Kini Tugasku Telah Selesai (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2015

“kenapa kamu menduakan aku? kenapa kamu menyakitiku? kenapa kamu menghianatiku? apa salahku? apa kekuranganku?”
“tidak, kamu sama sekali tidak bersalah.. kamu sama sekali tidak punya kekurangan.. justru akulah yang punya kekurangan, aku tak bisa bersamamu lagi..”
“kenapa?”
“mengertilah, aku tak mampu lagi mencintaimu.. aku tak bisa?”
“kenapa? beri aku 1 alasan..”
“jangan memaksaku..”
“aku akan terus memaksamu sampai kamu mau memberikan aku alasan..”
“aku hanya ingin kamu bahagia..”
“apa itu alasannya?”
“iya hanya itu..”
“kamu tau di mana letak kebahagiaan itu? itu ada di kamu..”
“aku? tidak.. kebahagiaan yang ada di aku hanya akan berlaku sementara di kehidupan kamu..”
“aku tidak perduli..”
“tapi aku perduli.. mengertilah..”
“untuk apa aku mengerti kebahagiaan itu?”
“untuk masa depan kamu..”
“masa depan aku hanya ingin bersama kamu..”
“aku tak bisa.. pergilah..”
“apa karena kamu mencintainya?”
“jangan memaksaku..”
“baiklah semoga kamu bahagia bersama dia..”
“iya..”

Aku menangis, aku sakit bahkan aku perih menerima semua ini Tuhan.. tapi aku tau ini yang terbaik.. aku tak bisa memaksakan hati ini, meski hati ini tulus mencintainya.. mungkin aku telah salah dari awal.. tapi perasaan ini? aku tau ini tidak salah Tuhan.. aku tak ingin dia membenciku.. sama sekali tak ingin..
“jangan menangis lagi.. kamu pasti bisa..”
“terima kasih sudah membantuku..”
“sama-sama.. hapus air mata kamu..”
“tapi ini sakit.. hati ini terluka.. hati ini rapuh..”
“percayalah, niat kamu yang tulus pasti akan dibantu oleh Tuhan..”
“sesakit inikah? seperih inikah caranya?”
“semua akan berjalan indah.. semua akan baik-baik saja..”
“aku ingin sendiri, tolong tinggalkan aku di sini..”
“baiklah.. tapi berjanjilah, jika kamu butuh bahu, hubungi aku.. kapanpun dan di manapun bahu ini akan selalu ada untuk kamu..”
“iya.. terima kasih..”

Aku berjalan di antara dinginnya malam.. di antara curahan air hujan.. aku seperti daun yang kering, yang siap terbang kemana saja jika ada angin yang membawaku.. sesekali aku memandang langit yang gelap, merasakan sesuatu yang mungkin tak bisa aku katakan.. pelangi di malam hari? apa itu ada? apa itu bisa nyata? aku ingin melihatnya meski hanya 1 kali..

Langkah kakiku membawa aku ke sebuah rumah yang sekaligus bengkel milik kakak angkatku..
“kakak, aku sudah menjalankan semuanya.. aku berhasil kakak..” air mataku jatuh saat aku masih berdiri di depan Ricko
“jangan menangis adik manis.. kamu harus kuat.. mengorbankan sesuatu itu butuh kesabaran.. air mata yang kamu jatuhkan tidak akan pernah mampu membuat kamu ikhlas.. ingat apa tujuan kamu, ingat untuk apa kamu melakukan semua ini..”
“tapi ini terlalu menyiksaku kakak.. aku takut dia membenciku.. aku takut kak..”
“percayalah suatu saat dia akan mengerti sayang.. jangan pernah menyesal melakukan sesuatu yang baik.. sini kita masuk.. nanti kamu masuk angin jika terkena air hujan terus..”
“iya kak aku masuk.. temani aku kak..”
“mana mungkin kakak membiarkan kamu sendirian di saat kamu seperti ini..”
“terima kasih kak..”
“jangan terlalu banyak terima kasih sama kakak.. aku ini kakak kamu sayang..”
“kak, bagaimana dia?”
“percayalah..”
“percaya apa kak? pasti dia sakit, pasti dia menangis.. pasti dia terluka kak..”
“itu pasti adik, tapi kamu harus ingat, semua tujuan kamu..”
“lihat semua isi pesannya kak..”
“iya nanti kakak lihat, kamu istirahat saja.. jangan menangis lagi.. malam ini tidurlah di kamar kakak..”
“iya kakak..”

Ku lihat langkah kakinya mulai meninggalkanku sendirian di kamar ini.. entah mengapa air mata ini masih saja ingin menetes.. Tuhan jika cara ini indah di mataMu tolong kuatkan hati aku yang rapuh ini Tuhan.. hanya kamu yang tau seberapa besar perasaan ini untuk dia..

“pagi adik manis..”
“pagi kakak..”
“badan kamu panas lagi.. kamu sarapan dulu, habis itu minum obat dan kamu istirahat lagi..”
“aku tak butuh makanan kak, aku tak butuh obat.. aku hanya butuh nafas yang lega.. aku ingin ke Rumah Tuhan kak.. aku ingin mencurahkan segala hatiku kepadaNya..”
“kakak akan antar kamu tapi kamu harus makan dulu, biar kamu ada tenaga..”
“baik kak..”
Terima kasih kak, sudah mau menjagaku.. sudah mau membuat aku terlihat tegar, bibirku sudah tak mampu lagi mengucapkannya pada kakak..

“tunggu aku di sini kak, aku masuk dulu..”
“iya adik.. tersenyumlah..”
“:)”

Bapa, aku minta maaf, aku ingin minta maaf padanya dan mengatakan semuanya pada dia.. tapi aku, aku tak sanggup Bapa.. aku tak ingin menghancurkan masa depannya.. tolong bantu aku Bapa.. aku ingin kuat dan tetap kuat menjalankan semua rencana ini.. jangan biarkan ada kebenciannya darinya untukku Bapa.. aku tak sanggup dia membenciku.. aku tau aku salah tapi aku melakukan semua ini karena 1 hal, aku menyayanginya tapi lebih menyayangi masa depannya.. semoga semua yang aku lakukan ini tak pernah sia-sia Bapa

“kakak, aku sudah selesai.. saat ini tolong antarkan aku ke tempat makan favorit kita kak..”
“baiklah adik..”

Aku dan kakak pergi menuju tempat makanan favorit kami.. sesampainya di sana, kakak langsung memsan makanan dan minuman yang biasa kami pesan.. tiba-tiba blackberryku bunyi.. ada pesan darinya..
“bagaimana, apa kamu sudah bahagia?”
“seperti yang kamu lihat..” balasku
“oh baiklah.. maaf jika aku menganggumu..”
“iya..”
Air mata ini terjatuh lagi..
“kakak aku tak sanggup, sampai kapan semua ini akan terjadi kak? sampai kapan senyum pahit ini menahan hati yang terluka ini kak?”
“adik, hapus pin dia..”
“aku tak bisa kak.. aku tetap ingin melihatnya meski hanya dari blackberry ini.. mengertilah kak..”
“kakak mengerti tapi tolong jangan menangis lagi.. itu akan membuat kamu semakin terluka..”

“hai..”
“hai juga.. dari mana kamu?”
“dari rumah, tadi mau cari makan, kebetulan lihat mobil kamu di sini.. jadi aku mampir dech.. ternyata ada Fay di sini..”
“iya.. kamu mau pesan apa?”
“apa aja dech bang yang penting sama seperti Faya..”
“oke tunggulah di sini..”
“oke makasih bang..”

“kamu sakit Fay?”
“tidak, hanya sedikit tidak enak badan..”
“apa bedanya dengan sakit?”
“?”
“jangan berpikir terlalu keras.. aku tau semua rasa sakit itu tapi ingat, ingat tujuan kamu Fay..”
“Andik benar..”
“iya.. kalian berdua hanya bisa berbicara tapi aku yang merasakannya..”
“siapa bilang?” kata Andik
“aku..”
“itu hanya perasaan kamu saja..”
“sudah jangan dibahas ayo kita makan dulu.. pesanan sudah datang..”
Aku menikmati makanan yang ada di depanku.. sesekali aku memandang Andik.. bukan karena aku menyukainya hanya saja aku tidak tau mengapa dia mau membantuku..
“and..”
“iya Fay?”
“aku mau nanya..”
“tanya apa?”
“kenapa kamu mau membantuku?”
“perasaan..”
“maksudnya perasaan bagaimana?”
“kamu makan saja.. jangan terlalu banyak bicara..”
“jawab..”
“nanti aku jawab..”
“oke.. aku tunggu jawaban kamu..”

Selesai makan kami langsung meninggalkan tempat itu..
“Ricko, Fay aku bawa sebentar..”
“mau kemana? adik aku lagi sakit..”
“aku yang antarkan dia pulang..”
“baiklah, jaga dia baik-baik..”
“oke..”

Di dalam mobil
“kamu kenapa menangis?”
“kamu lihat ini and..”
“Ternyata banyak pel*cur”
“ini dia?”
“iya..”
“sekarang dia menganggapku tak lebih dari kotoran and.. sakit..”
“sini blackberry kamu..”
“kamu mau apa?”
“aku mau dia berpikir lebih dewasa..”
“sudahlah jangan.. aku tak mau membuatnya marah.. jika ini yang ada di pikiran dia.. baiklah.. aku terima”
“aku yang tak bisa terima..”
“harus and, ini resiko itu..”
“terima kasih untuk semua kata-kata kamu.. jika kamu menganggapku demikian, itu hak kamu..” ku kirim pesan ini langsung padanya
“iya” balasannya
Air mata ini semakin menetes dengan deras.. apa kamu tau apa tujuanku? apa kamu tau mengapa aku melakukan semua ini? aku ingin kamu bahagia.. perbedaan kita terlalu jauh.. umur kamu dengan aku jauh berbeda.. aku tak mampu melihat masa depan kamu hancur berantakan.. harusnya jika kamu menyayangiku dengan tulus, kamu tak akan pernah menganggapku seperti itu.. kamu tau, aku juga terluka di sini.. bahkan lebih dari sebuah tusukan pisau ke nadiku.. aku menyayangi kamu lebih dari yang kamu tau.. mengertilah aku terpaksa melakukan ini semua..
“kalau kamu menangis terus, aku pastikan dia tak ada lagi di dunia ini..”
“and kenapa kamu seperti itu..”
“aku tak mau melihat kamu menangis..”
“baiklah aku tak akan menangis.. tapi jangan pernah melakukan itu..”
“untuk apa kamu menangis? dia tak akan pernah mengerti.. sudah berapa lama kamu bersama dia? apa dia pernah menemuimu walau hanya 1 kali? apa kamu yakin di sana dia selalu jujur padamu? apa kamu yakin dia mencintaimu dengan tulus? kalau saja benar, mengapa secepat itu dia menganggapmu hina? kenapa dia tak bisa menutup lukanya dengan ketegaran? kamu di sini menangis untuk dia, tapi dia di sana mengehinamu.. cukup Fay, aku tak suka caramu..”
“tapi dia begitu karena dia marah, dia terluka and.. bukan karena dia tak tulus..”
“sampai mana lagi kamu harus sadar? sampai mana lagi mata dan hati kamu terbuka? sampai kamu meneteskan air mata kamu setinggi gunung? kamu dan dia bebeda keyakinan, berbeda kota.. berbeda masa depan.. kamu dan dia berbeda 5 tahun.. dia masih sekolah sementara kamu? sadarlah Fay, masa depan kalian berbeda.. kamu tak mungkin menunggunya.. dan dia tak mungkin menikahi kamu setelah tamat sekolah.. aku tau kamu sayang dia, aku tau kamu mencintainya tapi apa kamu mau mengorbankan masa depan dia? bagaimana keluarganya? bagaimana keluargamu kalau sampai tau kamu mencintai seseorang dengan perbedaan yang sangat dalam?”
“aku tau, tapi sulit and..”
“cepat atau lambat semua akan baik-baik saja..”
Tiba-tiba blackberryku berbunyi.. lagi-lagi pesan darinya..

“walaupun aku terluka, walaupun semua ini perih.. aku akan selalu mencintaimu.. menunggumu dan aku akan selalu membuktikan aku menyayangimu lebih dari dia..”
“jangan.. jangan tunggu aku.. pergilah.. masih banyak di luar sana orang yang membutuhkan kasih sayangmu.. kamu pasti akan bahagia..”
“aku akan buktikan kepadamu.. aku menunggumu..”
“terserah..”

Entah mengapa setelah aku membaca pesan itu aku sedikit lega.. apa aku berharap sesuatu? apa aku berharap penantiannya akan tulus? ku serahkan semua ini padaMu Tuhan..
“kita mau kemana and?”
“jalan-jalan.. kalau aku mengantarmu pulang pasti sampai rumah kamu akan menangis lagi..”
“kamu terlalu tau..”
“karena perasaan..”
“perasaan?”
“apaan?”
“aku nanya maksud kamu.. kamu malah nanya aku balik..”
“iya tidak perlu dijawab..”
“terserah kamu..”
“jangan hubungi dia lagi.. jangan sampai aku tau..”
“kenapa?”
“untuk apa menghubunginya? membuat terluka?”
“berisik and..”
“oke.. sampai dia menyakiti kamu dengan kata-katanya, aku pastikan tanah ini tempat tidurnya..”
“stop and..”

“kamu suka tempat ini?”
“iya, sejuk dan nyaman iya.. kamu bisa romantis juga?”
“bisa jika itu untuk kamu bahagia..”
“maksudnya?”
“sudah terlalu malam, aku harus mengantarkan kamu pulang.. kamu juga tidak terlalu sehat..”
“iya..”

Di dalam mobil, sesekali aku memandang Andik.. entah apa yang membuatnya terus membantuku.. semoga saja Tuhan membalas semua kebaikannya.. aku tidak tau harus meminta bantuan siapa lagi kalau tidak dia.. hanya dia yang aku percaya..

4 hari tanpanya.. tanpa orang yang aku sayang.. Rian namanya.. 3 hari yang aku lalui tanpa candanya, tapi perhatiaanya, tapi kabarnya.. namun Andik yang menemaniku.. semua itu tergantikan oleh Andik.. tapi hati ini masih sama, aku masih mencintai Rian.. antara aku dan Andik hanya sahabat.. sahabat yang sudah terjalin beberapa tahun.. setiap kali aku melihat blackberry ini, aku berharap ada pesan darinya.. tapi ternyata tidak..
“kenapa kamu terus melamun?”
“And.. sejak kapan kamu di situ?”
“sekitar 15 menit yang lalu.. iya lebih kuranglah.. sudah 4 hari, apa tidak cukup air mata yang kamu keluarkan?”
“And mengertilah, ini begitu berat.. aku takut aku tak kuat menghadapinya..”
“Fay dengarkan aku.. kamu terlalu lembut, terlalu mengikuti perasaan kamu..”
“terus aku harus bagaimana? tersenyum tegar? itu sudah aku lakukan di depan kalian, tapi di sini, jauh di dalamnya.. aku terluka.. terlalu perih..” aku menundukkan kepalaku sambil menangis
“aku ingin menanyakan padamu, apa kamu mencintainya dengan tulus?”
“sangat And..”
“apa menurut kamu cinta harus egois?”
“tidak And.. tidak boleh..”
“jika begitu, untuk apa kamu menangis lagi?”
“tolong bawa aku pulang And..”
“baiklah..”

“kakak.. aku pamit dulu.. aku ingin istirahat di rumah..”
“kamu yakin?”
“iya kakak..”
“kalau ada apa-apa, atau kamu memerlukan sesuatu.. hubungi kakak..”
“iya kak..”

“aku mohon berhentilah meneteskan air mata kamu Fay.. aku tak sanggup melihat kamu menangis..”
“aku sudah mencobanya And, tapi tetap tak bisa.. biarkan aku sendiri And..”
“oke..”

“terima kasih atas tumpangannya..”
“ingat Fay, aku ada untuk kamu..”
“?”

Di dalam ruangan ini, aku kembali meneteskan air mata.. aku memandang fotonya.. kamu tau aku kangen kamu.. aku kangen saat kamu menanyakan padaku apa yang terjadi dengan hari ini.. tapi aku tau rasa kangen ini akan membuatmu semakin terluka.. Rian, andai kita tinggal di pulau yang sama, meski berbeda kota.. saat ini juga aku akan melangkah ke sana, melihatmu dari kejauhan untuk memastikan kamu baik-baik saya, itu sudah cukup.. aku kurang beruntung.. aku menenggelamkan semua harapan dan impian kita? maafkan aku..

“i miss u Fay?” pesan dari Rian
Tanpa sadar aku langsung memeluk blackberry ini dan membalas pesannya..
“i miss u too Rian?”
“kamu lagi apa?”
“aku lagi di kamar..”
“apa kamu menangis?”
“tidak.. aku baru saja mau tidur.. apa yang kamu lakukan saat ini?”
“merindukanmu..”
Rian, andai kamu tau.. rasa kangen ini lebih dalam dari rasa terluka ini..
“tidurlah, sudah malam..”
“tidak.. aku masih kangen kamu..”
“besok aku pasti ada lagi buat kamu.. sekarang kamu beristirahatelah.. jangan tidur terlalu malam, aku tak mau kamu jatuh sakit..”
“janji?”
“janji apa?”
“besok kamu kembali mengirimkan pesan untukku?”
“iya aku janji..”
“selamat malam Fay.. aku sayang kamu?”
“malam juga Rian..”
Terima Kasih Tuhan, dia masih mempercayaiku.. dia masih mencintaiku.. terima kasih Tuhan..

“selamat pagi Rian..”
“selamat pagi Fay..”
“gimana kabar kamu pagi ini?”
“sedikit tidak enak badan..”
“kamu sakit? makan dan minum obatelah..”
“aku tidak selera..”
“aku mohon..”
“lebih baik aku jatuh sakit agar aku bisa terus dekat kamu..”
“maksud kamu?”
“kamu sudah lama tidak memperhatikan aku.. kasih sayangmu tak bisa lagi aku rasakan.. tapi aku tau kamu melakukan semua ini untuk apa.. kamu sengaja menghindar dariku hanya untuk membuat aku membencimu.. kamu tau Fay, sampai kapanpun aku tak akan bisa membencimu.. meskipun kamu terus melakukan hal konyol ini.. karena aku tau di dalam lubuk hatimu yang paling dalam kamu masih menyayangiku..”
“sudahlah Rian, aku tak ingin membahasnya.. yang aku inginkan saat ini kamu melakukan apa yang aku mau..”
“jika aku sembuh, kamu tak akan pernah lagi memperhatikan aku..”
“kamu salah besar.. aku akan selalu ada di sini untuk kamu..”
“berjanjilah?”
“selama kamu masih ingin maka tugasku menjaga kamu belum selesai..”
“baiklah aku makan dulu dan minum obat.. kamu jangan lupa makan..”

Aku langsung bergegas mandi dan setelah semuanya usai, aku mengambil kunci motorku.. ku lajukan motorku menuju bengkel kakak..
“Kak.. sudah makan?”
“sudah.. kamu?”
“astaga Fay, muka kamu pucat sekali.. masuk ke dalam..” sambil menarik tanganku
“aku baik-baik saja kak, jangan memanjakan aku..”
“apa yang terlihat baik? dari luarnya saja sudah begini, apa lagi dalamnya..”
“percayalah kak..”

“aku sudah melakukan semua yang kamu mau.. sekarang apa yang sedang kamu lakukan?”
“baguslah.. aku sedang duduk..”
“di mana? sama siapa?”
“tempat yang nyaman, sama kak Ricko..”
“salam untuk kak Ricko..”
“iya nanti aku sampaikan.. bagaimana, apa kamu sudah merasa agak enakan?”
“belum..”
“kamu istirahat yang cukup dan sebaiknya kamu jangan masuk sekolah dulu..”
“tidak.. aku tak ingin bolos..”
“bukan bolos.. kamu kan lagi sakit.. perbanyak istirahat di rumah..”
“aku tak mau.. aku ingin cepat tamat sekolah.. aku ingin ke sana menemui kamu.. aku ingin membuktikan semuanya..”
“baiklah aku tak memaksa.. yang penting kamu jaga diri..”

“Fay, kamu sendiri bagaimana? kamu sakit tapi kamu malah berusaha memperhatikan dia.. ingat kondisi kamu Fay..”
“ternyata kakak melihat isi pesanku..”
“iya.. jangan sampai kakak membuang blackberrymu..”
“kakak aku mohon jangan terus menekanku.. aku lelah kak.. aku sudah mengikuti semua saran kakak.. aku berusaha menjauhinya kak, tapi aku butuh waktu.. ini perasaan kak, ini hati bukan sebuah mainan yang bisa seenaknya di hilangkan.. jangan buat aku semakin serba salah kak.. sekarang dia sakit, semuanya gara-gara aku kak, karena aku.. apa aku tidak boleh memperhatikan dia? aku semakin berdosa, aku semakin merasa bersalah kak.. aku tau aku harus melakukan ini semua, menjauhinya agar dia melupakan aku.. tapi tolong jangan secepat ini kak.. aku masih mencintainya, bahkan semua perasaan ini masih sama kak.. mengertilah bagaimana rasanya jadi aku.. tolong kak..” aku langsung pergi meninggalkan kakak..
Tak kuhiraukan lagi ketika kakak berteriak memanggil namaku agar aku berhenti melajukan motorku.. Tuhan taukah seberapa sakitnya hati ini? Tuhan aku benci semua ini.. aku benci semua takdir ini.. lebih baik aku mati saja daripada hati ini harus tersiksa.. Tuhan bantu aku, katakan pada mereka aku terluka..

Cerpen Karangan: Zee Choco
Blog: bczchoco.blogspot.com

Twitter: @ZeeChoco_
Pin BB: 28536139

baca jua cerpen lainya :
My First Love is Failed
Bukan Dia tapi Aku
Sahabat jadi Cinta
Tangisan Terakhirku
Waktu
Dendam yang Memudar
Jurang dari Keterpaksaanku
Aku Bukan Gadis Menjijikan !!
The End of My Life
Perasaan Kita part 1
Perasaan Kita part 2

Cerpen Kini Tugasku Telah Selesai (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukit Asmara

Oleh:
Bukit asmara, ya itulah namanya. Michi dan Aimun adalah dua orang yang tak saling mengenal, ketika bertemu di bukit asmara. Hari itu, keduanya bertemu dalam perjalanan menuju puncak bukit.

Geishaku

Oleh:
Kantin sekolah selalu ramai oleh anak-anak genk “Dynamite”. Sebagai ketua genk, Yogi, harus selalu mengontrol keadaan di kantin agar tidak ada keonaran di sana. Yogi yang memilikki wajah tampan,

Hujan Musim Semi

Oleh:
Hujan masih mengucur deras. Baru beberapa menit aku duduk di kursi ini. Memandangi tetes-tetes hujan yang tak berhenti. Sekolah berakhir setengah jam yang lalu. Aku enggan beranjak dari ruang

Cinta Tapi Beda

Oleh:
Dua orang sahabat. Perempuan dan laki-laki saling menyayangi. Mereka berdua banyak perbedaan, namun mereka lah yang bisa menutupi perbedaan itu satu sama lain. Mungkin keyakinan mereka membisikan napas-napas cinta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *