Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 3 March 2014

Laut biru itu, langit biru itu, bukit itu. Semuanya mengingatkanku kepada seseorang yang sudah hampir bertahun-tahun mengisi hariku.
Tertawa kecil ku mengingatnya, mungkin tak seorang pun tahu, sampai saat ini aku masih menunggu di tepi pantai, duduk di tengah keramaian, melihat lurus ke depan, berharap dia akan kembali dengan kapal besar nan megah, lalu datang menghampiriku dan mengatakan
‘aku sangat merindukanmu gisel’

Aku mengingat kembali masa lalu ku yang membuatku semakin merindukannya. Semua yang terjadi saat masih SMA, sehingga sekarang kami telah tumbuh dewasa. Semuanya terasa indah, kepolosannya, ketulusannya sangat ku sukai.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.

Tiba-tiba seseorang yang suaranya tak asing lagi di telingaku, dia Ria. Datang dan menghancurkan semua lamunan indahku.
“mengapa kau terus memikirkannya? Bukankah seharusnya kau bangkit dan tak mengingatnya lagi?” ujar ria sahabat terbaikku.
“bukannya tidak mungkin aku melupakannya, hanya saja tidak mudah bagiku untuk menghapus semua ingatanku tentangnya.” jawabku sambil membaringkan badanku ke pasir yang hampir setiap bulir-bulirnya telah menjadi kenangan kami.
“apakah menurutmu aku bodoh?” Lanjutku.
“iya, kau bodoh!! Bisakah kau sadar? Jangan terus berkhayal. Dunia kita dan dunia ken sudah berbeda. Kau jelas menunggu orang yang tak akan pernah kembali. Allah pasti punya rencana lain untukmu sel. Aku bukannya ingin memojokkanmu tapi tau kah kamu, semua yang menyayangimu terus mengkhawatirkanmu. Termasuk aku sel” ujar ria. Sudah berkali-kali dia mengatakan hal yang sama kepadaku.

Seketika ku terbayang akan saat itu, saat yang membuatku kehilangan dia. Iya dia, ken yang sangat ku cintai.

“aku membawa kabar baik”
“oh ya? Apa itu?”
“aku akan berangkat ke australia mengikuti tour bersama team pelayaranku besok”
“apa itu yang kau sebut kabar baik?”
“iya, itu kabar baik untukku.”
“mungkin untukmu itu kabar naik, tapi untukku itu adalah kabar buruk.”
“aku pergi tidak untuk selamanya kan? Aku pasti kembali”
“aku akan sangat merindukanmu ken”

Semua percakapam itu terngiang kembali di telingaku, yang kurasakan Saat itu adalah gelisah, sungguh aku tak pernah merelakan keberangkatannya. Sampai saat ini aku terus menyalahkan diriku. Penyesalan yang selalu datang di akhir cerita, kini tengah kurasakan.

Bergegas ku pergi malam itu, pergi untuk melihat senyumannya sebelum dia berangkat.
Tak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke pelabuhan, jaraknya tak jauh dari rumahku.
Sedikit pun tak kunampakkan wajah sedihku di hadapannya, kurasakan kehangatan tubuhnya yang seolah-olah ingin mengajak ragaku pergi mengikutinya. Di dalam dekapannya aku benar-benar merasakan perasaan yang tak menentu.

“tenanglah, aku akan kembali” ujar ken di tengah keheningan
“aku akan menunggumu. Ingat itu.” jawabku dengan wajah tersenyum yang terus berusaha menutupi kegelisahan yang aku rasakan.

Suara kapal yang menandakan akan segera berangkat membuat ken melepaskan dekapannya

“jika kau merindukanku, sebut saja namaku, maka bayanganku akan datang dan membawa kabar padamu bahwa aku baik-baik saja.” sembari memelukku kembali.
“jaga dirimu baik-baik ken” jawabku dan membalas pelukan ken.

Dia mengecup keningku, aku tahu, tampak sekali di wajahnya kalau dia juga sedang merasakan hal yang sama denganku yaitu kegelisahan yang sedari tadi ditutup dengan senyuman.
Aku melihatnya melangkahkan kakinya menepik jalan menuju kapal yang benar-benar sudah siap untuk berangkat. Meneteslah air mataku yang sedari tadi kutahan.
“Ya Allah, lindungi dia” pintaku dalam hati

Malam itu angin terasa begitu dingin, kehangatan yang kurasakan tadi sepertinya sudah pergi mengikuti arah angin yang berhembus pada saat itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan kulewati sendiri di kota yang sangat ramai, entah mengapa semenjak kepergiannya ku merasakan sepi walaupun di tengah keramaian. Sudah hampir 3 bulan dan ken belum juga kembali. Tak ada kabar apapun darinya. Lamunanku mulai berubah menjadi kegelisahan yang sepertinya sudah 3 hari terakhir kurasakan.

Disaat itu juga aku terus memanggil namanya, tapi apa yang terjadi? Tak ada bayangannya yang seharusnya membawa kabar bahwa dia baik-baik saja. Dengan pikiranku yang sangat kacau ku coba membaringkan badanku di tempat tidur, menutup mata dan berusaha untuk sedikit menenangkan kepanikanku.

“gisel?” sapa ria
“hmm?” sahutku santai, ria kembali membubarkan kejadian yang sedari tadi kuulang kembali di pikiranku. Ku membuka mataku dan menatap ria.
“apakah kau tak lapar? Kita sudah hampir 1 jam disini dan hanya berdiam diri saja. Ini membuatku lapar? Bagaimana jika kita pergi makan?” ungkap ria dengan wajah memelas kasihan.
“baiklah. Setelah makan temani aku ke rumah ken ya. Sudah lama kita tak menjenguk mamanya ken” ujar ku terhadap ria.

Setiap alunan di restoran tempat kami makan mengingatkanku berbagai kisah yang kurasakan selama ini bersama ken, karena ini adalah restoran favorit aku dan ken.

“siang tante” sapaku kepada ibunda ken, yang sedang duduk di teras. Ya Allah sepertinya hari ini aku akan benar-benar terpuruk dalam kesedihanku.
“eh nak gisel, masuk nak” sambut ibunda ken terhadapku dan ria.
“tante aku gak boleh masuk dong?” ujar seseorang dari belakang ku yang tak lain ria.
“eh maaf, tante tidak melihatmu nak. Ayo ria ikut masuk juga.” ujar ibunda ken sambil tersenyum.

Setelah masuk dan duduk tiba-tiba tante ita menangis. Entah kenapa, tetapi tangisan tante ita saat itu terlihat benar-benar tangisan seorang ibu yang sangat merindukan anaknya, lebih tepatnya anak kesayangannya..

“tan? Tante kenapa?” tanya ria
“enggak tante hanya sedih, melihat nak gisel mengingatkan tante akan ke. Besok kalian akan datang kan?”
“tentu saja tante. Gisel pasti datang begitu juga ria dan teman-teman lainnya” jawabku singkat.
“sudahlah tante, tante tak usah terus berlarut-larut dalam kesedihan” ujar ria menenangkan tante ita.

Aku berdiri dari tempat duduk dan melihat beberapa fotoku bersama ken yang terletak rapih di atas meja sudut ruangan itu.
“aku juga sangat merindukan ken tan, sangat merindukannya” bisikku dalam hati.

Kembali ku mengingatnya, ku lanjutkan lamunanku yang tadi sempat hilang karena Ria.

Tertidur pulas ku saat itu, tiba-tiba suara telepon berbunyi. Saat kuangkat itu adalah suara tente ita. PRAKK!!! Telepon yang kugenggam jatuh ke bawah, pandanganku gelap, di luar kaca kulihat langit menjadi gelap, suara petir yang terasa akan memecahkan kaca rumahku, membuat jantung ini semakin cepat berdetak.
Kulihat bayangan ken yang sedari tadi kutunggu-kutunggu, dia tersenyum padaku, melambaikan tangannya dan hilang dalam sekejap.
“KEEEENN!!!!” teriakku dalam kamar yang hening itu, terjatuh ku ke lantai mulai terasa sakit di dadaku. Dengan keadaan yang benar-benar tidak baik ku perlahan bangkit dan bergegas ke rumah tante ita.

Ramai, kali ini benar-benar ramai. Di setiap sudut ruangan kudengar suara isakan tangis, entah apa ini.. Otakku saat itu benar-benar tidak membuatku bergerak ataupun berbicara satu patah katapun. Berdiri ku di depan pintu masuk, dan apa yang kulihat saat itu benar-benar membuatku meneteskan air mataku. Kulihat ria dan kawan-kawan lain menangis juga, perlahan kuberanikan diri masuk ke dalam rumah itu. Badanku merasa dingin, jantung yang serasa akan berhenti mulai kurasakan, kututup mulutku, ku berteriak dan aku terjatuh di samping seseorang yang sangat aku kenal.
Yang kulihat saat itu adalah seorang pria, dengan tubuh kaku, pucat dan sudah tidak Bernyawa.

“keeen” panggilku sambil menggoyangkan badannya.
“keeen..!!!” kembali ku panggil dia dengan nada yang sudah mulai tinggi.
“KEN!!!” teriakku, dan menangis saat itu, sudah tak bisa kutahan lagi, dia benar-benar sudah pergi. Pergi untuk selama-lamanya.

Ku terpaku, terdiam dan membisu. Tak bisa ku berkata-kata lagi. Ria memelukku dengan erat, air mataku sudah enggan untuk jatuh, kulihat, tante ita yang sedari tadi histeris membuatku semakin tertekan.
Pemakaman yang berlangsung keesokan paginya membuatku semakin yakin, bahwa ini bukanlah mimipi. Inilah kenyataan dan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanku waktu itu.

“semua sudah terjawab, walaupun tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Kau benar ken. Kau kembali lagi, tapi kau kembali kepada yang Kuasa. Semua yang kurasakan kini sudah jelas. Aku akan mengikhlaskanmu. Tapi kumohon Jangan hapus senyummu dari ingatanku. Terimakasih untuk semuanya ken” ungkapku dalam hati sambil melihat pemakaman pagi itu.

Menetes ku melihat foto itu, kupegang dan kupeluk foto itu. Tante ita dan ria langsung memelukku dari belakang.

“dia pasti tersenyum melihat kita kan tan” tanyaku pada tante ita
“iya nak, dia pasti tersenyum” jawab singkat tante ita.

Keesokan harinya, acara berlangsung lancar. Ini adalah acara 5 tahun ken meninggal, dan ini yang pertama kalinya berlangsung tanpa air mata.
Seusai acara, aku pergi ke bukit dekat rumah ken. Disitu bisa terlihat jelas langit dan laut. Aku tersenyum lagi sambil menatap lurus ke depan dan berkata

“kali ini aku tak akan menunggumu datang dengan kapal nan megah ken. Sedang aku usahakan untuk melupakanmu, tapi tidak membuangmu dari ingatan. Aku sadar sekarang, dunia kita berbeda. Aku tak mau terus larut dalam kesedihan dan tak membuka hatiku untuk siapapun, mungkin Allah tidak menyatukan kita di dunia. Tapi aku selalu berdoa, semoga Allah mempertemukan dan menyatukan kita di Akhirat nanti.”

Bahagia itu sederhana ken. Disaat kita bisa melepaskan semua kenangan yang bisa membuat kita terpuruk dengan sedikit Senyuman saja.
Bahagia itu sederhana, disaat aku selalu mengingatmu yang membuatku menjadi wanita yang kuat dan tegar. Kamulah yang selalu menyuruhku tersenyum dalam kondisi apapun.

Ku tutup mataku sebentar, kurasakan hembusan angin yang sungguh sejuk sore itu.
Canda tawa, pelukanmu, airmataku, takkan tergantikan.
Cinta selembut awan sampai kini masih tersimpan di hati.
Suara ombak, dan angin sepoi-sepoi menjadi saksi bahwa sampai saat ini, aku masih menunggumu, menunggu senyuman yang tak pernah hilang dalam benakku.
Karena kamu adalah sumber kebahagiaan dan kesedihanku.

Kubuka Mata dan kulihat wajah ken yang sedang tersenyum padaku dari langit yang biru itu. Tersenyum dan pergi dari tempat itu yang kulakukan setelah puas membayangkan semua tentang ken.

Cerpen Karangan: Talitha Oktavia Humaira
Blog: talithahumaira9.blogspot.com

Cerpen Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Menikah Sayang

Oleh:
Senja itu, tiba-tiba kau datang dengan siluetmu, kau rebahkan lelahmu di sampingku. Pelukmu tiba-tiba terasa jauh lebih dalam, jauh lebih hangat. Aku coba menatapmu, tapi hanya rambut pirangmu yang

Aku Percaya

Oleh:
“Tapi gue suka sama dia ca.” jelasku, “tapi apa yang lu dapet dari ini semua? ga ada! lu Cuma di sakitin!” amarah ica “gue ga ngerti sama perasaan ini

Pertemuan Singkat

Oleh:
Namaku Danisa Putri, panggil saja namaku ica. Kini, aku sekolah kelas 2 SMA di salah satu SMA di Kota Bandung. Aku tinggal di keluarga yang sederhana. Aku anak kedua

Jealous

Oleh:
“Gimana? Kamu mau kan Ayah nikahkan?” Aneh. Kenapa tiba-tiba Ayah bertanya seperti itu, ah bodoh amat. Lagian, umurku juga sudah cukup untuk menikah. Apalagi, belum pernah ada satu cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hilang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *