Kini Tugasku Telah Selesai (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2015

Bruukk, aku terjatuh.. motorku menabrak polisi tidur yang ada di jalanan.. motorku terseret dan kaki tanganku luka.. beruntung ada banyak warga menolongku.. mereka membantuku untuk berdiri, aku langsung naik ke atas motorku dan usai berterima kasih pada mereka aku langsung melajukan kembali motorku.. sakit, perih, itu yang aku rasakan.. ku lihat ceceran darah yang mulai mengalir di kaki kiriku.. aku tidak tau apa luka ini cukup dalam.. ku lajukan lebih laju lagi menuju rumahku.. sesampainya aku di rumah aku langsung mengobati lukaku.. ternyata cukup parah.. tapi entah mengapa ada yang lega di hatiku.. iya emosiku terobati.. melaju dengan kecepatan yang maksimum memang sudah menjadi salah satu caraku untuk membunuh emosi.. tidak beberapa lama teleponku berdering..
“kamu di mana Fay?”
“aku di rumah..” sambil menahan perih
“apa yang terjadi.. mengapa suaramu berbeda?”
“tidak, aku tak apa-apa.. aku lagi sibuk.. nanti saja jika mau meneleponku..”
Langsung ku matikan panggilan Andik..
“perasaanku tak enak Fay.. kamu baik-baik saja sayang?” pesan dari Rian
“iya aku baik-baik saja.. bahkan lebih baik dari sebelumnya?”
“baik bagaimana?”
“aku lega Rian..”
“apa yang terjadi.. kamu kenapa? apa yang telah terjadi katakan padaku..”
“aku berhasil membunuh emosiku?”
“kamu balapan?”
“aku lega Rian..”
“untuk apa kamu melakukan semua itu?”
“aku sudah bilang, untuk membunuh emosiku..”
“Fay, kenapa kamu tidak jaga diri..”
“aku jaga diri kok Rian.. hanya saja ini caraku..”
“cara konyol apa lagi?”
“agar aku bisa melihatmu selalu meski aku tak bisa memilikimu, memiliki semua ragamu?”
“tidak dengan cara itu Rian.. aku tau kamu berbohong.. kamu tidak pernah mungkin selingkuh.. aku tau kamu melakukan semua ini karena terpaksa..”
“tapi semua sudah terjadi.. aku melukai hatimu.. menduakan cintamu yang tulus..”
“sudah jangan pikirkan apa-apa lagi.. jangan bahas itu semua karena aku tak mau lagi mendengarkannya.. aku terima tapi aku mencintaimu.. aku tak marah padamu, asal kamu mau berjanji untuk tak lagi melakukan hal-hal konyol..”
“?”
“obati lukamu sekarang Fay..”
“baiklah Rian..”

“jadi benar, kamu kecelakaan..”
“kamu mengagetkan aku And.. ini hanya luka kecil..”
“luka kecil bagaimana? kamu jangan main-main ini bahaya, bisa infeksi..”
“sudahlah, aku baik-baik saja..”
“aku khawatir Fay.. sini biar aku obati luka kamu..”
“tidak perlu.. untuk apa.. nanti juga kering sendiri lukanya..”
“kamu terlalu keras kepala.. aku mohon biarkan aku yang mengobatinya..”
“terserah kamu..”
“bagaimana, perih kan?”
“sedikit..”
“jangan lakukan ini lagi.. jika kamu mau, aku bersedia mengantikannya..”
“maksud kamu?”
“biar aku saja yang balapan asal emosi kamu bisa hilang..”
“untuk apa kamu melakukan itu.. ini adalah perasaan aku..”
“perasaan kamu? itu juga perasaan aku..”
“maksud kamu?”
“aku mencintaimu Fay..”
“And apa yang baru saja kamu katakan?”
“iya Fay, aku menyayangimu.. bahkan sejak lama..”
“kamu jangan bercanda..”
“untuk apa aku bercanda?”
“And, sadarlah.. aku bukan cewek baik-baik.. lagian kita sudah lama bersahabat..”
“sudah lama bersahabat? bukan sejak kamu mengertahui perasaanku.. kamu menjauhi aku? dan baru beberapa minggu ini kita berkomunikasi lagi?”
“aku.. aku pikir perasaan kamu yang dulu sudah hilang.. aku pikir kamu sudah melupakannya..”
“tidak segampang itu Fay..”
“And.. aku.. aku..”
“berhentilah menjawab perkataanku.. istirahatelah.. kaki kamu sudah mulai bengkak..”
“baiklah..”
“aku akan menjagamu di sini sampai kamu tertidur..”
“terima kasih..”
“biar nanti aku katakan ke orang tuamu bahwa kamu baik-baik saja.. tadi aku bertemu mereka di ruang tamu saat mau masuk ke kamarmu..”
“terima kasih And..”
Ku rasakan belaian hangat tangan milik Andik, tangannya yang begitu tulus mengelus rambutku.. ini membuatku terasa nyaman, namun masih ada yang hilang.. rasa sakit yang ada di kaki ini tidak lagi aku rasakan saat ini.. Tuhan andai boleh, andai bisa.. ingin rasanya tangan yang saat ini ada di atas kepalaku adalah tangan milik Rian.. ku tutup malam itu dengan mimpi..

“selamat pagi Fay sayang” pesan dari Andik
“selamat pagi juga and..”
“bagaimana kaki kamu?”
“aku baik-baik saja And..”
“hari ini kamu mau kemana? biar aku saja yang mengantarmu..”
“aku tidak tau And.. mungkin lebih baik aku di rumah saja..”
“oke baiklah Fay.. kamu mau makan apa? biar aku belikan..”
“tidak And..”
“tapi kamu harus makan Fay..”
“iya, nanti aku makan..”
“iya sudah kalau begitu, aku berangkat kerja dulu.. kalau ada apa-apa tolong langsung beri aku kabar..”
“iya And..”

Aku mencoba melangkah keluar dari kamarku.. ada rasa jenuh jika berada terus di dalam kamar.. langit yang begitu cerah, begitu indah.. namun tak seindah hatiku saat ini.. tak aku sadari ternyata aku mengenggam sesuatu.. “blackberry” aku merasa ada yang hilang.. ada ucapan pagi dan perhatian dari seseorang yang hilang.. entah kemana dia, entah apa yang sedang dia lakukan saat ini.. aku hanya berharap dia bahagia menjalani hari-harinya..

Tuhan begitu beruntungnya aku jika menjadi langit.. banyak yang menemaniku.. siang dan malam akan terasa indah.. aku ingin seperti langit, tapi aku hanya manusia biasa.. yang hanya bisa menunggu sebuah keajaiban.. berikan aku selalu jalan terbaik Tuhan.. bahagiaku sederhana Tuhan, cukup melihat orang-orang yang aku sayang bahagia dan tersenyum indah itu sudah cukup bagiku, meskipun aku harus membayar semuanya dengan air mata ini.. aku tau aku berbeda dengannya, aku tau perbedaan ini sangat dalam.. tapi apa bedanya langit dan bumi? tapi aku tau aku tidak boleh menyalahkan takdir.. takdir mempertemukan aku dengannya namun takdir juga yang harus memisahkan kami.. seperti Engkau menyayangi umatMu Tuhan, tak mengiginkan mereka menangis namun Engkau punya Rencana yang jauh lebih indah daripada angan mereka, begitu juga aku Tuhan.. aku mencintainya bahkan aku menyayanginya, namun aku juga menyayangi masa depannya.. semua ini aku serahkan padaMu Tuhan.. jaga dia di sana, jangan biarkan ada air mata yang terjatuh di pipinya biar aku saja yang mengantikannya.. Tuhan jika impian ini terlalu dalam, jika harapan ini terlalu banyak, aku minta jangan biarkan dia terluka.. cukup aku saja.. secepatnya hadirkanlah orang yang pantas untuknya.. yang menjaganya dengan cinta dan kasih sayang yang selama ini dia inginkan.. aku tak mengharap banyak Tuhan, aku hanya ingin jalan yang terbaik.. aku sudah biasa untuk menangis, aku sudah terbiasa terluka.. tak mengapa, aku rela Tuhan..

“jangan menangis lagi Fay..”
“And.. aku tak menangis..”
“lalu untuk apa air mata itu keluar?”
“untuk membunuh sebuah perasaan luka And..”
“sampai kapan?”
“sampai luka itu terobati..”
“Fay, aku tau kamu mencintainya tapi jangan biarkan semuanya hancur..”
“aku tau And.. justru itu, hati ini sedang terluka karena sebuah pengorbanan.. pengorbanan yang begitu dalam And.. entah sampai kapan aku akan bertahan..”
“kamu bisa Fay.. ketulusan kamu akan mengantarkan semuanya dengan indah..”
“semoga saja And.. terima kasih untuk kamu yang selalu mensupportku..”
“kamu harus makan Fay..”
“oh iya apa kamu tidak kerja?”
“aku sengaja meminta waktu sedikit untuk mengantarkan makanan ini.. makanlah..”
“aku sedang tidak nafsu And..”
“sedikit saja, agar kesehatan kamu membaik..”
“aku tidak sedang sakit And..”
“aku tidak peduli.. bukannya kamu ingin selalu mengawasinya? bagaimana kamu bisa mengawasinya kalau kamu sendiri dalam keadaan sakit?”
“And.. terima kasih.. kamu terlalu memperhatikan aku.. sementara orang di rumah ini sama sekali tidak mempedulikan aku.. aku kangen kasih sayang itu And..”
“sudahlah, ingat kamu adalah wanita yang tegar.. kamu selalu bilang kamu bukan wanita cengeng.. masih ada aku, masih ada kakakmu Ricko.. kami akan selalu menjagamu Fay..”
“iya And..”
“aku bukakan bungkusannya..”
“iya And..”

Dia terus memandangku saat aku sedang menikmati makanan.. terima kasih Tuhan, masih ada orang yang memperdulikan perasaanku.. aku tau dia menyukaiku, dia juga menyayangiku sama seperti Rian menyayangiku, namun 1 hal yang buat aku begitu mengaguminya “Dia bersabar” dia tak memaksaku.. bahkan memaksaku untuk memahami perasaannya..
“kenapa kamu senyum gitu Fay?”
“senyum? siapa yang senyum? tidakkah kamu lihat aku sedang makan?”
“itu tadi..”
“kamu ke-GR”an And..”
“apa kamu bilang? mana mungkin..”
“tadi itu..”
“senyum seperti itu kamu jauh lebih manis Fay..”
“makasih iya And, makanannya enak sekali..”
“aku tau semua kesukaaan kamu..”
“gak semuanya And.. aku sudah selesai ini..”
“iya sudah, ayo pergi..”
“kemana? dokter..”
“untuk apa?”
“ronsen luka kamu..”
“jangan, aku baik-baik saja..”
“kamu takut?”
“tidak.. tapi aku merasa aku baik-baik saja.. aku tak suka memanjakan diri aku.. aku rasa ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh dengan sendirinya.. aku juga sudah mengobatinya..”
“tapi…”
“tidak ada tapi-tapian.. antar aku ke rumah kakak saja.. aku bosan di rumah.. tak ada yang indah..”
“baiklah..”
“tapi aku tidak mandi.. sakit solanya..”
“biar saja.. gitu saja juga sudah cantik..”
“kamu buat aku nge-fly And..”
“haha..”

Di dalam mobil
“Fay ini buat kamu..”
“coklat? terima kasih.. aku buka ya?”
“iya, habiskan saja.. asal jangan bungkusnya..”
“haha..”
“kalau kurang kamu bilang saja, nanti aku belikan lagi..”
“benarkah? kamu terkadang sok baik..”
“aku memang baik, asal itu buat kamu.. buat kamu tersenyum..”
“ini buat kamu..” sambil menyuapinya dengan coklat pemberiannya
“makasih Fay.. coklatnya gak manis sama sekali tapi yang memberikannya itu yang buat semuanya jadi manis..”
“haha.. jadi kalau coklat ini aku campurkan sesuatu.. kamu juga akan memakannya?”
“iya asal itu dari kamu..”
“haha..”

“sana turun, jangan sedih lagi iya..”
“terima kasih And.. hati-hati di jalan..”
“iya Fay..”

“Fay.. hai Andik..”
“kakak..”
“hai Ricko, aku duluan..”
“oke..”

“sudah makan kamu Fay?”
“sudah kak..”
“bagaimana kaki kamu?”
“seperti ini kak..”
“maafkan atas semua sikap kakak.. gara-gara kakak memaksamu kamu jadi seperti ini..”
“bukan salah kakak.. kakak berhak kok untuk meminta aku tidak menangis.. ini semua salah aku bukan salah kakak.. sudahlah kak, lupakan hari itu.. aku ke sini bukan untuk mengigat hari itu tapi untuk bertemu kakak..”
“iya Fay.. kita cek kondisi kamu di Rumah Sakit Fay..”
“tidak kak.. kakak tau kan aku tidak suka..”
“kakak hanya takut ada luka yang membahayakan tubuh kamu Fay..”
“berdoa saja kak.. semua akan baik-baik saja..”
“tapi kalau sakitnya membuat kamu menangis, kamu harus ke Rumah Sakit..”
“iya kak.. Fay janji.. kakak sedang melakukan apa tadi?”
“biasa dik.. ada pelangan yang mengeluh soal motornya..”
“Fay bantuin iya kak..”
“jangan Fay.. kamu lihat aja.. kaki kamu bukannya lagi sakit?”
“iya kak..”
“kak..” kataku kepada Ricko
“iya..”
“dia tidak ada kabar kak..” mulai menangis
“mungkin lagi main sama temannya..”
“kakak benar..”
“sudahlah jangan ingat dia lagi Fay..”
“belum sanggup kak..”
“apa perasaan kamu terlalu dalam untuknya? apa kamu melihat yang semua dia lakukan? ingat Fay, kamu jauh sama dia.. kepercayaan yang kamu berikan belum tentu bisa membuat kamu mendapatkan kebahagiaan.. apa kamu yakin semuanya?”
“ada keraguan kak.. tapi cinta ini membutakan keraguan itu..”
“kakak tau kamu begitu mencintainya.. mencobalah untuk peka dengan lingkungan yang dekat bukan dengan yang jauh..”
“maksud kakak?”
“And..”
“kenapa sama And kak?”
“bukannya dia…”
“kakak mengetahuinya?”
“kakak ini cowok Fay sayang, jelas kakak tau kenapa dia melakukan ini semua.. tapi dia begitu tulus, seperti biasanya banyak cowok yang hanya mencari kesempatan dalam kesempitan.. tapi apa kamu melihat dia begitu?”
“Fay tak tau kak..”
“lihat dari hati kamu sayang..”
“iya Fay juga berpikir hal yang sama dengan kakak..”
“mulai memikirkannya?”
“apa lagi maksud kakak?”
“jujurlah sama kakak..”
“Fay memang memikirkan ketulusan And kak, tapi jauh di lubuk hati ini Fay lebih memikirkan Rian di sana..”
“pelan-pelan sayang.. lakukan yang terbaik untuk hidup kamu..”
“dengan cara apa Fay bisa melihat yang terbaik kak?”
“sekarang ini.. apa Rian memperdulikan kamu? bisa saja di sana dia berkenalan dengan orang lain untuk melupakan kamu.. Fay, jangan karena cinta kamu jadi buta.. buta akan sebuah kebenaran.. bukan kakak ingin mematahkan semangat kamu.. tapi lihatelah nanti kedepannya, kamu pasti akan tau.. apa dia menunggumu dengan setia atau malah sebaliknya..”
“Fay pasrah kak.. Tuhan pasti melakukan yang terbaik..”
“jika Tuhan melakukan yang terbaik untuk kamu tapi kamu tidak mengikhlaskannya, bagaimana bisa kamu menjalaninya?”
“sekarang Fay belum tau mau melakukan apa kak.. Fay hanya berharap Rian menepati janjinya untuk menunggu Fay, memberikan Fay waktu untuk berpikir semua ini..”
“kakak tidak mau lagi kamu tersakiti.. ingat, ada kakak yang selalu mendoakan kamu..”
“terima kasih kakak..”
Pandangan mata kakak membuat aku merasakan kalau kakak ingin aku berpikir atas apa yang akan aku lakukan.. kakak benar, aku tak sepantasnya begini.. menangis untuk orang yang belum tentu menangis untukku di sana..
“And.. aku ingin bertemu usai kamu pulang kerja nanti..”
Aku mengirimkan pesan untuk And.. tapi And tidak membalasnya, mungkin dia lagi sibuk.. pasrah? apa hanya ini yang bisa aku lakukan? tidak, aku rasa tidak.. aku pasti bisa melakukan yang terbaik.. Rian, kenapa kamu tidak ada kabar? apakah kamu tau aku di sini menunggumu? apakah kamu tau aku di sini merindukan kamu? apa hanya aku yang ingin membahagiakan kamu tapi kamu tidak?

Cerpen Karangan: Zee Choco
Blog: bczchoco.blogspot.com

Twitter: @ZeeChoco_
Pin BB: 28536139

baca jua cerpen lainya :
My First Love is Failed
Bukan Dia tapi Aku
Sahabat jadi Cinta
Tangisan Terakhirku
Waktu
Dendam yang Memudar
Jurang dari Keterpaksaanku
Aku Bukan Gadis Menjijikan !!
The End of My Life
Perasaan Kita part 1
Perasaan Kita part 2

Cerpen Kini Tugasku Telah Selesai (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tertinggal (Part 2)

Oleh:
Akhirnya dokter pun sampai di ruangan Dimas. “maaf bu, biar saya cek dulu keadaan Dimas”. “iya dok”. “keadaan Dimas sudah membaik, tolong jaga pola makan dan istirahat Dimas” “iya

Apakah Masih Pantas?

Oleh:
Malam ini terasa sangap sepi, hp pun tetap dengan layar hitam tanpa led merah, aku selalu melihat hp ku dan selalu membuka akun sosial ku dan berharap ada kabar

Ku Ingin Dia Tahu

Oleh:
“gue gak suka sama dia yan, gue gak mau dia. gue benci. dia terlalu ngekang gue” sambil menangis. “yang sabar yah vit, kalau gitu lo putusin aja dia”. “udah

Maafkan Aku Egar

Oleh:
Tes… Air mata itu jatuh kembali di pipi chubby seorang gadis. Ia terus memikirkan perasaan yang notabene adalah mantan pacarnya ‘Maafkan aku’ — Gadis itu tengah menikmati angin di

Kita

Oleh:
Aku duduk termenung di atas sebuah kursi di teras kamarku. Menatap bintang dan bulan, berharap mereka mengerti perasaanku yang tak menentu. Ya, sangat tak menentu. Beberapa bulan lalu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *