Ketika Perpisahan Bukanlah Perpisahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

“Apa sekarang aku harus menangis?”

Azri terdiam. Raut wajahnya terlihat sendu tak tertahankan. Setitik air mataku lihat menggenang di pelupuknya. Hatiku hancur melihat laki-laki hebat ini seolah tak berdaya sama sekali. Ia memelukku, meremas sekuat tenaga. Kali ini air matanya sukses tumpah di bahuku. Aku hanya bisa menenangkannya, mengelus punggungnya yang kekar.

“Jangan… Jangan pernah menangis, Hanifa. Tanpa seizinku kau tak boleh menangis.” Ujarnya lembut seraya membenamkan wajahnya di pundakku. Sedu sedan tak bisa ia elak. Sementara aku hanya bisa menahan dadaku yang bergejolak, mataku yang memerah, dan isak yang terhenti di tenggorokan.

Aku membalas pelukan Azri sama eratnya. Aku hanya bisa menumpahkan perasaan dalam diam. Membiarkan laki-laki ini merasakan kesetiaanku yang senantiasa ingin menghiburnya. Yang senantiasa akan terus membuat ia tegar. Walau konsekuensinya… aku tak bisa menjamin diriku sendiri pun juga akan tegar.

“Dengarkan aku, Hanifa…” Suamiku melepaskan pelukanku dan mengangkat wajahnya. Dipandanginya mataku yang memerah. Pipiku yang terasa hangat ia elus lembut. “Aku… melakukan ini bukan karena aku tak sayang padamu. Jika kau tanya seberapa sayangku padamu, maka jawabannya adalah sangaat sayang.”

Azri kemudian mengelus puncak kepalaku yang terbalut khimar. Sementara cairan bening di matanya masih saja tumpah. “Jangan pernah berpikir bahwa orangtuaku jahat padamu, Hanifa. Mungkin ini adalah rencana Allah yang terbaik buat kita.” Laki-laki ini tersenyum dalam tangis. Ia mengecup dahiku lembut sementara mataku mengatup. Air mataku tak dapat ku bendung lagi untuk tidak luruh.

“Maafkan aku, Hanifa.”

Di meja di depanku duduk, ibu Azri menggeser lampiran surat cerai beserta bolpoin hitam. Miris rasanya melihat lampiran-lampiran penuh tulisan yang menyesakkan dada itu. Sekilas dapat ku lihat namaku dan nama suamiku tertera di atas kertas tersebut. Tak ku sangka, pelupukku basah menyaksikannya.

“Aku memaksamu melakukan ini karena tidak ingin kamu terluka, Hanifa. Mengertilah.”
Aku memandangi ibu. Ia menyunggingkan senyum mengasihani. Ku seka pelupukku dan menegakkan posisi duduk. Sebanyak mungkin aku menghela napas agar menekan dadaku yang hampir melonjak. Ku balas senyuman ibu sekuat aku bisa. “Iya, Bu. Hanifa tahu.” lalu mengambil bolpoin hitam dan membuka tutupnya.

“Setelah kau resmi cerai dengan anakku Azri, akan ku carikan pengganti yang lain. Aku dengar… putra Dr. Jasman yang arsitek itu sedang mencari istri. Nanti bisa ku tanyakan pada orangtuanya. Kebetulan Ibunya adalah teman arisanku.” Aku belum sempat menggoreskan tinta di atas kertas selama mendengarkan celetukan ibu tadi. Hatiku terasa teriris. Aku ingin memberitahunya bahwa statusku masih istri dari Mas Azri. Namun tenggorokanku terasa tercekat.

Ku pandangi ibu. “Tidak usah kenalkan aku pada siapa-siapa, Bu. Insha Allah, Allah punya rencana sendiri untuk mempertemukanku dengan jodohku yang lebih tepat nantinya. Ibu tidak perlu repot-repot.” Ibu terperanjat dengan kata-kataku. Ia berdehem pelan kemudian membenarkan posisi duduknya. Sementara aku melanjutkan untuk membubuhkan tanda tangan pada lampiran surat cerai di hadapanku.

Selesai. Sudah selesai. Aku sudah selesai menandatanganinya. Termenung aku melihat lampiran tersebut. Apakah… dengan tanda tangan ini hubunganku benar-benar selesai dengan Mas Azri? Air mataku luruh lagi untuk kesekian kalinya.

Ruang sidang terasa semakin dingin. Tangan dan kakiku gemetar. Sedari tadi aku terus mengumandangkan shalawat memohon ketenangan. Aku serasa kerdil di hadapan hakim dan perangkatnya yang beraut kejam. Sekejam para peserta sidang yang sedari tadi hikmat menyaksikan, berharap sidang ini segera selesai. Selesai dengan hasil yang masih ku sangsikan: CERAI.

Di seberangku duduk pria hebat itu. Pria yang selama ini selalu mengulurkan tangannya untukku. Pria yang selalu mencurahkan kasih sayangnya padaku. Namun kali ini haruslah berbeda. Rasa sayang itu harus ia pendam dalam. Beberapa kali kami saling lempar senyum untuk saling menguatkan. Dan kali ini juga, ia melemparkan senyumnya dengan air mata tumpah. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman miris. Aku tak bisa menangis lagi. Karena aku tak diizinkan. Aku tak diizinkan Azri untuk menangis.

“Baiklah peserta sidang semuanya mari kembali fokus.” Suara hakim memecah gaduh para peserta sidang. Dengan ketukan palu beberapa kali semua peserta kembali memperhatikan jalannya sidang. Termasuk aku dan Azri. Kami menelan ludah dan bersiap mendengar statement final dari hakim.

“Baiklah semuanya,”
Semua mata tertuju pada hakim.
“Dengan disetujuinya hasil sidang cerai kali ini, maka sidang ini dianggap sah.” Palu diketuk selama satu kali. Aku menghela napas.

“Dengan ini pula, kami nyatakan sidang resmi ditutup.” Palu kemudian diketuk selama tiga kali. Peserta sidang kembali gaduh, ada yang bertepuk tangan, ada yang kasak-kusuk, dan juga ada yang buru-buru meninggalkan ruang sidang. Beban di dadaku terasa hilang, namun melihat Azri kembali membuatku merasa terhimpit.

Mas Azri menyalami hakim satu-persatu. Aku hanya memandanginya dari belakang. Setelah selesai dengan hakim ia berbalik dan memandangiku. Senyuman masih sempat ia sunggingkan padaku. Aku meneguk ludah. Ia berjalan menghampiriku. Melihat bayangnya sungguh sebenarnya aku tak lagi sanggup. Namun ia saja yang sekarang terlihat ringkih, kedua mata yang terlihat sayu, dan jenggot yang tak sempat ia cukur, memberanikan diri menghadapiku.

Lagi, aku menelan ludah.

“Hai,” sapanya dengan parau. Air mataku yang sempat jatuh segera ku seka dan membalas sapaannya, “Hai.”
Azri menggaruk lehernya yang tak gatal. “Uhm, kita… sudah tak punya hubungan apa-apa lagi ya sekarang?” tanyanya ironis. Pilu ku mendengarnya. Aku kemudian mengangguk pelan.
“Haaaah,” Ia menghembuskan napas. Kesulitan mencari kata-kata. Ia lalu memandangku yang sekarang cuma bisa menunduk, menahan perih.

“Semoga kamu bisa mendapatkan yang lebih baik daripadaku, Hanifa. Maafkan aku sudah benar-benar mengecewakanmu. Maaf.” Aku menatapnya sekali lagi. Jangan minta maaf, Mas. Jangan. Ini bukan kesalahan siapa-siapa. Tak ada yang patut dipersalahkan. Ini hanya rencana Tuhan yang sedikit pilu untuk kita rasakan.

“Selamat… tinggal.” Ia melambai, sedikit kikuk. Masih segar dalam ingatan saat aku masih diperkenankan mencium tangannya sebagai istri. Sekarang… itu tak berlaku lagi. Bukan lagi sunnah, namun haram dijalankan. Aku pun ikut melambai, sama-sama kikuk. Ia kemudian melangkahkan kaki ke luar. Berjalan menjauh. Ya, jauh. Hingga hilang dari pandanganku. Dan sekarang… aku bebas untuk terisak.

3 Bulan Kemudian…

“Mbak Hanifa, Mbak Hanifaaa!”

Aku mendengar suara teriakan Zahra adikku dari luar dapur. Ia berlari dan menepuk pundakku yang masih sibuk memasak. Karena kaget aku jadi kecipratan minyak panas dari penggorengan. Sempat berteriak, aku kemudian memarahi Zahra yang seenaknya sendiri mengganggu. “Kamu ini kenapa sih, Zahra? Nggak lihat Mbak lagi ngapain? Untung Mbak cuma kecipratan minyak, gimana kalau sampai penggorengannya jatuh dan semua minyaknya tumpah ke Mbak. Bisa melepuh kulit Mbak, Zahra! Kamu tuh yang hati-hati dong!”

Mental Zahra sedikit menciut. Ia memajukan bibirnya dan bertingkah kesal sendiri. Aku melanjutkan menggoreng. Sementara dia merasa dongkol, tak berani bicara. Tak tega melihatnya yang terus diam, aku pun memulai pembicaraan. “Kenapa Dek? Kenapa nyari Mbak? Apa yang mau kamu bicarain?”
Zahra menghela napas. Ia berjalan mendekatiku dan dengan nada sedikit kesal ia menjawab, “Ada kabar duka.”

Aku mengernyit. “Kabar duka? Dari siapa?”
“Mantan. Suamimu.” Aku terhenyak. Tanganku berhenti membolak-balik ikan di penggorengan. Sesaat, sekelebat kenangan tentang Azri terlintas di otakku. Aku menelan ludah pilu.
“Kak Hanifa, Bang Azri… meninggal tadi pagi.”

Deg.

Mataku membelalak. Mas Azri… benar-benar… pergi?

Aku mematikan kompor gas. Ku pandangi Zahra yang masih berdiri di belakangku dengan menggenggam ponsel. Ku lihat raut wajahnya yang turut menyesal.
“Aku mendengar kabarnya dari orangtua Bang Azri. Barusan beliau mengirim SMS ke nomorku.” Zahra meremas bahuku. “Aku turut berduka, Mbak. Aku nggak nyangka secepat itu Mas Azri bakalan pergi.” Air mataku luruh. Zahra semakin keras meremas bahuku. Namun dengan sigap aku memegangi tangannya tersebut dan menurunkannya. Ia sedikit kaget.
“Zahra, gantikan Mbak masak ya,” Mata Zahra berkedip. Ia mengangguk pelan tanda setuju. Aku tersenyum simpul kemudian ke luar dari dapur.

Mendadak aku merasa pening. Ku hempaskan tubuhku di atas ranjang. Berputar-putar pikiranku mengingat satu nama yang selama ini selalu ingin ku lupakan: Azri. Aku tiba-tiba teringat semua kenanganku bersamanya. Bagaimana aku dikhitbah olehnya. Bagaimana saat kami melaksanakan pernikahan. Bagaimana rasanya menjadi istri seorang Azri selama dua bulan. Dan yang terakhir… bagaimana saat kami memutuskan untuk berpisah, hingga aku berada di Purwokerto -rumah orangtuaku- seperti sekarang. Aku menelan ludah. Bayangan tentang Ibu Azri yang pertama kali memintaku untuk cerai muncul. Permintaan cerai dengan alasan yang aku benci. Alasan yang tak bisa dihindari oleh siapa pun.

“Kenapa Ibu ingin bicara berdua saja denganku?” Aku sedikit curiga saat Ibu Azri mengajakku masuk ke kamarnya. Kami berdua duduk di tepi ranjang dan duduk berhadapan.
“Dengarkan aku, Hanifa. Ku mohon… cerailah dengan Azri.”
Aku membelalak. Demi apa pun, kenapa Ibu bercanda dengan candaan yang tidak konyol seperti ini? Aku pura-pura tertawa. “Apa maksud Ibu?”
Ibu menggenggam kedua tanganku. “Aku sungguh-sungguh, Hanifa. Anakku… tidak pantas mendapatkan orang sebaik dirimu. Bercerailah.”
Aku diam, semakin tak mengerti. “Anakku… terkena AIDS.”

Deg.

Apa yang…

“Aku malu padamu, Hanifa. Aku mengaku pada semua orang bahwa anakku adalah orang paling beruntung karena ketampanannya dan pekerjaannya sebagai CEO perusahaan besar. Aku juga malu saat mengenalkan anakku pada orangtuamu sebagai laki-laki sejati. Tapi ternyata dia… hiks,” Ibu menelungkupkan wajah dengan kedua tangannya. Beliau menangis hebat. Hatiku terluka. Kenapa beliau meneteskan air mata? Apa ini bukan candaan?

“Ibu… dari mana bisa menyimpulkan bahwa Mas Azri terkena penyakit mengerikan itu? Bisa jadi dokter salah mendiagnosa.” Ibu menyeka air matanya. Dapat ku lihat mimik kasihan terpatri darinya untukku. “Dokter yang kami kunjungi adalah dokter paling mumpuni di RS Al Kahfi. Dia adalah dokter kepercayaan keluarga ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi Azri pun terima saja diagnosis tersebut.”

Apa?

“Dia mengaku… pernah minum teh dengan teman bisnisnya yang ternyata pecandu nark*ba. Entah temannya iri akan kesuksesan Azri atau apa, dia menyuntikkan cairan nark*ba ke dalam teh Azri. Tanpa Azri sadari ternyata suntikan itu bekas dipakai beberapa orang dalam pesta nark*ba malam sebelumnya. Dan lebih parahnya lagi, cairan nark*ba itu penuh dengan virus HIV.”

“Aku… tak tahu harus bagaimana menyikapi peristiwa mengerikan yang tertimpa pada anakku ini, hiks…”
Dadaku bergejolak. Tolong hentikan omong kosong ini, Bu. Mas Azri… tak mungkin terkena AIDS. Selama ini… dia baik-baik saja, bukan? Cairan bening tanpa sadar ke luar dari pelupukku. Genggaman tangan Ibu Azri lebih erat kali ini. “Ku mohon cerailah. Aku tidak ingin kehidupanmu sia-sia. Menikahlah dengan pria yang lebih baik.”

“Aku…”
“Jangan berpikir terlalu keras, Hanifa. Azri pun… sudah setuju untuk bercerai.”

Deg.

“Segera setelah mengurus perceraian, Azri akan kami bawa ke Singapore untuk rehab. Untuk memantaskan diri lagi, katanya. Memantaskan diri jika ingin memilikimu lagi.”
Degup jantungku belum mau berhenti. Mataku terus meneteskan air matanya. Aku menangis dalam diam. Sungguh, kata cerai itu sangat menakutkan untukku. Kenapa… harus aku? Mas Azri. Haruskah aku melakukannya?

“Hiduplah dengan tenang di dunia sana, Mas Azri. Ku harap surga Allah sedang menantimu dengan gembira. Meskipun sekarang kita tidak berjodoh di dunia, ku harap di akhirat Allah akan menjodohkan kita sekali lagi. Terimalah maafku karena tidak berada di sisimu sampai akhir. Sampai jumpa. Wassalamualaikum. Dariku, mantan istrimu, Hanifa Izzati.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Auliya Rahmawati
Facebook: Auliya Rahmawati

Cerpen Ketika Perpisahan Bukanlah Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love In Silence

Oleh:
Nina memandangi sebuah novel yang ada di depan matanya, ia merasa judul buku itu hampir mirip dengan kisah silamnya 2 tahun lalu. Ia mulai membuka halaman pertama buku itu

Laa Tahzan Innallaha Ma’ana

Oleh:
Malam-malamku sebulan terakhir ini bertabur doa lewat istikharah. Doa harapan senantiasa kumohon dalam sujud-sujud wajibku dan qiyamul lail. Semoga Allah segera mengabulkan doaku ini. Egois memang rasanya tak berhak

Perpisahan Tak Semanis Pertemuan

Oleh:
Gelap malam telah berganti menjadi cerahnya pagi, mentari mulai terbit dengan memancarkan seberkas sinar cahaya kekuning-kuningan. Nampak indah menghiasi langit ditemani gumpalan awan putih. Di pagi yang cerah ini

Sebongkah Luka

Oleh:
Rasa itu menggelepar, merasuki setiap angan dan mimpinya. Ada pelangi yang terbias di matanya. Warna yang mungkin mampu menciptakan butiran-butiran embun di kala fajar. Hingga di setiap dekapan khayalnya

Good Bye My First Love

Oleh:
Happy Birthday Nadya, happy birthday, happy birthday ya nad makan-makannya di tunggu … dan blablabla ya hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 18 tahun, yah beginilah kalau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *