Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 May 2017

Langit sudah menjadi kelabu, angin pun sudah mulai menyeruak, hari telah berganti sore seiring matahari yang tenggelam.
Namun, aku masih di sini. Masih duduk dengan tenang di kursi panjang bercat kuning yang memudar.

Dua minggu yang lalu
“Git, dicari tuh sama adek kelas. Gila ya, ternyata Gita suka sama berondong” teriak Fahri dari depan pintu dan sontak saja membuat penghuni kelas tertawa.
Mencariku? Siapa?

Sesampainya di depan kelas aku tidak menemukan siapapun. Ah, Fahri ini memang keterlaluan kalau mengerjaiku.
“Gita, saya tunggu di perpustakaan kota jam empat”
Deg!
Aku seperti mengenal suara ini, ini suara yang kudengar sesaat sebelum aku pingsan saat jam pelajaran olahraga tadi.
Aku menoleh dan mendapati seseorang dengan penampilan yang urakan. Baju yang sengaja dibiarkan keluar, kaos kaki hitam dihari Senin, rambut panjang dengan kesan acak-acakan, tetapi dia terlihat manis.
Tunggu, dia kan kelas XI lalu kenapa dia tidak memanggilku dengan embel-embel ‘kakak’. Dia juga tidak sopan, berbicara satu kalimat lalu pergi dengan muka yang terlihat datar.

Satu minggu yang lalu
Sejak pertemuan aku dengannya di perpustakaan kota, aku dengannya menjadi dekat. Seperti saat ini misalnya, aku baru saja selesai kerja kelompok dan saat keluar kelas aku mendapati dia sedang duduk di kursi depan kelas sambil memainkan ponselnya.
Padahal rencananya tadi aku ingin pulang bareng dengan temanku, tapi rencana itu gagal.
Dan, sekarang tersisalah aku dengan dia. Hanya aku dan dia. Kalian tahu apa yang aku lakukan saat ‘berdua’ dengannya? Hal yang selalu aku lakukan ketika sedang bersamanya adalah memperhatikannya dengan seksama. Melihat wajahnya yang setiap hari selalu tampak lebih pucat dari hari sebelumnya, melihat dirinya yang selalu setia dengan jaket biru tuanya, dan menatap matanya yang terlihat sendu namun tersimpan rahasia rindu.

Tiga hari yang lalu
‘Panggilan masuk’
Hujan
Ada apa dia menelepon? Pikirku.

“Halo, ada apa?” Ucapku saat pertama kali mengangkat panggilan.
“Gita, tolong temani saya, saya tunggu di taman seperti biasa”
Tutt… sedetik kemudian sambungan terputus.
Huh, dia ini memang suka seenaknya sendiri. Apa dia tidak tahu, sekarang adalah hari libur dan saatnya bersantai.

Satu hari yang lalu
Tidak ada panggilan ataupun pesan yang masuk atas nama dirinya. Tidak ada suara bel pintu yang mengharuskan aku bersiap-siap dengan cepat. Tidak ada yang menungguku selesai kerja kelompok. Dan, tidak ada yang memakai jaket biru tua.
Pagi ini aku memang mendapat panggilan masuk, namun bukan dari dia melainkan kakaknya.
Pagi ini aku memang mendapat kabar tentang dia, namun bukan kabar baik melainkan kabar yang sangat sakit.

“Halo, maaf dengan siapa?” Ucapku
“Ini Gita temannya Dirga?” Ucap suara di seberang sana.
“Dirga? Hujan Dirgantara?” Jawabku
“Iya, ini kakaknya Dirga. Kamu bisa ke sini? Ke rumah sakit Pelita Harapan?”
“Memang siapa yang sakit?” Tanyaku
“Kamu ke sini ya, segera!” Ujar Kakak Hujan.
Deg deg!
Apa Hujan baik-baik saja?

Pukul 16.56
Hari ini aku kembali pingsan, namun tidak ada Hujan yang menolongku. Hari ini aku menangis dengan hebat, namun tidak ada Hujan yang menenangkanku.
Bagaimana Hujan akan menenangkan aku yang menangis hebat di sini, sementara Hujan sudah berada tenang di sana.
Seandainya semesta memperbolehkan aku untuk menentukan pilihan, aku hanya memilih Hujan.
Seandainya semesta mengabulkan keinginanku, aku hanya ingin Hujan.
Hanya Hujan. Aku hanya ingin Hujan. Di sampingku.

Cerpen Karangan: Nurrinisha Wahyudi

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Datang dan Pergi

Oleh:
Cinta adalah sebuah anugerah dari tuhan, maka dari itu kita dituntut untuk menjaga cinta kita. Sudah sekian lama gua mengabdi sebagai pencari cinta dengan warna tinta yang tak pernah

Seandainya

Oleh:
Hujan masih terus mengguyur, air di jalanan sudah mulai naik, namun Icha masih terus menunggu. Taman ini menjadi saksi bisu penantian Icha. Hari telah senja, hampir tiga jam sudah

Tempat Yang Sama

Oleh:
Tempat yang sama, kursi yang sama, dan meja yang sama, tapi dengan orang yang berbeda. Duduk di pojok ruangan tidak buruk. Dari meja ini aku bisa menatap banyak hal

Nafsu Berujung Nestapa

Oleh:
Siang itu, aku bersama simpananku mengerjakan tugas bersama di rumahku. Sebelumnya bahkan kami sudah pernah HS (Having S*x) tanpa sepengetahuan pacarku. Singkat cerita kami mengerjakan tugas itu, dan tiba-tiba…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hujan”

  1. siswanto says:

    cerpen yang bagus.. itu kisah nyata ya kak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *