Kekecewaanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 August 2015

Aku mengenalnya sejak aku masuk sekolah di SMK swasta di daerah Purwokerto. Aku masih hafal betul ketika aku pertama bertemu dengannya. Ya sebut saja dia Anissa. Ketika itu Anissa mengenakan seragam OSIS SMP. Rambutnya terurai bagaikan Putri yang jatuh dari surga, wajahnya sangat menawan hati dan yang paling indah itu bola matanya yang membuatku tak bosan untuk melihatnya. Kebetulan atau tidak aku dan Anissa sekelempok, Anissa duduk di sampingku ketika itu aku pun merasa grogi, detak jantungku berdetak dengan sangat kencangnya dan keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Tetapi aku mencoba memberanikan diri untuk berkenalan dengannya.

“Hay, boleh kenalan gak? Namaku Robert. Namamu siapa?” ucapku sambil tersenyum grogi.
“Iya, boleh sajalah. Namaku Anissa,” jawab Anissa sambil tersenyum.
Uhh! Dalam hatiku merasa sangat senang bisa melihat seorang gadis secantik itu, aku pun mulai berkhayal-khayal, andai saja dia jadi pacarku. Wah sungguh bahagia sekali diriku.

Aku terkejut ketika Anissa menyentuh tanganku sambil bilang, “eh sedang ngapain, kok ngelamun gitu?”
Dengan gugup aku menjawab, “a-a nu, ga-gak kenapa-kenapa, kok”
Sejak kejadian itu aku pun mulai merasa mungkin aku jatuh hati kepadanya, setiap hari ingin rasanya aku memandang wajahnya yang bisa menyejukkan hati, tetapi aku tak berani untuk mendekatinya lebih dekat lagi.

Hari demi hari telah terlewati hingga akhirnya aku pun tak sanggup untuk menahan rasa yang ada di dalam hatiku terhadap Anissa. Aku pun mencoba mendekati Anissa dengan cara meminta nomer telponnya kepada temannya, ya sebut saja dia Vita. Vita adalah teman dekatnya Anissa dan Vita juga teman satu kosnya Anissa, Vita orangnya lumayan gendut, tinggi dan pintar.

Aku mengambil hp dari saku celanaku dan mulai mengetik pesan.

“Hay Vita?, lagi ngapain?”
Vita pun membalas pesanku. “Hay juga, lagi nonton tv nih”
Aku pun membalasanya lagi. “Oh, gak lagi sibuk kan? Aku boleh minta tolong gak?”
Vita membalasnya. “Oh, ya bisa, emang mau minta tolong apa?”
Aku membalasnya lagi. “Eh Vit, aku minta nomornya Anissa dong?”
Vita membalas. “Oh ya, punya nih nomornya 085********6, Emang mau buat apa?”
Aku membalas. “Oh terima kasih yah, gak buat apa-apa kok, hehe” sambil tersenyum.

Tanpa pikir panjang aku pun langsung mengetik pesan dengan perasaan yang campur aduk, aku mengirimkan pesan kepada Anissa. Dan ternyata Anissa membalas pesanku, aku pun merasa sangat senang bisa smsan dengan Anissa apalagi kalau dia mau jadi pacarku, wah tambah senang lagi pikirku.

Lama kelamaan aku jadi tambah suka sama Anissa dan akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku kepada Anissa. Ketika aku mau menyatakan cinta, aku bersama teman-temanku dan termasuk juga Anissa menengok temanku yang sedang sakit di rumahnnya. Aku berboncengan dengan Anissa saat menuju rumah temanku sebut saja dia Roy dia anaknya besar, lumayan tinggi dan sangat baik terhadapku. Dia saat itu sedang terkena penyakit Cikungngunya.

Di perjalanan menuju rumahnya Roy, aku dan Anissa bersenda gurau, aku merasa bahagia sekali pada saat itu karena bisa berboncengan dan ngobrol bareng dengan orang yang aku sukai. Dalam hatiku bertanya, “apakah cewek secantik ini bisa menjadi pacar ku?” Emm, tapi ku berpikir lagi, “kata Orang di dunia tak ada yang tak mungkin” aku percaya kata-kata itu, jadi aku akan mencobanya.

Sesampainya di rumah Roy sekitar pukul 5 sore, aku dan teman-teman masuk dan bertemu dengan Roy dia agak terlihat masih lemas karena sakit. Di rumah Roy aku dan teman–teman saling bercanda tawa. Sehabis magrib aku dan teman-teman pulang ke kos masing masing.

Aku mengantarkan Anissa pulang ke kosnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dengan kos-ku. Ketika akan sampai di kosanya Anissa, aku memberhentikan motorku di gang untuk mengungkapkan rasa cintaku kepada Anissa. Ketika itu aku merasa ragu-ragu untuk mengungkapan cinta ke Anissa karena aku tak mempunyai apa-apa dan aku merasa minder, tapi ku coba mantapkan hati dan memberanikan diri untuk mengungkapakan cinta kepada Anissa. Detak jantungku berdetak dengan cepatnya saat aku mulai berbicara tentang seluruh apa yang ada di hatiku.

“Anissa, jujur aku sangat mencintaimu, aku ingin kamu jadi pacarku, apakah kamu mau jadi pacarku?” ucapku dengan suara yang lumayan gagap.
“ma-ma maksud kamu Robert? Emang kenapa kamu bisa suka sama aku?” Jawab Anissa dengan gugup dan kaget.
Aku pun menjawabnya, “entah kenapa, sejak awal kita bertemu aku sudah mulai mencintaimu, tapi aku tak mampu untuk mengungkapkan itu kepadamu, aku hanya bisa memendam perasaan di hati, dan hari ini aku mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya”
Anissa pun menjawab dengan wajah yang masih kaget. “emm, mungkin bukan sekarang aku menjawabnya, kasih aku kesempatan untuk berpikir ya Robert, besok pasti ku menjawabnya”

Ketika itu aku merasa lega sekali karena setelah lama ku memendam perasaan akhirnya ku dapat mengungkapkannya, aku langsung pamit kepada Anissa untuk pulang ke kos karena suasana sudah mulai malam. Aku di kos tidak bisa tidur karena masih penasaran akan jawabannya Anissa, apakah dia mau menerimaku atau menolakku? Tapi aku berpikir positif saja dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sebenernya aku ingin segera tidur tapi mata ini seakan tidak mau menutup. Teman-teman kosku sudah tidur semua. Tinggal aku sendiri yang belum tidur. Suara jangkrik serta suara jam dinding yang masih berbunyi menemaniku hingga larut malam. Hingga akhirnya aku tertidur dengan pulasnya.

Suara ayam berkokok membangunkanku dari tidurku, hari ini aku semangat sekali untuk pergi ke sekolah karena hari ini adalah saat di mana Anissa akan menjawab pertanyaanku tadi malam. Dengan baju yang rapi dan penuh semangat aku berangkat sekolah bersama teman sekosku.

Di sekolah aku menemui Anissa dan mencoba bertanya tentang jawaban yang dijanjikan semalam.
“Pagi Anissa!” ucapku dengan semangat.
“Pagi juga Robert,” Anissa menjawab sambil tersenyum.
“Eh gimana jawabannya?” ucapku sambil tersenyum.
“Ehm, gimana yah? Iya aku menerimamu jadi pacarku,” jawab Anissa sambil senyum.

Aku pun terdiam dan tidak percaya jika Anissa mau menerimaku jadi pacarnya. Pada hari itu aku merasa beruntung sekali akhirnya setelah menunggu lama aku pun mendapatkan cewek secantik dia. Aku merasa bersyukur sekali dan merasa semangat untuk sekolah karena ada Si Anissa.

Hari demi hari terlewati tetapi cinta ini tak bisa bertahan lama mungkin hanya bertahan satu minggu. Pada hari minggu sore aku dikagetkan dengan smsnya si Anissa yang meminta putus, dia bilang bahwa dia gak boleh pacaran sama orangtuanya, aku pun hanya bisa terdiam, aku tak percaya. Memang rasanya sakit, pacaran baru satu minggu sudah putus lantaran Anissa takut kena marah sama orangtuanya.

Sejak saat itu aku langsung lepas kontak dengan si Anissa. Aku tidak mau menghubunginya lagi. Setiap hari aku semakin tidak karuan, ke sekolah pun rasanya malas sekali, mau makan juga malas. Aku sempat berpikir, Anissa minta putus sama aku gara-gara gak dibolehin pacaran sama orangtuanya atau dia udah punya yang lain? Tapi ah, sudahlah mungkin ini nasibku, jika dia benar-benar gak dibolehin pacaran aku ya menerima dengan lapang dada. Aku mencoba ikhlas walau sakit hati ini.

Setelah 2 minggu aku putus dengan Anissa, aku mencoba menghubunginya lagi, tapi sekarang dia jutek sekali sama aku, aku bertanya kepada Anissa dia pun menjawabnya dengan jutek dan seakan dia tidak mau mengenal diriku lagi. Aku bingung harus berbuat gimana lagi. Sebenernya aku ingin mengajak balikan lagi sama si Anissa tapi malah sekarang dia begitu jutek padaku. Dan yang lebih menyakitkan lagi aku mendapat kabar dia sedang suka sama seseorang yang aku tak tahu itu siapa. Aku berpikir lagi apa dulu ketika dia memutuskanku lantaran ada orang yang ketiga? Jika iya kenapa dia beralasan gak boleh pacaran sama orangtuanya? Kenapa dia gak jujur saja kepadaku? ah, sudahlah.

Sekarang aku pun mencoba untuk melupakan Anissa, tapi sulit bagiku untuk melupakannya. Mungkin butuh waktu lama untuk melupakan semua tentang Anissa. Setiap detik wajahnya selalu muncul dalam anganku. Hingga membuatku tak mampu untuk berbuat apa-apa. Cinta memang aneh sekarang bilang, “Aku sayang kamu,” besok sudah bilang, “aku mau putus dari kamu.”

Mungkin aku tak menjadi apa yang kamu inginkan, hingga kamu suka sama orang lain selain diriku. Aku pun menyadari aku pun memaklumi semuanya. Ingat hukum karma masih berlaku. Terima kasih sudah mau singgah di hatiku walau hanya sebentar, aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mengajariku tentang cinta. Walau hanya sebentar tetapi kamu tak akan pernah kulupakan. Biarkan rasa cinta dan sayangku kepadamu menghilang sendirinya ditelan waktu yang terus berputar.

Cerpen Karangan: Galih Dwi Pangestu
Blog: Galihrawalo.mywapblog.com , http://trenteng.blogspot.com
Nama: Galih Dwi Pangestu
TTL: Banyumas 02 Maret 1998
Kota Asal: Purwokerto Jawa Tengah
Twitter: @Galih_Dwi_ID

Cerpen Kekecewaanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


12 Days to Move On

Oleh:
Aku yang tak menginginkan perpisahan, salahkah jika aku mencoba untuk mempertahankan? Aku yang begitu menyayangimu, salahkah jika aku kembali mempertanyakan apa alasan dari perpisahan ini? Aku hampir tak mengerti

22 Sahabat Junior (1 Classmate)

Oleh:
Hari ini langit begitu cerah, secerah senyuman para penghuni kelas tertua ini, kelas yang begitu heboh di setiap harinya, kelas yang selalu jadi bahan pembicaraan kelas lain dan kelas

Rindu

Oleh:
Seperti mawar segar yang kugenggam, meski perih rintih aku suka sekali, Bodoh? bukan, karena cintaku melebihi rasa sakit ini. Aku mencoba berjalan di antara terjalnya kegamangan, telah kulalui sebuah

Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Ah… keluh Nafiah arsum yang biasa orang-orang memanggilnya nay, yang sedang mengantri bersama seorang pria paruhbaya yang mungkin saja itu adalah ayahnya, untuk mendaftar di SMA mata nay mencari-cari

Aku Suka Kamu

Oleh:
Seperti apa bahagia yang sederhana itu? bisakah diartikan dengan sebuah senyum indah yang kamu lukiskan dalam bingkai pesonamu. Kamu itu bisa membuatku gila setiap hari. Apakah kamu sadar, kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *