Jiwa Yang Mati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 30 November 2015

Aku tak menyangka, cinta itu masih ada dalam hatiku. Ingin sekali aku melupakan, semuanya, sampai tak tersisa lagi serpihan kisahku dengannya di masa lalu. Tapi, kisah itu hanya akan hilang sementara, dan tetap membekas sakitnya di hatiku yang kian rapuh dan mati. Aku tak bisa merasakan rasa itu kembali, hatiku telah mati, mati karena terlampau tersakiti. Aku ingin hidup menyendiri. Cinta hanya akan membuat hidupku sengsara dan nelangsa. Kemanakah aku harus mengobati rasa sakit hatiku ini?

Akankah aku mau menerima obat itu jikalau obat itu juga bisa membuatku sakit hati. Cinta yang telah membuatku sakit dan cinta pulalah yang bisa mengobati rasa sakit itu. Entahlah, aku sepertinya tak ingin mengenal apa itu cinta. Dia telah membuatku terluka. Orang yang sangat aku kasihi, sahabat, semua penuh dengan cinta tapi menyakitkan. Hidup, cinta, sakit dan mati.

Aku bagaikan orang yang mati. Aku tak bisa merasakan apapun. Pikiranku kosong entah ke mana. Siapa yang telah memasungku dan mengurungku di Istana nan megah ini? Istana cinta telah mengurung jiwa dan hatiku. Cinta yang datang akan pergi setelah meyakitiku. Hidupku sudah hancur lebur menjadi debu. Sakit ini akan aku bawa sampai mati. Dimanakah mereka yang dulu menyayangiku? Mengatasnamakan cinta. Di mana?

Betapa senangnya hatiku, saat aku merasakan indahnya rasa cinta. Rasa yang membuat hatiku berbunga-bunga dan terbang membumbung tinggi di angkasa. Sungguh, tak pernah aku merasakan rasa yang membuat hatiku bergetar nan hebat. Rindu, gugup dan senang yang tidak keruan. Terkadang aku tertawa bahagia, terkadang aku menangis tersedu-sedu. Terkadang aku bersemangat, dan terkadang aku lemah dan tak berdaya. Tak ada kekuatan dalam tubuh ini. Hanya diam membisu, memikirkan sesuatu dan pikiranku tak bekerja untuk hal lain.

Pertemuanku dengan Rehan, membuatku jatuh cinta padanya. Cinta yang berujung dengan rasa sakit yang teramat dalam. Tatkala dua hati menyakitiku dari sudut yang berbeda. “Ternyata, kamu suka dengan Rehan. Kenapa kamu tidak bilang?” Tanya Hesty.
“Aku malu, Hes. Lagian, dia orangnya cuek..” Kataku.
“Justru kamu yang cuek. Kemarin, waktu dia meneleponmu, malah kamu matiin. Kenapa?” Tanya Hesty. Aku hanya diam saja.

Aku tak menyangka, jika aku bisa bertemu dengan Rehan. Pertemuan yang sengaja direncanakan oleh Rehan dan juga Hesty. Mereka memang sudah saling kenal. Aku tahu Rehan saat ia sedang mengembalikan buku di perpustakaan. Tapi sayang, aku tak berani menatapnya, perasan itu, senang dan takut. Entahlah, aku tak bisa mengatakan bagaimana semrawutnya perasaanku kala itu. Dan aku pun senang dengan pertemuan itu. Pertemuan yang sangat mengejutkanku. Saat bertemu dan duduk berdua, aku tak berani untuk menatap orang yang aku cintai itu. Ingin sekali aku menatapnya, tapi wajah ini enggan mendongak dan berpaling menatapnya.

Ia hanya diam dan sesekali mengajakku berbicara. Dari situlah hubunganku dengan Rehan mulai terjalin. Tapi, aku tak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan ini. Tak ada kejalasan pasti antara aku dengannya. Dia tak menunjukkan reaksi apa pun. Bagiku, Rehan adalah manusia bunglon yang bisa berubah warna. Terkadang ia bersifat manis dan perhatian terhadapku. Ia menunjukkan cinta dan perhatiannya. Tetapi, terkadang ia cuek dan memebiarkanku begitu saja. Aku dibuat bingung akan permainannya. Tak sadarkah dia, aku telah menyimpan rasa cinta yang dalam untuknya. Kenapa dia mempermainkan perasaanku yang tulus ini.

“Sudahlah, kamu tunggu saja. Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya..” Kata Hesty.
“Dia sangat membingungkan. Aku sudah memberinya perhatian dan menunjukkan bahwa aku sangat menyukainya. Tetapi, dia terkadang membuatku terbang dan terkadang membuatku terjatuh. Tapi, aku sangat mencintainya. Aku mencintainya, Hes..” Kataku.
“Iya, aku tahu, dia adalah orang pertama dalam hidupmu..” Kata Hesty.

Aku sepertinya tak bisa hidup tanpanya. Tapi, hubungan itu tak membuahkan hasil apa-apa. Dia tak juga menyatakan cintanya. Hingga aku bingung dan marah akan sikapnya terhadapku. Sikapnya yang selalu mempermainkan perasaanku. Ketika aku mulai bosan dengan sikapnya, dia selalu mendekatiku dan berbuat baik padaku. Dia sms, telepon dan mengajak pergi jalan-jalan. Tapi, dia hanya memanfaatkan aku untuk menghibur kekosongan hatinya. Aku begitu mudah dipermainkan olehnya.

Aku pun pergi dan tak ingin bertemu dengannya. Aku terlampau sakit hati dengannya. Ungkapan cintaku padanya hanya dibalas dengan cemoohan.
“Kamu jangan pede amat jadi cewek.” Katanya padaku. Hancur, hancur hatiku. Ku korbankan semua, hidupku dan juga prestasiku. Semua raib entah ke mana. Hilang bersama cinta itu. Tak ada semangat dan gairah untuk hidup kembali. Pengalaman mengecap manisnya cinta pertama hilang dan meninggalkan luka dalam. Sungguh pengalaman yang menyakitkan.

Kegalauan hatiku mengantarkanku merangkai sebuah kata-kata, sebagai luapan amarah dan gejolak cinta yang ada dalam hatiku. Sebuah buku yang menjadi saksi akan hancurnya perasaanku. Sebuah buku yang menjadi diriku terkenal. Bahkan, Rehan mungkin tahu apa sebenarnya yang aku tulis dan siapa yang sebenarnya aku hujat sebagai laki-laki yang jahat dalam novel yang banyak digandrungi orang-orang itu. Buku tulis yang sudah usang, lecek dan luntur tulisannya. Karena saat menulisnya, air mataku tak kuasa aku tahan. Hingga ia mengucur deras dari persembunyiannya.

Lewat buku itulah sebuah novel terlaris karya Hanifa lahir dan membuatnya terkenal. Siapa sangka, sebuah novel yang penuh dengan kebencian, dendam dan amarah yang meluap-luap itu banyak digandrungi semua orang. Hanya aku, Rehan dan Hesti yang tahu di balik novel itu. “Cinta dan Pengkhianatan.” sebuah novel yang mengisahkan sakit yang pernah ditorehkan Rehan. Dah Hesty sahabatku, yang telah mengkhianatiku dan bermain cinta dengan Rehan di belakangku.

Akulah Hanifa, sang penulis terkenal yang penuh dengan misteri dalam hidupnya. Novel-novelnya sangat misterius dan meledak di pasaran. Seorang penulis yang dikenal ramah, baik dan sopan, tapi penuh dendam kepada orang yang telah menyakitinya. Ia hanya bisa menuangkanyan lewat tulisan. Sulit untuk menyelami maksud di balik novel-novelnya. Cinta dan Sakit itulah yang telah membuat ia menjadi terkenal dan kaya.

“Mbak Hanifa, minta tanda tangannya, dong.” Kata penggemarku yang mengerumuniku.
“Ia sebentar, ya.” Kataku saat mereka berdesakkan ingin meminta tanda tangan dan bahkan sekedar berjabat tangan denganku.
“Sabar, ya!” Kataku membuat mereka tenang.
“Mbak, ceritakan kisah anda hingga bisa membuat novel sebagus ini, Mbak!” Kata mereka. Aku hanya tersenyum.

Andaikan mereka tahu, sebuah novel yang penuh dengan rasa sakit. Jika aku mau, aku ingin cerita dalam novel itu bukanlah pengalaman pahit dan sakit yang aku rasakan dalam hidupku. Jika aku bisa memilih, aku akan menuliskan pengalaman pahit dan sakit yang dialami oleh orang lain. Jadi, aku tak merasakan sakit itu. Mungkin, ini hidup yang harus aku jalani. Skenario yang harus aku jalani sekaligus. Dalam novel dan dalam Dunia nyata. Siapa sangka, jika apa yang tertuang dalam novel itu adalah kisah perih dalam hidupku sendiri. Mereka hanya tahu, aku hidup menjadi orang terkenal dengan novel itu, kaya dan penuh dengan prestasi. Tapi, mereka tidak pernah tahu, hidupku rapuh dan hancur. Jiwaku telah mati untuk bisa merasakn apa itu cinta. Rasa sakit yang diberikan oleh Rehan dan pengkhianatan Hesty membuatku hancur.

Tuntutan untuk tetap menulis membuatku stres dan bingung. Jiwa dan batinku masih merasakan sakit. Seorang penulis terkenal yang selalu hidup menyendiri. Banyak orang bertanya kenapa aku belum menikah. Dan memilih tinggal jauh dari keramaian kota. Hidup disibukkan dengan menulis dan menulis. Kisah yang ditulisnya tak pernah berujung bahagia. Ciri khas Hanifa, memang sangat fenomenal. Ingin rasanya aku mati saja. Meninggalkan kisah dalam novel-novel itu. Mereka tak pernah tahu di balik novel itu. Akulah tokoh utamanya. Mereka hanya penikmat rasa sakit dan pahitnya kisah hidupku. Mereka tidak pernah tahu akan posisiku sebagai penulis sekaligus pemeran utama cerita itu. Jiwaku benar-benar telah mati. Aku ingin secepatnya pergi. Pergi dan pergi.

“Novel ini akan menjadi karya terakhir Hanifa. Tak akan ada cerita-cerita menyakitkan yang aku torehkan. Aku tak berarti apa-apa hidup di dunia ini. Cinta telah membuat jiwaku mati hingga aku tak bisa merasakan cinta itu lagi. Cerita kematian sang novelis handallah yang akan menjadi cerita baru, dan entah siapa yang akan menulisnya..” Kataku terakhir. Sebilah pisau yang tergeletak di samping buah apel, aku genggam dan aku goreskan pada lengan kiriku. Seketika, pergelangan tanganku dilingkari gelang berwarna merah dan kental, mengalir deras.

Sekarang, tak ada lagi sang novelis cinta Hanifa. Dia telah tiada dan menyisakan duka mendalam di hati penggemarnya. Kisahnya yang sangat menyentuh hati, dan kematiannya yang misterius. Tak ada yang menyangka, jika hidupnya hancur karena cinta dan pengkhianatan sahabatnya sendiri. Selama ini, ia hanya hidup menyendiri menuliskan kisah sedih dan perihnya hidup yang ia alami. Semua tidak menyangka sang novelis terkenal itu telah tiada dan menyimpan banyak rahasia dalam novel dan kehidupan yang nyata. Karyanya telah putus sudah.

Dan kini, kisah hidupnya menjadi cerita baru dengan hadirnya penuis-penulis baru. Kisah kematiannya yang misterius itulah yang menjadi cerita baru. Mungkin sekarang Hanifa telah tenang dengan berakhirnya kisah yang harus ia alami dalam novel dan juga dunia nyata. Kini ia telah hidup dalam dunia barunya. Tapi, selamanya, ia akan tetap hidup dalam sakit, dendam dan amarah yang akan terlihat dan nampak dalam karya-karyanya.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin

Cerpen Jiwa Yang Mati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jomblo Stadium 4

Oleh:
Di pelataran parkiran belakang kampus tepatnya di bawah pohon Akasia, tampak si Andi yang dari tadi merayu Nita. Ribuan rayuan gombal sudah Andi terapkan demi meluluhkan hati Nita, namun

There Is No Chance To Back

Oleh:
Aku masih mengingat betul pelukan hangat serta belaian-belaian lembut yang bersarang di kepalaku. Aku masih ingat betul suara merdu yang terlantun dari bibir tipismu, suara petikan-petikan indah dawai yang

Pacar Khayalan

Oleh:
Ting… ting… ting… lonceng tanda pelajaran telah usai akhirnya berbunyi. Semua anak langsung bergegas keluar kelas sambil merapikan peralatan tulis menulisnya. Seperti biasa, setelah mendengar ceramah dari guru piket

Bukan Milikku

Oleh:
“Hai” Raya membalik tubuhnya menghadap orang yang baru saja menyapnya. Senyuman manis terukir di wajah gadis manis itu saat tahu siapa yang berdiri di belakangnya “Nata” Raya langsung memeluk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *