Karena Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 January 2017

Wina, itulah nama yang sering mereka panggil padaku. Aku seorang gadis biasa, aku berasal dari Solo, yang sekarang pindah ke Bandung demi pekerjaan Abi. Aku gadis baik-baik, pintar, ramah, supel. Tapi dibalik semua itu, dulu aku seorang gadis yang cuek kepada teman SMP di Bandung, manja, pokoknya bad girl. Hingga datanglah seseorang yang mengubah hidupku, sehingga menjadi seperti sekarang.

“Win, kok ngelamun lagi?, masih ngambek yah sama Abi?”, tanya seorang wanita dengan hijab yang serba putihnya. “iya nih Mi, masa Cuma gara-gara kerjaan Abi, aku harus pindah ke Bandung. Padahal kan aku maunya SMP di Solo, biar bareng sama Rena dan yang lainnya, Mi”, jawabku cemberut. “sabar sayang, entar lama-lama kamu pasti juga betah tinggal di Bandung. Oh iya, Umi pamit pergi yah, Umi mau belanja ke pasar, jaga rumah baik-baik ya?”, ucap Umi lembut. “ya deh mi, jangan lama-lama yah mi?”, tanyaku lagi. Ia pun tersenyum, sambil menyalimkan tangan yang lembut ke arah keningku ini.

Tak lama setelah Umi pergi ke pasar, bell rumah megah ini berbunyi menghentikan kegiatan terbaikku, tidur. “Ah siapa sih ini?, enggak tau apa kalo kami disini orang baru, eh udah aja ada tamu, ganggu tidurku aja”, gerutuku. Tak berfikir panjang, dengan langkah yang amat berat, aku menuruni anak tangga ini, meraih sebuah gagang pintu, dan membukanya. Tak kuduga, dia seorang pria yang seumuranku, dia bak pangeran yang akan membangunkan sang putri tidur. “ehmm, maaf. Kamu anaknya Bu Fatimah kan?”, tanyanya dengan suara serak-serak basahnya. “eh iya iyaa, eh silahkan masuk. Kebetulan Umi baru aja pergi”, jawabku gugup. Kami berdua pun duduk di sofa empuk dengan nuansa gold. “sebelumnya maaf banget, kalo aku ganggu waktunya. Ini aku disuruh ibuku, untuk nganterin sedikit cake buatan ibuku. Katanya sih, buat salam perkenalan gitu deh”, terangnya sambil memperlihatkan senyum manis dengan lesung pipitnya. Aku yang sedari tadi terhipnotis dengan wajahnya, masih terasa seperti mimpi. “Anyway, kenalin namaku Fachry, rumahku yang tepat di depan rumahmu tuh. Kalo namamu siapa?”, tanyanya saat mengajak berkenalan. “ohh ehmm, namaku Wina, aku pindahan dari Solo. Hajimashite”, jawabku masih dengan nada gugupnya.

Dan hari itu, hari pertama aku bertemu dengan seorang pangeran impianku, dialah Fachry. Meskipun aku tidak tahu tentang dirinya lebih dalam, tapi saat ku menatapnya, ku merasakan ada yang berbeda.

“Win, bangun ayo mandi terus sarapan. Ini hari pertamamu masuk sekolah loh, semangat dong”, ucap Umi sambil membuka korden kamarku.
“iya mi, baru aja sholat shubuh terus tidur sebentar, eh udah dibangunin lagi”, jawabku sambil mengucek kedua bola mataku ini. “ya maaf sayang, kan Umi gak mau kamu terlambat di hari pertamamu sekolah. Cepet gih bangun, Umi udah nyiapin sarapan kesukaanmu di bawah tuh”, rayunya. “wah wah, oke aku bangun nih mi, demi nasi goreng special ala umi, hehe”, godaku.

Karena ini hari pertamaku sekolah di Bandung, aku berangkat bareng Umi deh. Karena masih ada administrasi yang harus diurus oleh Umi. Dan setelah semua itu selesai, aku diajak oleh bu Aisyah, yang menjadi wali kelasku, untuk menuju kelasku, tepatnya di VII-A. Dengan wajah yang masih BT, aku mengikuti terus langkah kaki bu Aisyah. Hingga berhentilah langkah kaki kami di ujung lorong panjang ini, ternyata itu kelasku. Aku pun duduk sebangku dengan gadis yang bernama Renata, ya nama depannya hampir mirip dengan sahabatku waktu di Solo, tapi aku lebih memilih untuk memanggilnya dengan panggilan Nata. Saat istirahat, aku diajaknya mengelilingi gedung sekolah ini. Dan tak terduga, ada seorang yang menabrakku dari arah depan, brukk. Aku pun reflek terjatuh, dengan sedikit kesal aku mencoba untuk bangkit, “kalo jalan liat-liat dong. Masih hari pertama sekolah disini aja, aku udah jatuh ke lantai kek gini”, cerocosku dengan kesal. “ya deh maaf, aku kan gak sengaja. Wina?, kamu sekolah disini?, sejak kapan?”, tanyanya sambil mengulurkan tangan ke arahku. “eh Fachry, aku kira siapa. Lah ini hari pertamaku, emang kamu ada di kelas apa?”, tanyaku sambil melirik kelas di belakang tubuh tingginya itu. “aku ada di kelas VII-C, lah itu yang dari tadi kamu liatin, itulah kelasku”, terangnya. “jadi kalian berdua kenal?, ciyee ternyata Wina udah kenal sama pujangga dari kelas VII-C”, goda Nata. “apaan sih?, orang dia ini tetanggaku”, jawabku cemberut. Mereka berdua hanya menahan tawa akibat melihat tingkahku ini.
Lagi-lagi, aku bertemu dengan pangeran tampan itu. Ternyata sang pangeranku, juga sekolah di sini. Mungkin sekarang aku akan menjadi lebih betah kalo kek gini.

Tak terasa sudah satu bulan aku ada di sini, dan sejak hari itu, aku mulai berangkat ke sekolah dengan Fachry, dengan menggunakan sepeda kami masing-masing. Dan hampir setiap pulang sekolah, kami selalu mampir ke taman yang berada tak jauh dari komplek rumah kami, ya itung-itung buat ngilangin rasa bosen aja. “win, ini aku ada Ice Cream buat kamu”, ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arahku. “wah makasih yah, tau aja kalo aku itu suka sama yang manis-manis”, jawabku. “iya dong, aku sih sukanya kalo makan Ice Cream ini ditemani bidadari dari Solo, pasti jadi lebih manis”, goda Fachry. Aku pun membalasnya dengan senyuman terbaikku. “by the way, kalo aku perhatiin, kamu itu kok kaya masih belum betah di sini yah?, kenapa?”, tanyanya. “ya gitu deh, mau gimana lagi, udah terlanjur aku ada di Bandung. Tapi tetep, aku masih belum mau ‘berteman’ dengan mereka, lagian aku juga baru tau Nata, just that”, jawabku. “kamu itu aneh, orang pinter, wajah dan senyumannya tulus, tapi gak mau berteman dengan orang baru, jangan kek gitu terus dong, entar hidupmu sepi loh”, ucapnya sambil menoleh ke arahku. “kalo udah ada kamu itu aja udah cukup, kenapa mesti nyari temen yang lain, toh akhirnya di antara mereka ada juga yang berkhianat, dan entar akhirnya aku jadi korban PHP lagi deh”, gerutuku. “enggak mungkin lah, percaya deh sama aku”, ucapnya menenangkan hati kecil ini.

Entah kenapa setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Fachry itu seperti dapat menenangkan hati ini, tapi bukan berarti aku cinta pada dia. Karena Umi pernah bilang “buat apa punya rasa cinta di umuran SMP, toh entar malah cinta itu yang bakal bikin lupa sama cinta pada Allah swt, mending punya rasa suka, karena suka beda dengan cinta”, tutur Umi saat itu.

Seperti biasa, aku selalu pulang sekolah dengan Fachry. Dan kami berdua juga menyempatkan pergi ke taman, sekedar duduk-duduk santai. “ry, entar ajarin aku ngerjain tugas Bahasa Indonesia mau gak?, kan katanya kamu itu pujangga”, tanyaku. “ehmm, gimana yah?”, jawab dia. “mau donngg, please. Entar aku turutin deh apa mau kamu”, rayuku. “ya deh, tapi kamu juga harus ngajarin tuh tugas Matematika, yang susahnya Na’udzubillah”, jawab dia. “Cuma itu?, oke lah. Deal?”, ucapku sambil mengulurkan tangan ke arahnya. “Deal”, jawabnya. “entar ngerjainnya di taman ini aja ya?, aku tunggu loh jam 14.30”, ucapku. Ia pun hanya mengangguk tanda mengiyakan kemauanku.

“duhh, Fachry kemana sih?, udah jam segini belum dateng juga”, gumamku gelisah. Dan tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang pria tampan mengenakan kemeja biru lengkap dengan blue jeans yang terlihat mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimal. Dan kini pria itu mengampiriku, “ehmm maaf yah win, aku telat datengnya. Habisnya tadi aku ketiduran”, jelas dia dengan wajah polosnya. “oh gitu”, jawabku cemberut. “yah bidadari ngambek, padahal aku kesini juga bawa Ice Cream Red Velvet lhoo”, godanya. “ya deh ry, aku maafin kamu”, ucapku. “yakin nih?, padahal aku bohong lho”, jawabnya sambil berlari. Dan jadilah kami berdua bermain kejar-kejaran. Setelah itu kami baru mengerjakan tugas masing-masing sesuai dengan perjanjian tadi. Dan barulah Fachry membawa dua buah Ice Cream Red Velvet. “tuh kan aku gak jadi bohong, ini dia Ice Cream Red Velvet spesial buat bidadari Solo”, ucapnya. “Syukron”, jawabku singkat. Fachry hanya tersenyum lalu merogoh saku bajunya, dan kini di tangannya telah ada Smartphone hitam. “win, kita selfie yuk?”, ajaknya. “enggak lah, males. Buang-buang waktu”, jawabku. Meskipun aku menolak, tapi ia tetap nekat menyeretku untuk menatap lensa camera dari smartphone itu. Dan akhirnya mau gak mau aku kena jepret deh. “nah gitu dong, padahal kamu kalo lagi difoto itu senyumannya mewah banget loh, aku upload ke akun IG punyaku ya?, apa akunmu? sini, biar entar ditag”, tanyanya. “@winarisa09”, jawabku pendek. “nah udah tuh, tinggal dilihat plus dilike dan di save ya?”, ucap Fachry. Aku tak menjawab omongannya, karena aku terfokus pada caption yang ia tulis “with my bidadari yang amat berharga bagiku, tetep inget pangeranmu ini yang bakal bisa bahagiain kamu win”, itulah bunyi caption yang Fachry tulis. Mentari mulai tenggelam, kami putuskan untuk pulang ke rumah kami masing-masing.

Malam ini terasa begitu indah karena banyaknya bintang di langit ini. Tiba-tiba ponselku mengeluarkan notification dari aplikasi Instagram. Ternyata itu Rena, sahabatku yang berkomentar di foto tadi, “ciyee wina udah punya pangeran dari tanah Sunda nih”, commentnya. Aku malah membiarkan itu saja, dan menganggapnya tak penting. Dan tiba-tiba ada nomor yang tak dikenal meneleponku, “halo ini siapa yah?”, ucapku. Terdengar suara deheman dari arah sana, suara yang biasa kudengar, iya Fachrylah pemilik suara itu. “malem bidadari, masa gak tau ini suara siapa, hehe”, ucapnya. “ya dah tau lah, ada apa malem-malem nelepon?, kangen yah?”, godaku. “emangnya kalo kangen gak boleh yah?”, tanya dia. Dan malam itu semakin indah karena ditemani oleh pangeranku.

Fachry memang sudah terbiasa memanggilku ‘bidadari’, karena mungkin baginya aku ini sangat berharga, meskipun sebenarnya aku tak tau apa yang ia rasakan, apakah hanya sekedar memanggilku seperti itu, atau memang ada rasa di hatinya.

Sekitar beberapa bulan kemudian, aku mulai merasakan ada yang berbeda dengan Fachry. Kini ia sering terlihat pucat, lemas, dan terkadang ia merasakan kepalanya yang amat sakit. Pernah aku bertanya padanya, tapi ia hanya menjawab “ini Cuma kelelahan biasa kok, maklum aku kan makannya kurang”. Dan mulai hari itu juga, ia sudah tak bisa lagi mengkonsumsi Ice Cream lagi, karena kata ibunya ia bisa semakin pusing kalau kebanyakan makan yang dingin.

Hari itu cuaca sangat terik, seperti biasa kami berdua pulang sekolah bersama. Disaat kami akan menuju taman, Fachry terlihat sangat begitu lemas, dan brukk. Ia terjatuh dari sepedanya, ia pingsan dengan kondisi hidung yang mengeluarkan darah. Aku yang begitu panik langsung menelepon ibu Fachry, berharap ia bisa datang ke sini dan membawa putranya ke RS. “halo assalamu’alaikum bu, gawat bu, gawat”, ucapku dengan nada panik. “gawat apanya?, bicara yang pelan dong nak wina, biar ibu tahu apa yang kamu maksud”, jawabnya. “Fachry… Fachry pingsan bu”, ucapku. “apa?, oke sekarang posisi kalian berdua dimana?, entar ibu langsung pergi ke situ”, jawabnya. “kami sekarang sedang ada di taman di dekat komplek perumahan, tepatnya di dekat kolam ikan”, jawabku.

Tak berselang lama, ibu Fachry datang dengan menggunakan Honda Jazz miliknya. Dan Fachry pun langsung di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Di sana Fachry langsung dibawa ke ruang UGD, tapi sayang yang boleh masuk hanya pihak keluarga saja. Jadi aku hanya boleh menunggu di luar. Rasa cemasku tak tertahankan, aku bahkan belum mengabari Umi tentang kejadian ini. Tiba-tiba ibu Fachry keluar dengan wajah sabarnya. “ehmm tante, gimana keadaan Fachry?, dia gak apa apa kan?”, tanyaku gelisah. “iya win, dia Cuma butuh istirahat aja. Oh iya, udah sore nih, tante anterin kamu pulang dulu yah?. entar kamu dicariin Umi loh”, ajaknya. “iya deh tan, aku titip salam buat Fachry ya”, ucapku. Aku pun pulang ke rumah di antar dengan Ibunya Fachry. Benar saja, dirumah Umi sudah khawatir denganku, maka ibu Fachry lah yang menjelaskan semua kisah tadi.

Hari terus berganti hari, minggu demi minggu terus berlalu. Meskipun Fachry sudah boleh pulang dari Rumah Sakit hari itu, tapi ia tetap terlihat lemas. Sebenarnya ada apa dengan dia?, itulah pertanyaan yang selalu muncul di dalam benakku.
Pada pagi itu, aku berniat akan berangkat bersama dengan Fachry, tapi kata bi Ijah, Fachry dan keluarga sedang pulang kampung ke Klaten. Pada awalnya memang aku tak merasa curiga, tapi mengapa pulang kampung di waktu hari efektif sekolah begitu lama?, bahkan sampai setengah bulan, sebenarnya ada apa ini?.

Setiap waktunya, aku mencoba menghubungi Fachry lewat media apapun, entah itu SMS, via BBM, via Whatsapp, bahkan sudah sering kali aku mencoba meneleponnya. Tapi tetap saja sang pangeranku tidak memberikan kabar sedikit pun.

“win, kalo Umi perhatiin kok akhir-akhir ini kamu jarang bareng lagi sama Fachry?, lagi berantem yah?”, tanya Umi. “enggak lah mi, sekarang Fachry lagi pulang kampung ke Klaten, tapi masa lama banget yah mi?”, jawabku. “mungkin ada acara keluarga yang terbilang penting, toh entar kalo udah selesai, dia bakal balik ke sini untuk main bareng lagi sama bidadari Solo”, goda Umi.

Malam itu, ponselku berdering. Ternyata itu SMS dari Fachry, “bidadari Solo, kamu gak usah khawatir sama aku yah?, aku disini baik-baik aja, Insya Allah besok ba’da Dzuhur aku bakalan pulang kok. Maafin kalo aku udah bikin kamu khawatir yah”, itulah bunyi SMS darinya. Saking bahagiannya karena besok Fachry akan pulang, aku tidur agak cepat karena takut besok bangun kesiangan.

Alarmku berdering membangunkanku, aku langsung sholat shubuh, dan mandi terus sarapan. Pagi ini aku terlihat begitu semangat, sehingga membuat Umi penasaran. “tumben win, pagi-pagi udah semangat amat?”, tanya Umi. “harus semangat dong mi, kan entar ba’da Dzuhur Fachry bakalan pulang”, jawabku. “kan apa Umi bilang, entar juga kalau urusannya udah selesai dia bakalan balik kok”, ucap Umi. Aku pun bergegas ke sekolah. Di sekolah Nata dan yang lainnya juga heran, kenapa aku bisa sampe sebahagia ini. Dan aku dengan sabar menjelaskannya.

Adzan Dzuhur pun berkumandang, itu membuatku semakin tak sabar menanti bunyi bell sekolah. Akhirnya bell yang kutunggu-tunggu berbunyi. Aku langsung tancap gas ke arah rumah Fachry. Tapi, di depan rumahnya tertancap bendera kuning amat banyak. Aku pun langsung panik, ini siapa yang meninggal?. Tiba-tiba Umi keluar dari rumah Fachry, “yang sabar ya win, berdo’a aja semoga ia tenang disana”, ucap umi sambil membawa ku masuk ke rumah Fachry. Tak kuduga, ternyata yang telah meninggalkan dunia ini adalah pangeranku, Fachry. Air mataku tak dapat terbendung, aku menangis sambil berharap Fachry bisa bangun kembali. Tiba-tiba dengan wajah sembabnya, Ayah dan Ibu Fachry menghampiriku, dan memberikan sebuah surat padaku, surat itu berisi:

Dear Wina
“Win, akhirnya aku pulang juga kan?. Tapi kepulanganku ini jangan disambut dengan duka cita yah?, karena itu hanya akan mengusik istirahatku, Jika kamu rindu padaku, lihatlah foto kita berdua. Oh iya, kamu harus janji ya, kalo kamu bakalan berubah sikap, entar aku disini jadi bahagia deh. Dan maafin semua salahku ya?, kamu baik-baik di Bumi, dan jangan susul aku secepatnya ya?”
‘I LOVE YOU’
Your Prince from Sunda
Fachry

Setelah membaca surat dari Fachry aku semakin menangis tersedu-sedu. Dan orangtua Fachry pun menjelaskan yang sebenarnya, “win, sebelumnya om sama tante minta maaf banget karena baru ngasih tau sekarang. Sebenarnya Fachry itu udah lama mengidap kanker otak, dan setelah kejadian jatuh itu, kondisi Fachry semakin memburuk. Dan mau tak mau kami bawa dia ke Singapura demi mendapatkan pelayanan medis yang lebih layak, disana Fachry koma selama berhari-hari. Dan tadi malam ia baru tersadar dari komanya, ia langsung meminta selembar kertas untuk menulis surat ini padamu. Sebelum berangkat ke Singapura, ia yang meminta agar merahasiakan ini padamu, karena Fachry gak mau lihat kamu sedih. Jadi kami suruh bi Ijah untuk mengatakan kalo kami sekeluarga pulang kampung ke Klaten”, jelas Ayah Fachry. “fachry… kenapa kamu gak bilang dari awal sih?, kenapa kamu malah bikin hari-hariku khawatir, dan sekarang kamu udah ninggalin aku untuk selamanya. Oke mulai sekarang aku janji ry, aku bakalan berubah sikap lebih baik lagi, asalkan kamu bahagia disana”, ucapku sambil menunduk lemas.

Sejak kepergian Fachry, hariku menjadi sepi kembali. Sama seperti waktu itu yang aku baru pindah ke sini. Tapi seengaknya, aku sudah memiliki kenangan indah di sini, kenangan tentang pangeranku Fachry.

Cerpen Karangan: Nabila Nisrina Agvie
Facebook: nabila nisrina agvie
Pelajar kelas VIII D SMP N 1 Ajibarang.
IG: @nabilanisrina20
Penikmat sajak, terutama karya bung Chairil Anwar…

Cerpen Karena Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jurang dari Keterpaksaanku

Oleh:
Perlahan aku mencoba masuk ke sebuah tempat yang sangat ramai. di mana tempat tersebut dihiasi aneka macam bunga yang indah. ku baca setiap deretan papan bunga yang ada di

Mr. Noodle Cintaku

Oleh:
“Selamat pagi princess snow white” sapa Awan, pacarku. “Selamat pagi juga prince noodle” balasku semanis biasanya. Itu merupakan panggilan sayang dari kami. Aku yang sangat menyukai tokoh kartun putri

Ku Serahkan Semua Hanya Kepada Nya

Oleh:
Kumandang azan subuh telah terdengar jelas di telingaku. Ku bangunkan dan kudirikan tubuh ini lalu mengambil air wudu dan aku pun menunaikan salat. Sehabis salat ku baringkan kembali tubuh

Ajal

Oleh:
“Apa? Loe gak bohong kan, Sya?” ujar gua. “gak Kar… gua gak bohong!” jawab Syara. “Loe yang sabar ya, Sya. Loe jangan percaya omongan dokter, dokter itu bukan Tuhan

Mak Comblang Terjebak Cinta

Oleh:
Kenalin nama gue Masha, Sejak SMA gue sering banget comblangin orang hingga kuliah pun begitu hingga akhirnya gue terjebak dengan perasaan gue sendiri. Berawal sejak masuk kuliah gue berkenalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *