Jackpot

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Tak terasa sudah 3 tahun setelah kepergiannya. Sudah 3 tahun pula aku menyimpan kesedihan ini. Sebuah kesedihan yang mempengaruhi hidupku. Kalau kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ya, kira-kira seperti itulah yang terjadi padaku 3 tahun yang lalu…

Mata bengkak menjadi hiasan mataku selama seminggu penuh. Setelah kehilangan sosok pria yang sangat spesial bagiku, Josh Tyree, aku tidak mempunyai tujuan hidup. Aku mengurung diri di kamar, mengacuhkan dunia yang mencoba mengetuk pintu hatiku. Selama seminggu penuh, aku menangisi pria yang sama. Pria yang telah mewarnai hidupku, hingga hari kepergiannya.
Sebenarnya, setelah pemakaman Josh, aku melihat Lucio sekilas. Ya, Lucio. Pria yang aku khianati kepercayaannya demi pria lain yang sekarang meninggalkanku. Namun, rasanya itu adalah hal yang aneh jika Lucio datang ke pemakaman Josh mengingat betapa hancurnya hubungan mereka karena aku. Bahkan mungkin Lucio tidak akan mau menjumpai diriku lagi.

Knock… knock…
“Ren, ada temanmu nih.” Itu Mama. Teman? Biasanya Mama langsung memberitahu nama temanku. Aku menghapus air mataku dan membuka pintu. Deg. Betapa terkejutnya diriku ketika melihat sosok yang dimaksud Mama dengan temanku. Dia adalah Lucio. Lucio yang dari masa lalu yang telah aku hancurkan hatinya.
“Hai!” sapanya sambil tersenyum lebar. Aku masih terkejut. Tidak mempercayai mataku sendiri. “Kamu kenapa, Ren?” tanyanya. “Kamu Lucio?” tanyaku masih tidak percaya.
“Tentu saja. Apakah aku kelihatan berbeda?”
“Berbeda? Oh tidak, tidak. Aku hanya tidak percaya kamu bisa datang ke rumahku. Apalagi sejak kejadian itu…”
“Kita sama-sama kehilangan Josh, Ren. Walaupun kita mempunyai masa lalu yang buruk, kamu dan Josh adalah sahabatku. Aku sangat mengerti kalau kamu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Tapi ini udah seminggu!”
Benar. Tidak seharusnya aku menyiksa diriku sendiri seperti ini. “Kamu benar. Jadi, kita hari ini pergi ke mana?” tanyaku sambil tersenyum. “Itu kejutan. Bagaimana kalau sekarang kamu mandi dan siap-siap? Aku yakin kamu belum mandi selama seminggu!” katanya sambil menutup hidung mancungnya. “Nampaknya kamu mau mati muda! Hahaha!” Pertama kalinya aku tertawa semenjak Josh pergi. Apakah aku salah jika aku bersenang-senang?

Untuk memulai hari baru ini, aku memakai short dress berwarna pink pastel dengan sling bag putih. Rambutku sengaja aku lepas agar menampilkan sisi femininku. “Yuk, kita jalan sekarang,” kataku sambil tersenyum. “Ehhmmm.. Kamu, kelihatan jauh lebih cantik dari sebelumnya,” kata Lucio. “Aku baru mandi. Tentu saja aku kelihatan lebih cantik,” balasku. “Bukan begitu maksudku. Kamu kelihatan jauh lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu.” Ah, aku jadi teringat masa-masa itu. Masa-masa dimana aku, Monica, Josh, dan Lucio sering pergi dan menghabiskan waktu bersama. “Let’s go, Renata,” ajak Lucio.

Selama perjalanan, kami terdiam. Hanya ada lantunan lagu yang memecah keheningan. Aku berada di mobil yang sama ketika Lucio menyatakan cintanya dulu. Tidak ada yang berubah, kecuali kecanggungan saat ini.
“Ren,” panggil Lucio. Aku hanya menoleh sambil menatapnya bingung. “Kamu masih suka nonton film, kan?” tanyanya. “Masih. Kenapa?” “Never mind.”
Diam. Lagi-lagi tidak ada pembicaraan. Satu yang pasti, kami sedang mengarah ke daerah Kemang. Daerah yang mempertemukan aku, Lucio, dan Josh. “Sebenarnya kita mau ke mana, Lu?” tanyaku. Dia hanya diam dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe. Aku tidak pernah melihat cafe ini sebelumnya.
Lucio membukakan pintu mobilnya untukku dan berjalan di depanku. Kami masuk ke sebuah cafe yang ternyata bisa memutarkan film. Aku sangat bahagia. “Kamu mau menonton film apa?” tanya Lucio. “Hah? Hmm….” Aku bingung. “The Notebook gimana?” tawarnya. Aku hanya mengangguk pelan. Film itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang berpisah karena sang wanita menikah dengan pria lain namun pada akhirnya mereka bersatu kembali.

Dua jam yang panjang. Hingga film itu berakhir, kami tidak bebicara satu patah pun. Aku memikirkan kembali film yang baru saja kami tonton. “Ren,” kata Lucio memecah keheningan. “Ya?” kataku sambil menoleh. “Aku harap kamu bisa jadi Renata yang dulu, sebelum semua ini terjadi. Renata yang ceria, yang kuat. Aku yakin kamu bisa,” tuturnya pelan. Matanya, mengingatkanku kembali tentang hari-hari bersamanya dulu. Walaupun singkat, tak bisa kupungkiri bahwa aku rindu melihat kedua matanya.
Aku hanya tersenyum kecil. Rasanya tidak mungkin, tapi patut untuk dicoba. “Aku lapar. Ayo kita turun,” ajakku sambil berdiri. Cafe ini akan menjadi salah satu cafe favoritku. Suasananya sangat nyaman dan makanannya sangat enak. Kami menyantap makan malam kami sambil membicarakan hal-hal ringan. Lucio tampak menghindari pembicaraan tentang masa lalu kami. Padahal aku sangat penasaran tentangnya. Apa yang telah dia lakukan selama ini, apa yang dia rasakan ketika dia tahu bahwa sahabatnya berpacaran dengan wanita yang disayanginya. Banyak sekali pertanyaan dalam pikiranku namun aku tak mau menghancurkan suasana ini hanya karena keegoisanku.
Tempat nyaman, pembicaraan hangat, dengan pria idaman semua wanita. Semua ini terlalu sempurna dibandingkan kemarin. Aku mengagumi pria di hadapanku. Pria yang memberanikan dirinya untuk hadir di hadapanku setelah semua hal buruk yang aku lakukan padanya. Mungkinkah kami dapat mempersatukan hubungan ini pada akhirnya?

Bulan demi bulan berlalu.
Tak kusangka aku semakin dekat dengan Lucio. Dia mewarnai hari-hariku dengan perlakuan manisnya. Meskipun aku bukanlah tipe wanita yang mudah jatuh hati pada seseorang, namun jika aku diperlakukan sangat manis setiap hari, bagaimana mungkin aku tidak akan luluh?
Setiap hari, Lucio selalu membanjiriku dengan lelucon-leluconnya, dengan sikap hangatnya. Selama beberapa bulan terakhir, aku dibuatnya lupa tentang Josh. Apakah aku boleh mencintai orang lain? Apakah perasaan ini wajar? Batinku berkecamuk.
“Kayaknya kamu sedang ada masalah,” kata Monica sambil memandangku. “Aku galau,” kataku.
“Lucio?”
“Ya, begitulah.”
“Dia menyatakan cintanya lagi?”
“Bukan. Aku bahkan tidak yakin jika dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Kami… sudah seperti sahabat. Tidak mungkin kami berpacaran.”
“Menurutku, Lucio menaruh hatinya padamu. Kamu saja yang tidak menyadarinya.”
Entahlah. Aku takut hubungan ini tidak akan berhasil. Lucio mungkin bisa melupakan masa lalu kami tapi aku tidak bisa. Aku masih dihantui perasaan bersalah. Aku bahkan tidak yakin jika perasaanku ini tulus, bukan karena aku merasa bersalah padanya.

Ting…
Sebuah pesan masuk dari Lucio. “Jalan, yuk.” Mungkinkah ini pertanda dari Tuhan? Aku akan menyatakan perasaanku hari ini. Aku tak peduli jika hubungan kami akan retak. “Ke mana?” balasku singkat. “Aku jemput di rumah 1 jam lagi,” balas Lucio cepat. Aku bergegas pulang. Monica menyemangatiku sebelum aku pulang. Hari ini akan menjadi hari yang sangat bersejarah. Untuk pertama kalinya, aku akan menyatakan perasaanku terlebih dahuliu.
“Hai, cantik,” sapa Lucio ketika aku masuk ke mobilnya. “Hai, fans,” balasku lalu tertawa. “Kita makan di tempat biasa, ya.” Katanya sambil tetap memandang ke depan. Aku hanya mengangguk. Kami mendiskusikan banyak hal. Mulai dari masalah hingga film yang sedang tayang di bioskop.

Ketika kami sampai di restoran, kami langsung memesan makanan. Kami sangat lapar. “Ren. “Lu.” Kata kami bersamaan. “Kamu duluan,” kataku. “Hmm.. aku sebenarnya telah memikirkan ini dari jauh hari. Aku berpikir…” Oh, Tuhan. Mungkinkah? “Aku berpikir, kita sama-sama sudah dewasa. Kita sudah pantas untuk menjalani hubungan yang serius. Jadi, aku berpikir, kalau mungkin kamu mau menjadi kekasihku,” lanjutnya sambil memegang kedua tanganku. Aku speechless. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. “Sebenarnya, tadi, aku berpikir hal yang sama,” kataku sambil menunduk. Aku tidak berani menatap matanya. “Jadi?” tanyanya meminta kepastian. “Kita bisa mencobanya,” kataku masih menunduk. Aku bisa merasakan aura bahagianya. “Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan hubungan ini. Aku percaya, hubungan ini pasti berhasil,” katanya bersemangat. Perasaan ini, perasaan yang tidak aku rasakan selama beberapa waktu. Perasaan yang membuatku semakin semangat untuk menjalani hari-hariku.

Setelah makan siang, kami pergi ke sebuah taman. Kami bergandengan tangan menikmati angin sore yang sejuk. Nyaman, tenang. Perasaan yang sangat aku rindukan. Di sampingku ada seorang pria yang masih tetap menyayangiku setelah kusakiti. Cintanya sangat tulus hingga siapapun yang merasakannya tidak akan tega untuk menodainya. Tuhan, aku benar-benar berharap, dia akan menjadi yang terakhir bagiku.
Aku menatap wajahnya, mengingat setiap detail yang ada. “Aku ganteng banget, ya? Diliatin terus,” katanya sambil tertawa. Aku mencubit pinggangnya dan tiba-tiba dia memelukku. Aku terdiam. “Aku tidak akan meninggalkanmu,” bisiknya pelan. Apakah aku benar-benar mencintainya?

Hubungan kami semakin serius. Umur kami pun sama-sama sudah matang untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Pernikahan. Tapi, Lucio tidak memberikan tanda-tanda dia akan melamarku. Dia bahkan semakin sibuk hingga kami sekarang tidak bertemu selama 3 minggu! Aku sangat merindukannya. Yang hanya kudapat hanyalah pesan singkatnya yang memberitahuku bahwa dia tidak bisa bertemu. Sempat terbesat di pikiranku. Apakah dia mempunyai wanita lain? Tapi aku percaya bahwa Lucio bukan pria yang seperti itu.

Tiba-tiba ada pesan. Dari Lucio! “Sayang, kamu lagi di mana?” Aku sangat senang. “Baru saja mau pulang dari kantor. Kenapa?” balasku cepat. “Aku sudah di depan kantormu.” Aku langsung merapikan semua barang-barangku dan bergegas turun ke bawah. Dia berdiri di depan pintu gedung sambil membawa sebuket bungan lily. Bunga favoritku. Aku langsung memeluknya erat. “Aku kangen kamu,” kataku. Dia mengecup dahiku sambil memelukku. “Aku mau ajak kamu ke sebuah tempat,” katanya. Aku tersenyum sangat lebar. Mungkinkah selama ini dia sibuk mempersiapkan momen yang tepat untuk melamarku?

Kami sampai di sebuah restoran. “Aku tidak melihat pengunjung yang lain,” kataku. “Aku sengaja memesan tempat ini, hanya untuk kita berdua,” katanya sambil menatapku dengan seyum manisnya. Jantungku berdebar sangat cepat. Kami disambut oleh seorang pelayan yang langsung mengantar kami ke meja. Pemandangan malam itu sangat indah. Aku baru tahu ada restoran seindah ini di Jakarta. Ditemani alunan musik, kami menyantap hidangan di depan kami.

Setelah menyelesaikan makanan kami, Lucio memegang tanganku. “Apakah kamu senang, Ren?” tanyanya. “Tentu saja aku senang. Sangattt senang!” balasku. “Sudah kenyang?” tanyanya. Aku hanya mengangguk penuh semangat. Apakah ini momen yang selama ini aku tunggu-tunggu? “Yuk, pulang.”
Aku tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. “Pulang?” tanyaku kebingungan. “Iya. Besok kita berdua masih kerja, sayang,” katanya sambil berdiri. Aku masih tidak percaya. Dia merangkulku sembari jalan ke mobil.
“Ren, aku akan sangat sibuk lagi. Aku akan pergi ke Pekanbaru selama 2 minggu,” katanya. Dia memang sering keluar kota untuk menjalankan bisnisnya. Aku hanya mengangguk pelan. Lagi-lagi, dia akan meninggalkanku. Lucio bercerita hal-hal yang terjadi selama kami tidak berjumpa. Jauh di dalam hatiku, masih ada kesedihan yang tersisa.

Sesampainya di rumahku, kami berpelukkan sejenak sebelum dia pulang. Aku akan menjalani hari-hari yang berat tanpanya di sisiku. Aku bergegas mandi lalu tidur. Perlukah aku cuti dan ikut bersamanya? Paling tidak aku bisa menghabiskan 4 hari bersamanya di Pekanbaru.
“Sayang, aku boleh ikut ke Pekanbaru? Aku bisa cuti 4 hari,” kataku di telepon.
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
“Kamu nanti akan bosan karena aku akan sangat sibuk dengan pekerjaan. Kita tidak akan bisa ke mana-mana.”
“Baiklah,” kataku sebelum menutup telepon.
Baru kali ini seorang Lucio berkata demikian. Biasanya, dia akan berkata lembut untuk menolak ajakkanku. Kepalaku semakin berat dan berat. Saatnya untuk mengakhiri hari ini.

Jumat. Hari favoritku karena aku bisa pergi ke manapun sampai jam berapapun dan tidak akan terlalu ramai. Aku memutuskan untuk mencoba sebuah cafe baru di Jakarta Timur. Aku tidak pernah ke Jakarta Timur sebelumnya. Untung saja sudah ada GPS jadi aku tidak perlu khawatir. Tidak ada kabar dari Lucio sehingga aku tidak memberi kabar.

Sesampainya di cafe itu, aku melihat sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan. Lucio. Bersama perempuan lain. Hanya berdua. Aku meneleponnya. “Kamu lagi di mana?” kataku. “Lagi meeting sama klien. Ada papa juga, kok.” Katanya. “Ada perempuannya?” “Tentu saja tidak ada. Mana mungkin ada perempuan. Kamu ada-ada saja. Sudah ya. Aku mau lanjut meeting,” katanya sebelum menutup telepon. Dia berbohong.

Aku menghampiri mereka berdua. “Oh ini yang namanya meeting di Pekanbaru? Katanya gak ada perempuan. Lalu dia apa?” tanyaku sambil menunjuk ke perempuan itu. “Aku bisa jelaskan,” kata Lucio dengan wajah terkejut dan panik. “Klise!” kataku sambil berlari ke mobilku. Aku tidak habis pikir bahwa dia akan berselingkuh. Inikah alasannya mengapa dia tidak melamarku setelah selama ini kami berpacaran?

Aku memacu mobilku tanpa memperhatikan apapun. Aku sedih. Aku hancur. Teganya Lucio mengkhianatiku. Apakah aku kurang untuknya? Apa salahku sehingga dia mempunyai wanita lain? Aku tidak bisa membendung air mataku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa semua ini terjadi padaku. Ketika aku sudah benar-benar mencintainya, dia menyakitiku begitu saja.
Aku langsung masuk ke kamar dan memeluk bantalku erat. Tangisanku memenuhi seisi kamar. Hujan pun turun dengan deras seperti sedang menangis denganku. Lucio meneleponku berkali-kali tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak memerlukan penjelasan. Aku tidak memerlukan semua bualan manisnya. Tapi aku memerlukan dia, di sampingku. Cintaku padanya lebih besar dari luka yang ia torehkan di hatiku. Tapi, pengkhianatan tidak dapat dimaafkan.

Selama berhari-hari Lucio datang ke rumahku, meneleponku, mengirimku pesan. Aku tetap tidak meladeninya. Mengapa dia masih mempedulikan aku ketika dia sudah punya wanita lain di hatinya? Apakah dulu dia hanya kasihan padaku karena aku ditinggal mati oleh kekasihku? Apakah selama ini dia hanya berpura-pura?
Aku tetap mendiamkan Lucio hingga suatu hari. Dia tidak beranjak dari rumahku dari pagi hingga malam meskipun hujan turun dengan derasnya. Hati siapa yang tidak kasihan padanya. Aku membukakan pintu rumahku. “Renata!” katanya dengan senang. “Jadi, kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku datar.
“Apakah kamu telah memaafkanku?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
“Aku masih sayang sama kamu, Ren.”
“Aku gak percaya.”
“Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon.” Katanya sambil menatapku tajam.
“Aku mau putus.”
“Oke. Aku tahu aku salah. Aku tahu kita tidak akan bisa seperti dulu. Tapi, izinkan aku untuk mengajakmu ke restoran favorit kita besok. Aku janji, setelah besok, aku tidak akan mengganggumu lagi.” “Baiklah,” balasku datar. Dia bergegas pulang. Namun di tengah jalan, dia membalikkan tubuhnya. “Thank you.”

Keesokkan harinya, aku menguatkan diriku. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi kami berdua. Mungkin memang dia bukan pria yang tepat bagiku. Pertemuan terakhir kami terasa sangat berat.
Aku memakai baju yang aku pakai ketika pertama kali kencan dengannya dulu. Terusan merah muda dengan high heels putih. Hatiku kacau. Rasanya tidak rela menjadikan hari ini sebagai hari terakhir bertemu dengan Lucio. Tak terasa, sudah hampir waktunya Lucio menjemputku.

Tiiiinn.. Tiiiinnn…
Aku bergegas turun dan masuk ke dalam mobilnya. Dulu, aku sangat senang dapat pergi dengannya. Sekarang, semua ini hanya melukaiku lebih dalam lagi. “Hai,” sapanya sambil memberikan senyum khasnya. Aku hanya tersenyum. Dia menjalankan mobilnya ke restoran favorit kami. Restoran ini menjadi saksi bisu cerita cinta kami.

Setelah sampai di restoran, kami tidak langsung turun dari mobil. “Ren, aku mau minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku buat. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Tapi ketahuilah, aku tidak pernah bermaksud demikian,” katanya sambil memegang tanganku lembut. “Ayo turun,” ajakku sambil melepaskan tangannya. Ini lebih dari cukup bagiku.

Kami masuk ke dalam restoran itu. Aku terdiam melihat suasana di dalam restoran itu. Restoraan itu sudah dihias dengan rapih. Dipenuhi dengan bunga mawar merah dan putih. Di tengah ruangan, ada sebuah meja untuk dua orang. Masih terpana dengan suasananya, Lucio menggenggam tanganku dan menuntunku ke dekat meja. Dia menatapku lalu berlutut di depanku. “Ren, aku tahu aku bukan pria yang pantas untukmu tapi aku akan berusaha supaya bisa menjadi yang terbaik untukmu,” katanya pelan. Tiba-tiba wanita yang waktu itu bersama Lucio di cafe ada di hadapanku. “Namanya Gina. Dia yang membantuku merancang ini semua. Aku sengaja berbohong kepadamu supaya aku dapat merencanakan ini tanpa sepengetahuanmu,” lanjutnya. Aku bersusah payah menahan air mataku. Jadi, dia tidak benar-benar mengkhianatiku? “Then, will you accompany me for the rest of my life?” tanyanya sambil membuka sebuah kotak berisikan sebuah cincin. Aku speechless! Aku tidak tahu cara mengekspresikan perasaan yang sedang aku rasakan. Semuanya bercampur aduk. Aku hanya mengangguk sambil menangis bahagia. Dia memakaikan cincin itu ke jari manisku. “Aku tidak akan mengecewakanmu,” kata Lucio lalu memelukku erat.

Kami menyantap makanan kami dengan raut wajah bahagia. Aku masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Hari semakin malam sehingga kami harus pulang. “Sebelum pulang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Lucio bersemangat. Aku sangat beruntung mempunyai tunangan sepertinya.
Kami menyusuri jalanan yang sangat sepi. Aku memperhatikan wajahnya. Wajah yang sangat aku kagumi. Dia mentapku balik. “Kenapa?” katanya sambil tetap melihat ke arahku. “I love you,” kataku sambil tersenyum. “I love you too, Renata,” katanya sambil mendekatkan wajahnya.

Crassshhh…

Itulah hal terakhir yang aku ingat. Aku terbangun di rumah sakit dengan luka-luka yang tak terlalu parah di sekujur tubuhku. Aku panik. Di mana tunanganku!? “Mbak dan tunangan mengalami kecelakaan. Sebuah truk menabrak mobil kalian,” kata seorang suster. “Lalu, di mana tunangan saya!?” tanyaku panik. Oh tidak. Tidak mungkin. “Besok, saya akan mengajak Mbak menemui tunangan Mbak,” katanya sambil meninggalkanku. Aku berharap Lucio baik-baik saja. Aku memikirkannya hingga aku tak dapat tidur.

Pagi ini diawali dengan hujan yang sangat deras. “Selamat pagi, Mbak,” sapa suster itu. “Mari saya antar ke ruangan tunangan Mbak,” katanya sambil membantuku duduk di kursi roda. Kami menyusuri lorong rumah sakit dan akhirnya berhenti di sebuah ruangan. “Kemarin, tunangan Anda dalam kondisi yang sangat kritis. Namun subuh tadi, saya mendapat kabar bahwa…” kata suster itu sambil membuka pintu ruangan itu. Aku melihat ke dalam dan melihat sebuah tempat tidur dengan kain putih menutupi tubuh seseorang. “Maaf, Mbak. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi Tuhan berkata lain. Yang sabar ya, Mbak.”

Aku tidak percaya. Aku mendorong kursi rodaku dan membuka kain itu. Lucio. Terbaring kaku bersama luka yang sangat parah ditubuhnya. “Kamu bercanda kan!? Ini hanya salah satu dari leluconmu, kan!? Bangun sekarang, Lucio! Bangun!” teriakku sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Aku menangis dengan sangat kencang. Dulu kekasihku meninggal, sekarang tunanganku!? Mengapa dunia ini tidak adil!? Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang sebegitu beratnya untukku!? Mengapaa…!?

Pemakaman Lucio dihadiri oleh keluarga dan kerabatnya. Tak ada satu pun yang tidak menangisi kepergiannya. Siapa yang tidak sedih, kehilangan sesosok pria yang baik hati seperti Lucio. Mama menenangkanku. Aku tidak berhenti-hentinya menangis. Bahkan hingga kotak kayu itu sudah tak terlihat, aku masih tidak percaya dengan ini semua.
Aku tidak mempunyai semangat untuk melanjutkan hidup. Hidupku berantakan. Ditinggal pergi selamanya dua kali oleh pria yang aku cintai sudah cukup untuk tidak melanjutkan hidup ini. Cukup untuk menjadi alasanku mengakhiri hidup di dunia yang kejam ini.

Cerpen Karangan: Irene Lie
Facebook: Irene Lie Ca

Cerpen Jackpot merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Elegi Embun Pagi

Oleh:
Di dalam kelas yang sepi. “Yeta, dicoba aja dulu! Masa sih udah tujuh belas tahun belum punya pacar juga, malu tuh sama wajah cantik kamu! Hahaha…,” kata Mentari membujukku

Luka LDR

Oleh:
Suara gedoran pintu mulai membangunkan gadis cantik itu, terdengar dari luar suara seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya, yang sedang memanggil namanya disertai dengan suara ketukan pintu yang

Alun Alun Jingga

Oleh:
Aku memerangi dingin pisau yang menjelajahi tubuhku meski sempat berfikir menyerah akan lebih menenangkan, tapi tidak karena kau menggenggam tanganku di ujung cahaya, bukan ruang operasi juga bukan jas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *