Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Aku berjalan sambil menutup mataku, menerobos derasnya hujan malam ini. Sebentar saja tubuhku sudah basah kuyup karenanya, tapi aku tak mempedulikan itu. Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku, hanya ada aku di tempat ini. Petir mulai menyambar-nyambar di langit yang begitu kelam. Air mataku sudah tak terlihat lagi karena kalah dengan derasnya air hujan. Aku selalu berharap kalau hujan deras ini bisa membawa semua luka hatiku, seperti dia membawa Berryl pergi dengan mudahnya. Sebenarnya aku tak ingin mengingat semua ini, tapi tetap saja ingatan pedih ini selalu bermunculan di permukaan otakku saat hujan tiba.

Aku memeluk Berryl dan bersandar di dadanya malam itu, hujan deras menghalangi kami untuk segera pulang ke rumah. Dari dulu aku tak pernah suka dengan hujan, bukannya tak suka hanya saja aku takut dengan hujan. Sejak kecil aku tak pernah mau bersentuhan dengan hujan. Kedua orangtuaku juga tak pernah membiarkan aku bersentuhan dengan dinginnya air hujan yang bisa membawaku ke sesuatu yang berbahaya nantinya.

“Kamu takut sama hujan, Bel?” Tanya Berryl. Aku menganggukkan kepalaku untuk mewakili jawaban dari mulutku. Berryl melepaskan pelukannya dan mulai menarikku untuk berdiri. “Mau ngapain, Ber?” tanyaku pada Berryl.
“Udah kamu nurut aja, ayo berdiri!” perintahnya, kuturuti saja permintaannya. Seperti biasa, aku tak bisa menolak segala permintaannya. Dia menarikku menerobos derasnya hujan, ini adalah kali pertamaku membiarkan tubuhku dengan sengaja bersentuhan dengan hujan lebat seperti ini. Sebentar saja, seluruh badan dan bajuku sudah basah kuyup karenanya.

Sekujur badanku berguncang hebat. Tapi anehnya Berryl begitu tenang bersentuhan dengan derasnya air hujan ini, tak menggigil sama sekali. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja suara petir yang begitu keras mengagetkanku. Spontan aku menutup telingaku dan jongkok di tanah, aku takut.

“Bella? Kamu kenapa?” Tanya Berryl yang bingung dengan ku yang tiba-tiba saja ketakutan seperti ini. Dia mengikutiku jongkok di tanah yang mulai berair karena hujan. “Aku takut, Ber.” Kataku pelan, suaraku mulai terdengar gemeteran karena kedinginan.
“Nggak papa, ayo bangun.” Kata Berryl, dia membantuku untuk berdiri kembali. Tapi rasanya begitu berat untuk kembali berdiri, aku takut petir itu datang lagi dan menyambarku.
“Nggak papa sayang, ada aku disini, tenang aja.” Katanya lembut. Aku memberanikan diriku untuk bangkit, kugenggam erat tangan Berryl, aku takut dia meninggalkanku disini.
“Kok kamu nggak takut sih?” Tanyaku pada Berryl. “Takut? Apa yang harus ditakutin dari hujan?” Kata Berryl yang balik bertanya padaku. “Setiap hujan, pasti ada petir. Dan petir bisa menyambar apa pun, termasuk kita.” Jawabku.
“Hujan itu temenku sama Bevan, Bel.” Kata Berryl. Aku mengkerutkan dahiku, aku tak mengerti maksud Berryl. “Setiap hujan, aku dan Bevan selalu menikmatinya. Aku sama dia percaya kalo hujan bisa membawa semua lukaku, luka karena kepergian mama.” Lanjutnya.

Aku terdiam mendengar itu, Mama Berryl memang sudah meninggal setahun yang lalu karena penyakit parah yang dideritanya. Aku memeluk Berryl erat, aku menyesal karena membuatnya kembali mengingat kejadian pedih itu. “Jadi sekarang, setiap kamu takut sama petir, kamu panggil nama aku sekenceng-kencengnya.” Kata Berryl.
“Kenapa aku harus panggil nama kamu?” Tanyaku. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya penuh minat. ”Iya, aku bakal dateng waktu kamu teriakin nama aku.” Jawabnya, aku tertawa geli mendengarnya. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu, kata-katanya mirip dialog sinetron di serial televisi jaman sekarang.
“Emangnya ini negeri dongeng apa? Kamu ada-ada aja deh.” Kataku, “Ciyee, udah bisa ketawa. Udah nggak takut lagi nih ceritanya?” Kata Berryl padaku.
“Asal kamu janji bakal dateng setiap aku panggil.” Jawabku mantap. “Janji.” Katanya.
“Kalo hujan ini adalah hal yang kamu suka, dia juga bakal jadi hal yang aku suka, Ber.” Kataku. Beryl tersenyum saat aku berkata seperti itu, lalu dia mencium keningku.
“Ya udah, kalo gitu kita pulang sekarang.” Katanya, “Sekarang? Hujan-hujanan?” Tanyaku.
“Iya, katanya kamu udah nggak takut hujan lagi? Aku mau tes kamu.” Jawabnya sambil tersenyum nakal.
“Ya oke, terserah kamu aja.” Kataku menerima tantangan Berryl. “Kalo gitu aku ambil tas kita dulu, kamu tunggu sini jangan kemana-mana.” Perintah Berryl. Aku menganggukkan kepala ku padanya.

Setelah itu dia segera berlari ke halte bus yang tadi kita gunakan untuk berteduh. Aku terus menatapnya sampai dia menginjakkan kakinya di halte bus itu dan mengembangkan senyumku saat dia menunjukkan kedua tas kami yang berhasil dia ambil dari sana. Tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya yang mulai menerangi badan Berryl, aku melihat sebuah mobil melaju dengan kencang. Beberapa detik kemudian, mobil itu menabrak tubuh Berryl dan membuat Berryl terpental jauh.
“Berryl…” teriakku.

Aku terduduk di tanah dengan lutut sebagai tumpuan badanku. Air mataku tak terlihat karena kalah dengan air hujan yang begitu deras menyiram tubuhku, tapi sebenarnya deras air mataku ini sama derasnya dengan hujan yang mengguyurku saat ini. Aku begitu rindu dengan Berryl, laki-laki yang begitu aku sayangi. Begitu berat melupakannya.

“Berryl…” teriakku.
“Mana janji kamu, janji kalo kamu bakal dateng setiap aku panggil?” Teriakku lagi. Aku tau ini tak ada gunanya, Berryl sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Aku hanya manusia bodoh yang terus berharap kalau Berryl akan datang diantara derasnya hujan ini.

Beberapa detik kemudian, aku merasa deras hujan tak lagi menetes di badanku, padahal hujan belum berhenti. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat sebuah payung merah di atas sana. Aku berdiri dan bertatap sang pemilik payung itu, Bevan.

“Kamu ngapain disini, Bel?” Tanya Bevan.
Aku memeluknya erat sebelum menjawab pertanyaan itu, “Aku kangen sama Berryl.” Jawabku.
“Udah, Bel. Kamu harus ikhlasin Berryl, udah dua tahun kamu gini terus. Kasian Berryl, dia nggak bisa tenang kalo kamu belum bisa ikhlasin kepergian dia.” Kata Bevan.
“Maafin aku yang nggak pernah bisa lupain Berryl. Maafin aku yang nggak pernah bisa sayang sama kamu kayak aku sayang sama Berryl, Van.” Kataku. Kini air mataku terlihat jelas.
“Aku tau dan aku ngerti. Aku nggak pernah maksa kamu buat cepet sayang sama aku kayak kamu sayang sama Berryl. Tapi aku mohon, berhenti kayak gini, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Kamu adalah hartaku yang tersisa, Papa udah pergi tanpa ngasih alasan apapun.” Kata Bevan.
“Aku mau nunggu kamu, sampe kamu bener-bener siap nerima aku jadi pacar kamu tanpa pernah ngelupain Berryl. Dan satu hal yang kamu harus inget, aku nggak mau kamu sayang sama aku karena aku saudara kembar Berryl. Aku pengen suatu hari nanti kamu sayang sama aku karena aku, bukan karena aku aku adalah bagian dari Berryl.” Kata Bevan lagi.
Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum pada Bevan. “Iya, aku janji. Aku bakal berusaha sayang sama kamu dengan tulus, kayak aku sayang sama Berryl. Kamu setengah dari Berryl, dan itu artinya kamu juga setengah dari aku, Van.” Kataku.
Bevan menghapus air mata yang sudah memenuhi wajahku, “Kalo gitu, kita pulang sekarang. Nanti kamu sakit kalo lama-lama disini.” Ajak Bevan. Aku menganggukkan kepalaku, menyetujui ajakan Bevan.

Meskipun berat, aku harus melakukan ini semua. Aku sadar Berryl sudah tak ada lagi di dunia ini, yang ada tinggal Bevan, saudara kembar Berryl. Tapi aku harus sadar, Bevan adalah Bevan, bukan Berryl. Dia berbeda dengan Berryl. Aku tak mau hidupku berhenti karena Berryl pergi, aku masih punya kehidupan yang panjang dan harus aku urus dengan baik. Memang, dua tahun hubunganku dengan Berryl bukan waktu yang sebentar, tapi aku yakin bersama Bevan, sedikit demi sedikit aku bisa bangkit dari semua ini. Bevan adalah setengah dari Berryl, yang artinya setengah dari diriku. Aku mau hidup bersama Bevan tanpa pernah melupakan siapa itu Berryl, aku juga yakin Bevan akan melakukan hal yang sama seperti aku.

Cerpen Karangan: Lydia Rahmanita Putri Ayu Kartikasari
Nama : Lydia Rahmanita Putri Ayu Kartikasari
TTL : Surabaya, 4 Maret 1998

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Seorang Nina

Oleh:
“Hebat! Berani sekali kamu membantah omongan Pak Haris tadi, Nina!” decak Riri kagum pada Nina yang sedang asyik makan bakso di hadapannya. “Harus dong, Ri. Kita-kita kan tidak salah

Suratku Untukmu

Oleh:
Hai apa kabar? Lama kita tak bersua melalui FB ataupun sms. Selama ini hanyalah itu yang dapat menghubungkan kita berdua. Aku tak pernah mencoba untuk menelponmu karena suaraku pasti

Dalam Dekapku

Oleh:
Dia datang, selalu sama. menghangatkanku dengan pelukan. sampai bibirku kelu, sampai aku tak mampu lagi ungkapkan luka. pelukannya menjalar ke segala penjuru hatiku yang sempat beku oleh pengabaiannya. ia

My Heart

Oleh:
Rinai tersenyum saat mendapati Ray yang sedang duduk di taman kampus. Gadis ini langsung menghampiri Ray dan duduk di sampingnya. Ray sedang bersandar pada sandaran bangku sambil memejamkan matanya.

Kau Yang Mulai Kau Yang Mengakhiri

Oleh:
Sore itu aku duduk di taman dengan sahabatku Vicka, aku dan Vicka sedang asik membaca novel saat itu. Tiba-tiba.. “Dooorr..” suara Rifky mengaketkanku. Sontak aku pun terkejut. “eeeehh.. doorr,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *