Hujan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 September 2014

Aku dan billy udah jadian, malam itu malam tersejarah buat aku, pertama kali pacaran dan ditembak sama cowok idaman. semenjak malam itu aku jalanin hari-hari dengan billy sebagai pasangan kekasih. ya biarpun kita backstreet dan Cuma di sekolah aja ketemunya tapi aku menikmati itu, dia begitu perhatian dan sayang sama aku. dan gak ngerasa hubunganku sudah 1 tahun, buat ngejalanin satu tahun itu memang gak segampang mengucapkan kata 1 tahun, berbagai masalah pun aku dan billy lewatin dengan rasa tenang dan saling percaya. Tepat tanggal 15 desember nanti aku dan billy anniversary ke 1 tahun. dia berencana ngajak aku dinner romantis. “sayang, besok kita ngerayain anniversary kan? dan kamu mau kan kalau aku ajak dinner?”. aku terdiam sejenak, “iya udah nanti aku usahain ya biar kita bisa dinner berdua, kan kamu tau sendiri kalau mama papa aku gak ngijinin aku keluar malem”. “kalau gitu biar aku yang ngomong sama mama papa kamu”. “gak gak, kamu mau cari masalah baru apa, ya udah besok kamu jemput aku di gerbang”. “gitu dong sayang, masak susah banget mau jalan sama ceweknya sendiri”.

Sepulang sekolah aku langsung pulang, dan gak kayak biasanya mama papa ku menyuruhku duduk di sebelah mereka sebelum aku ganti baju. “Bianca, sini nak duduk sama mama, kan udah lama kita gak ngobrol-ngobrol”. aku duduk di sebelah mama papa ku. “tuh pah anak kita udah gede, sekarang udah jarang ngobrol sama mama papa nya, apa jangan-jangan Bianca udah mulai pacaran?”. aduh kok mama bisa tau sih! tapi kan mama Cuma nebak doang. “mama papa Bianca kan uda gede masak gak boleh pacaran sih!”. “boleh kok anakku ini pacaran tapi harus jaga diri”. “yang bener ma pa boleh?”. “tu kan kamu sih gak mau cerita cerita sama mama, makanya kamu gak tau kalau mama papa uda ngijinin kamu pacaran”. “makasih ya ma pa, sebenernya sih Bianca udah punya pacar 1 tahun yang lalu tapi backstreet takut kalau mama papa marah”. “o ya.. siapa namnya? kok gak dikenalin sama mama papa?”. “kapan-kapan deh ma”. jangan sekarang deh mendingan ngenalinnya, soalnya kalau sekarang pasti mama papa ngobrol pajang lebar ma billy terus yang ada malah kita gak jadi dinner”. “ya uda ma pa bianca istirahat dulu ya, capek”.

Hari ini tepat tanggal 15 desember, aku siap-siap untuk pergi dinner dan seperti biasa gak mengendap-endap lewat jendela, biarpun aku udah boleh pacaran tapi aku belum siap ngenalin billy ke mama papa. billy sudah ada di depan gerbang dan kami pun langsung pergi ke cafe tempat pertama billy nembak aku. “sayang udah gak ngerasa ya hubungan kita berjalan 1 tahun dan aku seneng banget setiap waktu kamu nemenin aku ya walaupun kita backstreet”. billy memegang tanganku dengan erat, rasa yang aku rasain ini bener-bener dalam dan entah kenapa aku takut bnget kehilangan billy, apa mungkin ini ya rasanya cinta mati tapi aku gak tau karena baru pertama ini aku pacaran. biily menatapku tajam dan dia mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. “sayang aku cinta banget sama kamu dan aku janji gak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi”. billy memberikanku sebuah kalung leontin berinesial B, B itu biily dan B itu Bianca, aku seneng banget ternyata billy orangnya romantis. setelah kita dinner romantis-romantisan aku dan billy langsung pulang karena udah malem, di tengah jalan ujan begitu deras dan petir yang membuatku takut biarpun kita di dalam mobil dan sialnya mobil billy mogok tepat di jalan yang sepi. “sayang kenapa mobilnya?”. “mobilnya mogok mana hujan deras lagi”. aku merasa takut dengan petir yang bergemuruh kencang. “billy aku takut”. “tenang ya sayang kan aku ada disini”. billy memelukku dengan erat dan entah apa yang terjadi pada aku dan billy, kita berdua terbawa suasana dan kita pun melakukan hal diluar dugaan. aku pun gak melarang billy melakukan itu, aku mencoba tenang dan setelah hujan reda billy langsung memperbaiki mobilnya. disitu aku terdiam dan meneteskan air mata. “maafkan aku ya sayang”. billy mencoba menenangkanku dan mencium keningku. setelah mobilnya bisa jalan billy langsung mengantarku pulang, setelah di rumah tak henti-hentinya aku menangis. “apa yang aku lakukan… mama papa maafkan Bianca, Bianca udah jadi anak yang durhaka”.

Aku mencoba melupakan itu semua, dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. seperti biasa aku berangkat ke sekolah, pagi itu billy menghapiri ku yang dari tadi datang langsung duduk di taman sekolah sambil membaca buku. “pagi sayang”. aku Cuma tersenyum dan melanjutkan membaca buku. “kamu kenapa yank kok mukanya pucet? kamu lagi sakit?”. “gak kok sayang aku gak papa, aku ke perpus dulu ya!” aku meninggalkan billy yang dari tadi duduk di sebelahku. sebenarnya aku bukan mau ke perpus tapi aku mau langsung cabut pulang karena gak enak badan, belakangan ini memang ada yang aneh pada diriku, kepalaku sering pusing dan mual. karena mungkin mama lihat aku yang lemas, mama langsung menghampiriku dan bertanya. “lho sayang kok pulang cepet?”. “iya ma, badan Bianca agak gak enak”. “kamu sakit?” mama sambil memegang keningku. “ya udah mama ambilin obat dulu ya!”. mama mengambilkanku obat dan tiba-tiba Sandra masuk kamarku. “hei bibi, kamu kenapa kok tadi maen kabur aja?”. “gak papa kok san, lagi gak enak badan aja!”. gak tau kenapa aku mual-mual dan lari ke toilet, dan Sandra menghampiriku. “bi, kamu gak kenapa kenapa kan?”. dengan pertanyaan Sandra aku terdiam dan menangis. “loh bi kok kamu nagis? kamu kenapa? cerita dong sama aku”. aku terdiam dan terus menangis hingga akhirnya aku harus menceritakan ini kepada Sandra sahabatku. “aku takut san”. “takut kenapa bi? apa yang kamu takutin?”. aku mencoba untuk tenang, dan menghela nafasku. “aku takut san, kalau gejalaku ini pertanda aku hamil”. “ha? hamil? emang kamu?”. “iya san, waktu pas hari aniversary kita”. “Bianca!! kok bisa.. kamu udah test?”. aku mengelengkan kepala. “terus billy udah tau belum?”. aku mengelengkan kepala lagi, karena memang billy belum tau soal ini. “ya uda bi kamu tenang ya, kita sama-sama cari jalan keluarnya.. sekarang kamu hubungin billy terus besok kita ke klinik”. mungkin benar kata Sandra, ini solusi yang harus aku lakukan, aku telpon billy untuk janjian besok ke taman.

Sore itu aku dan Sandra menunggu billy ke taman, setelah beberapa menit billy datang. “sayang tumben kamu ngajak aku ketemuan di taman, terus ada Sandra juga, ada apa ini?”. aku terdiam dan membiarkan Sandra yang jelasin dan tanpa basa-basi Sandra menjelaskannya. “Bianca hamil bil”. “hamil?”. dengan ekspresi kaget billy melihatku. “sayang kamu gak becanda kan?”. “Bianca belum tau jelas bill, maka dari itu kita ngajak kamu ketemuan disini, dan kalian berdua harus ke klinik untuk memastikan kebenarannya”. aku hanya terdiam dan menangis, billy pun memegang tanganku. “tenang ya sayang, maafin aku.. aku janji apapun yang terjadi aku bakal tanggung jawab”. aku kira billy akan marah, tapi ternyata gak dia malah menenangkanku.

Ditemani billy aku pergi ke klinik, dengan berdandan sedikt dewasa supaya gak kelihatan kalau aku masih dibawah umur, di ruang USG aku diperiksa, yang aku harapkan semoga gak terjadi karena aku belum siap dan aku gak mau nyakitin mama papa. setelah di USG Bidannya menjelaskan kepada kami. “selamat ya pak, istri anda positif hamil dan kandungannya berjalan 4 minggu”. kabar itu terasa tersambar petir, aku gak percaya dengan semua ini tapi aku harus pura-pura senang di depan bidannya karena aku gak mau bidan itu curiga. “selamat ya sayang”. billy mencium keningku. tak kuasa aku menahan air mataku yang tiba mengalir, dokter memberikanku beberapa vitamin dan menyarankan supaya makan sayuran dan buah-buahan dan 1 lagi jangan terlalu stress.

Setelah dari klinik aku dan billy pergi ke taman untuk menenangkan pikiranku dan membicarakan ini semua. “udah dong sayang jangan nangis, sekarang apa yang kamu inginkan? membesarkan anak ini?”. aku menganggukkan kepalaku. “aku udah berdosa melakukan hal itu bill, aku gak mau menambah dosaku untuk membunuh anak ini”. “ya udah aku akan bertanggung jawab, sekarang kita harus bicarakan ini kepada orangtua kamu”. aku dan billy sepakat membesarkan bayi ini dan sekarang yang harus aku fikirkan adalah bagaimana caranya aku bicara dengan orangtuaku.

Setelah kita dari taman aku dan billy langsung ke rumah, rasa takut yang begitu sangat aku rasakan. kebetulan mama dan papa lagi ada di rumah, tanpa ragu aku langsung mencium kaki mama dan papa ku, mungkin ini hal aneh bagi mereka tak heran kalau mereka bertanya. “ada apa ini nak?” mama bertanya sambil membangunkanku dari sujud. “maafin Bianca ma pa, bianca udah jadi anak yang durhaka!” tak kuasa aku menahan air mata ini dan itu membuat mereka binggung tapi tiba-tiba billy masuk. “permisi om tante”. “siapa kamu?” tanya papa kepada billy. “aku billy om!”. “kamu tau kenapa anak saya seperti ini?”. billy menganggukkan kepalanya. “iya om saya tau kenapa anak om seperti ini dan semua itu karena aku om”. “maksud kamu?” tanya mama. “aku menghamili anak om tante”. “apa Bianca hamil?”. mama dan papa shock mendengar ini, bagaikan tersambar petir, ya aku tau mungkin ini susah dipercaya karena aku dididik mama dan papa secara intensif dan mana mungkin anak kesayangannya ini hamil. “maafin Bianca ma pa”. mama pingsan mendengar berita ini dan papa mengusir billy, billy menuruti papa dan pergi. aku benar-benar anak durhaka, belum bisa bahagiain mama papa malah ngebuat mama pingsan.

Setelah kejadian ini aku dan billy tak pernah bertemu, papa dan mama tetap kekeh dengan keputusannya, untuk tidak menikahkanku. aku tau kalau umurku masih dibawah umur untuk menikah tapi aku juga gak mau kalau anak ini terlahir tanpa seorang ayah dengan usahaku aku selalu membujuk mama dan papa supaya mau menikahkan kami bedua. aku menghampiri mama dan papa yang lagi duduk sambil nonton tivi, “ma, pa”. “sini sayang duduk sama mama papa”. mama menyuruhku duduk di sebelahnya, kejadian itu tak membuat rasa sayang mama ke aku berubah, aku tetaplah Bianca, anak mama papa satu-satunya yang paling manja. aku pun duduk di antara mama dan papa. “ma, pa, Bianca tau kalau Bianca ini salah tapi bianca mohon sama papa mama supaya menikahkan aku sama billy”. “Bianca, kamu itu masih kecil nak, kamu belum tau apa arti pernikahan itu kayak gimana? bukan untuk main-main”. “tapi ma, Bianca gak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah, Bianca mohon ma pa biarin Bianca bahagia”. aku berharap mama dan papa merestui aku dan billy karena aku ayang sama billy. “gimana ini pah?”. “ya sudah kita nikahkan mereka berdua, karena kebahagiaan anak papah jauh lebih penting”. “Terima kasih ya ma, pa, aku sayang mama papa”. tak kuasa merasakan kebahagiaanku dan aku memeluk mama papa. “eitt.. dengan 1 syarat kalian berdua harus tinggal disini”. “iya ma, pa aku mau”. bahagia, terharu semuanya bercampur jadi 1, aku langsung menghubungi billy untuk datang ke rumah dan dia juga ngerasain seneng setelah tau berita ini.

Aku menunggu billy di teras rumah karena gak biasanya billy perjalanan selama ini 1 jam sampai 2 jam dia belum juga datang. “sayang, kok kamu di luar malam-malam gini, pamali lho kalau ibu hamil”. “aku nunggu billy mah, katanya dia mau kesini”, “ow.. ya udah kamu tunggu di dalam aja, mungkin di perjalanan macet”. “iya ma”. beberapa menit kemudian handphone aku berbunyi dan itu dari billy:
“hallo, ini dengan Bianca ya?”
“iya, ini siapa ya? bukannya ini handphone billy?”
“iya mbak ini handphone pacar anda, aku sengaja hubungin mbak karena aku liat di handphone Pacar mbak, mbak terakhir menghubunginya”
“tunggu tunggu aku jadi binggung, handphone pacar aku hilang? terus mbak yang nemuin?”
“bukan mbak, aku nemuin handphone pacar mbak di tempat kejadian”
“tempat kejadian? maksudnya apa ya mbak?”
“begini mbak, yang punya handphone ini kecelakaan.”
“apa? kecelakaan? pasti mbak becanda kan?”
“mbak langsung kesini aja”
Aku menutup telponnya dan mencoba tenang. “gak ini pasti becanda, billy sengaja nyuruh orang buat bikin surprise ke aku”. aku ditemani mama untuk pergi ke rumah sakit yang diberitahu mbak dina tadi dan sesampainya disana aku bertemu dengan mbak dina yang menelponku tadi. “dimana pacar aku mbak? mbak pasti becanda, pasti billy nyuruh mbak nelpon aku dan berpura-pura buat ini”. aku terus menangis dan gak percaya semua ini tapi mbak itu meyakinkan aku kalau ini semua benar dan mbak itu mengantarkanku ke kamar jenasah, aku berteriak histeris dan lemas ketika aku melihat jasad billy masih berlumuran darah. “gak, itu pasti bukan billy, mama itu pasti bukan billy kan?”. “sabar ya sayang, iklasin dia nak biar dia tenang, mungkin ini yang terbaik buat kalian”. “gak mah, billy harus tanggung jawab, kasian anak ini mah kalau dia lahir gak ada ayahnya”. aku tak kuasanya menahan tangisanku ini, mungkin kebahagiaan baru saya dimulai tapi TUHAN mengambil kebahagiaan itu. “aku turut berduka cita mbak, tapi maaf sebelum mas ini meninggal dia sempat memberikan surat ini, dan ini buat mbak”. aku menerima selembar kertas yang berlumuran darah dan tulisan yang gak karuan, aku pun membacanya

sayang, maafin aku ya, aku gak bisa nepatin janji aku buat gak ninggalin kamu tapi 1 hal yang harus kamu tau bi, kalau cintaku bakalan abadi di hati kamu, aku sayang kamu dan calon anak kita. I LOVE U..

“billy bangun, aku sayang sama kamu, bangun billy please aku mohon”. “udah sayang, biar pun billy udah gak ada tapi percaya deh dia akan selalu ada didalam hati kamu”. mama mencoba menenangkanku. “iya bi, sabar ya, aku tau ini berat buat kamu tapi kamu harus yakin bi kalau TUHAN punya rencana yang jauh lebih indah buat kamu”.

Semenjak kejadian itu aku tetap membesarkan bayi yang ada di kandunganku, 7 bulan kemudian anakku lahir, dia cewek dan bayi ini aku beri nama Ramona putri setyawan. aku memang berniat buat besarin bayiku ini, tapi karena umurku belum genap 20 tahun akhirnya mama dan papa lah yang akan membesarkan anakku ini, aku tetap melanjutkan sekolahku hingga lulus sarjana dan sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan di kota ini. 7 tahun telah berlalu, kini anakku Ramona udah beranjak dewasa dan dia mengenalku sebagai kakaknya. 7 tahun aku melawati hal tersulit dalam hidupku, sekarang aku berumur 26 tahun, umur yang sudah cukup untuk membina rumah tangga tapi aku masih pengen hidup sendiri aku pun juga belum siap membuka hati aku buat orang lain. “aku yakin billy bahagia disana, I Will Always Love You Billy…”.

Cerpen Karangan: Ema Setiana
Facebook: Setianaema[-at-]gmail.com

Cerpen Hujan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Power of Vivi

Oleh:
Berkali-kali Lea memeriksa meja belajarnya, tapi hasilnya nihil. Surat yang ia tulis dua minggu yang lalu, lebih tepatnya surat cinta untuk Rohan, kakak kelasnya sekaligus pujaan hatinya. Ia mulai

Atas Nama Cinta

Oleh:
Bunyi alarm membangunkanku dari lelapnya jiwa. Kubuka mataku perlahan, mengumpulkan nyawa yang masih tersisa. Hujan semalam meninggalkan hawa dingin yang begitu menyengat. Membuat enggan keluar dari balik selimut tebal

My Friend Became My Girlfriend

Oleh:
Pagi ini sangat cerah, tapi tidak sama halnya dengan pikiran Angel. Saat ini ia sedang bingung memikirkan tugas kelompok yang harus ia kerjakan di rumah temannya. Sebenarnya mudah, kalau

Pengobral Dosa

Oleh:
Di sini aku pernah mengkhianati dirinya, pada senja hari seperti saat ini. Ia duduk di sampingku seperti yang engkau lakukan. Ia bertanya dan meminta padaku untuk selalu mengisahkan kenangan-kenangan

Cinta Yang Singkat

Oleh:
Cinta mungkin bisa dikatakan ilusi tapi nyata dan berbentuk, yang berawal dari kenyamanan dan kelembutan. Hari pertamaku dipertemukan denganmu, hari pertamaku mengenalmu, mengenalmu dalam diam, mengenalmu dari kejauhan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *