Kenangan di Sudut Taman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 23 August 2016

Pada akhirnya, aku harus pergi. Tinggalkan sudut taman yang penuh dengan kenangan ini, setelah sebelumnya aku menunggu dan menantikan kau kembali. Tak kulepas air mata ini, meski embun datang dan perlahan membendung di sudut sana. Aku tahu ini berat, namun aku telah lelah mengartikan diri berjalan di tempat. Langkahku mulai beranjak, padahal sisiku takut dan masih enggan tinggalkan itu.

Kala senja, aku tengah duduk di sebuah halte. Tempat yang mungkin terakhir kalinya akan kududuki di kota ini, karena tidak akan lama bus menjemputku. Sejenak aku berkhayal, anganku melayang, jauh ke atas menerawang. Akalku bimbang dan penuh dengan sebuah harapan. Bahwa, kau akan datang, berlari dan menahan langkah kakiku ini.

Andai kau tahu, suatu kebiasaan yang kulakukan sejak kau pergi tinggalkan rasa ini. Adalah, aku harus selalu berani berteman dengan sepi dan bersahabat dengan api. Maka, kulakukannya setiap kali kumerindukanmu, duduk di sudut taman, tempat dimana kala kita dulu membagi rasa, bercanda, tertawa, dan saat-saat jemari di antara kita saling menghangatkan. Namun senja itu memaksaku untuk kali pertama tak lagi berada disana, memaksaku harus pergi. Dan sebelum gelap datang membutakan, kutulisakan sebuah kata-kata untuk kutinggalkan, mengisyaratkan bahwa aku harus pergi, sudahi waktu dan harapan tak pasti. Kuletakkannya tepat dimana kita sering duduk dahulu, entah siapakah yang akan menemukannya, yang pasti itu untukmu.

“Aku harus pergi..
Meninggalkan sebuah waktu dimana kita dahulu pernah bersama..
Meninggalkan jejak dimana kita dahulu pernah berada..
Ini bukan inginku, namun ini keinginan lelah berkata
Aku tak sanggup lagi, duduk sendiri dan selalu berharap kau datang dan memelukku dari belakang seperti halnya kebiasaanmu dulu..
Terimakasih sayang..
Hangatmu akan mengantarku, ke tempat dimana kita tak akan lagi berjumpa
Terimakasih atas waktu dan segala warna yang kau beri, aku bahagia karena kau telah pernah datang di kehidupanku yang sempit ini..
Tak akan ada lagi kata yang terucap selain maaf dan terimakasih,
Selamat tinggal.. ”

Tak banyak yang mampu terungkap, karena aku tidak mengerti, namun hati inginkan ini. Pergi dan tinggalkan semua. Hanya doa yang terbaik untukmu yang kuberikan, semoga kau bahagia dengan pilihanmu, aku akan baik-baik saja disini.

Hatiku belum selesai berdialog, namun seketika berhenti. Mata ini melihat sesuatu yang datang, kencang dan perlahan menghampiri. Bukan dia, namun bus yang akan menepi. Kini, bus telah datang dan menyambutku. Kendaraan yang akan menghantarkanku menuju masa baru. Langkahku beranjak, bergerak masuk kedalam bus, saat ku lalui pintu, langkahku berhenti, diam dan perlahan membalikkan badan. Namun sia-sia, tak kutemui siapa di belakang sana. Tapi hal itu pula yang membuatku semakin kuat dan yakin untuk segera pergi. Tinggalkan masa lalu, bukan untuk melupakannya, hanya sedikit menyisih agar kau tak terusik oleh harapanku.

Bus berjalan, aku tengah duduk di kursi belakang, dan bersandar di kaca jendela. Bibirku melambaikan senyum, hati sejenak sembunyi, kala kendaraan ini melintasi taman itu. Aku kuat, namun seketika bendungan itu hancur, luluh dan basahi pipiku. Kurasa ku tak sanggup lagi tuk menahanya, sakit yang sungguh amat sakit, meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan. Tapi apalah dayaku kini, aku rasa ini yang terbaik bukan?.

Cerpen Karangan: Ferdyansyah
Blog: Ferdyhaekka.blogspot.com

Cerpen Kenangan di Sudut Taman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
“Baiklah, Ya ya, Aku akan segera ke sana. Oke, Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam…” Tutt.. Tutt.. Tutt… Rayya berencana akan pergi jalan-jalan bersama Kirana, sahabatnya. Karena beberapa hari lagi, Rayya akan pindah

Menunggu Keajaiban

Oleh:
Kisahku ini mungkin tak seharusnya ada, mencintainya meski banyak yang menentang, bersamanya meski aku tahu pada akhirnya itu hanya akan menyakiti, tapi entah mengapa perasaan dan hati ini terus

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 1)

Oleh:
Kalimat itulah yang selalu ku bisikkan dalam hatiku sepanjang kebersamaan kami. Menikah denganya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam kehidupanku. Bagaimana aku bisa tiba-tiba hidup bersamanya, andai saja tidak ada

Ku Nanti, Kita Kembali

Oleh:
Raut wajah Nabila, sesaat tertampak seperti monster imut saat ia terbangun dari mimpinya di atas susunan karakter-karakter yang begitu empuk, saat pagi menyapa “Ah, pagi ini tak berbeda dengan

Dia yang Bahagia di Surga

Oleh:
Panggil saja aku sandy, kisah ini bermula pada waktu aku SMA kelas 2 di salah satu SMA yang ada di jogja di tahun 2008, berawal dari salah satu acara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *