Kisah Cinta Malaikat Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 26 December 2015

Panggil saja Pratiwi seorang gadis desa yang baru saja merantau di Jakarta. Dia gadis tomboi yang dulunya begitu badung akan tetapi ia sangat baik. Saat ia berada di kota metropolitan ia masih begitu polos, sampai suatu ketika saat Pratiwi pulang dari rumah sepupunya ia naik metromini bersama kakaknya Tina dan ternyata ia ditipu sama kernet metromini itu. Pratiwi begitu sedih dengan kejadian dan kakaknya Tina marah setelah mengetahui mereka ditipu, lalu ada seorang pemuda yang bertanya.
“Kalian kenapa?” tanya pemuda.
“kami habis ditipu sama kernet metromini tadi.” jawab Tina.
Lalu sang pemuda berkata, “sudah jangan bersedih ikhlaskan saja, lain kali hati-hati.”

Dan di situ awal mula mereka bertemu dan sang pemuda pun berkenalan, ia bernama Aziz. keesokan harinya saat Pratiwi dan Tina pulang dari mencari kerja, Pratiwi kehilangan hp-nya lalu mereka bertemu dengan Aziz dan ia pun tidak sendiri. “Kalian ngapain di sini?” tanya Aziz
“ku kehilangan hp.” jawab Pratiwi panik.
“Kok bisa?” tanya pemuda yang belum mereka kenal.
“aku gak tahu.” jawab Pratiwi sedih.
“Ya sudah jangan menangis, kita bantu cari ya!” ujar pemuda itu.

Panggil saja Arvan pemuda baik temannya Aziz. Dan di situlah mulai tumbuh benih-benih cinta antara Pratiwi dan juga Arvan. Semenjak kejadian itu mereka jadi lebih sering bertemu dan pada suatu hari Arvan menyatakan cinta kepada Pratiwi, Pratiwi pun juga diam-diam menyimpan rasa cinta itu kepada Arvan. Mereka selalu menjalani hari hari bersama dalam keadaan senang maupun susah. Cinta mereka yang begitu kuat yang mampu membuat mereka bertahan dan terbangun ikatan batin yang tak bisa dibohongi. 5 bulan berlalu dan Pratiwi pun terkejut saat tahu jika Arvan adalah non muslim.

“Apa benar kamu bukan muslim?” tanya Pratiwi gugup.
“Kenaapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” jawab Arvan.
“Tidak, aku hanya ingin tahu kebenarannya saja.” jawab Pratiwi mengambil napas supaya tenang.
“Hmm, iya aku seorang non muslim.” jawab Arvan tenang.
“Apa? Kenapa kamu tidak pernah cerita masalah ini?” jawab Pratiwi kecewa.
“Sudahlah semua sudah terlanjur, kita jalani saja.” jawab Arvan.
“Mustahil kita bisa bersatu!” jawab Pratiwi marah.
“Semua tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak. Cinta yang akan mempersatukan kita sayang.” ujar Arvan sambil memeluk Pratiwi supaya lebih tenang.

Tangis Pratiwi pun pecah dan waktu tidak bisa diulang kembali. Lalu mereka buat sebuah komitmen bersama dan tetap akan melanjutkan hubungan mereka. Akan tetapi pada suatu hari Pratiwi bertemu dengan seseorang masa lalunya dan Arvan mengetahui itu. Saat Pratiwi berusaha menemui Arvan untuk menjelaskan semuanya, ternyata Arvan sudah pergi dan ia tak pamit dengan Pratiwi. Pratiwi pun menangis dan ia masih berharap bisa bertemu kembali dengan Arvan.

Sekian lama Pratiwi menunggu dan akhirnya Arvan pun memberi kabar kalau ia baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu dan aku sangat menyayangimu malaikat kecilku -panggilan sayang Arvan untuk Pratiwi- aku janji akan menemuimu secepatnya.” ujar Arvan. Dan Pratiwi pun senang mendengar berita dari Arvan, ia pun senantiasa menunggu Arvan kembali.

Beberapa bulan kemudian Arvan pun kembali dan segera menemui Malaikat Kecilnya. Di saat Arvan tiba di tempat favorit di mana mereka sering bertemu, ia pun kaget melihat semuanya berubah. Tempat itu tampak lebih indah, pohon yang hijau dan bunga-bunga yang bermekaran seolah-olah mereka ikut menyambut kedatangannya. Terlihat sosok wanita yang sedang duduk melamun sendiri dan ternyata itu adalah Pratiwi -Malaikat Kecilnya Arvan. “Aku di sini selalu menunggumu, setiap aku merindukanmu, aku selalu memejamkan mataku dan merasakan hadirmu di sini menemaniku. Tuhan aku ingin segera bertemu dengannya, aku sangat merindukannya.” ucap Pratiwi dalam hati.

Tak lama kemudian terdengar suara memanggilnya. “Malaikat kecil, malaikat kecil” panggil Arvan lembut.
“Suara itu seperti suara? Ah tapi tak mungkin, mungkin hanya halusinasiku saja karena terlalu merindukannya.” ujar Pratiwi.
“Kau tidak sedang berhalusinasi Malaikat kecil, ini aku Arvan orang yang selalu kamu tunggu,” ujar Arvan.

Pratiwi pun menengok dan langsung memeluk Arvan erat tanpa berkata apapun. “Malaikat kecilku kenapa kamu menangis?” tanya Arvan. Pratiwi pun tidak menjawab dan ia hanya meneteskan air mata. Arvan pun yang tahu Pratiwi menangis langsung mengusap air matanya dan menyenderkan kepala Pratiwi di bahunya. Pratiwi pun sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Arvan. Mereka saling melepas rindu dan Pratiwi pun menceritakan hal-hal yang ia lakukan selama ia tak bersama Arvan. Dua sejoli yang tak pantang menyerah dengan semua rintangan itu pun harus berada dalam konflik yang serius. Lagi-lagi masalahnya karena perbedaan agama.

“Mungkin ini saatnya kita akhiri semuanya.” ujar Pratiwi.
“Kenapa? Bukannya kita fine-fine aja?” jawab Arvan sedikit emosi.
“Kita memang baik-baik saja tapi hubungan kita yang tak baik, sadarlah kalau kita tak akan pernah bisa bersatu Arvan!” jelas Pratiwi.
“Why not? Apa karena perbedaan yang membuat kamu begini? Kita udah pernah bahas ini sebelumnya kan?” tegas Arvan.
“Iya memang kita udah pernah bahas masalah ini, tapi kan?” sahut Pratiwi berkaca-kaca.

“Kenapa malaikat kecilku, kamu tak percaya akan takdir Tuhan? Semua pasti bisa dilakukan dengan cinta kita yang sangat kuat. Tak perlu kau cemas begitu!!” Jawab Arvan berusaha menenangkan Pratiwi.
“Bukan begitu Arvan, aku hanya tidak ingin semua sia-sia dan hanya menambah luka nantinya.” Ujar Pratiwi sambil menangis.

Arvan yang melihat wanita yang dicintainya menangis, ia pun tak tega dan langsung menenangkan perasaan Pratiwi yang sedang kacau sekarang. Arvan pun bingung dengan pebedaan mereka yang tidak bisa untuk bersatu. Pada suatu hari Arvan bertemu dengan Pratiwi di tempat favorit mereka. Arvan yang tak sanggup melihat kesedihan di wajah wanita yang ia cintai pun menunduk.

“kamu kenapa tak mau melihatku? Apa aku sudah tak berarti lagi untukmu?” Tanya Pratiwi.
“sampai kapan pun kamu selalu berarti untukku dan kamu tak akan pernah tergantikan.” Jawab Arvan sedih.
“Lalu kenapa kamu tak mau melihatku Arvan?” Ujar Pratiwi kesal.
“karena aku tidak ingin melihat hujan lagi, yang aku inginkan melihat pelangi indah setelah hujan itu reda.” Jawab Arvan.

“Kamu itu Malaikat Kecil yang selalu membuatku bahagia selama tubuh ini masih bernapas. Dan cinta kita itu seperti Menara yang dibangun kokoh menjulang tinggi keatas.” Tambah Arvan.
“Maafkan aku Arvan, aku juga tidak ingin perpisahan ini terjadi. Aku sangat mencintaimu” Sahut Pratiwi sambil menangis.
“Sudahlah jangan menangis, semua ini bukan salahmu dan juga bukan salahku. Ini terjadi karena kehendak Tuhan, jadi tak perlu disesali sayang.” Jawab Arvan langsung memeluk Pratiwi yang sedang menangis sedih.

Cinta mereka yang begitu besar tidak bisa menyelesaikan perbedaan mereka. Sejak saat itu Arvan dan Pratiwi pun menjalani kehidupan mereka masing-masing. Sesekali Pratiwi ataupun Arvan main ke tempat favorit mereka, di mana banyak kenangan-kenangan indah yang dulu pernah dijalani bersama.

Cerpen Karangan: Septi Eka Pratiwi
Facebook: Septi Eka Pratiwi

Cerpen Kisah Cinta Malaikat Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Perpisahan

Oleh:
Lugu, perempuan berambut pirang dengan senyum yang menawan. Langkah anggun yang perlahan mendekati, seakan menambah aura kecantikan yang terpancar darinya. “Lama hal(pertemuan) ini kunanti” bisiknya di telinga sebelah kanan.

Cinta Karin

Oleh:
Cinta bukan sekedar hasrat ingin memiliki kecantikan nya atau apapun yang dimilikinya dalam bentuk sempurna. Cinta berawal dari hati yang keluar tanpa sadar telah menyentuh sisi terbaik dalam menyampaikan

I Will Love You (Part 1)

Oleh:
Perasaan panik gadis itu pun mulai terlihat. Sambil mengumpat di dalam hatinya, ia mencoba berlari menuju daftar kelas, sekolahnya yang baru. Setelah mencari daftar kelasnya, ia segera berlari menuju

Cinta Tak Direstui

Oleh:
“Bila ada pertemuan di dunia ini maka akan ada perpisahan di sampingnya, bila ada kebahagiaan di dunia ini maka akan ada kesedihan di sampingnya.” Aku masih tetap dengan tangisku,

Cinta Yang Tak Kesampaian

Oleh:
Agustus 2010 awal pertamanya aku menginjakkan kakiku di bangku SMA yang menjadi pilihanku. Em.. perkenalkan terlebih dahulu nama aku tiya satya, cukup senang aku waktu itu karena masa-masa aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *