Ketika Hujan Turun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 22 September 2015

Di pagi hari aku duduk di halaman rumah menatap sebuah pelangi yang baru datang ketika hujan turun. Entah mengapa setiap hujan turun aku selalu mengingat kenangan tentang kita, jujur sampai saat ini aku tidak dapat melupakan semua tentang dirimu. Setiap hujan turun aku merasa dirimu selalu datang padaku dan mengatakan bahwa aku harus melupakan kenangan tentang kita, tapi apa yang terjadi aku selalu mengenangmu. Aku pun melamun seketika dan tiba-tiba hp-ku berbunyi. Kring! Kring! Kring.

“Halo.” ucapku pada orang di seberang sana.
“Van, sekarang lo harus datang ke rumah sakit!” jawab orang di seberang sana.
“Ada apa sih, kenapa suaramu seperti orang yang sedang menangis? Ucapku penasaran.
“Rio, Van, Rio.” jawab Nia sambil sesenggukan.
“Iya.. Rio kenapa? Jawabku masih penasaran.
“Ri, Rio masuk ruang ICU. Kemarin dia kecelakaan dan keadaannya sangat kritis..”
“Apa?”

Hp-ku pun terjatuh dan aku pun tersungkur badanku tiba-tiba membeku bagaikan es, aku pun bingung apa yang harus ku lakukan pada saat itu. Akhirnya aku putusan untuk berlari sekencang mungkin agar cepat sampai rumah sakit. Di lorong rumah sakit aku pun masih berlari sekuat tenagaku. Di ujung lorong rumah sakit aku melihat ada sesosok perempuan yang berdiri dan menangis di depan pintu. Aku pun menghampirinya.
“Van, Rio.” ucap nia padaku sambil menangis dan memelukku sangat erat.

Aku pun tidak dapat berkata apa-apa. Aku hanya bisa menitikan air mataku yang tidak dapat berhenti pada saat itu. Akhirnya operasi pun berjalan dengan baik, namun keadaan Rio masih belum sadarkan diri. Aku dan Nia hanya dapat menunggu dan menunggu. Sampai pada akhirnya dokter pun ke luar dari ruang operasi.
“Operasi berjalan lancar, hanya saja pasien masih kritis dan belum sadarkan diri..” ucap dokter dengan sangat pasrah dan jika pun Rio dapat sadarkan diri itu adalah mujikzat dari Tuhan. Itulah yang diucapkan dokter pada kami.

Setelah beberapa bulan aku dan Nia menunggu di rumah sakit, akhirnya kami mendapatkan kabar yang sangat menggembirakan, yaitu Rio tersadar dari komanya. Dokter pun ke luar dari ruang ICU.
“Pasien sudah sadarkan diri, sebelum dia sadar dia selalu memanggil-manggil nama Vania. Apakah salah satu dari kalian ada yang bernama Vania?” Ucap dokter pada kami.
“Iya, saya dok..” jawabku pada saat itu.
“Lebih baik kamu masuk, karena kayaknya ada sesuatu yang ingin pasien katakan pada anda”
“Iya dok, terima kasih..”

Aku pun sempat ragu untuk memasuki ruang ICU karena pada saat itu tiba-tiba kaki terbujur kaku dan hatiku mengatakan bahwa aku tidak usah masuk ke dalam. Aku pun sesaat terdiam.
“Van, lo kenapa?” Ucap Nia padaku.
“Gue, nggak apa-apa kok..” jawabku pada Nia.
“Lebih baik lo masuk, untuk mastiin kalau keadaan Rio baik-baik aja.” Ucap Nia yang menyuruhku masuk ke ruang ICU.

Akhirnya aku pun memasuki ruang ICU. Meskipun hatiku agak sedikit ragu. Ketika aku memasuki ruang ICU aku melihat sesosok pria yang sedang berbaring lemah dan tak berdaya dan dia menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku pun menghampirinya dan aku tidak dapat menahan air mataku yang selalu menetes tidak dapat berhenti.
“Kenapa kamu nangis?” Ucap pria yang sedang berbaring.

Aku pun hanya terdiam tidak dapat berkata apapun. Dia pun memegang erat tanganku dan berkata kepadaku bahwa, “Aku sangat mencintaimu” dan dia pun mengatakan bahwa, “jika suatu saat aku harus pergi aku mohon padamu untuk tidak menangis untukku dan kamu harus tetap tersenyum untuk melihat kepergianku..”
Aku pun hanya bisa menangis dan berkatanya padanya, “Aku juga mencintaimu”

Sebelum Rio pergi dan melepaskan tangannya dariku dia sempat mengatakan dan berjanji padaku bahwa suatu saat aku akan kembali padamu. Dan akhirnya Rio pun benar-benar pergi untuk selamanya. Aku pun berusaha untuk tidak menangis melihat dan melepaskan kepergiannya untuk selamanya dari hidupku. Aku pun mengerti bahwa cinta tidak harus memiliki. Dan aku pun berjanji aku selalu mengenangnya. Ketika hujan turun.

Cerpen Karangan: Mustika Nur Oktavia Dwi Astin
Blog: Mustikanuroktavia.blogspot.com
Facebook: Mustika Dwi Astin
Mahasiswa D3 Jurusan Public Relations Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Anggota dari Himpunan Keluarga Mahasiswa Indramayu (HIKMI) Sumedang dan pernah menjabat sebagai staff pendidikan Himpunan Mahasiswa D3 Jurusan Public Relations.

Cerpen Ketika Hujan Turun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahit

Oleh:
Jalan berliku telah ku lalui, namun tak pernah kutemukan sosok lelaki seperti dirimu. Sosok yang membuatku merekah layaknya bunga anggrek yang putih dan terlihat suci. Bukannya aku menyerah. Aku

Senyum Terakhir

Oleh:
Saat aku ingin pergi ke rumah tante aku, di jalan aku melihat seorang cowok yang sangat tampan. Aku kagum padanya saat pertama kali aku melihat senyumnya, karena itu adalah

Biruku, Jingga

Oleh:
Dia Leya, gadis manis seumuran artis cantik Ariel Tatum ini baru saja menyelesaikan studinya di SMA 63 Jakarta. Dia sekarang melanjutkan studinya di Fakultas ekonomi atau dikenal juga dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *