Her (Last) Encounter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Udara pagi cukup dingin di kota itu, walaupun matahari cukup hangat menyinari. Headset merah yang dikenakan Adena tidak menganggu pendengarannya terhadap bunyi klakson mobil dan langkah kaki. Lagu-lagu yang memang bukannya kebetulan sama dengan suasana hatinya yaitu ingin bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ada kabar berputar dari iPod pemberian ayahnya.

Pagi itu masih dingin. Namun semangat Adena untuk jogging pagi itu tidak surut. Kota baru, orang-orang baru, pengalaman baru. Itulah yang dipikirkan Adena selama ini. Lulus SMA dan berhasil masuk universitas yang diinginkannya, lalu pergi dari kota kelahirannya untuk belajar dan mencari suasana baru. Hidup di tempat yang selalu sama tidak akan menyenangkan jiwanya yang menggemari eksplorasi.
Tidak sama sekali ia merindukan rumah. Semangatnya untuk memulai hal baru mengalahkan rasa rindunya. Lagipula, ia baru seminggu di sini, bahkan tahun ajaran baru pun belum dimulai. Tentu saja Adena masih sangat excited untuk hidup.
Saat ini yang dirindukannya hanya satu; Evan.

Adena menghela napas, berhenti sebentar untuk menatap sekitar, entah apa tujuannya. Lagu yang berputar mengiris hatinya dan menciptakan luka yang seharusnya sudah lama hilang, luka rindu yang membuat batinnya berperang melawan perasaan dan akal sehatnya. Pikirannya mengandai-ngandai, ia ingin sekali bertemu Evan lagi untuk mengobati luka itu.
Pikirnya pun melayang. Adena teringat kakaknya yang lebih tua dua tahun darinya. Adrian yang masuk universitas yang berjarak dua jam dari kota ini.

Adrian dan Evan adalah sahabat sejak mereka kecil. Adena ingat sekali perubahan Evan dari tahun ke tahun; dari masih kecil dengan topi birunya yang aneh, lalu menjadi anak culun dengan kawat gigi memalukan yang menjadi bahan ledekan Adrian, hingga akhirnya bertransformasi dan memiliki rupa bagaikan cowok-cowok di cover majalah remaja. Adena kenal Evan. Adena tau segalanya tentang Evan, walau Evan mungkin tidak sama sekali peduli tentang Adena.

Adena dan Evan tidak dekat. Bahkan disebut teman pun tidak cocok. Mereka tidak seperti itu. Bahkan, Adena hanya ingat pernah berbicara dengan Evan hanya dua kali seumur hidupnya. Mereka berdua hanya saling melirik dan melempar senyum, atau Adena yang hobi curi-curi pandang ke arah Evan sejak ia kelas 3 SMP.
Ya, memang. Kesadaran itu datang tiba-tiba, seperti bakteri yang perlahan tumbuh dan tiba-tiba menyerang dengan rasa sakit. Adena tidak menyangka, dari banyaknya laki-laki yang ia kenal, ia malah memiliki rasa untuk Evan. Evan masih kalah tampan dengan mantan kapten basket yang memberi Adena cokelat setahun lalu. Evan masih kalah pintar dengan mantan pengurus OSIS yang menyukainya sewaktu SMA.

Adena teringat dua tahun lalu, ia sedang berada di bawah hujan. Ia terjebak tidak bisa pulang dan merupakan salah satu orang yang masih berada di sekolah yang sangat sepi sore itu. Ia berpikir begitu, sebelum sahabatnya, Kesya, datang dan memberinya sebuah jaket Barcelona hitam yang benar-benar tidak asing.
Adena menatap jaket itu, lalu menoleh ke arah Kesya bingung. “Kenapa, Sya? Ini punyanya Kak Evan, bukan?”
Kesya mengangkat bahu. “Iya. Tadi gue abis dari perpus. Terus gue disuruh Bu Nanda kasih jaket ini ke Evan karena ketinggalan. Tapi kan gue enggak kenal dia. Dia temen kakak lo, kan?”
“Hubungannya sama gue?” Adena bertanya pura-pura bodoh.
Kesya menjitak kepala Adena. Adena pun mengaduh perlahan. “Lah, gimana sih lo? Dia kan temen kakak lo. Ya lo kasih aja ke Adrian, suruh dia kasih Evan. Gitu aja ribet.”
Adena menatap jaket di tangannya tidak percaya. Jaket Barcelona hitam kesayangan Evan berada di tangannya. Adena sebisa mungkin menyembunyikan panas di pipinya dan rona merah yang mungkin muncul.

Tak lama hujan reda, Adrian menjemputnya. Adrian, tipikal kakak laki-laki yang sok protektif, langsung menatap Adena aneh ketika melihat jaket di tangan adiknya itu. “Jaket Evan kenapa ada di lo?” tanyanya curiga.
“Kesya tadi nitip. Katanya tadi ketinggalan di perpus. Gue suruh kasih,” jawab Adena tanpa menawarkan Adrian untuk memberikannya pada Evan. Enggak, pokoknya gue harus kasih sendiri, biar dia ngomong sama gue, batin Adena saat itu.
Adrian hanya mengangguk percaya tanpa curiga bahwa Adena mau modus pada Evan, lalu membawanya pulang.
Adena banyak berfantasi tentang bagaimana ia akan memberikan jaket itu. Apakah Evan akan menanyai kabarnya? Ataukah Evan akan mengira Adena juga menyukai klub sepakbola Barcelona? Kalau yang terakhir, jujur saja Adena tidak tahu bagaimana menjawabnya. Tahu sedikitpun tentang sepakbola bahkan tidak.
Adena mencium jaket itu. Wangi parfum dan laundry, serta aroma air conditioner karena mungkin jaket itu sudah lama berada di perpustakaan. Bau itu tidak dilupakannya sampai hari ini.

Pada hari dimana Adena akhirnya mendapat kesempatan untuk memberikan jaket itu pada Evan, imajinasinya terbuang sia-sia. Evan hanya tersenyum pada Adena yang membuatnya ingin terbang dan berteriak pada dunia saking senangnya, sambil berkata, “Makasih, Den.”
Ah. Seandainya Evan ada di sini. Adena tidak pernah tau kemana Evan pergi setelah ia lulus SMA. Kakaknya tidak pernah cerita, dan Adena terlalu gengsi untuk bertanya. Adena terlalu gengsi untuk mengontak Evan atau melangkah duluan dalam perasaannya ini.

Lamunannya buyar ketika ia menabrak seseorang tanpa sengaja. Orang itu merutuk kesal, menyalahkan Adena karena sudah memperlambat langkahnya. Adena hanya meliriknya sinis, lalu kembali berjalan. Orang itu sukses membuat moodnya jelek di pagi yang masih dingin itu.

Adena menoleh ke kiri, melihat sebuah café yang buka. Ia berpikir-pikir apakah ia membawa cukup uang untuk masuk ke dalam. Adena mengecek kantung sweater merahnya dan menemukan uang yang cukup untuk membeli minuman. Ia berjalan dengan fokus, kali ini benar-benar mencoba meminimalisir kecelakaan sebisa mungkin, walau café itu hanya berjarak dua meter dari tempatnya berdiri.

Suasana di café itu agak berbeda bagi Adena, ia seperti merasakan sesuatu akan terjadi. Ia mendadak takut, namun ditepisnya perasaan aneh itu. Café ini terlihat tidak jauh berbeda dari café lainnya yang berada di kotanya dulu. Tidak ada yang benar-benar beda, hanya orang-orang yang tidak dikenalnya dan barista-barista yang masih asing dengannya.

Adena mendekati salah satu barista. Nama sang barista tertulis jelas di atas seragamnya. Dirga, baca Adena. Di sebelahnya ada seorang barista perempuan, yang tampaknya tidak jauh lebih tua dari Adena. Anis, tertulis di seragamnya. Senyum manis Anis dan senyum ramah Dirga, kolaborasi yang cocok. Adena tersenyum sendiri memikirkan teorinya.

“Selamat pagi. Mau pesan apa?” tanya Dirga ramah pada Adena sambil memberikan senyum yang menghangatkan.
“Ehm …,” pikir Adena labil. Adena sangat berhati-hati dalam membaca menu, agar ia tidak menyesal setelah memesan. Dirga menunggu Adena dengan sabar. Lagipula, tidak banyak orang yang datang ke café pagi itu. Dan pada akhirnya, Adena tersenyum sendiri karena setelah lama membaca menu, pilihannya jatuh kepada minuman yang selalu ia pesan setiap ia temukan. “Vanilla latte. Satu aja.”
“Oke. Tunggu sebentar, ya,” Dirga kembali tersenyum. “Nis, vanilla latte satu,” Dirga memberitahu Anis agar membuatkan pesanan Adena.

Adena melirik jam di café itu. Masih pagi. Langit di luar masih menunjukkan suasana dimulainya hari. Adena menoleh ke luar. Jalan raya semakin sibuk. Udara yang ia rasakan pun mulai agak panas. Adena jadi ingin cepat-cepat kembali ke flatnya. Dialihkannya pandangan sambil kembali menatap menu. Jari-jarinya bergerak tidak sabar.

Anis yang bergerak lambat dalam membuat pesanan Adena menoleh ke luar. Dalam waktu singkat, alisnya mengerut. “Evan?”
Adena melirik Anis, diam-diam kaget dan bingung. Jantungnya berdegup keras. Enggak mungkin. Serius ini enggak mungkin banget, batin Adena panik. Dirga hanya melirik Anis bosan.
“Nis, cepetan bikinnya,” tegur Dirga.
“Serius, Ga. Itu Evan. Tuh kan dia pakai jaket Barca item itu lagi. Nggak pernah ganti, kayak nggak pernah dicuci aja.”
Jantung Adena berdegup makin keras. Jaket Barcelona hitam. Evan. Mungkinkah itu dia? Adena tidak ingin berharap terlalu tinggi.
“Kalo Evan terus kenapa? Buruan bikinnya! Jangan salah fokus!” omel Dirga pada Anis.
Anis segera mempercepat geraknya. “Udah gue bilang ke si Evan kalo mau dateng bilang dulu.”
“Nis, buruan!”
“Iya, iya! Maaf, Tuan,” ledek Anis lalu menuang minumannya ke gelas.

Adena tersenyum simpul. Ada sedikit rasa aneh di hatinya melihat Anis. Meskipun tidak ada kepastian bahwa Evan yang disebut Anis adalah Evan yang ingin Adena temukan di sini, namun Adena merasa cukup kalah dengan penampilan Anis yang lebih baik darinya. Anis tampak menyukai Evan juga, dari tatapannya menatap siapapun Evan di luar jendela.
Anis mengoper gelasnya kepada Dirga, lalu kembali fokus memperhatikan keluar. “Tuh, Ga! Dia nyebrang!”
Ya ampun, cuma nyeberang. Gak usah heboh kali, batin Adena kesal. Kali ini dia benar-benar merasa terganggu.
“Terserah, Nis,” sahut Dirga sambil mengambil spidol. Dirga kembali menatap Adena. “Nama?”
Adena memaksakan senyum yang mungkin akan terlihat abstrak di wajahnya. Adena tidak peduli. Ia ingin cepat pulang. “Adena.”
“N-nya satu atau dua?” tanya Dirga.
“Satu.”
“Takut salah tulis,” kata Dirga pelan sambil tertawa kecil.
Adena hanya tersenyum.

“EVAN!”
Kali ini Adena menoleh kesal pada Anis, benar-benar merasa terganggu. Dirga yang sedang menulis nama Adena di atas gelas itu langsung menatap Anis marah. Sementara Anis masih menatap keluar, matanya membulat kaget, mulutnya menganga, bagaikan piranha kaget yang diawetkan di museum.
Dramatis, batin Adena kesal.
“Nis! Lo diem, dong! Kecoret, kan!” Dirga kembali mengomeli Anis. “Gue ngerti lo suka sama Evan, tapi gak usah lebay kali!”
“Ga … E-Evan …”
Dirga hanya melirik Anis kesal.
“Evan … tabrakan … ketabrak … Ga, lihat dong!”
Dirga tidak peduli dengan ucapan panik Anis. Itu hanyalah salah satu dari jutaan drama Anis bagi Dirga. Tapi Adena menoleh ke luar, begitupun para pelanggan lain yang berada di dalam café. Alis Adena mengerut panik. Beberapa pelanggan segera ke luar dari café itu. Orang-orang berkumpul di jalan raya, mendekati siapapun orang yang baru saja mengalami kecelakaan itu.

Adena ingin ikut berlari ke luar. Namun segelas vanilla latte ditaruh di hadapannya. Adena menoleh ke arah Dirga yang sedang tersenyum. “Adena, maaf kecoret. Soalnya—”
“Kak.” Adena memotong ucapan Dirga, menunjuk ke luar. “Itu.”
Dirga menoleh. Raut wajahnya berubah panik. Dirga segera berlari keluar, disusul Anis yang sudah histeris sebelumnya. Adena mengikuti dari belakang. Langkahnya gemetar. Semoga bukan dia, semoga bukan dia, Adena berdoa tanpa henti di dalam hati. Ia ingin sekali saja bertemu dengan Evan, tapi bukan begini caranya. Ini mungkin satu-satunya kesempatannya, ia tidak mau menemui jasad Evan tanpa nyawa.

Orang-orang sudah berkumpul ramai di sekitar tempat kejadian. Sebuah jaket Barcelona hitam terhempas dan tergeletak begitu saja di atas aspal, dengan beberapa tetesan darah. Adena meraihnya, menjauhi kerumunan yang tidak mempedulikan jaket itu. Diraihnya jaket tersebut dan diciumnya. Seketika ia panik.
Bau parfum dan bau laundry yang benar-benar tidak asing itu menyambut indra penciumannya. Membuatnya kaget dan takut seakan-akan rumahnya akan dibom oleh sekelompok terroris dalam dua jam. Didekapnya jaket itu, matanya berkaca-kaca seketika. Ia segera menyerobot kerumunan orang yang mengelilingi korban.

Jangan, ya Tuhan, jangan, batin Adena menahan tangisnya. Aku ingin melihat Evan, tapi bukan dengan cara ini!
Adena melihat tubuh lelaki yang mulai ditutupi koran oleh warga. Adena menyeruak mendekat. Ditariknya tumpukan kertas itu, tanpa peduli kalau orang-orang memakinya dan melarangnya, bahkan mencoba menarik Adena pergi.
Dan di sanalah ia melihat Evan untuk terakhir kalinya.

Cerpen Karangan: Shabrina HS
Facebook: facebook.com/shabrinahanifahs08

Cerpen Her (Last) Encounter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Petak Umpet

Oleh:
Cit ciit cuitt suara merdu burung Pipit di balik pepohonan membuat pagi hari ini terasa sangat istimewa. Ini hari minggu. Ada sesosok anak remaja sedang asyik melaju bersama motor

Setetes Embun di Pipimu

Oleh:
“Hahaha..” Suara canda sepasang kekasih yang sedang bercanda ria dengan teman-teman mereka di kantin sekolah. Memang pantas mereka menjadi sepasang kekasih, sangat cocok, dan hampir-hampir mereka mempunyai kesukaan yang

Beri Aku Cahaya

Oleh:
Arina semakin memeluk erat lututnya, sesekali menutup telinganya saat orangtuanya semakin meninggikan suara mereka. Tiap hari harus mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya membuat Arina stres berat, padahal dia baru berusia

Saat Terakhir Bersamamu

Oleh:
Tiada hari tanpa senyuman itu hanya karena kamu yang selalu tidak ingin aku sedih dan ingin selalu melihat aku tersenyum. Terima kasih sayang, selama ini kamu telah membuat aku

Separuh Aku, Kamu

Oleh:
Rasanya Karina ingin mencakar wajah perempuan itu. Namun Karina berusaha untuk menahan diri. Deliah tampak tenang di kursi kebesarannya. “Aku memang sangat mencintai Damian. Kau puas?” itulah jawaban Deliah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *