Hurt Game

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 8 December 2015

Dedaunan kering berserakan di mana-mana, karena tertiup angin yang pagi ini bertiup begitu kencang. Seorang gadis berjalan cepat menuju kelasnya, ia lupa bahwa ada tugas yang semalam sama sekali belum ia kerjakan. “Vara.” gadis yang dipanggil namanya itu menoleh dan tersenyum manis saat melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata seseorang yang sudah satu minggu ini selalu membuatnya tersenyum, tertawa dan menjadi sosok penyemangat untuknya.

“Daffa! Kamu kok udah dateng?” Daffa hanya tersenyum kecil.
“sengaja. Aku mau nemenin kamu ngerjain tugas di kelas.” Vara tersenyum malu. Mati-matian ia berusaha menyembunyikan rona di wajahnya.
“itu ngerepotin banget Daff.” Daffa menggeleng dan segera menggandeng tangan Vara menuju kelas. Sesekali pandangannya menyapu pada area sekolah untuk mencari seseorang.
“Daff, nyari siapa?” sontak Daffa menatap Vara dengan pandangan kaget.
“ng-nggak.. aku nggak nyari siapa pun kok.” Vara hanya mengangguk kecil. Ia merasa senang karena mempunyai kekasih seperti Daffa yang baik, meskipun Daffa cowok yang sibuk dan tidak pernah bisa mengantar ataupun menjemput Vara. Daffa adalah pacar pertama Vara.

Selama Vara mengerjakan tugasnya, beberapa kali Vara mendengar Daffa berdecak, kadang mengetukan jarinya pada meja, kadang wajahnya resah setelah beberapa kali melihat layar handphonenya. “Daff, kamu nggak apa-apa?” Daffa berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap wajah Vara tanpa senyuman seperti biasanya.
“nggak Va, aku izin ke toilet dulu ya.” sebelum pergi Daffa mengacak-acak pelan rambut Vara.

Beberapa menit Vara tak mendapati Daffa kembali, jika Daffa meninggalkannya itu tidak mungkin, karena tas Daffa ditinggalkannya. Vara menghembuskan napasnya bingung, dengan keyakinannya Vara beranjak untuk mencari Daffa. Saat ia bertanya pada beberapa murid cowok yang ke luar dari toilet, mereka mengatakan tidak ada Daffa di sana. Seluruh sekolah hampir mengetahui Daffa karena Daffa adalah ketua basket di sini sekaligus dia menjabat sebagai anggota OSIS dan vokalis dari band sekolah. “eh masa sih? Serius? Kasihan ya kak Vara.” Desas-desis itu didengar oleh kuping Vara sendiri namun jujur saja ia tidak mengerti sama sekali.

“Gak bisa gitu dong Don, perjanjiannya kan satu minggu! Ini udah lebih dua hari dan kesepakatannya gak gitu.” Vara tahu itu suara kekasihnya, Daffa. Tapi Vara memilih berdiam diri menunggu pembicaraan Daffa selanjutnya.
“gue udah buktiin sama lo kalau gue bukan pecundang, gue bisa kan pacaran sama si Vara yang jutek itu? Untung aja pacar gue gak cemburu dan gue bakalan putus sama Vara hari ini, gue gak cinta sama dia.” Air mata Vara mendadak turun ke pipinya. Sangat sesak mendengar pernyataan dari cowok di hadapannya.

“Don kok lo diem aja?” Cowok di hadapan Daffa menunjuk takut ke arah Vara. Daffa yang penasaran membalikkan badannya ke belakang dan betapa kagetnya dia saat melihat Vara yang sudah menangis pilu.
“Va-vara? Ka-kam–”
“aku udah dari tadi di sini Daff, aku udah denger semuanya. Makasih buat satu minggu lebih dua hari ini kamu nemenin aku.” Vara kembali menangis saat mendengar perkataannya sendiri.
“Va aku min-ta m–”
“Daff aku mungkin gak akan sesakit ini! Andai aja kamu bukan cowok pertamaku, tapi faktanya kamu cowok pertamaku!! Kamu udah buat kesan untukku bahwa cinta itu sesuatu yang palsu, kamu buat kesan yang burut buat kisah cintaku hiks.”
“aku bener-bener nyesel Var.”

Vara tertawa miris menutup mulutnya yang terus terisak.
“andai aja kata ‘nyesel’ itu buat aku bahagia Daff, tapi nyatanya gak bisa..”
Vara segera berlari meninggalkan Daffa.

Selesai

Cerpen Karangan: Iis Ismawati
Blog: Heartbreakgirl.pun.bz
Twitter @Iissisma

Cerpen Hurt Game merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dan Kamu Nggak Tau

Oleh:
Dimana hati, dimana pikiran, dimana raga udah linglung. whatever sih orang mau bilang apa atau mau bilang gimana, tapi yang pasti perasaan nggak bisa dipaksa buat dihentikan kan? Mungkin

Raisa

Oleh:
Sekitar satu tahun yang lalu, Raisa mulai merasakan jatuh cinta. Awalnya, Raisa tak mengerti apa itu cinta. Ketika Raisa mulai mengerti apa itu, di saat itu juga Raisa mulai

Sepotong Cokelat Untuk Derby

Oleh:
“Aku ingin berjalan bersamamu. Dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu, Payung Teduh – Resah.” Pagi yang dingin. Tak biasanya sepagi ini aku sudah mendengarkan

Aku Bukan Layang Layang

Oleh:
“Maaf Dany, hubungan kita sepertinya sampai di sini saja!” “Kenapa Nisa? Bukannya beberapa hari lalu kamu sudah berjanji untuk terus bersamaku, bahkan hingga kita menikah nanti?” “Maaf, aku minta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Hurt Game”

  1. Vellisha says:

    Bikin baper haduh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *