak tahu ya kalau aku sedang sakit? Aku sekarat, tanpa tahu kapan waktuku berakhir. Itu sebabnya, aku berterus terang padamu hari ini. Walaupun aku tahu kalau kamu tidak menyayangiku. Tapi, aku tidak apa-apa. Aku sudah bahagia bisa mengenalmu dan mencintaimu. Hingga helaan nafas terakhirku pun, hanya kamu yang aku cintai. Aku menyayangimu, Dika.” Setelah mengucapkan semua itu, kurasakan tetesan hujan. Hujan turun saat ini, sementara kepalaku kembali sakit. Mungkin ini adalah detik-detik terakhir hidupku.
“Dika, sebagai tanda cintaku padamu, aku telah menyiapkan sebuah hadiah. Maaf, jika hadiah itu tidak sesuai dengan keinginanmu. Tapi, aku tulus memberikan hal itu untukmu. Terimalah!” Kulihat ia tersenyum padaku. Itulah hal terakhir yang aku lihat di dunia ini. Kepalaku kian sakit. Aku tidak merasakan apapun lagi.

“Dika, ini surat dari Naya. Mungkin itu penjelasan untuk semuanya.” Kak Dira mengulurkan sepucuk surat kepada Dika. Setelah dibuka sampulnya, kemudian Dika membaca surat itu.

To : Andika Febrian Putra
Dear Dika,
Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Karena aku tidak ingin kau menganggapku pergi tanpa sepatah kata pun.
Dika, pertama kali melihatmu di rumah sakit, ada perasaan aneh yang menelusup hatiku. Tanpa sadar, aku mendoakanmu. Aku berharap kamu sembuh. Aku ingin kamu tetap menemani kak Dira.
Selama ini, hidupku tidaklah mudah. Aku sering pusing, mual, muntah-muntah karena penyakitku. Aku juga tidak ingin terkena kanker otak ini. Tapi, Tuhan telah berkehendak sehingga aku tidak bisa menghentikannya.
Tentang hadiah, aku ingin memberikan hatiku untukmu sebagai pengganti hatimu yang digerogoti penyakit itu. Aku ingin kamu sembuh dan sehat. Aku ingin melihatmu setiap hari bermain basket.
Dika, sebelum hatiku didonorkan kepadamu, hatiku telah terlebih dahulu menjadi milikmu. Bagaimana tidak, setiap hari aku selalu memikirkanmu.
Sesuatu pasti akan kembali kepada pemiliknya. Walaupun aku tidak disini lagi, tapi hatiku telah menemukan pemiliknya dan ia akan segera kembali padamu.
Aku akan selalu ada di dalam hatimu karena hatiku milikmu. Aku menyayangimu, Dika. Hiduplah dengan bahagia. Dan, kuharap jangan pernah kau lupakan aku.

With love,
Kanaya Adinda Ayumi

Airmata Dika menetes. Mungkin ia begitu sedih setelah membaca surat itu. “Aku juga menyayangimu, Naya. Selamanya kamu ada di hatiku, karena hatiku adalah milikmu.”

Cerpen Karangan: Rahmi Pratiwi
Facebook: Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia

Cerpen Heart merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Telepon

Oleh:
Panggilan pertama tidak diangkatnya. Begitu juga dengan panggilan yang kedua, hingga panggilan yang ketiga… “Asslmualaikum” suaranya terdengar. “Waalaiksalam, apa Riri mengganggu waktu mu” tanya ku “tidak!” sahut Bima. “Riri

Tak Pernah Kusadari

Oleh:
Pagi yang dingin menyapaku hari ini, dengan berat hati aku bangkit dari tempat tidurku, langsung kuambil air untuk bersuci dan melaksanakan kewajiban bagi seluruh umat islam (sholat) setelah kewajiban

Senjaku Senjamu

Oleh:
Buat sebagian orang, senja mungkin jadi hal yang paling romantis. Karena senja merupakan titik yang menyatukan batas antara siang dan malam. Saat matahari mulai pulang dan berganti bulan. Namaku

Sudah Terlambat

Oleh:
Semilir angin menghembus menusuk ke dalam jaket yang ku pakai. Ya, ini sudah musim dingin. Malam sudah tiba dan aku masih berada dalam perjalanan menuju rumahku. Inilah aku Didit.

Karya Hati

Oleh:
“kau boleh acuhkan diriku.. dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku.. kepadamu..” Sepenggal kalimat itu yang kini sering berderu di telingaku. Aku Nan, seorang gadis kecil kini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Heart”

  1. rein says:

    bagus..bagus

  2. kanaya larasisi says:

    bestt bangett namanya hampir sama kayak aku trus orang yg disukanya juga sama 😀

  3. ceritanya mengharukan, good job teruslah berkarya 🙂

  4. Liza says:

    udah ketebak….baguss (y)

  5. srirosalina1d says:

    Critanya bagus bnget..

    Good job

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *