Kesaksian Sebuah Pena

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 2 December 2016

Kisah ini berawal dari sebuah hubungan pertemanan yang kemudian semakin erat melahirkan jalinan persahabatan. Sedari kecil sudah bersama bak saudara sedarah. Jarak rumah yang cukup dekat seolah memaksa kami untuk selalu bersama. Kebersamaan yang kini menjadi kebiasaan. Seorang yang sangat paham betul akan seluk beluk dariku. Meski sering terlihat bersama, pada dasarnya kami tetaplah 2 orang yang berbeda. Bukan saling bersaing justru berusaha agar sebanding. Bukan juga masalah teman atau lawan melainkan kecocokan. Persahabatan mustahil adanya jika tiada persamaan di antara keduanya.

Menyatukan 2 pribadi yang berbeda tak semudah orang lain sangka. Begitu banyak perbedaan bisa saja menghancurkan segala hubungan kalau tidak ditindak secara dewasa. Namun 1 kesamaan bisa menjadi perekat antar jalinan. Cerita. Ya, dari cerita semua orang bisa mengutara apa saja yang ada di benaknya. Tak hanya itu, cerita juga bisa diolah dengan kata dibumbui dengan sedikit bayang bercampur nyata. Cerita bagai dunia yang sengaja dicipta untuk merasa segala hal sesuai selera. Suatu permulaan sederhana bisa berubah menjadi indah seketika. Begitupun sebaliknya.

Masing-masing kami memiliki benda yang anggap saja keramat. Buku diary yang tak pernah ia isi dengan alasan tidak ingin menodai. Dan sebuah pena yang kumiliki. Berbeda dengannya yang sungguh menjaga buku diary itu. Sedangkan ku selalu memakai pena berharga yang kupunya. Pena pemberian kakekku yang sangat menyukai karya sastra. Namun pada masanya hasil dari sastra masih dipandang sebelah mata bahkan tiada harganya. Bukan bernilai rupiah melainkan tanggapan nyata. Bakat luar biasa yang Kakek turunkan padaku. Sebuah pena seolah bernyawa ketika kugoreskan pada kertas putih sebagai teman media. Berlembar kertas kupenuhi cerita indah bersama siapa saja yang ingin berlaga dalam drama. Kecintaan akan karya sastra membuatku bangga akan kemampuan yang kupunya. Bukan berarti melupakan segalanya. Tetap ku hanya seorang hamba dari Sang Penguasa Semesta.

Banyak sekali ragam bahasa yang aku kuasai. Namun tidak dengan panggilan hati untuk saling mencintai. Hingga saat ini, masih ku betah untuk sendiri. Dengan kata lain belum memiliki kekasih. Bersamanya hidup terasa indah ku rasa. Belum siap hati tuk terbuka bagi seorang pria. Kasih persahabatan cukup membuatku bahagia saat ini atau mungkin sampai nanti. Entah mengapa ku tak seberapa yakin dengan angan masa depan. Masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Meski tak sedikit juga orang memberi pandangan mengenai sosok pria idaman. Namun, masih saja belum juga ku terbayang untuk melenggang di pelaminan. Nikmati hidup selagi masih sendiri. Kejar mimpi sembari berlari.

Teringat dulu meski beda sekolah tapi masih sering bersama. Saat yang tak pernah terlewat ketika dengannya adalah membuat kisah tentang kami berdua. Ingin rasanya sukses sebagai penulis cerita. Apapun itu yang pasti indah pada pada akhirnya. Pencetus ide memang dia jagonya. Untuk olah kata per kata bagian yang paling kusuka. Terlihat sepele namun pada kenyataannya tak semua orang bisa melakukannya. Merangkai kata hingga menjadi sebuah karya yang menarik untuk dibaca bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali pertimbangan yang harus segera diputuskan.

Di suatu ketika, tiba saat kami untuk berpisah. Untuk pertama kali hati merasa berat untuk melepas kepergian sosok sahabat sejati. Demi melanjut pendidikan yang lebih tinggi, ku tak bisa menghalangi. Pena yang kuanggap berharga rela untuknya kuberi. Begitu pula dengan buku diary yang ia miliki. Kuucap janji akan hiasi diary dengan cerita manis hingga nanti ia kembali. Tak hanya buku diary yang ia beri tapi juga pengganti. Seorang pria selangkah dengan visi misi yang sama. Teman baru yang akan menemaninku. Tak tahu akan indahkah hariku tanpanya. Masih belum bisa ku terbiasa tanpa hadirnya ia.

Komunikasi masih sangat baik terjaga. Melepas rindu mengingat masa lalu via suara. Meski tak bisa bertatap muka, cukup lega mengetahui keadaan ia disana baik saja. Tak lupa kuberi tahu mengenai pertunanganku dengan sosok pengganti yang ia pilih. Memang tak butuh waktu lama untuk saling mengerti. Tanggapan yang sungguh melegakan hati. Ia ikut merasakan kebahagiaan atas berita ini. Janji akan kedatangan kala ku melangsungkan pernikahan membuat hatiku merasa senang bukan kepalang. Semakin tak sabar untuk menanti hari itu.

Janji tak selamanya bisa ditepati. Namun ku tahu betul ia bukanlah seorang yang lupa akan kata suci. Sudah tiada lagi harapan akan kedatangan. Semua impian untuk kembali bersama hanyalah angan semata. Sabarlah, tunggu aku di sana. Akan kita lanjutkan cerita indah. Haruskah ini menjadi akhir dari segala? Ku yakin tidak. Masih ada aku yang sanggup untuk menulis penuhi buku diary meski telah pergi sosok ia yang sangat mengispirasi. Bayangan kenangan seolah diputar ulang dalam ingatan. Air mata tak lagi bisa tertahankan. Kesedihan ku rasa amat mendalam. Ketika sahabat sejati harus pergi tanpa beri ku penjelasan.

Mungkin di atas sana dalam istana megah ia melihat akan keseharian dan semoga turut bahagia menanti hari indah. Tinggal hitungan minggu menuju dimana ku akan melangsungkan pernikahan. Bayangan akan kedatangan sosok ia membuat sesak dalam dada. Hanya panjatan doa yang bisa kuberi untuknya. Berbagai persiapan telah dilaksanakan. Masih tak percaya akan ku rasa hari istimewa. Jantung berdegup begitu kencang ketika lamunan tinggi melayang. Pertemuan antara pria dan wanita secara resmi akan dinyatakan sah atas segalanya. Sungguh tak terduga akan begini rasanya. Alangkah lebih senangnya ketika ia dapat ikut serta berkumpul berbagi cerita. Namun itu hanya lamunan sia-sia.

Tepat di hari kunanti, rasa bahagia tak seharusnya lekas sirna. Tiada kabar mengenai mempelai pria membuatku gelisah. Menit demi menit terlewat sudah. Langit yang biasanya cerah kini telah berubah warna. Guyuran hujan beserta kilatan cahaya seolah memberi pertanda rahasia. Kepanikan terlihat dari setiap orang yang datang penuhi ruang. Suasana hatipun kacau tak karuan. Beribu pertanyaan berjejal dalam pikiran. Cobaan apalagi yang harus kuhadapi? Hingga waktu tak sanggup bertahan. Kekecewaan sangat mendalam ketika pernikahan harus dibatalkan. Bukan lagi kesakitan tapi juga harga diri menjadi korban. Sekian banyak tamu undangan pun menjadi saksi akan hancurnya hari ini. Dimana harusnya sang pujaan hati mengucap janji sehidup semati. Tiada yang bisa kulakukan selain diam dalam lamunan.

Deringan telepon membuyarkan kesedihan. Sebuah pesan singkat kuterima dari nomor yang tak lagi asing bagiku. Entah ini hanya gurauan semata ataukah benar adanya. Tanpa kuberi tahu siapapun, segera kupacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk menelusuri alamat yang kucari. Dengan suasana hati bercampur emosi, kini ku tak bisa berfikir jernih. Bermodal keberanian demi mengungkap kebenaran rela kutelusuri walau tak yakin akan kenyataan. Tubuh seketika serasa tak berdaya ketika terlihat jelas di depan mata. Bibir bergetar tak sanggup mengucap kata. Perasaan kini telah hancur tiada tersisa. Kuharap ini bukan bagian dari cerita.

Balutan setelan jas warna terang kini menjadi suram. Gaun yang harusnya terlihat indah kini seolah tiada lagi berharga. Bekas sayatan tersamar darah bercucuran dengan kondisi tergantung mengenaskan. Bukan ini yang kuinginkan. Bukan! Di sudut ruang terlihat pula seorang wanita dengan pisau dan potongan tali sisa gantungan. Semakin ku tak percaya akan kejadian penuh tanya. Pena yang indah dipenuhi bercak darah. Sepucuk surat berada di atas meja Air mata tak lagi bisa ku hela. Tak pernah ku sangka semua ini hanyalah sandiwara. Dan ia menjadikanku objek penderita. Berita kematian yang harusnya tak kudengar. Kini ku menyesal telah menganggap ia sebagai sahabat selamanya. Hari yang seharusnya indah berubah menjadi duka. Baru ku percayai setelah ku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau benar mati bersama orang yang sangat kucintai.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Kesaksian Sebuah Pena merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal

Oleh:
Kau tahu, sesungguhnya penyesalan terdalamku adalah saat kehilanganmu tanpa terucapnya sebuah kata perpisahan. Malam itu ketika hujan turun rama menarik tangan mila penuh harap, mengucapkan rangkaian kalimat yang begitu

Tidak Harus Bersama

Oleh:
“Cinta akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.” itu salah satu quotes di instagram yang selalu membekas di pikiranku. Namaku Sara, aku berusia 17 tahun dimana kebanyakan orang bilang kalau

Cinta Masa Lalu

Oleh:
Aku pernah mengenal cinta ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namanya Fauzan, cinta pertama sekaligus mungkin cinta terakhirku. Ia adalah aki-laki pertama yang bisa membuat aku jatuh

Di Sini Ada Hati Yang Terluka

Oleh:
Di setiap cerita selalu ada cinta, dan ada rintangan. Tapi akhir cerita tetap menunjukkan sepasang kekasih yang dapat menyatukan cinta mereka. Namun tidak pernah disorot tentang seorang yang tersakiti

Aku Bukan Untukmu

Oleh:
Pagi Yang cerah, aku berjalan menyelusuri koridor sekolah, pagi ini hatiku sangat senang, Karena aku baru saja jadian sama orang yang aku sayangi dan aku cintai namanya Iqbaal Dhiafakhri

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *