I Am Psikopat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Semua itu berawal dari sebuah kayu yang ada di depan pintu kamarku dan kayu itu telah merubah semua yang ada di kehidupanku. Hari itu, aku sedang menonton televisi. Berhubung aku anak satu-satunya, jadi aku sendiri di rumah menunggu orangtuaku yang pergi ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Lama sudah ku menunggu, mereka tak kunjung datang. Aku pun beranjak pergi dari ruang televisi menuju kamar tidurku. Sampai di depan kamar aku melihat ada sebatang kayu yang tergeletak di samping pintu kamarku. Aku mengambil kayu itu dan membawanya tidur bersamaku.

Keesokan harinya, aku menunggu orangtuaku pulang sambil minum teh di ruang televisi dan memegang kayu tersebut. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah. Aku kira itu orangtuaku, tapi ternyata aku salah. Dua orang yang ada di hadapanku adalah pencuri. Dengan menutup mata aku segera memukul kedua pencuri tersebut. Tak lama kemudian, orangtuaku sampai di depan rumah.

“Ada apa ini Putri?” tanya mama dengan rasa tak percaya.
Aku pun menjawab, “Putri kira itu Mama dan Papa tapi Putri salah ternyata itu pencuri.”
“Tapi Putri gak apa-apa kan?” tanya papaku, tapi aku hanya mengangguk tanda setuju.
“Tak apa sayang, paling tidak sekarang kamu aman.” Dengan segera mama menelepon polisi dan mengeksekusi mayat kedua pencuri tersebut. Polisi pun tak menuduh aku sebagai pembunuhnya karena polisi bilang, “itu adalah perlindungan yang Putri lakukan.”

Keesokan harinya aku pergi sekolah dengan tidak bersemangat. Aku jalan merunduk ke bawah sambil memegang kayu. Entah apa yang ingin aku lakukan dengan kayu itu, yang pasti aku masih penasaran dengan kayu itu. Jauh sudah ku berjalan tanpa ku sadari aku masuk ke sebuah hutan belantara yang sebelumnya belum pernah aku datangi. Aku melihat kayu berserakan di bawah pohon-pohon itu dan ku sadari bahwa kayu tersebut sama dengan kayu yang aku pengang. Ku coba untuk memukul kayu itu ke kucing yang lewat di hadapanku sampai mati dan aku merasakan bahwa ternyata memukul manusia dengan kucing itu sama saja.

Ketika aku memukul kayu itu, ternyata ada yang melihatnya. Dia pun bertanya, “Kamu siapa? Dan kenapa kamu pukul kucing itu?” Dengan rasa heran aku pun menjawab. “Aku Putri. Aku hanya mau membuktikan sesuatu.”
“Maksud kamu?” aku tidak menjawabnya. Dan dia bertanya lagi, “Hm, kalau begitu kamu ikut aku saja ke rumah, mau?”
Aku hanya mengangguk saja. Ternyata, dia adalah sesosok pria yang gagah berani yang tinggal di sebuah gubuk tua di dalam hutan dan sendirian.

“Hei, ayo masuk. Inilah gubuktuaku tempat selama 4 tahun terakhir ini aku tinggal.” Katanya sambil mempersilahkan aku memasuki rumahnya.
Dengan sedikit rasa takut aku bertanya padanya, “Hm, aku mau tanya, kamu apa gak takut sendirian hidup di tengah hutan seperti ini? Emangnya keluarga kamu ke mana? Maaf sebelumnya.”
“ya gak apa kok, hm gini ya.. siapa yang gak takut hidup sendirian di tengah hutan coba? Tapi aku berusaha untuk bisa hidup di sini. Masalah keluargaku, dulu aku mempunyai keluarga yang utuh. Tapi semenjak kejadian itu semuanya berubah, kejadian dimana aku masih berumur 10 tahun.”

“Saat itu kami sekeluarga lagi bersantai di ruang televisi, tiba-tiba saja seorang lelaki memakai topeng dan membawa pisau datang ke rumahku dan menodong mamaku. Ayahku berusaha untuk menyelamatkan nyawa mamaku dan aku hanya bisa bersembunyi di bawah kolong meja. Ternyata, perlawanan yang dilakukan kedua orangtuaku sia-sia. Mereka berdua ditusuk pisau di depan mataku sampai akhirnya kedua orangtuaku meninggal.”

“Ada terbesit di dalam hatiku ingin membalas dendam kedua orangtuaku. Tapi apa dayaku, polisi melarangnya karena setelah diselidiki dia mempunyai penyakit aneh yang polisi itu sebut psikopat. Semenjak kejadian itu, aku trauma akan yang namanya pembunuhan. Makanya aku terkejut saat kamu memukuli kucing itu sampai mati. Dan semenjak kejadian itu juga aku mulai bangun rumah kecil di tengah hutan ini. Oh ya namaku Riyo.” Jelas lelaki itu.

“Oh jadi gitu, tapi kenapa kamu milih bangun rumah di tempat yang seperti ini? Padahalkan hutan itu termasuk tempat yang menyeramkan,” tanyaku lagi.
“Karena hanya di hutanlah orang jarang menemuiku. Dan sampai saat ini belum ada orang yang berhasil melacak keberadaanku. Hanya kamu Putri.” Aku hanya tersenyum. Karena hari sudah gelap jadinya aku numpang tinggal di rumahnya itu.

Keesokan harinya, saat aku bangun tidur dia tidak bersamaku di rumah itu. Aku pun bingung mencarinya, aku mulai berpikiran macam-macam tentangnya. Tapi ternyata, tiba-tiba saja dia masuk ke rumah dan membawa makanan. “Wah, kebetulan sekali aku sangat lapar.” Kataku. “kalau begitu makanlah sesuka hatimu.” Hari-hari ku lalui bersamanya. Dia pernah bertanya soal keluargaku, tapi aku tak pernah menjawabnya aku selalu mengalihkan pembicaraan jika dia menanyakan hal itu padaku. 2 tahun ku jalani hidup bersamanya sampai tiba saatnya dia mengungkapkan perasaannya padaku bahwa dia mencintaiku.

“Aku takut suatu saat kamu terluka karenaku Riyo, aku takut suatu saat aku akan kehilangan kamu, a-aku takut Riyo…” aku mengatakannya sambil terbata-bata.
“Tenang aja Putri, aku mencintai kamu dengan segala kekuranganku, aku menyayangi kamu setulus hatiku. Jadi kamu tak perlu takut aku akan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki.” Jelasnya. “kamu janji?”
“Iya, aku janji.” Itu adalah ikatan janji yang telah kami sepakati bersama.

Aku tak tahu sampai kapan aku harus menyimpan rahasia hidupku padanya. Hingga pada suatu ketika, dia mengetahui bahwa aku adalah seorang psikopat dan itu adalah orang yang paling dia benci. Aku tak tahu seberapa besar marahnya padaku tapi aku akan terus berusaha untuk meminta maaf darinya. Dan ternyata khayalan aku salah, dia sama sekali tidak marah kepadaku dan tidak membenciku.

“Kamu tidak membenci aku? Kamu serius?” tanyaku penasaran.
Dan dia menjawab, “Aku tak pernah dan tidak akan pernah membencimu karena aku mencintaimu dan itu sesuai janji kita sayang,” aku tersenyum bangga.
Tapi tiba-tiba kepalaku sakit, rasanya sakit sekali. Aku mengantuk-antukkan kepalaku ke dinding sekuat tenagaku. Riyo sudah berusaha untuk menenangkanku tapi ku tidak bisa, mengantuk-antukkan kepala ke dinding adalah obat penyembuh bagiku. Hingga tiba saatnya, kepalaku sudah dipenuhi darah dan aku sudah tidak sanggup lagi.

“Riyo, maafkan aku telah membohongimu selama ini, aku memang seorang psikopat tapi selain itu aku juga mengidap penyakit kanker otak, jadi hidupku tak akan lama. Mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Riyo, aku masih mempunyai keluarga. Mungkin mereka pun sudah lelah untuk mencariku, jadi tolong kabarkan mereka bahwa aku sudah tiada lagi. Jika aku sudah tiada lagi nanti, aku harap kamu mengingat semua kenangan yang sudah pernah kita lewati bersama. Dan jangan pernah lupakan cinta kita sayang.” Itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan sebelum ajal menjemputku.

Aku dimakamkan tak jauh dari gubuk tua yang biasa kami sebut rumah itu. Sepucuk surat yang sengaja aku tulis untuk kekasihku, Riyo. “Aku mencintaimu dengan segala kelemahanku. Aku menyanyangimu dengan berlagak kuat selalu. Ku sebut namamu di setiap napasku. Ku ingat dirimu sampai ajal menjemputku. Ku tata doa untuk Sang Mahakuasa. Maafkan aku telah menyakitinya. Jangan tulis dosaku atas rintihan air matanya. Hitunglah napasku sebagai ganti napas dia.”

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka

Cerpen I Am Psikopat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Terakhir

Oleh:
Saat aku ingin pergi ke rumah tante aku, di jalan aku melihat seorang cowok yang sangat tampan. Aku kagum padanya saat pertama kali aku melihat senyumnya, karena itu adalah

Favorite Songs

Oleh:
*sing Sebelumnya tak ada yang mampu mengajakku untuk bertahan dikala sedih Sebelumya ku ikat hatiku, hanya untuk aku seorang *sing Masih ingat nggak dulu, “kita” pernah menyanyikan lagu ini?

Hari Terakhir Bersamanya

Oleh:
“Ahh Bodo amat!” itulah kataku kepada Amel, mantan pacarku. Sebenarnya aku dan dia telah berpacaran 5 tahun, lama kelamaan sikapnya yang sayang sama aku, lama-lama ada yang aneh dengan

Hingga Nafasku Yang Terakhir

Oleh:
Pada malam hari, Rizky memutuskan Dinda lewat SMS dan memberitahu Dinda alasan sebenarnya mengapa Ia memutuskan Dinda. Rizky mengatakan pada Dinda bahwa Ia telah menemukan yang lebih baik dari

Cinta Sesaat

Oleh:
Namaku Silvi Sebastian, atau biasa teman-temanku memanggilku dengan sapaan Silvi. Aku sekolah di SMA Tunas Bangsa kelas 11 jurusan IPA, di sekolah ini aku mempunyai dua orang yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *