Iris (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 20 September 2016

“And I don’t want the world to see me.”
Kubanting setir mobilku menuju ke arah yang berlawanan. Menuju rumah sakit. Kenapa aku baru mengingatnya? Kenapa aku baru ingat segalanya tentang Iris?

“‘Cause I don’t think that they’d understand.”
Ya. Iriana Shiela dan Iris. Mereka orang yang sama. Harusnya sudah jelas dari awal. Dan belum lagi pesan itu. Itu dari Shiela, dari Iris. Dia, Iris, cinta pertamaku. Rasa yang terpendam jauh itu pun kini kembali.

“When everything’s made to be broken.”
Kulajukan mobilku secepat mungkin. Aku harus bertemu dengannya. Aku harus kembali padanya. Dia memang bukan siapa-siapaku, tapi aku mencintainya. Mendadak aku merasa cemas. Bukan, bukan cemas, takut. Sangat takut. Seingatku dia punya riwayat penyakit liver.

“I just want you to know who I am.”
Tanganku mulai basah. Sudah 3 hari dia disana. Separah itukah? Apa ini karena aku?
Tidak ada waktu untuk memikirkan musik sekarang. Kumatikan radio itu. Makin lama aku mendengar lagu itu, aku merasa makin bersalah.

10 menit terasa sangat lama saat itu. Dan aku langsung menuju meja resepsionis setelah memakirkan mobilku. Aku tidak ingat apa aku sempat menyalakan alarm.
Aku berlari menuju ruangan di ujung lorong setelah tahu bahwa itu adalah ruangan Iris.

Seorang laki-laki paruh baya, yang kuketahui sebagai paman Iris, keluar dari ruangan saat aku sampai.
“Anda… Fairuz Zaidan, bukan? Rekan kerjanya Iris?” tanyanya padaku.
Tuh, kan benar. Dia Iris.

Aku mengangguk. “Eh, Iris sakit apa?”
Sang paman menghela napas, mengusap wajahnya dengan resah. “Penyakitnya kambuh sejak seminggu lalu. Kata dokter ini hari terakhirnya.”
Aku tertegun. Hatiku mencelos. Hari terakhir?

“Dia hebat karena bisa bertahan sampai sekarang. Katanya alasannya hanya satu. Dia menunggu seseorang,” lanjutnya.
Seseorang? Aku? Ya, mungkin itu aku. Dia pasti ingin menagih janjiku.

“Boleh saya masuk?”
Paman Iris mengangguk. Aku membuka pintu ruangan.

Seorang gadis duduk di ranjang putih. Rambutnya yang panjang bergelombang berwarna hitam alami. Tidak dicat. Mata beningnya yang berwarna coklat menatap kosong ke depan. Kulitnya tak lagi cerah, melainkan pucat pasi. Dia terlihat sakit, dan… kacau.
Samar-samar musik. “I just want you to know who I am.” Lagu itu.
Iris baru menyadari kehadiranku saat aku menutup pintu.
“Zaidan…” gumamnya.
Dia beranjak berdiri dan berjalan menghampiriku. Seulas senyum merekah di wajah pucatnya. Oh, Tuhan. Bagaimana bisa dia tersenyum saat kondisinya seperti itu?

Kupaksakan diriku mendekat padanya. Aku berhenti di tengah ruangan. Iris berhenti dua langkah dariku. Masih ada senyum di wajahnya, tapi entah bagaimana, senyum itu menyakitiku.
Dia menatapku. “Sudah ingat aku?” tanyanya.
Aku mengangguk samar.
Senyumnya makin lebar.

“Boleh aku peluk kamu, Dan?”
Aku hanya diam, tak bisa bicara. Mataku mulai terasa panas. Lakukan apa pun yang kamu mau, Ris. Bahkan jika kamu ingin membunuhku pun tak apa. Aku pantas mendapatkannya, kamu tidak perlu bertanya.

“Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.”
Saat itu juga aku memeluknya. Mendekapnya erat seolah dia bisa hilang tiba-tiba.

“Maaf, ya, Ris…” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Kurasakan mataku basah. Hembusan napasnya terasa hangat di leherku.
“I just want you to know who I am,” katanya dekat di telingaku.
“I love you, Dan.”
Setelah itu, tak lagi kurasakan hembusan napas hangat di leherku. Tangannya yang mendekapku mulai melemas dan terkulai lemah di sisi tubuhnya. Seluruh berat tubuhnya bertumpu pada tubuhku.
Kurasakan basah di wajahku. Setetes demi setetes, air mata itu mengalir menuruni wajahku.
“I love you too,” lirihku.
Kuangkat dia dan kubaringkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam penuh kedamaian. Bibirnya tertarik menunjukkan senyum samar. Kupaksakan diriku membalas senyumnya dan menyuruh wajahku berhenti mengalirkan air mata. Iris telah pergi. Selamanya.

Iris. You will not miss me tonight, tommorow, or forever. You will always have a place in my heart.

Epilog

Sangat sulit mengenyahkan rasa bersalah itu dari kepalaku. Bagaimana tidak? Penyakitnya bisa saja kambuh karena aku. Dan belum lagi janji yang tidak bisa kutepati itu. Dan saat aku meneriakinya pada 1 minggu terakhirnya. Lengkap sudah penderitaanku.

Bagaimanapun, aku berusaha mengingat wajahnya saat terakhir kali aku melihatnya. Matanya yang terpejam penuh kedamaian, bibirnya yang membentuk senyum samar…

Setidaknya dia tersenyum. Dia bahagia. Maka aku berusaha mengingat senyumnya, satu-satunya hal yang membuatku berpikir jernih.

1 tahun setelahnya, aku masih rutin mengunjungi makam Iris. Dan sekarang, aku sudah bisa tersenyum setiap kali mengenangnya.

Aku sadar sekarang, Iris adalah kenangan indah (meski berujung tragis). Aku tidak boleh bersedih atau menangis tiap kali mengingatnya. Itu mungkin akan mengganggunya di alam yang lain. Sebagian hatiku telah menjadi miliknya, sebagian lagi masih kosong.

Dan seperti yang kukatakan tadi, aku masih mengunjungi makamnya, seperti hari ini.

Aku baru berjalan keluar pemakaman saat sesuatu, atau seseorang, menghantamku dari belakang.

Aku berbalik dan mendapati tak ada siapa pun disana. Oh, ya. Dia ada di bawah. Seorang wanita. Tapi, aneh, kan. Aku yang ditabrak, dia yang jatuh. Apa wanita selemah itu?

Kuulurkan tanganku untuk membantunya. Dia segera menyambut uluran tanganku. Aku menariknya hingga berdiri.

“Eh… Maaf, aku tidak sengaja,” kata wanita itu. Dia terus saja menunduk, yang menunjukkan rasa takutnya. Demi Tuhan, apa aku semenakutkan itu?

“Tidak apa-apa. Apa ada yang terluka? Siapa namamu?” sahutku, yang tidak tahu menahu kenapa mulut ini tiba-tiba menanyakan nama.

Dia mulai mengangkat wajahnya. Dia terlihat amat gugup. Aku? Aku amat terkejut.

Mata itu. Bening kecoklatan, menatapku dengan penuh kegugupan. Wajahnya bersih natural tanpa sapuan make up berlebihan. Mulutku terbuka sedikit. Rambutnya juga. Panjang bergelombang tanpa dicat. Hitam alami warnanya. Sama dengan yang dimiliki Iris.

Wanita itu membuka mulut untuk menjawab, “Iris.”

Senyumku merekah. Dia juga punya nama yang sama. Ruang kosong di hatiku telah terisi. Dan hatiku sepenuhnya milik Iris sekarang.

Cerpen Karangan: Cintana Hanuun
And I don’t want the world to see me, ’cause I don’t think that they’d understand.

Cerpen Iris (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menantimu di Bawah Tirai Hujan

Oleh:
Waktu telah menunjukkan pukul 06.00 aku segera bersiap siap untuk berangkat sekolah. “Aisyah kamu nggak sarapan dulu?” tanya ibu padaku. “Nggak bu, aisyah udah buru buru”. Jawabku sembari mengecek

Kepergian Mu

Oleh:
Hujan deras membasahi bumi berikut dengan petir yang menyambar kemana-mana. Tak ketinggalan pula angin kencang yang menerpa pepohonan depan rumahnya. Rita masih membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Satu detik,

Cinta Tak Harus Dipaksakan

Oleh:
“Laff you.” Ucapnya. “Laff you too, sayang.” Jawabku. Itulah saat terakhir aku bercakap via telepon dengannya. Setelah itu, dia tak ada kabar lagi. Aku selalu mencari-cari kabarnya, mencari tau

Perpisahan

Oleh:
Berangkat dari kejenuhanku bekerja di ruangan tertutup di sebuah kantor investasi ternama di Jakarta, aku Yola Elisia memiliki mimpi untuk mengelilingi Indonesia. Menyambangi keindahan laut, gunung, desa, hutan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *