It Has Always Been You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 March 2015

Sudah 2 tahun aku menyukai orang ini namanya, John. Ia adalah pria yang menurutku sangat spesial, walaupun ia dingin namun sifat keromantisannya kepada wanita yang ia sayang membuat orang-orang terpana. Nama wanita itu adalah Sara. Ia cantik, anggun dan mempunyai suara yang sangat indah. Sara adalah sahabatku, tapi aku menyukai orang yang dia sayang. Sara selalu menceritakan kepadaku tentang John, terkadang hatiku remuk mendengarnya, namun apa boleh buat? Ia adalah sahabatku. Lebih remuk lagi ketika yang aku tahu John, aku dan Sara sekelas.

Hari terus berjalan seiring dengan irama waktu yang semakin cepat, tak terasa aku sudah memasuki semester 2 di kelas 9. Akhir-akhir ini, aku jadi semakin dekat dengan John. Dekat dalam artian hanya sebagai sahabat. Walaupun begitu, kedekatannya dengan Sara menjadi semakin bertambah.

Suatu hari, temanku bilang bahwa John nyaman sekelas denganku. Aku tak mengerti, padahal kita sering bekelahi dan hanya bertatap muka saling delek satu sama lain. Aku senang, namun itu bukan berarti ia suka denganku kan?

Bulan dan bulan berlalu, kini kesehatanku semakin buruk, aku batuk-batuk tak berhenti, mungkin hanya sakit biasa dan aku hanya mengabaikannya. Lalu, pada suatu hari aku ke rumah sakit untuk mengecek kesehatanku.
“Dok? Ada apa?”, tanyaku bingung.
“Tidak ada apa-apa.”, dokter membuatku lebih penasaran.
“Dok? Apakah benar? Bolehkah saya lihat?”
“Saya harus bertemu keluarga Anda.”
“Tapi dok, saya benar-benar penasaran..”
Ketika aku melihatnya, aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan,
“Tidak apa-apa dok..”
“Apa maksudmu tidak apa-apa? Ini sudah sangat parah. Waktumu mungkin tidak akan lama lagi, Anna.”
“Itu kan hanya kehendak Tuhan, aku akan baik-baik saja dok.”
“Ini resep untukmu.”
“Aku tak begitu mempunyai uang dok. Mungkin istirahat akan membuatku lebih nyaman.”

Sungguh, kalau boleh jujur aku sangat kecewa. Namun, penyakit ini tidak membuatku putus asa, aku memang bukan keluarga yang berkecukupan, Ayahku sudah meninggal dan Ibuku meninggalkanku sejak kecil. Aku hanya tinggal di gubuk kumuh yang sangat kecil. Hanya aku sendiri.

Semakin lama, penyakit ini makin terasa. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, kerja saja sudah tidak bisa, jalan pun sungguh susah rasanya, aku hanya bisa berserah diri. Namun, aku berusaha untuk datang ke rumah sakit dan memeriksa lagi kondisiku, lalu dokter memvonisku bahwa aku akan meninggal 3 bulan lagi. Tuhan, apa sebenarnya yang engkau rencanakan?

Aku menghabiskan masa-masa indah di mana aku harus meninggalkan teman-teman, John dan orang-orang yang berada di sekitarku. Tapi, John? Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, ia telah bersama Sara, sungguh aku ikhlas.

Waktu terus berlalu, ini adalah 1 hari sebelum 3 bulan. Aku sudah memberitahukan kepada teman-temanku bahwa aku sakit, semua sudah tahu terkecuali John. Aku akan memberitahukan kepada John hari ini.
“John? Ketemuan yuk”, kataku melalui pesan singkat.
“Ngapain?”
“Mau ngomong sesuatu nih.”
“Di sini aja.”
“Gak bisa, gue tunggu ya di jalan *******. Jam 03.00”
Sebenarnya, aku sudah menunggu dari jam 12.00.

Enam jam telah berlalu, John tidak kunjung datang. Aku takut waktuku akan habis, John. Lalu, 5 menit kemudian John datang menghampiriku.
“John, akhirnya dateng juga.”, kataku sambil tersenyum.
“Iya, maaf telat.”, memasang muka flat nya.
“Nih.”, aku memberikannya sebuah amplop berisi surat. John hampir saja membukanya.
“Eh.. Jangan dulu dibuka, nanti aja.”
“Kapan?”
“Nanti juga lo tau kok.”
“John, mau nemenin gue gak ke restoran deket sini? Enak loh.”
“Boleh deh.”, tetap memasang muka flatnya.

Ketika sampai di restaurant, aku memakan makanan kesukaanku sedangkan John hanya melihatku memakannya sungguh lahap. Ketika aku memakannya, aku sedikit mengeluarkan air mata, aku bertanya-tanya kapan nyawaku akan diambil atau apakah akan berakhir seperti ini atau apa aku tidak akan bisa memakan ramen seenak ini lagi atau apa aku tidak bisa melihat mukanya yang melihatku makan begitu lahap? Sungguh lucu.

“Lo kenapa nangis?”
“Apaan sih ini kepedesan kali”, sambil mengelap air mataku.
“Anna..”
“Yaaa?”
“Hidungmu berdarah.”
“Sudah biasa, kalau kepanasan pasti kayak gini hahaha.”
“Dan muka lo pucet banget, asli”
“Hah? Gak papa kok lo emang gak pernah ngeliat muka gue sih jadi aja.”

Dari situ, aku tak menyadari apa-apa, tapi aku melihat John menatap mataku dengan khawatir, ya aku pingsan dan aku dibawa ke rumah sakit. Mungkin sudah waktunya. Aku melihatnya di rumah sakit menelepon teman-temanku, tapi dia tak bisa melihatku. Dan ia pun membaca surat terakhirku.

“Dear John,
Ini surat gue buat pas gue lagi nungguin lo, gue sebenernya mau ngomong tadi, cuman gue takut waktu gue gak akan cukup buat ngomong panjang lebar sama lo, abis udah 3 jam lo gak muncul-muncul depan gue, John mungkin ketika lo ngebaca surat ini gue gamungkin masih ada, tapi John.. 2 taun ini lo ngisi hidup gue campur aduk deh, seneng ada sedih ada kesel ada aduh udah kaya nano-nano banget. Kesimpulannya, gue suka sama lo, bukan suka lagi, tapi mungkin udah sayang kali ya, gue tau ini gak baik setelah gue tau gue udh suka sama orang yang disukain sahabat gue sendiri, tapi emang ya perasaan gak bisa diboongin. Gue seneng banget hari ini gue bisa ketemu lo, harus bisa! Pasti lo bakal dateng kan? Lo bukan orang yang suka gak nepatin janji. Gue seneng banget lo bisa ngebahagiain sahabat gue, Sara. Gue seneng banget kita pernah chat dan pernah deket, itu best moment dalam hidup gue, John. Tapi, maafin gue kalo gue pernah ngebetray Sara, maafin gue udah pernah kesel sama kalian berdua, maafin gue udah sayang banget sama lo, John. Kasih tau ke Sara dan temen-temen yang lainnya kalo gue sayang banget sama mereka. Lo baik-baik ya, John. Sekarang gue udah gak bisa ngejagain lo lagi, gak bisa bantuin lo belajar matematika lagi. Dan lo harus banget bahagia sama Sara. Dan John, karena gue suka banget sama lo, gue gak bisa berhenti suka sama lo sekarang dan gue juga gak bisa pura-pura buat gak suka sama lo. Gue cuman gak bisa ngeliatin kalo gue suka sama lo. Gue cuman gak bisa ngeganggu lo dan gue bakal berenti nyoba biar lo suka sama gue. Tapi, kalo gue mau perlahan-lahan ninggalin lo, gue rasa ini jalan yang terbaik. Gue rasa kematian ini ada untungnya juga, gue gak akan lagi cemburu ngeliat lo sama Sara lagi kan? Tapi mungkin perasaan ini gak akan ada habisnya.

Love, Anna”

Aku melihatnya menangis, apakah sebegitu sedihnya? Tapi, aku heran ketika ia bisa melihatku.
“John…”
Ia tak balik menyapaku, ia hanya menatapku dengan penuh amarah. Aku perlahan-lahan menghampirinya, kupikir ia akan takut, tapi ia hanya diam dan tetap melihatku. Ketika aku sampai pada titik terdekat sekitar 5 cm di depan John, aku memegang pipi kanannya, tersenyum dan berkata,
“John, kenapa lo ngeliat gue kaya gitu? Let go of me, John. Lo gak usah nangis.”, aku mengusap air matanya.
“Lo nggak seharusnya sedih kok, John. Gue bakal baik-baik aja. Janji sama gue kalo lo bakal jagain Sara ya.”
John mencoba meraih tanganku tapi tak tersentuh sama sekali, andaikan aku bisa merasakan sekali lagi sentuhan tangannya. Lalu, ia menunduk dan berkata,
“Anna, it has always been you. It will always be you.”
“It has always been you too, John. I’ll be seeing you next time. Goodbye, John.”, menghilang dari tatapannya dan kembali ke tempat yang seharusnya aku berada.

Cerpen Karangan: Gyshell
Facebook: https://www.facebook.com/aldagriselda

Cerpen It Has Always Been You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia

Oleh:
Berapa banyak dunia itu? Ada yang bilang satu, mungkin iya untuk mereka yang hidupnya normal. Ada juga yang bilang dunianya dunia, dunia kerja dan dunia keluarga, ah itu berarti

1 Missed Call

Oleh:
Hari ini adalah tepat dua tahun meninggalnya ayahku. Aku dan ibuku pergi ke makam ayah. Sebenarnya aku dan ayah tidak dekat, karena ayah dan ibu sudah berpisah sejak aku

Kamu Yang Ku Tunggu

Oleh:
Nama ku Alisa, Ini pertama kalinya aku masuk di sekolah baru ku karena aku baru pindah sekolah kali ini aku menabrak seorang siswa lelaki *braakkk begitu kencangnya, aku dan

Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 1)

Oleh:
Setelah ini saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Aku menduga-duga, apa kata orang kalau sampai mereka tahu bahwa kau membelikanku kado ulang tahun semahal ini? Ini bukan hadiah

Cinta Yang Ditelan Bumi

Oleh:
Balon warna–warni hiasi ruangan besar nan megah. Tampak pemandangan makanan dan minuman yang memang sengaja disiapkan untuk para tamu. Serta kue bertuliskan “Happy Bithday CINDY” dan angka 21 terbuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *