Jika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 3 December 2016

Jika, adalah kata yang hadirnya seringkali sebagai penegas kelemahan satu hati kala terbelenggu dalam lingkaran penyesalan.
Jika semua kata adalah wujud ketulusan, tak akan pernah ada tutur kata yang melukai.
Jika maaf selalu ada tanpa terucap, tak akan pernah ada kesalahan yang menyakiti.
Jika setiap hati adalah sama, tak akan ada perbedaan mimpi yang terabaikan.
Jika waktu adalah kesempatan, tak akan pernah ada penyesalan.
Dan Jika hidup adalah persiapan, tak akan ada siksa dalam keabadian.
Jika… Jika… Jika…

Jika waktu mampu bergerak dalam kehendak, tentu tak akan ada penyesalan di waktu yang tersisa. Jika kini mampu menjadi dahulu, tentu kini tak akan sesesal ini, dan jika esok dapat terlihat hari ini, tentu akan ada persiapan tuk menyambutnya.
Namun jika tak pernah berlaku pada sang waktu, karena Tuhanlah penguasa waktu, yang menghendaki misteri di setiap detiknya. Bukan tanpa alasan, karena sesungguhnya Tuhan mendidik setiap hamba-Nya, untuk selalu menggunakan hati di setiap langkah dan tutur katanya. Bukankah itu lebih mulia dari jika??

Namun pada kenyataannya, banyak manusia tak dapat memahami maksud Tuhan, sehingga Jika menjadi alasan untuk membenarkan diri atas keadaan yang buruk karena kesalahan langkah dan tutur katanya sendiri, seperti aku dalam sesalku.
“Jika kau bangun, aku akan selalu ada untukmu Al…” airmataku tak hentinya menetes seperti selang infus yang tanpa henti mengalir pada sosok tubuh di hadapanku yang terbaring lemah. Tetap mendengar, namun tak kuasa untuk menjawab dan tiada daya untuk sekedar membuka mata, aku pahami itu. Meski sesal dalam diriku tak mampu mengembalikan kesehatan seseorang yang paling aku sayangi dan baru kusadari ketika hadirnya tiada pernah lagi mengganggu kesibukanku dalam duniaku namun tak sedikitpun aku tau bahwa aku adalah dunia bagi Al, mungkin aku terlalu kejam, namun apalah gunanya sesalku kini.
Perlahan kucoba membuka laptop yang selalu Al bawa, tak sengaja kutemukan sebuah kisah yang ditulisnya…,

Terlihat tatapan kosong di mata Kinan akan sesal di masa lampau, “Jika saja waktu itu..”
Pertemuan Ryan dan Kinan berawal dari sebuah production house, waktu itu Kinan masih sebagai karyawan magang dan Ryan menjadi pembimbingnya. Mereka tergabung dalam satu devisi naskah. Dua bulan adalah waktu yang cukup bagi Ryan dan Kinan untuk saling mengenal lebih jauh. Hingga pada bulan ketiga Kinan berhasil menjadi karyawan tetap disana, hubungan Ryan dan Kinan pun semakin dekat, tak jarang Ryan membantu Kinan meski tanpa Kinan sadari, terlihat jelas di mata Ryan bahwa ia menyukai Kinan, namun entah apakah Kinan tak menyadari itu, ataukah ia sengaja mengabaikan rasa itu, tak sedikitpun Kinan menunjukkan respon yang positif pada Ryan.
Meski begitu, apapun dan kapanpun Kinan membutuhkan bantuan, Ryan selalu ada untuknya, bahkan Ryan pun seringkali menemani Kinan saat lembur mengerjakan tugas naskahnya, tak lupa juga Rya selalu membawakan es krim rasa pisang kesukaan Kinan
Hingga pada suatu hari Ryan mendapat tugas untuk pindah ke kantor pusat yang ada di Jakarta. Ryan tau jarak antara Semarang dan Jakarta tidaklah dekat, dan itu artinya Ryan harus berpisah dengan Kinan. Rasa kalut penuh keraguan menyelimuti hati Ryan. Saat itu Ryan tengah sendiri di ruangannya ketika Kinan datang memberi keyakinan dan sekaligus kekecewaan pada Ryan.

“Pergilah… Semoga kau sukses disana…” ucap Kinan tanpa sedikitpun ekspresi kesedihan yang terpancar di wajahnya.
“Begitu mudahkah semua ini bagimu? Sebatas inikah kau menganggap kehadiranku selama ini? Bukan itu kalimat yang ingin kudengar darimu Kinan.., cegahlah aku, maka aku tak akan pergi..” gejolak dalam diri Ryan hanya mampu terpendam, dan lewat senyuman getir penuh rasa kecewa Ryan menjawab ucapan Kinan,

Akhirnya Ryan pun pergi ke Jakarta, namun itu tak berarti hubungan mereka terhenti. Meski hingga kini Ryan tak mampu mengungkapkan perasaannya pada Kinan, namun doa di setiap sujudnya senantiasa untuk Kinan. Setiap harinya tak lupa Ryan selalu menghubungi Kinan, meski hanya lewat sms, dan tak jarang pula Ryan tak mendapatkan balasan apapun dari Kinan. Namun, bukanlah kemarahan yang ada di hati Ryan atas pengabaian itu, melainkan rasa khawatir yang teramat dalam akan keadaan Kinan disana.
Hingga suatu ketika Ryan mencoba menelpon Kinan, berkali-kali namun sama sekali tak ada jawaban. Tiba-tiba ada sms masuk di Hp Ryan, ternyata sms itu dari Kinan dan betapa kecewanya hati Ryan saat membaca sms dari Kinan itu,
“Aku lagi sibuk!” ya, hanya itu. Hanya tiga kata itulah balasan yang Ryan dapat atas semua perhatian tulusnya pada Kinan.
Sejak saat itu Ryan memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Kinan, namun yang terjadi tiga hari kemudian Kinan lah yang menghubungi Ryan, dan kali ini Ryan sama sekali tak menjawabnya. Entah apakah Kinan hanya akan menghubunginya ketika ia membutuhkan bantuan, ataukah karena kini Kinan merasa kehilangan orang yang selalu mengganggu kesibukannya hanya untuk menyuruhnya makan. Yang jelas kini rasa kecewa di hati Ryan sudah teramat dalam pada Kinan.

Biar bagaimanapun, ketulusan hati tak pernah memiliki kekuatan untuk membenci, dalam hati Ryan sangat merindukan Kinan. Ryan memang kecewa, tapi ia lebih merasa kasihan pada Kinan,
“Kau kesepian Kinan, aku tau kau berusaha menutupi itu dengan segala macam kesibukanmu kini, tapi sadarkah kau? Kesibukanmu kini juga pernah menjadi kesibukanku dulu? Dan bukankah kau tau, selalu ada waktuku untukmu hanya sekedar untuk mengajarimu hal-hal sederhana yang sebenarnya itu hanya membuang waktuku saja? Tapi aku tau kau butuhkan itu, dan betapa kecewanya hati ini ketika kau menjadikan apa yang kau lakukan kini sebagai alasan untuk menutupi kesepianmu kini, sadarilah sesalmu tak akan pernah usai hingga batas waktumu, ketika kau tau orang yang tulus kepadamu telah pergi untuk selamanya dari hidupmu, semoga itu tak terjadi padamu, Kinan…” Ryan menutup laptopnya dan berusaha menenangkan batinnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Hening.

Jembatan itu penuh kabut putih, tak terlihat apapun, di bawahnya mengalir sungai yang deras, dan di ujung jembatan, samar-samar terlihat taman dengan bunga warna warni yang menghiasi dengan indahnya. Namun tempat itu begitu sepi, hanya kicauan burung dan gemercik air yang terdengar.
Terlihat Ryan berjalan menyeberangi jembatan itu, wajahnya tampak bersinar seolah menandakan ketenangan batinnya.
“Ryan…, kumohon jangan pergi…” terdengar suara dari belakang, terlihat Kinan yang menangis memohon pada Ryan agar jangan pergi. Ryan bingung. Kinan lalu meraih tangan Ryan dan terus memohon, namun tiba-tiba tubuh Ryan menjadi transparan dan perlahan menghilang.
“Ryan… Jangan pergi…” suara Kinan terdengar semakin jauh.

Ryan terbangun dari mimpi anehnya, waktu menunjukkan pukul enam pagi dan Ryan pun segera bersiap untuk pergi ke kantor. Selama itu pikirannya tak pernah lepas dari sosok Kinan yang jauh darinya.
Malam harinya Ryan terlihat begitu bersemangat mengemasi bajunya, ia mendapatkan tugas untuk hunting di beberapa lokasi yang ada di Semarang, dan itu artinya ia akan bertemu Kinan.
Sejak mimpi semalam Ryan memutuskan untuk menghapus segala rasa kecewanya pada Kinan, dan mencoba untuk mengikuti kata hatinya,
“Akan selalu ada maaf untuk orang yang ku kasihi.” ucap Ryan dalam hati.

Mentari pagi ini seolah ikut berbahagia mengantarkan keberangkatan Ryan ke Semarang. Waktu telah menunjukkan pukul dua siang ketika Ryan menginjakkan kakinya di Bandara Ahmad Yani Semarang, ia langsung menuju Hotel yang sudah disiapkan oleh pihak kantor. Hunting lokasi dimulai esok hari sehingga Ryan masih mempunyai kesempatan untuk menemui Kinan malam ini. Ryan sengaja tidak memberitahukan kedatangannya pada Kinan karena ia ingin memberikan kejutan untuknya.
Dalam hati Ryan sudah tak sabar ingin bertemu Kinan, namun sebelum itu terlebih dahulu Ryan berniat untuk membeli es krim rasa pisang yang sangat disukai Kinan.
“Tak akan lagi aku sia-siakan kesempatan ini, kan ku ungkapkan rasa kasihku padamu, karena aku tak ingin ada kata ‘jika’ dikemudian hari atas penyesalanku yang tak mampu mengisi kesempatan yang telah Tuhan berikan. Aku sayang kamu, Kinanniar Kartika.”

Kisah itu terhenti pada satu nama itu, namaku. Aku pun segera menyadari Ryan adalah Aldriyan, itu adalah nama lengkap Al. Sungguh seketika sesak dalam dadaku hampir menghentikan nafasku. Jika…
Pandanganku tak juga lepas dari rangkaian kalimat yang tertulis di laptop Al, airmataku tak hentinya mengalir. Sekitar dua jam yang lalu aku menerima kabar bahwa Al mengalami kecelakaan ketika menyebrangi jalan tepat di depan toko es krim. Seketika Al tersungkur bersimbah darah dengan es krim rasa pisang yang berserakan di sekelilingnya.

“Maafkan aku Al…, maafkan aku..” suaraku lemah di hadapan sosok yang baru kusadari hidupku tak berarti apapun tanpanya. Tiba-tiba tangan Al menggenggamku lemah, perlahan mata Al terbuka, tetap ada senyum di wajahnya untukku yang telah kejam mengabaikannya.
“Kenapa menangis Niar?” tanya Al padaku dengan suara lirih.
“Kinan…, aku Kinan, dan Kau Ryan..” jawabku dalam tangis. Al pun segera mengerti dan menyadari bahwa aku telah membaca cerita dalam laptopnya.
“Bolehkah aku pergi, Kinan, Niar…?” tanya Al tanpa asa.
“Jangan Al…, kumohon jangan…,” jawabku penuh sesal.
“Maafkan aku, tapi Tuhan telah memanggilku, lanjutkan kisahku, tulislah apa yang ingin kau tulis, jika itu bisa membuat hatimu tenang. Aku sayang kau, Kinan Niar..” itulah kalimat yang terakhir kali Aldriyan ucapkan sebelum ia menutup matanya untuk selamanya. Meninggalkanku dengan berjuta kata ‘Jika’ atas penyesalanku. Karena pengabaianku aku kehilangan banyak kesempatan untuk berbagi kasih dengan sosok yang telah dengan tulus menjadikanku sebagai dunianya, dan memberikan segala yang mampu ia berikan, tapi dengan kejamnya aku malah mengabaikan semua ketulusan itu.

Jika aku lebih peka,
Jika aku melihat dengan hati,
Jika aku mau sedikit mendengar,
Jika aku mengikuti hatiku, dan bukan ambisiku,
Jika waktu dapat kuulangi,
Jika Aldriyan dapat kembali ke sisiku,
Jika tiada pernah kata ‘Jika’ tercipta,
Tentu tak akan pernah ada kisah ini.

THE END

Cerpen Karangan: Triana Aurora Winchester
Facebook: Triana Rizki Kurniasih

Cerpen Jika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Pelangi

Oleh:
Sore ini tampaknya kota Jogja kurang bersahabat dengan banyak orang. Di luar tampak suasana kota yang mendung berselimutkan rintik-rintik hujan yang turun. Tapi tidak untukku, aku terlebih menyukai keadaan

Hujan

Oleh:
Aku berjalan sambil menutup mataku, menerobos derasnya hujan malam ini. Sebentar saja tubuhku sudah basah kuyup karenanya, tapi aku tak mempedulikan itu. Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku, hanya

Tempo Dulu

Oleh:
Sacrifice is love and love is sacrifice pengorbanan adalah cinta dan cinta adalah pengorbanan terang rembulan menidurkanku di pangkuan di balik pohon cemara rantingnya menjadi atap bagiku untuk tetap

Cintaku Tulus

Oleh:
Aku mengenalnya dari sahabat terbaikku. Dia seseorang yang ramah dan selalu tersenyum pada semua gadis. Ya, termasuk aku salah satunya. Seperti pada sebuah istilah “Cinta pada pandangan pertama” entah

Kesetiaan Hujan (Part 2)

Oleh:
“Maafkan aku Rain.” kata Rama sambil membungkam mulut dan hidungnya dengan telapak tangan kanannya. Matanya terasa perih menahan air mata yang hampir jatuh membasahi wajahnya, walau begitu menangis juga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *