Kamu dan Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 1 July 2018

Tentang waktu, Tentang jarak, Tentang rindu
Yang selalu menghantui hari-hariku
Jadi,
Bagaimana kabarmu di sana?
Aku selalu teringat tentangmu.
Tentang kita.
Bahkan aku selalu teringat saat kau masih ada di sampingku

2 Tahun lalu
“Ra… Aku mau bicara” Ucapmu dengan raut wajah yang serius
“Apa?” Jawabku, sama sekali tak memalingkan wajahku dari smartphoneku
“Ra.. Aku serius. Look at me”
“Iya apa Rizky sayang” Ucapku, sambil memalingkan muka ke arahmu dengan malas
“Ra, aku harus lanjutin kuliah”
“Aku tau, Rizky. Itu memang kewajibanmu, Kan?. Lantas?”
“Aku mau lanjut kuliah di Kyoto, Jepang. Ra..” Ucapnya, dengan nada yang lebih rendah
“Jepang? Kamu ngapain ke Jepang? Di Bandung banyak yang lebih bagus ky. Kamu jangan bercanda. Gak lucu.”
“Aku serius ra. Aku dapet beasiswa buat kuliah di sana”
“Oh.. Oke” Ucapku menahan air mata yang menggenang di mataku
Kamu hanya terdiam

“Kapan berangkat?” Tanyaku
“Lusa” Jawabmu singkat
“Maaf ra. Aku ke sana hanya untuk melanjutkan pendidikanku. Zara, Percayalah sejauh apapun aku pergi kamulah tempatku kembali”
“I see. Aku ngerti Rizky. Aku akan selalu support apapun keputusanmu. Sejauh apapun kamu pergi kembalilah padaku. I trust you”

Senja pun datang bersama sore yang hangat. Namun, entah mengapa tak seindah biasanya. Seolah mewakili perasaanku yang gundah karenamu.

“Ayo pulang. Senjanya udahan” Ucapmu sambil menggandeng tanganku
“Ayo..” Jawabku lesu

Hari itu pun datang.
Entah apa yang harus kukatakan
Rasanya kata-kata tertahan di lidahku

“Ra… Jaga diri baik-baik ya. Aku akan selalu merindukanmu” Ucapku menggenggam erat jemariku
“Aku juga..” Ucapku
“Ada satu hal yang harus kamu ingat. Kalau suatu waktu kamu rindu aku. Kamu cukup lihat Senja yang selalu datang bersama sore yang hangat. Kamu tau kenapa? Karena meskipun kita tidak berada di tempat yang sama setidaknya kita melihat hal yang sama. Senja.” Ucapmu menahan air mata
“Iya Rizky. Hati-hati ya di sana.”

Dia pun pergi. Mengejar cita-cita dan harapannya. Meninggalkan separuh hatinya yang masih tersimpan rapi di hatiku.
Aku menatap langit-langit kamarku. Masih ada bayangmu di sana, tersenyum. Aku tak tau sedang apa kau sekarang.
“Aku akan selalu merindukanmu, Rizky” ucapku lirih

“Zaraaaaaa…” Teriak seseorang yang berada di depan kamarku, suaranya terdengar sangat familiar di telingaku
“Zaraaaaa… Buka pintunya dong. Ah elah lama banget” Teriaknya lagi, lebih kencang dari sebelumnya

Dengan langkah yang gontai aku menghampirinya.

“Apaan sih dinda, Berisik banget lo” Ucapku sambil membuka pintu kamarku
“Ara, Lo harus tau.” Ucapnya, masih dengan nada cerewet yang sangat mengganggu telingaku. Begitulah kebiasaan Dinda yang selalu masuk rumahku tanpa etika.
“Apa?” Jawabku malas
“Lo kangen rizky kan?”
“Biasa aja”
“Eh gila aja. Lo kan hampir setahun gak dikabarin sama dia”
“Biasa aja” Ucapku datar
“Udah deh lo mandi dulu sana nanti gue jelasin. Cepet!
Aku pun langsung pergi tanpa menggubris ucapannya.

Saat aku berkata ‘aku tak merindukanmu’ itu adalah kebohongan terbesar. Mana mungkin aku tak merindukanmu, Karena setiap melihat senja aku selalu ingat kepadamu. 2 Tahun semenjak kepergianmu aku merasa rapuh. 1 Bulan, 2 Bulan, 3 Bulan, 1 Tahun kau masih menghubungiku. Tapi, selama beberapa bulan terakhir kau menghilang begitu saja. Aku tak mengerti apa yang terjadi pada dirimu. Tapi kau tau, Aku akan selalu percaya padamu.

Apa kabar kamu?
Bagaimana di sana?
Baik-baik saja bukan?
Sudahkah kau menyapa senja?
Apakah kau merindukanku juga?
Mungkin kau terlalu sibuk
Tapi kuharap, Kesibukanmu tak membuatmu melupakanku
Melupakan rutinitas kita untuk selalu melihat senja
Aku akan selalu ingat ucapanmu
“Ada satu hal yang harus kamu ingat. Kalau suatu waktu kamu rindu aku. Kamu cukup lihat Senja yang selalu datang bersama sore yang hangat. Kamu tau kenapa? Karena meskipun kita tidak berada di tempat yang sama setidaknya kita melihat hal yang sama. Senja.”
Kau ingat?
Sampai sekarang aku selalu merindukanmu, Rizky.
Setiap kali senja datang aku selalu melihat bayangmu di sana.
Aku merindukanmu.

“Din.. gue udah selesai mandi. Mau ngomong apaansih lu?” Ucapku yang secara tiba-tiba muncul di hadapan Dinda
“Ra. Rizky mau pulang ke Indonesia dan Dia bakal langsung ke Bandung. Ketemu lo” Ujarnya semangat
“Oh ya? Lo tau dari siapa?”
“Nih. Tadi dia nelepon gue. Pake nomor temen gue yang pernah gue ceritain seUniversitas sama Rizky”
“Ohya? Coba gue pengen nelepon dia” Pintaku
“Jangan lama-lama ya gue baru isi pulsa. Itupun ngutang” Ucapnya memberikan HandPhonenya dengan muka memelas
“hahah, Iya tenang aja”
Jemariku lincah mengetik keypad HandPhone Dinda, Rasanya senang sekali tak bisa kudefinisikan.

“Halo..” Ucap seseorang di seberang sana
“Halo.. Ini temennya Dinda ya? Lagi sama Rizky gak? Boleh ngobrol sama Rizky”
Hening…
“Halo?” Darahku berdesir Menyusuri seluruh tubuhku. Jantungku berdegup kencang. Suara seseorang yang kurindukan, Suara yang sudah lama tak kudengar.
“Rizky? Ini Zara” Ucapku semangat
“Zara?” Ucapnya. Suaranya sangat kukenal, meski sudah 2 Tahun lebih aku tak bertemu dengannya dan mendengar suaranya tapi suara itu tak akan pernah kulupa.
“Rizky… Aku kangen. Kamu apa kabar? Katanya mau pulang? Kamu kenapa ngilang tanpa kabar? Kamu baik-baik aja kan?”
“Zara, Aku baik-baik aja. Kamu gimana?. Iya, Rencananya aku bakal berangkat besok. Handphoneku hilang ra, semua kontak hilang termasuk kamu dan aku baru ingat Dinda punya teman seUniversitas denganku. Maaf ra”
“Itu bukan masalah, Rizky. Safe Flight ya. Aku tunggu kamu di sini. Aku rindu kamu rizky”
“Aku juga rindu kamu ra, Rindu senja.”
“Kamu hati-hati ya”
“I love you, ra”
Percakapan yang singkat. Namun sangat menyenangkan.

“Nih HandPhone lo. Makasih ya” Ucapku sambil menyerahkan ponsel milik Dinda
“Abis ah pulsa gue” Ucapnya sambil menarik hidungku
“Gue ganti deh. Bawel lu”
“Bener ya. Awas lu kalo bohong udah ditulis malaikat”
“Iya”

Drrtttt…
Ponselku berbunyi
“Halo?” Ucapku
“Halo Ra. Aku udah di Bandung” Ucap seseorang diseberang sana
“Ohya? Kamu kok gak bilang ky?”
“Loh? Ini kan bilang”
“Oh iya ya. Maksudnya kenapa gabilang pas udah sampai di Bandara kan aku bisa ikut jemput”
“Gak usah, ra. Ya udah aku istirahat dulu ya. Besok aku ke rumahmu. See ya”
“Okey”

Bagaimana rasanya akan bertemu seseorang yang sudah lama kau nantikan? Bahagia bukan? Ya, Itulah yang kurasakan. Sederhana namun berarti.

Ting.. Tong..
Bel rumahku berbunyi
Aku pun bergegas membuka pintu

“Zaraaaaaaa… Buka dong” Ucap seseorang di luar sana dengan suara cerewetnya yang sangat khas
“Apaansih Din. Pagi-Pagi ganggu mulu. Tumben gak langsung masuk ke dalam rumah biasanya kalau ke rumah gue lo gak punya etika” Ucapku sambil menyeretnya masuk ke dalam rumah
“Zara, lo mau ngedate sama Rizky kan? Gue ikut dong. Gue gak ada kerjaan banget. Ya ra plis…” Ucapnya dengan nada memohon dan muka memelas
“Ganggu mulu hidup lo heran gue, Ya udah tapi jangan rempong ya” Ucapku Karena tak sanggup melihat muka Dinda yang memelas
“Okey. I love u ra” Ucapnya sambil mencium pipiku
“Najis”

1 Jam..
2 jam…
Waktu terus berputar namun Rizky tak kunjung datang

“Rizky kemana sih yaelah” Ucap dinda
“Kok lo yang repot sih?” Ucapku heran
“Telepon ra Telepon”
“Pinjem HandPhone lo dong”
“Yah ra.. Gue gak punya pulsa”
“Bentar aja din.” Dengan nada memelas
“ya udah deh nih. Jangan lama-lama ya janji lo ganti pulsa gue waktu kemarin aja belum ditepatin. Gue masih ngutang ra..” Ucapnya
“Basi ah lo ngutang mulu” Ucapku sambil merebut HandPhone miliknya

“Rizky?”
“Ini siapa?” Ucap suara seorang perempuan yang kukenali
“Ini Zara bun. Bunda masih inget?” Ucapku
“Oh Zara. Iya Bunda inget” Ucap seorang perempuan yang ternyata adalah Ibunda dari Rizky
“Rizky ada bun?”
“Rizky…” Ucapnya lirih
“Kenapa bun?” Ucapku panik
“Rizky tadi kecelakaan ra waktu mau ke rumah kamu…”
“Sekarang ada di Rumah Sakit mana bun?” Ucapku memotong ucapan bunda yang belum selesai
“Harapan Indah”
Aku pun langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit Harapan Indah.

Sesampainya di sana..
“Bunda? Rizky gimana bun?” Ucapku panik
“Bunda gak tau ra, dia belum sadar. Kamu mau masuk?”
“Boleh bun?”
“Silahkan”
Aku pun memasuki ruangan UGD dimana rizky terbaring lemah

“Rizky? Ky… Aku Rindu kamu” Ucapku tak sanggup berkata-kata
“Rizky. Sore ini aku pengen liat senja sama kamu. Kamu bangun ya” Ucapku lirih

Tiba-tiba elektrokardiograf yang ada di ruangan itu menunjukkan flat line
Dokter pun datang dan memintaku untuk menunggu di luar

Beberapa menit kemudian,
Dokter keluar
Semuanya terlihat panik dan raut wajah Dokter menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk

“Dokter gimana?” Ucap bunda masih mencoba tenang
“Maaf bu, Anak ibu. Rizky tak bisa kami selamatkan” Ucap dokter dengan nada pasrah

Bagaikan petir yang menyambar ruangan itu
Tiba-tiba semuanya
Hening..
Diam…
Senyap…

Dia pergi..
Meninggalkan separuh kenangannya bersamaku
Rizky…
Bahkan belum sempat kau mengucapkan sepatah katapun kepadaku

“Ra. Ini ada Bucket bunga yang tadi rizky bawa buat kamu” Ucap Bunda sambil menyerahkan sesuatu
“Makasih bun”

Hai,
Zara Laurentina…

Perempuan yang sangat kucintai
Maafkan aku,
Telah membuatmu menunggu dan mengkhawatirkanku
Dengan tidak memberikanmu kabar dan menghilang begitu saja
Tapi,
Yang harus kamu tau
Aku akan tetap mencintaimu ra
Sampai kapanpun
Mungkin,
Tak selamanya aku akan di sampingmu
Tapi,
Aku akan selalu menjadi seperti awan putih di bawah sinar matahari
Yang meski tak kau minta,
Namun selalu melindungimu dari panasnya terik matahari
Aku mencintaimu
Aku mencintai senja
Sesederhana itu
Aku ingin kamu seperti senja
Dia bisa saja nampak kuat dan hangat
Padahal sebenarnya dia rapuh dan perasa
Aku merindukanmu…
Aku akan selalu merindukanmu…
Senja di bahuku
Malam di depanmu
Teruslah berjalan dan melangkah
Kau tau, Ku tau
Aku ada
Selalu ada

Kamu dan senja
Adalah dua hal yang paling kusuka

Rizky

Air mata mengalir dengan derasnya membasahi surat terakhir darimu,
Aku akan menjadi seperti yang kau pinta
Aku akan Kuat dan hangat seperti senja
Satu hal yang akan selalu kuingat,
Jika suatu waktu aku rindu kamu. Aku cukup melihat Senja. Kau tau kenapa? Karena meskipun kita tidak berada di tempat yang sama setidaknya kita bisa melihat hal yang sama. Senja.

Karena Kebahagiaanku adalah
Kamu dan senja

Sesederhana itu.

Cerpen Karangan: Nisa MZ
IG: nisameisa

Cerpen Kamu dan Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Merah

Oleh:
Pribadi ceria yang pandai bergaul namun terkesan tertutup. Ya, itulah aku. Tapi tidak jarang juga ada yang bilang kalau saja aku ini sosok yang kaku dan dingin. Aku tidak

Tak Mengizinkan

Oleh:
Namaku Shila, saat ini aku masih pelajar SMA kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku adalah anak satu satunya dari orangtuaku. Oleh karena itu, orangtuaku

Menghilangnya Sang rembulan

Oleh:
Pagi itu sang surya hadir dengan begitu indahnya, dilapisi udara sejuk yang menyelimuti dan merdunya kicauan burung-burung. Hari ini adalah hari senin, dimana awal aku masuk SMA. Hari ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kamu dan Senja”

  1. syarifa rahma fadhila says:

    Bagus kak cerpennya. Aku suka. Di tunggu karya selanjutnya ya kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *