Jagalah Mataku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 28 April 2013

Apa kamu mendengarku. aku ingin sekali menyentuhmu, berbagi cerita tentang masa yang hilang.. aku ingin melihatmu seutuhnya. berikan aku cahaya untuk melangkah, Berikan aku tangan yang menuntunku kuat. apa kamu mendengarku dan melihat apa yang terjadi padaku selama ini?

“bruuuuuuk” aku terjatuh dari tempat tidur.” sial, aku bermimpi lagi tentang mu lagi”. batinku, mimpi yang membuatku muak karna ku harus terbangun di setiap tidur malamku, aku lelah sekali. Aku menuruni tangga dan bergegas pergi ke sebuah tempat di mana aku ingat pertama kali mengenalnya. sosok sederhana yang mampu denyutkan nadiku memberinya energi untuk tersenyum di hari ku bersamanya. namun semua berlalu dengan beberapa kesalahan yang membuatku merana. aku meraih jaket dan melajukan motorku menyusuri malam.

Aku termenung di kursi sebuah cafe, melihat setiap langkah mendekat dan pergi setelah puas. tak ada yang menyapaku atau sekedar melihat ku. ini sepi sekali di malam ini. Di tengah keramaian aku merasa kesepian sangat, aku memesan secangkir kopi untuk menghangatkan tubuhku yang menggigil kedinginan bagai tikus got, aku lelah sangat lelah.

Aku berlari ke wc, bersembunyi di balik cahaya saat seseorang yang pernah hadir dalam mimpiku dan mengisi hari-hariku. menggandeng kuat tangan seorang lelaki dan mereka bercanda ria di tempat yang tadi ku duduki, beberapa saat pelayan datang dan menawarkan beberapa menu.

Aku masuk ke wc dan melihat keramaian dari lantai 20 ini. cahaya kelip lampu ibukota. aku menarik napas panjang. “daaaasaaar wanita murahan mati saja kau”. suara yang sempat ku dengar dan beberapa saat polisi datang dan menangkap pria yang duduk degan sang wanita, aku mendekat dan melihat seorang wanita yang tak lain adalah kekasih dulu. terhempas di lantai dengan luka dan. “astaga matanya terluka,” aku menutup mulut tak percaya rasanya ingin ku rangkul namun garis polisi menahan niatku.

Beberapa saat wanita di bawa ke sebuah rumah sakit dan aku hanya bisa mengukuti dari belakang dengan perasaan takut.

Wanita ini adalah nadia, kekasih yang telah lama ku incar dan aku berhasil mendapatkan cintanya setelah melewati banyak sekali cacian makian dan hinaan sana sini, aku tak pernah menyerah dan semua itu sirna secepat cahaya ketika seorang lelaki berhasil menariknya dari ku. Meski itu telah 2 tahun lalu tapi aku tak bisa melupakannya, sakit yang membuatku tak tulus mencintai yang lain. semua datang dan pergi begitu saja.

Aku memasuki ruangan tempat dia di rawat. aku mengaku pada suster yang menjaga kalau aku adalah papanya sehingga aku di perbolehkan masuk. Aku meraih tangannya dan melihat seluruh tubuhnya yang baik-baik saja kecuali kedua matanya yang di balut kain kasa. dan di tutupi.
“anda siapa?, apa saya bisa mendengarmu” nadia berkata
namun ku hanya terdiam tak tau apa yang harus ku lakukan. aku hanya pererat lingkaran tanganku.
“aku hanya tak habis pikir kenapa pria yang ku anggap indah selama ini ternyata lebih jahat, kejam sekali dia. aku ketakutan tubuhku.” nadia berkata sambil suaranya terbata-bata.
“sekarang apa yang bisa ku lakukan, aku tak punya mata dan duniaku terasa hampa sekarang,” nadia trus berkata membuatku merasa terpukul.

Aku melepaskan tanganku dan melangkah pergi.
“kenapa kamu pegi, ia aku tau, pergi saja sana,” nadia terlihat kesal.
Aku melangkah ke ruang dokter dan mengutarakan niatku. Aku termenung di teras membayangkan wajah sedih nadia wanita terindah yang pernah ku kenal.

Aku bergegas ke rumah sakit mempersiap diriku untuk mendonorkan mataku.
“nadia, kamu pasti mengenal suaraku, dan ketika kamu dapat melihat lagi apa yang akan kamu lakukan dengan pria yang mau mendonorkan matanya padamu.” aku berkata mengecup kening.
“aku akan menjadi kekasihnya?” kata terakhir yang ku ingat dan aku di bawa ke sebuah ruangan setelah di tes ternyata mataku cocok untuk nadia.

Aku di bius dan tak ingat apa-apa lagi selain tersadar dengan kepala yang pusing, dan mata yang berdenyut kencang dan sakit luar biasa. aku melihat sekelilingku gelap sekali, berapa kali pun aku mencoba tak ada cahaya. dan aku pun teringat akan mendonorkan mataku untuk nadia.

Suara Suster datang dengan seorang wanita yang dari suaranya ku tahu itu nadia. “apaaa jadi pria berengsek ini yang mendonorkan matanya, lebih baik aku buta dari pada harus bersamanya.” suara nadia yang langsung membuatku lemah tak berdaya.

beberapa saat aku mendengar langkah itu menghilang bersama jejak langkah pria lain.

Ku mengangkat kepala ku dan berkata “pergilah saja ingatlah untuk menjaga selalu mataku, biarkan hidup menerangi malam mu, aku di sini tetap hidup dalam gelap duniaku namun aku bangga karena mataku bersinar di hidupmu nadia.”

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com
Alfred pandie, suka menulis, rajin menabung dan tidak sombong

Cerpen Jagalah Mataku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Darah Keabadian

Oleh:
Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi padaku, terkadang aku menangis dan terkadang aku tertawa. Hahahahahhaa.. Konyol memang.. Banyak orang mengatakan aku gila. Ya.. Tentu.. Aku memang gila. Gila

Taman ini

Oleh:
Disini aku duduk. Menikmati indahnya alam. Melihat awan berputar diterpa angin yang terlihat seperti menari. Burung bernyanyi mengelilingi awan. Angin sejuk menambah suasana tenang. Lalu aku teringat kejadian dulu.

Ku Donorkan Mataku

Oleh:
Terbangun dari tempat tidurku, ku hirup udara nan segar, aku merasakan kehangatan sinar matahari yang menembus kulitku, ku berlari secepat mungkin dan membuka pintu rumahku. Sekejap aku berhenti dan

Nona Cinta

Oleh:
Ketika cinta, masih terasa, walaupun sudah jauh. Hari sudah semakin sore, malam sudah ingin menyambut, hujan pun tetap setia menemani Nona yang sedang menunggu. Bell sekolah sudah lama sekali

Yang Ditunggu

Oleh:
“Aku mencintaimu, Val.” Rival menatap Tasya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Pengakuan Tasya ini, membuat Rival tak bisa berkutik. Ingin ia menjawab pernyataan dari Tasya, tetapi lidahnya terasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *