Help Me Go Away, Is

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 24 November 2014

“Salahkah bila aku masih mencintaimu?”

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku,

Aku masih ingat betul bagaimana awal pertemuan kita dulu. Cukup sederhana walau aku telah lupa alur ceritanya. Aku yang mengenalmu dengan hati yang tulus dengan cinta yang ala kadarnya, begitu juga denganmu. Aku tahu, pertemuan petama kita itu adalah sebuah hipnotis yang mampu melumpuhkan hatiku dan hatimu, menurutku begitu. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan yang pertama itu ada rasa yang sama menjamah hati kita masing-masing. Aku menyebutnya rasa CINTA. Ya cinta itu hadir dengan sendirinya atas restu Allah. Dan apa salah dengan cinta ini yang tiba-tiba hadir di hati kita? Aku pikir tidak. Sebab dengan cinta, hatiku serasa sudah menyatu dengan hatimu. Walau aku tidak tahu bagaimana nanti jalan kedepannya.

Lalu, karena takut ketahuan orangtuaku. Akhirnya aku sembunyi-sembunyi untuk menjalani cinta ini. Tentunya kamu juga ingat liku-liku yang harus kita hadapi saat aku harus fokus dengan belajarku dan kamu fokus dengan pekerjaanmu. Bahkan untuk bertemu pun sebulan hanya 2 atau 3 kali saja. Terkadang kita bertemu hanya lewat via telefon saja dikarenakan jarak kita memang jauh. Kamu tahu bagaimana rinduku saat itu? Sangat rindu sekali padamu. Namun aku tetap bertahan, karena hati ini terlanjur setia memilihmu. Dan aku, aku berkomitmen pada diriku sendiri. Tidak mudah menjalani LDR seperti ini. Aku menerapkan empat kunci untuk hubungan kita, kejujuran, saling percaya, pengertian, dan kesetiaan. Tanpa aku minta pun kamu juga menerapkan itu. Waktu itu aku merasa orang yang paling bahagia yang pernah memilikimu.

Hingga beberapa bulan kemudian, kamu beranikan diri untuk memperkenalkan dirimu di hadapan kedua orangtuaku. Sungguh ini diluar dugaanku. Mereka menyambutmu dengan hangat dan memberi tanda lampu hijau yang artinya setuju. Setuju atas hubungan ini. Ya, kita menjalaninya seperti air mengalir dan waktu yang berputar. Hingga aku putuskan untuk merantau mencari kehidupan yang baru. Aku ingin mengetahui dunia yang lain itu. Entah apa alasanmu, kau memutuskanku dengan alasan yang sebenarnya tidak bisa aku fahami. Sejujurnya aku tidak terima itu. Namun kau tetap bertahan dengan keputusanmu. Sampai tiba hukum karma itu terjadi yang waktu itu kecelakaan menimpa dirimu.
Saat itu air mata ini tidak bisa aku bendung setelah membaca pesan darimu yang tertulis di layar handphoneku.
“Dek, do`akan mas. Besuk mas akan operasi.”

Seperti mendengar petir di siang hari. Seluruh tubuh ini rasanya lemas dan aku bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan dirimu? Lalu aku menelefonmu yang waktu itu paklik yang mengangkat. Beliau menceritakan bahwa, kamu kecelakaan kemarin sore. Seketika aku shock dan ingin menjengukmu di rumah sakit. Tapi paklik melarangku, sebab waktu itu kamu dirawat di rumah sakit Solo. Sebenarnya sangat mudah bagiku untuk menyalahkanmu atas alasanmu yang melukaiku dan meninggalkanmu waktu itu. Namun hati ini tidak bisa dan di hati ini masih ada namamu. Masih ada sayang untukmu, cinta, juga rindu semua milikmu.

Dua hari kemudian setelah kamu dibawa pulang ke Ngawi, aku sempatkan untuk datang menjengukmu yang saat itu kita sudah tidak ada hubungan sama sekali.

Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat melihatmu terbaring di atas kasur yang tak berdaya itu? Air mata ini sungguh tidak bisa aku bendung. Aku ingin memelukmu, aku ingin merawatmu, aku juga ingin menemanimu sampai kamu sembuh. Hati ini juga sakit melihatmu terbaring tak berdaya. Pikirku, inikah hukum karma itu. Di sisi hati aku merasa lega, karena kita sama. Sama-sama merasakan luka, aku luka pada hatiku, dan kamu luka pada jiwamu. Mungkin aku terlalu jahat jika berfikir seperti itu. Di sisi lain aku juga masih sayang denganmu. Entah apa yang membuat aku masih bertahan denganmu, yang jelas-jelas sudah melukai hatiku. Hingga setelah kecelakaan itu, aku putuskan untuk merantau dan meninggalkanmu disini bersama luka. Tapi apa kamu pikir kamu saja yang terluka, aku pergi juga membawa hati yang luka dan lebih parah darimu.

Dua tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk kita berpisah. Mungkin jika kita mau, kita bisa menemukan seseorang yang lebih bisa memahami hati kita masing-masing. Dan seiiring berjalannya waktu, mungkin kita bisa melupakan hati yang pernah kita miliki dulu. Kenyataannya tak semudah yang aku bayangkan. Saat ini memang tidak ada satu pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, sekalipun itu orang yang lebih baik darimu, lebih kaya darimu. Jujur, memang tidak ada. Pernah aku mencoba untuk melupakanmu dan mencari penggantimu. Sayang, berkali-kali aku mencarinya, aku juga semakin setia padamu, aku semakin sayang padamu. Sampai aku berfikir dengan kadar ukuran otakku, “Mungkin kita jodoh. Tapi entahlah rahasia ALLAH itu lebih indah dari pikiran juga rencana kita.”

Kamu tidak pernah tahu apa yang aku rasakan selama dua tahun itu, aku sangat merindukanmu dan perasaan ini aku pendam sendiri. Sampai suatu saat aku harus pulang ke kampung halamanku, sebab ada sesuatu hal yang membuatku harus pulang. Aku pulang? Ya saat itu cintaku juga pulang untuk menemuimu kembali. Untuk kembali menyandarkan hati ini atau justru aku akan meninggalkamu, entahlah. Yang aku tahu, aku semakin mengharapkanmu untuk kembali kepadaku lagi.

Benar. Dugaanku benar. Kamu kembali kepadaku lagi dan alasan yang kamu buat dulu itu sudah tidak berlaku. Aku tersenyum lebar dan aku menang. Ya, aku menang atas pertandingan rasa ini. Sejak kepulanganku itu, kamu semakin rajin untuk datang ke rumahku. Sambutan hangat dari kedua orangtuaku sama sekali tidak berubah dan masih sama seperti dulu. Bahkan semakin hari, baik dari keluargamu atau keluargaku juga sudah merestui hubungan kita. Aku semakin semangat untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih halal, tentunya dalam ikatan suci dan membina rumah tangga bersamamu. Kita akan menciptakan keluarga yang harmonis, keluarga bahagia, dan keluarga yang aku harapkan bersamamu.

Tapi, tiba-tiba hatiku kacau, hatiku sedikit bimbang setelah beberapa kali dihantui oleh mimpi yang menurutku itu pertanda dari ALLAH. Tentunya kamu ingat, dulu aku pernah bercerita tentang mimpi itu. Masih jelas sekali di dalam ingatanku. Mimpi itu aku menikah denganmu, aku telah kamu khitbah dan kita merayakan pernikahan kita dengan bahagia. Aku sangat bahagia, sebab kamu telah menghalaliku walau hanya dalam mimpi. Apa kamu tahu, mimpi itu bukan hanya satu kali aku rasakan. Namun mimpi itu hadir berkali-kali dalam tidurku dan mimpi itu sama. Aku menikah denganmu. Jika kamu ada di posisiku, mungkin kamu juga akan merasa tersiksa atas mimpi itu dan akan mencari arti dari mimpi itu.

Sampai waktu terus berjalan yang seperti kereta. Tanpa peduli dengan stasiun yang ditinggalkannya. Yang ada ia terus melaju menuju stasiun selanjutnya dan ia akan menemukan kehidupan yang baru. Apa kamu masih ingat juga sebuah coklat hasil buatanmu sendiri yang kamu berikan padaku. Bukan soal rasanya, namun ada secoret tulisan yang kamu hiaskan di atasnya, “Do you want marry me?” Airmata ini hanya mampu menetes. Sebab bahagia yang menyelimutiku akan menjadi kenyataan. Dan pelaminan sebentar lagi akan menjadi istana kita. Aku yang bagaikan ratu fortuna dan kamu raja tertampan yang aku kenal. Bukan tampan dari fisik dan jiwamu, melainkan tampan dari segi hati dan kepribadianmu. Yakinlah, selangkah lagi kita akan menggenggam erat selah-selah jemari ini menuju kehidupan yang sakinah, mawadah, dan warahmah.
Hingga suatu hari kau berpesan padaku, “Dek, bilang ke bapak ibu. Aku ingin bicara sesuatu kepada mereka tentang hubungan kita ini.” Seketika aku langsung mengiyakan dan memberitahu kepada bapak ibu. Lalu beberapa waktu kemudian kamu menepati janjimu datang di hadapan bapak ibu dan aku. Tentunya kamu masih ingat dulu, apa yang kamu katakan waktu itu,
“Bapak, ibu sebenarnya kedatangan saya kesini mau mengajak Airin untuk hidup bersama saya. Jika bapak dan ibu mengizinkan, saya mau melamar Airin.” Katamu waktu itu. Setelah mendengar pengakuanmu itu, bapak langsung memberikan jawaban yang cukup sederhana dan bijak.
“Sejujurnya bapak tidak menolak niat baikmu Is, dan bapak juga belum menerimamu. Kalau memang niatmu serius, tunggu Airin dua tahun lagi. Sebab dia mau kerja dulu.”
“Insyaallah saya sanggup menunggu Airin,” tegasmu waktu itu.
Saat itu hatiku ingin berteriak bahagia. Karena sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Tentunya aku akan berusaha menjadi istri yang solehah buatmu. Inilah yang aku tunggu darimu, selama 5 tahun dalam hubungan kita. Keseriusanmu ingin menikahiku. Tapi waktu itu, hatiku sempat ragu. Apa kamu kuat menungguku selama dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat seperti dua hari untukmu menungguku. Kamu tahu itu bukan? Namun kepercayaan dan komitmen itu masih kamu pegang, dan kamu akan menungguku pulang.

Atas niat, tekat dan mimpiku ingin menjadi separuh dari hatimu, akhirnya aku putuskan untuk berangkat juga menjelajahi negara lain yang sebelumnya memang tidak pernah terpikir olehku. Berat. Itulah yang aku rasakan saat berpisah denganu. Tapi semua itu aku lakukan demi kebahagiaan orantuaku dan juga kamu, tentunya.

Satu, dua, tiga bulan kita masih berhubungan seperti biasa. Kita saling telefon dan curhat tentang dirimu atau diriku. Bahkan tentang rindu dan cinta ini yang semakin lama semakin terpendam untuk kita ceritakan. Delapan bulan sudah kita menjalani semua ini dengan baik-baik saja. Hingga memasuki bulan ke Sembilan akhir, suatu masalah muncul di antara kita. Persimpangan itu harus hadir untuk kita. Persimpangan yang tidak akan ketemu titik satunya. Hanya ego dan nafsu kita yang berbicara. Waktu itu kamu selalu bilang padaku. Nanti kalau aku pulang, aku tidak boleh bekerja lagi. Padahal sejujurnya dalam hatiku masih mau membahagiakan orangtuaku dulu, mau menepati janjiku dulu. Kamu tahu bukan kalau aku hanya anak semata wayang dan kalau bukan aku siapa lagi yang akan membahagiakan mereka? Itulah yang selalu kamu ucapkan padaku, yang jelas-jelas aku belum waktunya untuk pulang.

Suatu hari kita sempat bertengkar di telefon. Masih kamu ingat waktu itu?
“Dek, nanti kalau kamu pulang kita langsung nikah pokoknya.”
“Apa kita gak tunangan dulu mas. Nanti setelah tunangan, aku bekerja lagi satu atau dua tahun terus punya modal buat meresmikan pernikahan kita.”
“Gak mau! Pokoknya kamu pulang kita nikah.”
“Mas. Mas tahu sendiri kan, aku kerja buat orangtua, buat merenovasi rumah. Itu keinginan bapak ibu. Terus aku pikir aku belum punya tabungan sendiri, dan kamu tahu gimana adat jawa jika anak semata wayang itu menikah? Pasti biayanya gak sedikit mas. Kamu faham itu kan?”
“Pokoknya aku gak mau kamu kerja lagi. Aku mau kita nikah dan kamu tinggal di rumah”
“Gimana kalau kita tukar cincin dulu. Aku juga sudah bilang sama bapak ibu soal ini.”
“Gak! Pokoknya langsung nikah. Tapi kalau mau adik seperti itu, mas gak kuat nunggu dek. Mungkin hubungan kita cukup disini.”
DEG. Hatiku seakan berhenti mendengar ancaman kamu waktu itu. 5 tahun lamanya aku pertahankan semua ini demi kamu, tapi kamu menjawab enteng seperti itu. Kamu langsung mengambil keputusan tanpa berfikir panjang lagi dan mencari solusi yang lain. Mungkin kamu pikir ini sudah jalan keluar yang terakhir, namun menurutku ini belum. Ini tidak adil bagiku. Atau memang kamu sudah punya penggantiku yang lain, yang lebih dari aku. Kalau iya, kenapa kamu tidak jujur padaku? Kenapa kamu buat aku seperti ini. Kamu tahu 5 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk pertemuan kita ini.

Akhirnya aku langsung telefon bapak ibu soal keputusanmu ini. Mereka sudah menyerahkan semua ini kepadaku. Apa kamu tahu? Aku di ambang kebimbangan untuk memutuskan pilihanku. Aku akan menuruti kemauanmu dan itu artinya aku harus merelakan mimpiku untuk membahagiakan orangtuaku. Atau aku akan bekerja lagi demi kebahagiaan orangtuaku dan harus kehilanganmu. Sungguh ini pilihan yang sangat berat. Beberapa saat kemudian kamu menghubungiku lagi. Kamu memang benar-benar egois, tanpa memberiku waktu untuk berfikir lagi. Ya, seketika itu aku memutuskan dengan egoku dan hanya mengikuti nafsuku.
“Mas. Sekali ini saja. Kalau aku pulang nanti, kita tunangan dulu ya? Tolonglah fahami aku.”
“Ya sudah kalau keputusan adik seperti itu. Maaf mas tidak bisa meneruskan hubungan ini. Semoga kamu bahagia dengan hidupmu. Maafkan mas dek.” Kamu langsung menutup telefon itu.

Sakit. Luka. Perih. Itu yang aku rasakan. Bagaimana tidak, kamu melukaiku untuk yang kedua kalinya dan ini lebih parah dari yang dulu. Jujur, airmata ini tidak bisa aku bendung. Maaf aku tidak setegar yang kamu kira. Bahkan waktu itu kamu tidak memikirkan bagaimana hancur hatiku dan lemahnya jiwaku. Sebenarnya kata “khitbah” itu yang aku tunggu, tapi yang kamu berikan kata “pisah”. Jika kata-katamu dulu yang ingin mengkhitbahku tidak kamu ucapkan, mungkin hatiku tidak sesakit ini. Aku seketika langsung telefon ibu dan aku menangis sejadi-jadinya. Kamu tahu apa yang dirasakan bapak ibuku waktu itu? Sama denganku. Tapi mereka masih bisa tegar, masih bisa sabar. Mereka hanya mengambil hikmah di balik semua ini. Memang benar mimpiku yang lalu pertanda atas kejadian ini. Aku juga masih ingat kata-kata ibu yang berusaha membuatku tenang, “Sudahlah nduk, semua ini memang sudah rencana Allah. Mungkin Allah akan mempersiapkan yang lebih baik dari dia. Sudah ikhlaskan semua ini dan husnudzon saja.” Tapi aku belum terima itu. Aku belum terima atas keputusanmu dengan keegoisan kita. Aku benci kamu! Aku ingin marah padamu! Tapi apa daya, semua sudah menjadi bubur.

Dua hari kemudian aku mendengar kabar bahwa kamu sudah bertunangan dengan orang lain. Bayangkan dua hari itu waktu yang sangat singkat bagiku untuk mendengar semua ini. Kamu sungguh jahat! Kamu berani melukai hatiku lagi! Dan aku benci kamu! Jangan salahkan aku jika aku harus membencimu. Jika aku masih cemburu padamu. Karena aku hanya manusia yang punya hati, punya rasa, juga aku bukan Tuhan. Sungguh ini tidak adil bagiku. Atau memang benar, sebelum kejadian ini kamu sudah menyimpan sekuntum bunga dan kamu letakkan di sisi hatimu yang kiri. Kalau memang iya. Dimana perasaanmu saat kamu melakukan itu. Apa kesalahanku? Aku benci kamu Is!

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku

Salahkah aku yang mencintaimu selama ini? Salahkah aku yang ingin hidup bersamamu? Salahkah pula aku atas pilihanku padamu ini? Tapi kenapa ada persimpangan yang membuat kita selalu menjadi anak kecil. Hanya keegoisan saja yang kita unggulkan. Tidakkah kita berfikir sedikit dewasa? Bukankah cinta ini adalah anugerah dari sang illahi. Karena dengan cinta kita bisa menyayangi sesama, kita bisa mengasihi sesama dan tentunya antara aku dan kamu. Dimanakah letak salahnya cinta ini?

Jujur aku tidak rela kamu memilih yang lain dan begitu saja mempermainkanku. Aku tidak terima! Aku ingin kamu tanggung jawab atas luka ini! Mungkin kamu pikir aku sangat egois. Benar, aku egois karena luka yang kamu berikan padaku. Hingga aku seperti orang gila yang selalu mencintaimu dan selalu mengharap hadirmu untuk mengkhitbahku. Suatu keajaiban berpindah padaku, untuk membuka hatimu kembali untukku.

Satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk melupakanmu. Aku tahu kamu sudah menikahi orang lain dan kamu sudah hidup bahagia dengannya. Tapi aku yang disini, masih setia mencintaimu, masih setia menyayangimu. Entah kenapa aku tidak bisa melupakanmu walau hatiku sudah kamu buat hancur. Sakit hati ini masih membekas, namun cinta ini masih berkuasa untuk mencintaimu selalu. Biarkan cinta ini aku pendam sendiri dan entah sampai kapan posisi cintamu bisa tergantikan oleh yang lain.

Untuk hati yang pernah singgah di hidupku,

Ajariku cara melupakan cintamu. Ajariku cara menghapus jejakmu di hatiku. Ajariku pula untuk terus bertahan tanpa hadirmu. Atau mungkin lumpuhkan ingatanku tentangmu, tentang kita, dan juga kenangan yang pernah ada. Sebab sakit ini belum juga sembuh. Terlalu dalam luka yang kamu berikan padaku.

Cerpen Karangan: Bunga Sholekha
Facebook: Bunga Sholekha
Bunga Sholekha adalah nama pena dari Ririn Setiawati yang lahir di Magetan 30 Mei. Akhir-akhir ini ia baru menggeluti dunia kepenulisan. Karena dengan menulis ia dapat mensejarahkan kenangan. Karyanya “OSD IS MY INSPIRATION” masih dalam proses. Dapat dihubungi via tweeter @yiyin_setia.

Cerpen Help Me Go Away, Is merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Jalan Sahabat

Oleh:
Hari ini aku dan Claudia sahabatku pulang sekolah dengan menaiki angkot, tidak seperti biasanya. Biasanya kami pulang sekolah selalu dijemput oleh kakakku. Tetapi karena kakak sedang sibuk kuliah jadi

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 2)

Oleh:
Hari ini aku ke rumahnya. Jarak yang lumayan jauh. Tanpa kesulitan yang berarti aku menemukan lokasi rumahnya. Ku parkirkan motorku di halaman rumahnya sambil berjalan untuk mengetuk pintu, lalu

Dandelion

Oleh:
“Sadarkah kau, kita tak akan bisa bersama…” “Aku benci takdir…” “Tapi, kalau bukan karena takdir kita tak akan bisa bersama…” “Lebih baik tak mengenal jika harus sesakit ini…” “Kau

Elegi Senja

Oleh:
Di setiap kali senja tiba, aku dan Nabila terbiasa berjalan bersama di sepanjang pantai, bergandengan tangan di antara debur ombak, pasir putih yang basah, dan siluet senja yang mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *