Jangan Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 July 2017

Saat dimana aku melepasmu…

Desember 2016…
“Dengarlah Nafi. Tentang perasaan yang kupendam, saat perlahan jarak memisahkan antara aku denganmu. Dengarlah rintik hujan yang jatuh. Yang mengingatkan kita pada masa yang lalu, saat kita sama-sama terjebak di cafe dekat sekolah. Aku masih mengingat semuanya dengan jelas”.

Saat memandang air di danau taman dekat rumahku. Kau lemparkan batu ke sana dan cipratannya membasahi seluruh pakaianku. Di sana juga kita pertama kali bertemu bukan?.

04 Juni…
“Tririririring” Suara dering teleponku berbunyi saat aku bergegas untuk beranjak keluar rumah. Seragam lengkap dengan sepatu dan tas, bahkan dasi yang melingkar di kerah bajuku. Suara di seberang sana menyapaku dengan kasar. “Di mana kau zeo? Jam pelajaran akan segera dimulai” Mulutku cepat membalas pertanyaan dari zoya, “Hahaha, sepertinya aku kesiangan lagi deh” Segera aku menutup teleponnya, menghapus senyum palsu yang baru saja kubuat. Kembali pada kenyataan yang terasa hampa. Ini hari kelima aku tidak masuk sekolah.

Di taman dekat rumahku, aku menghabiskan waktu di sana. Masih tergambar danau kecil dengan bangku yang terpahat di hadapannya. Di bawah pohon yang rindang, aku berteduh sesekali membaca buku. Terkadang mendengarkan sebuah musik klasik dan juga melihat ke dalam air. Di sana kau dapat melihat pantulan dirimu, namun yang kulihat hanyalah bayangan yang menatap balik ke arahku. “Splash” Bongkahan batu yang cukup besar memecah bayangan yang baru saja kulihat, Setidaknya sekepalan tanganku. Atau bahkan lebih.

Wajah dan sekujur tubuhku basah. Aku berhenti melamun. Saat aku menoleh, seseorang dibalik pohon rindang itu menatapku dengan wajah gelisah. Ia sempat memalingkan wajahnya sesaat namun tatapannya kembali padaku. Menghampiriku dan membungkuk, lalu mengucapkan kata “Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja” Aku bingung harus berkata apa? Aku bahkan tak merasa kesal ataupun marah padanya. Apakah emosiku benar-benar telah hilang? Aku hanya terkejut sejenak. Kemudian kembali pada kenyataan. Wajah di hadapanku perlahan memandangku lagi, melihat dengan tatapan tanya lalu berkata “Kamu tidak marah?” Ucapnya lirih. Ia berlari entah ke mana lalu kembali dengan membawa handuk yang cukup besar. Memberikannya padaku, namun aku hanya menerimanya di tanganku dan tak melakukan apapun. “Kamu tidak apa-apa?” Ia mengambil handuk itu dan menyapukannya ke seluruh wajahku. Agak sedikit kasar, namun terasa sangat lembut. Gadis itu melingkarkan handuknya di leherku sambil menatapku sedikit cemas. Ia menanyakan tempat tinggalku. Bahkan ia berniat mengantarku pulang. Aku hanya bisa tertawa kecil melihatnya bertingkah seperti itu. Jari telunjukku menunjukkan arah tempat tinggalku yang dapat terlihat dari tempat kami berada. “Tak apa, aku tinggal di dekat sini. Hanya saja, aku belum bisa pulang” Ucapku. Ia baru menyadari seragam sekolah yang kukenakan. Bahwa aku sedang bolos sekolah dan saat ini belum waktunya pulang.

Ia membelikanku sepotong jaket yang dijual di persimpangan jalan. “Jaketnya sangat jelek. Aku tak perlu ini” Wajahnya sedikit memerah saat aku mengatakan itu padanya. Sebenarnya aku hanya berniat mengerjainya. Namun, kurasa aku berharap sedikit lebih saat ia membawaku ke toko pakaian. “Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku beli. Lagipula, aku ini masih anak sekolah. Uangku terbatas” Jawabnya pelan. Aku tak dapat berkata lebih banyak lagi. Malahan sedikit terkejut dengan penampilannya. Kukira dia lebih tua dariku. “Aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku zeo. Terimakasih untuk jaket jeleknya” Ucapku memperkenalkan sambil sedikit menggodanya. Ia kembali memejamkan mata, mungkin menahan malu. “Aku nafi dan bisakah kau berhenti mengatakan itu?” Oh, ya ampun. Ekspresinya sangat lucu. Aku hanya mampu menutup mulutku menahan tawa yang masih dapat ia dengar.

Kami berjalan mengelilingi taman. Menghabiskan waktu hingga saatnya aku dapat pulang. Bertanya satu sama lain, tentang Sekolah dan tentang apa yang biasa kami lakukan saat waktu senggang. “Benarkah? Kau suka menulis cerpen?” Tanyaku penasaran. “Heeeem, tapi tulisanku tak terlalu bagus dan mungkin juga tak menarik untuk dibaca” Ucapnya tersenyum malu. Saat ia merendahkan dirinya padaku. “Besok bawakan aku hasil karyamu ya, aku ingin melihatnya”. “Eeeh, kan aku bilang tidak bagus, lagipula aku belum pernah menunjukkannya pada orang lain”. “Kau lupa kau membuat aku basah kuyup tadi pagi. Anggap saja itu penebusan atas kesalahanmu” Ucapku sedikit memaksa. Sedikit menggoda namun sebenarnya aku juga tak terlalu tertarik. Hanya saja besok, aku masih tak ingin pergi ke sekolah.

Kami berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Ibuku menanyakan apa yang terjadi dengan seragamku? jadi aku membuat alasan kalau aku terkena cipratan air yang menggenang saat berada di sekolah. Siang itu, ibu banyak membicarakan sesuatu. Tentang pekerjaan ayah, tentang saudara kami di desa dan… “Zeo, apa nara bisa datang di perayaan kelulusan kakakmu nanti? Ibu pasti repot kalau membawa semuanya sendiri” Aku menyelesaikan makananku tanpa membalas ucapannya. Sepertinya ibu juga tak berbicara lagi setelahnya. Baguslah, jika ibu mengerti. Karena aku benar-benar muak mendengar nama itu.

Malam dengan cepat datang saat aku menghabiskan waktuku mengurung diri di kamar. Padahal pagi tadi perasaanku telah membaik. Kenapa saat kembali ke rumah, aku harus mendengar namanya lagi. Kalau mendengar namanya, aku mengingat kata-kata terakhirnya “Kau itu laki-laki yang hampa, aku tak tahan lagi harus terus berada di sisimu” Nara… Seperti itukah kata-kata terakhirmu setelah semua yang kita lewati selama 2 tahun berlalu. Tetesan air mataku ini tak mampu kubendung saat aku mencoba mengingatnya lagi.

Keesokan hari, nafi juga membolos sekolah. Ternyata, sekolah kami berdekatan. Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe. Nafi memberikan sebuah buku hasil karyanya, aku menyimpannya di dalam tas “Eh, mau diapakan? Jangan dibawa, baca di sini saja” Ucapnya. “Bagaimana bisa aku membaca dalam keadaan sedang turun hujan”. “Ya sudahlah”. Kami saling menatap. Lama telah berlalu. Kami menghabiskan minuman yang telah dipesan. Hujan pun mulai mereda, tak sengaja aku menarik tangannya berlari ke arah taman. Bersandar di bawah pohon. Menyanyikan sebuah lagu. Nafi hanya menatapku dengan dingin merasuki tubuhnya. Aku membuka jaket pemberiannya dan kulekatkan di tubuhnya. “Eh ini kan punyamu”. “Tak apa, kau terlihat kedinginan”. Nafi hanya tersenyum.

6 bulan berlalu sejak pertama kali kita bertemu. Nafi mulai menjauhiku dengan kata sibuk dan sebagainya. Ada yang berbeda dari sikapnya. Aku mulai merasakan kehampaan. Seperti nara yang meninggalkanku dalam luka yang dalam.

6 hari kami tak bertemu. Sebuah surat melayang di tanganku. Kubuka perlahan sampulnya.
Untuk zeo, maaf aku harus pergi dan mungkin tak akan pernah kembali. Lupakan saja semua tentang kita. Kau laki-laki yang payah, aku tak suka berada di dekatmu. Semoga kita tak pernah bertemu lagi.

Aku lari lagi dari kenyataan. Menganggap semua ini hanyalah kebohongan. Nafi, Kembalilah… Jangan pergi!

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Jangan Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Bawa Hatiku Ke Dalam Damai (Part 1)

Oleh:
Malam ini adalah malam yang paling gelap yang pernah kulihat. Tak ada kelipan kejora bintang, pantulan cahaya bulan bahkan, petir yang menyambar-nyambar. Hanya hitam yang tampak. Semburat cahaya kehitaman

Aku Bukan Pilihanmu

Oleh:
Raya tengah duduk di bangku taman kampusnya melirik-lirik keadaan sekitarnya, Kosong! Hampa! Ia hanya melihat danau kecil di depan matanya. Wajahnya yang cantik itu keliatan murung entah apa yang

Gaun Hitam

Oleh:
20 Desember 2014 “Enggak usah banyak-banyak. Keluarga inti sama kerabat aja udah cukup rame kan, Mas. Sekalian berhemat buat hidup kita nanti kedepannya.” “Tapi ini kan sekali seumur hidup,

Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Dalam Dekapku

Oleh:
Dia datang, selalu sama. menghangatkanku dengan pelukan. sampai bibirku kelu, sampai aku tak mampu lagi ungkapkan luka. pelukannya menjalar ke segala penjuru hatiku yang sempat beku oleh pengabaiannya. ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Jangan Pergi”

  1. Fitriyah says:

    Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *