Kebersamaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 17 February 2017

Kring… kring… kring… bel istirahat berbunyi nyaring. Anne masih ragu untuk ke luar dari kelas dan pergi ke kantin. Anne tetap duduk di tempat duduknya sambil membaca novel.
“nggak ke kantin?” tanya seseorang dari depan Anne, Anne memalingkan pandangannya dari novel yang sedang ia baca “makasih…” jawab Anne singkat, “alah… palingan takut jatuh… hahaha” ejek laki laki yang sedang berdiri di depan pintu kelas bersama teman temannya. “minggir… ganggu jalan aja lo” seorang laki laki masuk dan duduk di samping bangkunya Anne. Ya itu adalah Ray. Dia meletakkan sekaleng minuman di meja Anne dan kembali ke luar kelas “makasih…ya” Anne berdiri dari tempat duduknya, Ray hanya mengangguk dan pergi berlalu.

Kring… kring… kring… bel istirahat menghentikan semua kesenangan murid murid. Sekitar 2 menit kemudian mrs. Farah masuk sebagai guru pelajaran matematika. Pelajaran kali ini cukup sulit, tampak dari wajah murid murid sangat jenuh. Tapi tidak dengan Anne, karena di sekolah lamanya dia adalah murid terpandai dan menguasai semua mata pelajaran.

Kring… kring… kring… bel kembali berbunyi nyaring, tapi kali ini semua murid bersorak gembira karena ingin pulang atau keluar dari kelas.

Anne pulang menaiki bus sekolah karena kedua orangtuanya sibuk bekerja. Dia menaiki bus dan mencari bangku yang masih kosong. Terlihat Ray sedang melamun melihat keluar dari kaca bus. Anne menghampirinya “apa aku boleh duduk di sini?” tanya Anne dengan hati hati “silakan… duduk saja” jawab Ray singkat dan kembali melihat keluar melalui jendela.

Perjalanan menuju rumah Anne cukup lama. Sekitar 20 menit berada di dalam bus akhirnya sampai juga di depan perumahannya. Ray turun terlebih dahulu dan diikuti oleh Anne dari belakang. Anne terus berjalan menuju rumahnya di belakang Ray. Ray menoleh ke belakang dan melihat Anne sedang mengikutinya. “apa kau mengikutiku?” tanya Ray sambil mengerutkan keningnya “tidak… rumahku di sana, di depan rumahmu” Anne tertunduk dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam pagar rumah.

Di dalam kamarnya, Anne terus tersenyum senyum melihat ke luar jendela. Dia melihat Ray sedang bermain dengan anjing berwarna putih di taman rumahnya. Semuanya tampak jelas karena kamar Anne yang terletak di lantai 2. Apakah Anne sedang jatuh cinta? Ya Anne tampak menyukai Ray dari pandangannya.

Keesokan paginya, setelah berpakaian, Anne melihat ke luar jendela. Ya dia menunggu Ray keluar dari rumahnya. Tepat saat ia melihat ke jam kamarnya yang pukul 06.33, Ray keluar dari dalam rumahnya dengan rapi. Dengan sigap, Anne turun ke bawah dan meminum susu hangat buatan mamanya “ma… pa… Anne pergi dulu ya…” Anne berpamitan sambil berlari. Anne mengikuti Ray dari belakang. Dia berjalan dengan santai tanpa melihat ke arah Ray. Setelah sampai di depan gerbang perumahan, Ray menghentikan langkahnya. Anne yang tidak sadar bahwa Ray telah berhenti, tanpa sengaja ia menabrak Ray yang sudah berdiri di depannya. Anne terjatuh. Ray menolongnya untuk berdiri kembali. Setelah itu mereka berdua menunggu bus datang untuk membawa mereka ke sekolah.

Di kelasnya, Anne tampak serius dalam belajar. Ia sangat cerdas dalam menyelesaikan soal sehingga guru guru menjadi sayang kepadanya. Hari ini sekolah Anne pulang lebih awal karena guru guru yang mengajar ada rapat penting. Anne kembali menaiki bus, kali ini ia tak mau duduk bersama Ray karena takut kalau dianggap bukan kebetulan. Anne lebih memilih duduk di depan Ray. Bus mulai melaju, tak diduga Ray telah duduk di sampingnya. Ray sedang sibuk menulis atau bisa disebut mencoret coret di sebuah buku yang sangat tebal. Seperti biasa, 20 menit kemudian bus berhenti di depan perumahan Anne dan Ray. Ray turun terlebih dahulu dan di ikuti oleh Anne. “terima kasih pak…” kata Anne ramah dan disambut oleh pak sopir dengan senyuman hangat. Selama di perjalanan menuju rumah, Anne dan Ray tidak ada saling berbicara. Masing masing masuk ke rumah tanpa berkata sepatah katapun.

Seperti biasa, di dalam kamarnya Anne memandang Ray lewat jendela. Ray bermain main dengan anjing di taman rumahnya. Kali ini Anne menulis di sebuah kertas “lagi apa?” Anne membaca kembali tulisannya dan melipat kertas tersebut menjadi pesawat mainan. “mudah mudahan sampai…” Anne mengucapkan harapannya sambil menerbangkan pesawat kertasnya ke luar jendela. Tepat sekali… pesawat kertas yang dibuat Anne mendarat mulus di dekat kaki Ray. Ray mulai membuka lipatan kertas dan membacanya. Setelah itu Ray melambaikan tangannya ke arah Anne. Anne sangat bahagia dan turun ke lantai bawah. Dia memakai sandal dan berlari kecil menuju rumah Ray yang tepat di depan rumahnya.

“ayo… buka saja pagarnya, tidak dikunci” kata Ray sambil menghelus helus anjing kesayangannya. Anne ikut bermain dengan anjingnya Ray. Setelah itu mereka duduk di ayunan yang ada di taman rumah Ray. Ray mengeluarkan ponselnya dan mengajak Anne untuk foto berdua. Cukup banyak foto yang mereka ambil. “kamu sudah lama tinggal di sini?” tanya Anne memperhatikan rumah Ray “tidak… 2 hari sebelum kamu pindah” kata Ray dengan memperhatikan Anne. Anne sangat malu diperhatikan, hingga membuatnya jadi salah tingkah “ada apa? apa yang kamu perhatikan?”
“tidak. Hanya saja aku aneh dengan tingkah lakumu”
“aneh bagaimana? Aku normal, kok”
“ah sudahlah, jangan bahas itu lagi SAHABAT”
“SAHABAT? oh ya… maafkan aku, aku harus pulang. Sebentar lagi mama dan papaku pulang” Anne berlalu keluar dari pekarangan rumah Ray.

Keesokan paginya, seperti biasa Anne menunggu Ray keluar dari rumah. Anne melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 06.33. Ray keluar dari rumahnya dan Anne mengejar Ray keluar. Saat di depan pagar rumahnya, tangan Anne dipegangi oleh seseorang. “kamu menunggu aku ya…” ternyata Ray yang memegangi Anne, Anne hanya terseyum malu. Mereka berjalan menuju gerbang perumahan dan naik bus bersama.

Anne sendirian keluar dari kelasnya. Segerombolah laki laki yang pernah mengejek Anne menghadangnya untuk lewat. Mereka mendorong Anne hingga tersungkur ke tanah. Ray datang untuk menolong Anne dan membantunya untuk berdiri. “untuk apa lo gangguin Anne, hah?” Ray marah kepada gerembolan itu dan mereka berdua pergi naik bus. Di dalam bus Anne meringis kesakitan karena lututnya memar. “tenang aja Anne, aku selalu ada untuk kamu, kok. Jangan nangis lagi, nanti aku juga nangis lho” Ray berusaha untuk menenangkannya dan mengantarnya ke pintu rumah Anne.
Walaupun kakinya sakit, Anne tetap melihat ke luar jendela. Tapi Anne tidak melihat Ray sedang bermain main dengan anjing kesayangannya. Anne terus menunggu hingga larut malam, tapi Ray tidak juga menampakkan dirinya walau hanya sebentar. Anne tidur dengan perasaan cemas.

Keesokan paginya, seperti biasa Anne menunggu Ray untuk keluar dari rumahnya. Saat melihat ke luar jendela, betapa terkejutnya Anne melihat orang orang berdatangan ke rumah Ray. Anne segera turun ke bawah dan bertanya kepada orangtuanya. Tapi kedua orangtuanya tidak tahu tentang rumah Ray yang menjadi ramai. Karena penasaran, Anne langsung pergi ke rumah Ray tanpa mempedulikan ia akan terlambat ke sekolah.

“RAY…” teriak Anne saat melihat Ray terbujur kaku di tengah rumah yang sangat besar dan bertingkat, yaitu rumah Ray. “kamu Anne, bukan?” tanya seorang wanita yang sepertinya ibunya Ray “iya tante, aku Anne” Anne menghapus air matanya yang berjatuhan “ini ada kado untukmu dari Ray. Dia kecelakaan saat ia pergi membeli kado ini. Di rumah sakit dia juga berpesan untuk memberikannya kepada gadis yang bernama Anne” ibunya Ray menangis sambil masuk ke dalam rumah. Anne yang tak kuasa membendung tangisnya berlari menuju rumah dan di antar ke sekolah oleh papanya menggunakan mobil pribadi.

Di sekolah, Anne hanya termenung memikirkan Ray yang kecelakaan karena dirinya. Pada saat jam istirahat Anne mulai membuka kado dari Ray. Di dalam bungkusan itu, Ray memberi Anne kalung berliontin hati yang bisa dibuka, foto mereka berdua dan selembar kertas. Anne membuka liontin kalung pemberian Ray, terlihat di bagian kanan foto Anne dan di bagian kiri foto Ray. Anne juga membaca surat dari Ray.

“Anne. Happy Birthday, ya… semoga umur panjang, sehat selalu. Anne, mungkin waktu kamu baca surat ini, aku udah nggak ada lagi. Kamu jangan nangis. Ingat kata kataku TENANG AJA, ANNE, AKU SELALU ADA UNTUK KAMU, KOK. JANGAN NANGIS LAGI, NANTI AKU NANGIS JUGA LHO. Dan satu lagi, aku ingin kamu tahu, kalau aku itu sahabatmu. Tapi aku juga mau kalau kamu itu adalah kekasihku, pacarku, aku menyukaimu, Anne. Tapi itu semua sudah terlambat. Oh ya… aku memberikan kado ini untuk ulang tahunmu. Kamu pasti bertanya dari mana aku tahu? Aku tahu dari papamu yang ingin membuat kejutan untukmu di hari ini. Kamu pasti membuka kadonya di hariku meninggal, di hari ulang tahunmu. Anne ingat aku ya… sahabat pertamamu di sekolah dan di perumahan baru. Jangan pernah menyesali kematianku ya, apa yang telah terjadi. Anne… sering seringlah bermain dengan Pifsy anjing kesayanganku ya… Bye Anne. I LOVE YOU…” Anne membacanya penuh haru. Air mata Anne tumpah membasahi surat yang sedang dibacanya.

“Anne, gue turut berduka cita ya, atas kepergian Ray. Ray pernah bilang kalau dia naksir sama lo. Dia suka sama lo, Anne” kata laki laki yang pernah mendorong Anne. Gerombolan laki laki itu pergi meninggalkan Anne sendirian di kelas. Suasana sangat hening.

Beberapa tahun kemudian, terlihat di meja kantor Anne, fotonya dan Ray. Ya sekarang Anne telah bekerja di salah satu perusahanan yang ternama di kotanya. Setelah Anne pulang dari kantornya, ia singgah ke depan rumahnya, yaitu rumah Ray. Ia bermain bola bersama Pifsy sang anjing kesayangan Ray. Anne melihat arloji yang melingkar di tangannya yang telah menunjukan pukul 18.00. Anne pulang ke rumah dan mandi. Selepas mandi, Anne melihat fotonya bersama Ray terpajang indah di samping tempat tidurnya dan juga terpampang foto besar Anne dan Ray juga bersama Pifsy sang anjing putih, bergandengan tangan di ayunan taman rumah Ray. Anne menghelus helus foto besar tersebut dan pergi melihat keluar jendela “I LOVE YOU, RAY…” Anne menggenggam sekaleng minuman pemberian dari Ray dulu dan melambai lambaikan tangannya kepada Pifsy yang menggonggong kepadanya…

Cerpen Karangan: Afifah Huriyah
Facebook: Afifah Huriyah

Cerpen Kebersamaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masuk Perangkap Kedua Kalinya

Oleh:
Putri adalah gadis yang beruntung, dia terlahir dari keluarga yang kaya, disayang semua guru dan wajahnhya pun cantik. Jadi tidak heran jika banyak orang yang begitu ingin menjadi kekasihnya.

Kejora (Part 2)

Oleh:
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang dan untuk selanjutnya, apakah perasaan ini akan kembali terkubur atau akan tumbuh dan bersemi? Jawabannya hanya bisa diketahui melalui keputusan Syara, begitu

B.I.R

Oleh:
Malam dingin ini aku menikmati sebatang coklat dan kopi hangat, di depan komputer aku melihat seluruh fotomu. angin berhembus kencang menerpa gorden di tambah teriakan bunyi kilat, menambah beban

Hal Yang Tidak Bisa Kukatakan

Oleh:
Hari itu, hari pertama ku di SMP. Aku sangat senang karena aku sekarang sudah SMP, teman baru, kehidupan baru, bahkan cinta pertama.. seseorang yang aku sangat cintai.. dia adalah

Salah Naksir

Oleh:
Namaku Alice Valensia, aku adalah gadis SMA yang menjalani kehidupan ini dengan normal. Saking normalnya, bahkan tak ada kejadian yang menkjubkan di kehidupanku ini. Sampai suatu hari datang waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kebersamaan”

  1. lasyata fasawwa says:

    Nice

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *