Kerinduan Seorang Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 30 May 2016

Namaku Shelin. Aku mahasiswi di Universitas Pelangi Nusantara. Sepertinya sebutan mahasiswi untukku tidak patut, karena aku seorang anak tomboi. Walau aku anak tomboi, tetapi aku selalu menjaga perilakuku agar terlihat sebagai anak sopan. Aku mempunyai seorang sahabat sejak Sekolah Dasar, namanya Vano. Namun sayang, ketika kelas 4 aku harus pindah rumah sekaligus pindah sekolah karena harus mengikuti orangtuaku di Jogja. Sejak itulah aku merasa kesepian tiada teman yang sebaik dan seasyik Vano dan sekitar 9 tahun aku tak bertemu dengannya. Memang dia adalah seorang pria, tetapi dia sangat berbeda dan aku sangat nyaman bersahabat dengannya.

Vano sangat kasihan karena dia adalah seorang anak yatim, ayahnya sudah tiada. Tetapi Vano anak yang sangat kuat. Dulu sebelum aku pindah, setahuku dia tinggal bersama kakek dan neneknya di Solo, sementara Ibunya bekerja di Jogja. Aku dan Vano sudah lama tak bertemu namun kami dapat saling berkomunikasi melewati sosial media. Suatu hari Vano sedang ulang tahun dan aku hanya bisa mengucapkan dari BBM, karena jarak tempat yang terhalang. Namun tiada balasan dari Vano, dia hanya membaca pesanku, tak hanya itu, sekarang Vano jika dihubungi tidak mau menjawab dan membalas.

Sudah beberapa bulan aku tak tahu bagaimana kabar dari sahabatku dia menghilang begitu saja, dan entah ke mana. Aku berpikir mungkin dia sedang sibuk dengan kuliahnya atau sudah lupa denganku. Aku hanya bersabar dan berdoa agar aku dapat bertemu dengan sahabatku. Saat aku kuliah di Universitas Pelangi Nusantara aku sempat melihat orang yang mirip dengan Vano dan sempat memanggilnya, “Vanoo,” Ternyata orang yang ku temui itu adalah dosenku yang bernama Deva, entah mengapa mereka sangat mirip, aku juga tidak tahu. Kemiripan itulah yang membuatku seolah-olah selalu teringat Vano yang selalu ada saat dulu.

Suatu saat, dosenku Kak Deva memanggilku dan bertanya, “Hey! Nama kamu siapa?”
“Namaku Shelin, oh iya maaf kak waktu itu aku salah memanggil kakak dengan sebutan Vano,” jawabku.
“Oh iya nggak apa-apa, memangnya siapa Vano itu?” tanyanya.
“Vano itu sahabatku kak, dia setia mendengar curhatanku dan dia sangat baik suka menolong, maaf kak saya buru-buru lagi ada kelas,” jawabku.
“Iya, sampai ketemu lagi.”

Lalu aku sudah tak menghiraukan lagi, langsung aku berlari menuju kelas. Sesampainya di kelas untung saja dosen belum ada, tidak lama masuklah dosen tersebut ternyata dosen itu Kak Deva. Langsung mulailah pelajaran, dari penelitianku sih kak Deva cara berbicara, gaya busana semua hampir mirip dengan Vano, jadi saat di kelas aku sangat tidak konsen dan hanya memikirkan nasib di mana Vano.

Hari ini hari sabtu tepat tanggal merah, rencananya aku akan pergi ke Malioboro bersama teman sekelasku yaitu Kenanga. Aku ingin mencoba melewati tengah-tengah dua pohon itu, katanya kalau ada yang bisa melewati dua pohon itu dengan mata tertutup permintaannya akan terkabul, dan aku mencoba agar aku dapat bertemu dengan sahabatku. Namun apalah daya, aku tak bisa melewatinya mungkin aku harus meminta kepada Tuhan tidak pada pohon. Setelah bermain ke Malioboro, Kenanga harus pulang karena adiknya tiba-tiba terjatuh dari tangga, dan aku tidak diperbolehkan untuk ikut. Ya sudah mungkin aku harus berjalan-jalan sendiri. Tak sengaja aku bertemu dengan Kak Deva dia sedang sendiri duduk melamun, tetapi aku tak menghiraukan dia, justru aku malah ingin segera pergi dari tempat itu. Aduh tapi sialnya dia malah memanggilku dan menghampiriku.

“Shelin, kamu sama siapa disini?” Tanyanya.
“Aku di sini sendiri, tapi tadi sempat dengan Kenanga, tapi dia pulang duluan karena adiknya tiba-tiba adiknya jatuh dari tangga, Kak,”
“Oh gitu, kamu jangan manggil aku kak, kan kita di luar kampus, kalau lagi di kampus, nah engga apa-apa manggil kak,”
“Tapi.. kakak kan dosenku,”
“Ah.. sudah tidak apa-apa kan aku sama kamu aslinya hanya terpaut 2 tahun,”
“Oh iya Dev,”
“Nah gitu dong,”
“Ya udah kak aku ingin segera pulang saja, aku sudah cape,”
“Ya sampai jumpa,”

Setelah berbicara aku menjadi bosan dan ingin pulang. Sebelum ke rumah aku sempat melihat seperti Vano dari kejauhan, tapi jika itu Kak Deva tidak mungkin, sebab dia masih di belakangku, saat ku melihatnya tiba-tiba dia pergi dan berlari, aku juga tidak tahu pasti jika itu Vano, sebab aku hanya melihat dari kejauhan. Sampai di rumah sebenarnya aku tidak mempunyai pekerjaan, jadi aku hanya melamun di rumah. Sudah lama aku melamun aku pun beranjak ke bawah, mengambil minum. Tak sengaja aku melewati gudang, tetapi pintunya terbuka, aku tak tahu siapa yang membukanya, ataukah Bibi aku juga tak tahu. Lalu aku memanggil Bibi. “Bibi.. Bibi di mana, apa Bibi di dalam, tetapi tak ada jawaban sekalipun,”

Tanpa berpikir lama aku langsung masuk gudang itu, yang ada hanya tumpukan kardus-kardus berdebu, setelah ku singkirkan kardus itu ternyata bagian bawahnya seperti sebuah pintu yang terkunci, karena aku penasaran langsung saja ku cari kuncinya, di mana pun, akhirnya kuncinya pun ketemu, walau sudah sedikit berkarat. Kemudian ku buka saja pintu itu, ku masuki dengan perlahan. Di situ terdapat almari, langsung ku buka saja. Saat ku lihat aku langsung meneteskan air mata, sebab terdapat album foto di situ ada fotoku, Vano, dan teman SD lainnya dulu sebelum aku pindah, kerinduan itupun muncul saat ku melihat album foto. Sore hari, aku sangat senang Vano mengabariku melewati pesan.

“Aku di sini baik-baik saja jangan khawatir,” katanya.
“Benarkah, kamu baik baik saja, aku khawatir jika kamu sudah lupa denganku, terus mengapa hingga beberapa bulan kamu tak mengabariku?” tanyaku.
“Ya enggak mungkin lah aku lupa denganmu, kita sudah sangat dekat, bagaimana aku melupakanmu, maaf ya beberapa bulan ini aku sibuk dengan kuliahku, tugas-tugasku sangat banyak,”

“Oh syukurlah jika kamu tidak lupa denganku,”
“Sekarang kamu kuliah di mana?”
“Sekarang aku kuliah di Universitas Pelangi Nusatara, oh iya di sini ada yang mirip denganmu namanya Kak Deva, dosenku,”
“Oh ya, tapi aslinya pasti lebih gantengan aku,”
“Ih kamu kok pd?”
“Lebih baik pd!”
“Ya sudah terserahmu deh, aku mau belajar,”
Lalu aku langsung beranjak untuk belajar.

2 hari kemudian. Aku sangat kaget karena biasanya aku kuliah dengan sepeda, tiba-tiba di depan sudah ada Vano yang menjemputku, aku sangat senang.
“Vano ke mana aja, ih sekarang kamu tinggi banget, padahal dulu tinggian aku,” tanyaku dengan girang.
“Ya aku kuliah lah, iya dong tumbuh kan ke atas, yuk ke kampus bareng?”
“Ke kampus bareng? Nggak salah, kan kamu kuliah di Solo?”
“Tenang aku sekarang satu kuliah sama kamu dan satu jurusan biar bisa lihat wajah manis kamu,”
“Ah kamu bisa aja, ya udah kita ke kampus langsung biar nggak telat,”

Dan setiap hari aku selalu bareng dengan Vano, lumayan irit bensin. Ternyata tidak sia-sia doaku selama ini, aku bisa bertemu dengan sahabatku. Dan ternyata Kak Deva adalah sepupunya Vano. Suatu pagi, Vano berbicara.

“Kamu ada waktu nggak, aku mau bicara?”
“Ada lah, buat sahabat mah aku bisa,” jawabku.
“Aku mau jujur sama kamu,”
“Jujur apa tinggal ngomong,”
“Sebenernya beberapa bulan ini saat aku tak mengabarimu, aku sedang kemoterapi di Singapore, aku mengidap kanker, Shel dan setelah kemoterapi aku mengikuti segala aktivitasmu,” sambil meneteskan sedikit air mata.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal, aku kan jadi sedih, aku takut kehilangan kamu dan jadi kamu pernah ngikutin aku di Malioboro?” menangis dan memukul bahunya Vano.
“Belum ada waktu yang tepat Shel, maaf aku baru cerita, dan iya itu aku, aku memang sengaja kabur saat kamu lihat,”

Setelah beberapa minggu aku selau menjaga Vano, agar tidak mudah sedih. Dua bulan kemudian, aku tidak menyangka Vano ingin menjadikan aku tunangannya di hadapan kedua orangtuaku, dan ibunya. Aku saat terharu dengan situasi ini dan Vano berkata, “Apakah kau mau menjadi tunanganku, di sisa akhir hidupku,”
“Kamu berbicara apa, kamu nggak bakal ninggalin aku kan? Iya aku mau menjadi tunanganmu,”

Dan besoknya aku dan Vano bertunangan. Suasana pertunangan ini membuatku meneteskan air mata, aku juga tidak menyangka sahabat kini yang ku cintai sekarang menjadi pendampingku, walau hanya tunangan. Setelah acara pertunangan selesai Vano mengatakan, “Jika nanti aku sudah mati tolong kamu harus dapat menggantikan aku, aku ingin Deva yang menggantikan aku,”

“Eh.. kamu jangan bicara kaya gitu aku nggak suka ya!”
“Ini memang amanat yang harus kamu jalanin, jika kamu sayang denganku! Bukan maksud apa-apa aku hanya mau kamu ada yang menjaga,”
“Terserah kamu, jika itu permintaanmu aku turuti,”

Selang 4 jam Vano denganku, tak ku sangka Vano telah meninggalkan aku untuk selamanya. Aku sangat tidak menerima kejadian ini, karena aku baru beberapa bulan dengannya karena sudah 9 tahun tak bertemu. Setelah 3 tahun aku baru dapat mengikhlaskan Vano, dan akhirnya pun aku dilamar Deva untuk menjadi pendampingnya seumur hidup dan naik ke pelaminan.

Cerpen Karangan: Vannya Lintang Prameswari
Facebook: Vannya Lintang Prameswari
Nama Vannya Lintang Prameswari. TTL, Karanganyar, 25-02-2003.

Cerpen Kerinduan Seorang Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Disini, Dua Tahun Yang Lalu

Oleh:
Disini, dua tahun lalu. Kau tersenyum padaku. Kita bersama. Kita bahagia. Disini, dua tahun lalu. Kau memelukku erat. Penuh kehangatan. Penuh keceriaan. Disini, dua tahun lalu. Juga menjadi akhir

Meraba Bulir Kenangan

Oleh:
Risa masih belum menyerah untuk mencari serpihan masa lalunya. Kaki jenjang bersepatu boots hitam menapaki anak tangga berselimut salju. Bulir-bulir Kristal es menghujam tubuh yang dibalut mantel biru tua

Firasat

Oleh:
Pagi ini terasa sepi hanya tetesan embun dan semerbak udara pagi yang menyapa pagiku. Seakan semua kebahagianku terengut semenjak kejadian itu, kejadian yang membuatku ingin lari dari kenyataan. Namaku

Putus

Oleh:
Ketika aku melihat mendung ada satu hal yang aku ingat, yaitu berakhirnya hubungan kita. Aku teringat bagaimana sedihnya dirimu. Engkau meneteskan air mata di hadapanku. Tersayat hatiku ketika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *