Ketika Gerimis Menanti Sang Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Aku menunggumu, masih sama seperti pertama kau putuskan menjauhiku..
Masih seperti dahulu, aku menyayangimu, seperti sebelum kau layukan bunga asmaraku..
Akankah ini kan jadi yang kedua kalinya kau tinggalkan aku?

Mestikah aku menjadi gerimis yang menunggu sang pelangi meski tak selalu datang?
Atau mungkin aku mesti menunggumu dalam keabadian..
– cresentia vania pratiwi-

Butiran waktu terus dan terus menetes begitu cepat, bagai gerimis yang kian jatuh dan menggenang. Pekatnya aroma tanah yang tercium membuatku selalu nyaman pada keadaan ini. Bulir-bulirnya yang jatuh tampak mengalir lurus di atas dedaunan. Senandung alam yang begitu lembut kudapati tiap kali gerimis jatuh dari langit tempatku bernaung.

Sementara di luar sana gerimis masih menetes, aku pun masih sibuk dengan tiap lembaran kertas yang berserakan di sekitarku, sambil sesekali jariku tampak menari-nari di atas tuts-tuts keyboard laptopku. Mataku rasanya pedih sekali, kudongakkan kepala pada jam dinding di sudut kamar. Ya Tuhan, ternyata sudah tepat jam 2 malam. Mestinya aku sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu.
Mata semakin berat, kepalaku makin tertunduk sampai akhirnya terasa semakin berat dan akhirnya gelap yang kurasakan.

Beberapa saat kemudian…

“Van, Vanya.. Kamu sudah sadar?” sebuah suara lembut menyapaku ketika perlahan kubuka mata ini.
“Mmmm.. Aku kenapa Re?” tanyaku.
“Kamu tadi pingsan. Makanya Van, istirahat. Jangan terlalu ngoyo kalo kerja. Seharian kamu belum makan juga kan? Vanya, Vanya.. Kamu ini udah dewasa tapi jaga diri aja nggak bisa”, Reva tampak begitu kesal pada kelakuanku, seraya tanya mungilnya dengan telaten menyuapkan bubur padaku.
“Maaf L”, kupasang muka menyesal pada Reva.

Deadline memaksaku terus bekerja memutar otak untuk melanjutkan cerita-ceritaku. Sesegera mungkin aku ingin menyetorkan tulisanku kepada penerbit. Profesi sebagai penulis adalah impianku, jadi rasanya aku tak ingin menyiakan kesempatan yang telah Tuhan anugerahkan kini.

Pagi telah menjelang dari timur cakrawala. Semburat merah makin mebuat pagi ini lebih memesona. Sapaan sang bayu menjamahku lembut, terus mengiringi langkah gontaiku.

Hari ini aku sengaja berjalan kaki menuju kampus, lagipula jarak antara kostan dan kampusku tak terlalu jauh. Setidaknya udara pagi bisa merefresh pikiran penatku dengan semua tugas-tugasku.

Masih pukul 7.00, aku sengaja duduk-duduk dahulu di bangku yang ada di sudut taman. Tempat dimana pertama kulangkahkan kaki untuk mengarungi lagi biduk asmaraku yang sempat kandas. Meski kenyataannya belum sempat kumiliki pemilik cinta itu, dia telah memilih pergi tanpa memberiku kesempatan untuk membuktikan cintaku.

Rinduku masih sesana. Setahun berlalu, aku telah memilih untuk move on. Hanya saja tak mudah bagiku menghilangkan rindu ini. Doa itu.. masih saja mengendap diam dalam nurani. Selalu kudaraskan ‘Tuhan, bila memang dia baik untukku, aku mohon kembalikan dia entah kapan pun itu. Namun Tuhan, bila dia memang bukan untukku, mohon ajarkan aku apa arti ikhlas’.
Ahh.. Mungkin ini belum waktuku dengannya untuk bahagia.

“Haii, Van”, sebuah sapaan lembut membuyarkan lamunanku.
Kudongakkan kepalaku, mencari sumber suara itu, “Yaa..” sahutku. Lalu aku terdiam, tak banyak berkata. Seolah tak percaya dengan apa seseorang yang kusaksikan di hadapanku.
“Vean?? Bener ini kamu??” sosok tampan itu hadir lagi di depanku. Tersenyum manis padaku. Mimpikah ini? Tidak, ini nyata. Dia benar-benar di hadapanku.

Dia cinta pertamaku, cinta yang hanya sekejap saja bisa kumiliki. Terlalu banyak kenangan yang terjadi antara aku dan dia. Dia tak akan pernah terlupakan di hidupku.
Dan dari pertemuan inilah aku kembali menjalani kisah kebersamaan dengannya. Kami semakin dekat. Terajut kembali benang-benang bahagia yang sempat terputus semenjak kepergiannya.

Malam iniii..
Aku sengaja pergi menemui Vean di tepi danau tempat terakhir kali aku menatapi tubuhnya menjauh dan menghilang dari penglihatanku. Gaun hitam tanpa lengan yang kukenakan melambai-lambai tersapu angin. Malam ini langit tampak berbintang, bulan melengkungkan senyumannya. Malam yang sempurna.

Hatiku bergetar ketika Vean tiba-tiba muncul dari belakangku dengan setangakai mawar di tangannya. Tak kusangka…
“Vanya, will you be mine again?” Vean berjongkok di hadapanku. Bola matanya menatapku penuh harap, hatiku luruh.
“Don’t be joking, please..” sahutku dengan membalas tatapannya.
“I am not kidding, I don’t laugh, I don’t smile, I am serious Vanya”, getar suara itu membuatku merona.

Tapi ada sebuah rasa dalam dada yang tiba-tiba menyesak dan ragu. Entah apa.. Mungkinkah hatiku masih …
“Beri aku waktu”, jawabku lirih.

Sesaat kami diam. Menyelami rasa hati masing-masing. Kemudian Vean membuka pembicaraan, memecah kebekuan yang sedari tadi bagai membuat kelu lidah kami. “Van, masih suka nulis?”
“Ohh ehh ya ya.. Tentu..” jawabku. “Sudah ada kerjasama dengan penerbit juga”, sambungku lagi.
“Ini tulisan kamu? Aku baca yaa”, Vean menarik lembar-lembar kertas yang memang sedari kubawa.
“Yaaaaa.. boleh”, aku tersenyum.

Sejenak dia diam dan membaca tulisan-tulisanku itu. Dia hanya tersenyum-tersenyum saja. Kemudian ia berkomentar, “Baguss.. Kamu berbakat, Van. Kisahnya kerasa banget kalo ini kisah nyata. Aku yakin ini pantes buat diterbitin kok”.
Aku tersipu. “Memang ini kisah nyata”, aku berbisik dalam hati. “Inikah sebabnya hatiku ragu?”

Rahasia Tuhan memang kadang melampaui apa yang dipikirkan manusia. Pertemuan itu terjadi lagi. Penantianku, doaku seakan terjamah nyata.

Malam itu, lantunan nada-nada yang tercipta dari ujung-ujung jemarinya yang memainkan piano memukauku, lagi. Getar asmara membucah pula. Ya Tuhan, pantaskah aku mengharapkan dia lagi?
Genta memberi tepukan lembut di pundakku, tersenyum, menyapaku. Binar matanya dari balik kacamata minusnya itu membuatku terpatung. “Vanya, apa kabar?”
Kalimat pertama yang kembali kudengar setelah sekian lama tak pula kudengar suara itu. Obrolan kami berlanjut, dan detak jantungku terus berpacu tak pada ritme yang seharusnya ketika tiba-tiba ia berucap, “Aku kangen kamu Van. Susah banget ngelupain kamu”. Seriuskah ucapannya? Entahlah, yang jelas aku bahagia.
“Ohh waktu, biarlah kamu berhenti saja bila kebahagiaan ini terus tercipta untukku, darinya…”

Aku kembali berharap. Aku kembali menanti. Untuk Genta aku kembali berdoa agar kelak ia menjadi milikku. Namun bila teringat pada Vean, bagai ada sebentuk dilema yang diam-diam berani menelusup di tepian sukmaku. Pertemuan itu terjadi dalam waktu yang terlalu berdekatan.

“Masih suka lihat gerimis?” tanya Genta ketika menyambangi rumahku yang memang ketika senja itu gerimis tengah mengiramakan nada-nada alamnya.
“Masih.. Kamu masih suka lihat pelangi juga?” aku kembali bertanya. Genta hanya tersenyum, mengangguk, lalu kembali menatapi langit seakan berharap pelangi akan datang senja itu.
Bahkan bila aku gerimis pun, aku akan tetap menunggu hadirnya sang pelangi di ujung langit ini.

“Genta, apa kamu akan pergi lagi?” tiba-tiba mulutku berucap kalimat itu tanpa pernah kurencanakan sebelumnya.
Lagi-lagi Genta hanya tersenyum, “Pelangi nggak akan pernah jauh dari gerimis kok, Van”.

Senja meredup, langit tampak muram didekap awan kelabu. Payung merah tampak setia menudungiku dari butiran air yang mulai turun membasahi tubuhku. Rambutku mulai basah, tapi hujan tak berhak menghentikan kakiku untuk tetap melangkah. Aku mencarinya, bahkan aku bahagia bila hanya mampu menghirup udara dimana pun ia berada. Ia pergi, kedua kalinya ia pergi. Aku tak ingin berhenti, tak mungkin kubiarkan bunga asmaraku layu lagi.

Lelah.. Aku mulai lelah Tuhan. Masa berotasi begitu cepat, 150 hari telah melenggang santai di atas kalender di sudut kamar. Ia bagai tampak menertawaiku yang belum juga mampu menemukanmu, atau bahkan belum mampu bangkit melupakanmu.

Rindu menyusup tiap buliran darahku yang tak kusangka terus menggerogoti tenagaku, ragaku, atau bahkan jiwaku. Aku berdiri menatapi tubuhku yang makin tampak bagai mayat hidup dari pantulan cermin di hadapanku. Senyum itu, tawa itu, bahagia itu musnah sudah bersama hilangnya pelangi di hidupku.

“Bodoh kamu.. Jelas dia nggak mempedulikan cintamu, masih saja kamu berharap. Bila dia cinta dia tak akan meninggalkanmu apalagi untuk kedua kalinya. Yang membuatmu tampak lebih bodoh adalah saat kau mengabaikan cintaku. Kamu kelak akan menyesal!!! Buka matamu, ini kehidupan nyata, bukan cerita fiktif seperti tulisan-tulisanmu yang sama bodohnya itu. Dia tak akan kembali. Tak akan pernah kembali untukmu!!!”
Ucapan Vean masih mengiang di kedua telingaku saat kemarin ia datang menemuiku hanya untuk memakiku. Aku tak menduga ia begitu, ucapannya terlalu pedih untuk sampai di kedua telingaku. Beruntung hatiku tak memilihnya. Cintaku tak akan pernah salah memilih. Dan dia akan kembali.

Aku hanya mampu terbaring. Membuka mata pun aku tak sanggup. Aku hanya bisa merasakn butiran-butiran air mengalir lurus melewati selang infus, jatuh dan masuk ke dalam tubuhku. Aku juga bisa merasakan mereka ada di sampingku. Ayah, ibu, Reva, Vean, mereka ada. Di mana Genta? Saat radang selaput otak telah menyita segenap usaha, mimpi, masa depanku, dan nyawaku ia tak jua kembali.

Waktu bergulir, aku semakin hilang daya. Jiwaku gamang di penantian kuasa Tuhan. Di sela udara yang kurasakan makin sulit untuk kuhirup, aku mampu rasakan sentuhan itu, air mata itu, suara itu, dan kehangatan cinta itu. Aku masih terpejam dan tak mampu lagi kubuka, getar suara itu berucap…

“Ampuni aku Vanya, ampuni aku yang tak pernah mampu memahami keinginanmu. Ampuni aku yang terlalu bodoh menanggapi anugerah cinta ini. Aku tahu kamu mendengarku, aku yakin itu.. Dengar Vanya, aku mencintaimu. Ya aku juga mencintaimu. Hanya saja aku takut kehilanganmu bila kamu kumiliki. Aku akan hancur bila kelak kita bersama dan bila saatnya kita harus berpisah. Aku tak bisa menjalani kenyataan itu. Maka aku memilih untuk tak memilikimu, kuharap dengan begitu aku tak akan merasakan kehilanganmu. Ternyata aku salah Van, ini justru menyiksaku. Cinta itu justru semakin dalam.”

Aku masih mendengarnya, disela suara gerimis yang masih setia memeluk dunia di luar sana..
“Vanya, aku mohon buka matamu. Kamu harus sembuh. Kamu harus bisa melihatku di sini, menantimu, dan tak akan ada ketiga kalinya aku meninggalkanmu. Bangun Vanya, bukankah gerimis akan datang bersama sang pelangi?”

Aku merasakan bibirku hangat, sebuah sentuhan dengan lembut menjamah manja bibirku. Disusul butiran hangat menetes dari matanya, jatuh ke pipiku. Bersamaan itu pula aku merasakan jiwaku makin menjauhi tubuhku yang tak lama lagi akan membeku. Aku bagai melayang, aku tak bisa merasakan kecupan itu lagi. Aku hanya mampu melihat mereka mengurai air mata, mengguncang tubuhku, meratapi aku yang tak akan pernah lagi membuka mata.

Kamu harus percaya, entah pada detik yang ke berapa dan di ruang waktu yang mana, kita pasti akan berjumpa lagi. Dan tenanglah sayang, gerimis tetap akan menanti pelanginya di sana, di balik awan, di keabadian…

Cerpen Karangan: Cresentia Vania Pratiwi
Facebook: Cresentia Vania PraTiwi
My name is Cresentia Vania Pratiwi. I’m from Bandar Lampung. Now, I’m student of STKIP PGRI Bandar Lampung. I really like writing. But this is my first time to share my short story. Hopefully, you like my writing.

Cerpen Ketika Gerimis Menanti Sang Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Bawa Cinta Sampai Ke Surga

Oleh:
Cinta memang selalu menjadi sesuatu yang bisa saja menggusarkan hati seseorang yang biasanya tenang. Bisa saja membuat kita yang biasa merasa istimewa. Bisa juga biasa-biasa saja. Semua itu tergantung

Kesetiaan Hujan (Part 2)

Oleh:
“Maafkan aku Rain.” kata Rama sambil membungkam mulut dan hidungnya dengan telapak tangan kanannya. Matanya terasa perih menahan air mata yang hampir jatuh membasahi wajahnya, walau begitu menangis juga

Mataku Telah Pergi

Oleh:
Aku tak tau apakah hal ini hanya terjadi kepadaku saja. Di masa lalu aku bertemu dengannya, orang terkasihku yang tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Dan kini, bahkan

Hati yang Terluka

Oleh:
“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *