Kisah Kasih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

Pagi itu nampak indah sekali, mentari bersinar dengan cahaya hangatnya dan burung-burung berkicau dengan merdunya. Oh ya, namaku Aisyah. Aku seorang siswi baru yang hari ini akan menjalani Masa Orientasi Siswa di Sekolah Menengah Atas. Hari pertama sekolah, aku sangat antusias untuk segera melihat sekolah baruku. Dengan tergesa-gesa aku segera berangkat dan berpamitan kepada kedua orangtuaku. Jam sudah menujukkan pukul 07.00, Setiba di sekolah bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Sialll… Aku terlambat dihari pertamaku masuk sekolah.

Akhirnya aku dan teman-teman yang lain tidak diizinkan untuk masuk, dan kami diarahkan kesiswaan untuk mendapatkan sangsi. Namun ada yang menarik perhatianku, dari sekian banyak siswa baru yang belum kukenal, mataku tertuju pada seorang lelaki yang nampaknya masih seumuran denganku, dia terlihat tampan sekali, entah karena aku memang menyukai tampilan fisiknya atau mungkin aku telah jatuh hati padanya. Setelah diberikan sangsi oleh kesiswaan kami beranjak pergi dan bergegas menuju lokasi kerja yang telah ditentukan.

“OH GOD” tidak kusangka aku dan lelaki tampan tadi ada di lokasi yang sama, entah ini kebetulan ataukah memang aku dan dia ditakdirkan untuk kembali bertemu. Dan tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk punggungku, rupanya itu Putry dia teman SMPku dulu dan sekarang kembali satu sekolah SMA denganku “Woyy… Serius banget.. lagi merhatiin siapa tuh?” suara putry membuyarkan lamunanku. “Ehh.. Putry.. bikin kaget saja, nggak lagi merhatiin siapa-siapa kok,”. “Ahhh.. bohong, bilang aja kamu lagi merhatiin Si Dimas”, “Ohh.. jadi cowok itu namanya Dimas”. “Tuhh kan ketahuan, Ciieee… perhatiin Dimas, jangan-jangan kamu naksir yah sama Dimas?” Perkataan Putry membuatku berfikir apakah benar aku menyukai dimas, padahal aku baru pertama kali jumpa dengannya, Mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama.

Masa orientasi pun berjalan dengan lancar selama 4 hari, selama MOS itulah aku tahu bahwa Dimas adalah tamatan dari Salah satu sekolah yang cukup terkenal di Ende. Dia adalah salah satu murid berprestasi di Sekolahnya, berbeda denganku yang hanya anak pemalas dan hanya bisa mendapat nilai pas-pasan saja.

Setelah MOS berlalu, minggu berikutnya Kegiatan Belajar Mengajar sudah dimulai. Karena keinginan orangtua, aku terpaksa memilih program Study MIA padahal aku sangat tidak suka dengan mata pelajaran yang berkaitan dengan Matematika. Tidak kusangka, ternyata Dimas juga mengambil program studi yang sama denganku dan ternyata kami satu kelas, aku benar-benar tidak percaya, ini seperti mimpi bagiku, sepertinya tuhan memang telah mentakdirkan Dimas untukku. Hahaha…

Hari-hari berlalu, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan kelas dan teman-teman baruku. Aku dan Dimas pun sudah akrab, karena Dimas biasa membantuku dalam belajar, aku memang tidak begitu pandai dalam ilmu hitung-hitungan, oleh karena itu Dimas biasa membantuku dalam mengerjakan tugas dan juga ia sangat sabar dalam mengajariku materi yang belum aku mengerti. Semakin aku dekat dengannya, aku semakin menyukainya dan sikapnya kepadaku membuatku benar-benar jatuh hati. Namun, aku takut, jika rasaku padanya semakin dalam maka semakin sulit untuk aku memendam rasaku. Aku pun mulai sedikit menjauh darinya, tapi semakin aku menjauh, semakin dia mendekat padaku. Aku tidak tahu Apakah ini cara tuhan untuk mendekatkan kami atau hanya sebatas kebetulan.

Setiap hari yang kulalui berjalan dengan indah apalagi sekarang aku dan Dimas sudah sangat akrab, kami biasa belajar bersama dan jalan-jalan berdua. Karena hubungan kami semakin akrab dan kini kami bersahabat, aku pun memutuskan untuk memendam perasaanku karena aku tidak mau merusak hubungan persahabatan kami hanya karena cinta sendirianku ini.

Hari, bulan, dan tahun berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa sekarang aku sudah duduk di kelas 3 SMA dan beberapa bulan lagi akan menghadapi Ujian Nasional. Di saat-saat terakhir masa SMA ku ini. Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Dimas, aku tahu mungkin ini akan membuat hubunganku dan Dimas renggang, tapi aku sudah bertekat akan mengatakan perasaanku pada Dimas. Walau ini akan menyakitkan karena persaanku yang tak terbalaskan, aku sudah tidak bisa memendam perasaan ini sendirian, 3 tahun aku memendam cinta untuk orang yang hanya menganggapku teman.

Besok adalah hari terakhirku di sekolah ini, aku pun menemui Dimas dan mengajaknya bertemu malam ini. Karena besok aku sudah harus berangkat ke luar kota untuk mengurus syarat-syarat masuk universitas, kebetulan aku sudah mendaftar di salah satu Universitas di Kota itu, dan aku lulus dalam tesnya. “Dimas.. ntar malam kamu ke rumahku yaa.. ada yang mau aku omongin ke kamu, penting banget..”. “Apaan sih aisyah? Ngomong aja sekarang..”. “Nggak bisa, aku mau ntar malem kamu ke rumahku ya, nggak boleh nggak. Aku nggak mau tau kamu harus dateng”. “Ya udah, iya iya.. ntar malem aku kerumahmu, bawel banget” Kata dimas sambil mengacak-acak rambutku, dia memang selalu begitu padaku. Dia selalu membuatku nyaman saat dekat dengannya dan dia selalu memperlakukanku dengan istimewa, mungkin karena dia menganggapku sebagai sahabatnya.

Malam pun tiba, jam sudah menunjukkan pukul 07.30 tapi Dimas tak kunjung datang, kuhubungi nomornya dan ternyata nomornya sedang diluar jangkauan. Ahhh… sepertinya Dimas tidak akan datang. Dengan perasaan kecewa, kututup pintu rumahku. Dan aku mulai berkemas, karena besok pagi aku harus berangkat.

Samar-samar kurasakan silau di kedua mataku, rupanya sudah pagi. Ibu dan ayahku sudah siap untuk mengantarku. Aku pun segera bangun dan mandi, sebelum itu sempat kucek ponselku, aku masih mengharapkan ada sms atau telepon dari dimas. Tapi ternyata tidak, Ahh.. sudahlah.. mungkin aku yang terlalu berharap, akan lebih baik jika perasaan ini akan tetap kupendam dan biarkan Dimas tidak mengetahui perasaanku padanya”.

Selesai mandi, aku segera sarapan dan berangkat ke terminal karena bus yang ku pesan akan menunggu disana. Semua urusan sudah diurus ayahku, setiba di sana aku langsung duduk di salah satu kursi dekat pintu masuk, aku masih menunggu kabar dari Dimas. Ku cek ponselku ternyata tidak ada berita apapun dari dimas, aku pun mengirim pesan kepada Dimas “Dimas, hari ini aku akan pergi.. aku berangkat yah, jaga diri kamu disini, jangan nakal selama aku nggak ada, maaf nggak bisa pamit ke kamu”.

Bus yang kupesan sudah datang, Kondektur bus sudah berteriak-teriak mencari penumpang. Kupikir, aku akan masuk saat bus akan berangkat, aku tidak tahan menghirup bau tidak sedap di dalam bus. Tepatnya 15 menit sebelum berangkat, kulihat seorang pemuda berlari dari arah pintu masuk dan sepertinya aku mengenalnya, Yaa.. itu Dimas..

Kulambaikan tanganku padanya, dia menuju ke arahku. “Kamu ngapain ke sini? Aku kira kamu nggak bakal ke sini..”. “Nggak mungkin aku nggak temuin kamu, maaf karena semalem aku nggak dateng. Aku beliin ini buat kamu” dimas menyodorkan sebuah kotak music padaku, aku buka kotak musiknya dan di tengah kotak music itu ada sepasang kekasih yang sedang bergandengan. “Kotak musiknya bagus, aku suka. Makasih ya”. Lalu dimas menatapku, aku tidak bisa menatap matanya.

“Aisyah..” kudengar ia memanggilku. “Iya, kenapa?”. “Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu”. Seperti di sambar petir, aku tidak percaya dimas mengatakan hal itu, kalimat yang bertahun-tahun inginku dengar, hari ini tepat di depanku dia mengatakannya. “Hah??? Apaan sih kamu, jangan becanda gitu deh. Nggak lucu tau”. “Aku nggak becanda, aku serius. Aku udah suka sama kamu dari awal kita masuk sekolah dan selama ini, aku nggak berani bilang soal perasaan aku ke kamu karena aku takut hubungan kita rusak karena perasaan ini”. Aku terpaku mendengar apa yang dimas katakan “Dimas, kamu nggak becanda kan?”. Kupastikan lagi perkataan Dimas, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. “Nggak, aku serius. Kamu mau nggak jadi pacarku?”. “Iya, aku mau. Aku juga udah lama suka sama kamu, aku nggak nyangka kalo kamu juga suka sama aku. Malahan aku suka sama kamu sejak pertama kita masuk sekolah, waktu kita dihukum bareng”. “Berarti kamu suka sama aku 15mnt setelah aku suka sama kamu, aku suka sama kamu waktu aku lihat kamu lari-lari dekat pagar sekolah”. “Ahh.. kamu bikin aku malu aja” kami pun tertawa bersama. Aku merasa sangat bahagia, Akhirnya penantianku terjawab sudah.

Tidak lama setelah itu, bus sudah akan berangkat dan aku harus segera pergi, aku pun berpamitan kepada orang tuaku dan Dimas. Sebelum pergi, Dimas berkata “hati-hati di jalan sayang, jaga diri kamu di sana, jangan terlalu capek, aku tunggu kamu 2 minggu lagi.” Aku hanya membalas perkataan dimas dengan senyum. Aku pun membawa tas ranselku dan Dimas mengantarku sampai pintu bus.

Bus yang kutumpangi meninggalkan terminal dan kulambaikan tanganku kepada dimas dan orang tuaku. Kulihat Dimas tampak sedih melepas kepergianku. Sudah satu setengah jam perjalanan, tiba-tiba terjadi goncangan dari bawah badan bus, semua penumpang berteriak, bus itu terus melaju dengan cepat, dan tiba-tiba…

Seketika kubuka mataku, aku tak ingat apa yang terjadi barusan.. aku melihat sekelilingku, kulihat ayah, dan ibuku di sana dan kulihat Dimas sedang menangis. Aku tak tahu apa yang terjadi. Kucoba bertanya pada dimas, tapi ia tidak menjawab, ku bertanya pada ayah dan ibuku mereka pun tak menjawab. Nampaknya ini di rumah sakit, tapi siapa yang sakit? Dan apa yang sebenarnya terjadi?.

Lalu seorang berpakaian putih keluar dari sebuah ruangan dengan wajah sedih dan dia bercakap-cakap dengan ayah, aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan, yang kudengar hanyalah ketika ia mengatakan bahwa aku telah meninggal dunia. Apa maksudnya? Aku masih hidup, dan aku masih berdiri disini dalam keadaan sehat. Ayah.. Ibu.. aku disini.. Ku coba memeluk ibu dan ayahku, tapi tidak bisa, Kulihat ayah memluk ibu, dan ibu tampak sangat terpukul mendengar perkataan dokter tadi. “Ibu.. aku di sini.. aku tidak meninggal bu, Dimass.. ini aku, aku di sini untukmu” kucoba menyentuh dimas, tapi aku hanya seperti sebuah bayang yang tidak nyata.

Tidak lama kulihat beberapa orang mengeluarkan sesosok wanita yang berdarah-darah dan penuh luka. Apa Itu aku? Tubuhku terbaring lemah di tempat itu? Wajahku tampak pucat.. TUHAN apa yang terjadi? Apa aku benar-benar telah mati?

Kucoba mengerjar orang-orang itu dan mereka membawa tubuhku ke sebuah kamar, dan kemudian mereka membawa tubuhku ke rumah, aku kemudian dimandikan dan disholatkan, aku tidak percaya, aku telah mati. Aku melihat semuanya dengan jelas, dan ibu, Ibu tampak lemas melihat jasadku yang tlah terbujur kaku tak berdaya. Dimas mencoba menenangkan ibuku, yang masih sangat shok. Kemudian Mereka membawaku ke pemakaman. Di sana aku masih melihat Dimas dan orangtuaku, mereka masih menangisiku. Tuhan.. kenapa secepat ini aku pergi? Aku masih punya banyak mimpi indah.. aku masih punya cita-cita untuk orangtuaku.. aku belum bisa jadi anak yang baik untuk mereka, aku belum bisa membanggakan mereka dan Dimas, Dimas baru saja mengungkapkan perasaannya padaku. Aku baru saja menemukan cintaku, setelah 3 tahun menunggu. Kenapa kau panggil aku secepat ini? Aku tidak ingin pergi, aku masih ingin disini Tuhan.

Namun, ketika takdir telah menentukan, dan tuhan telah mengatakan Waktunya pulang. Ketika itulah cita dan cinta harus dilepaskan, karena maut tak datang dengan perjanjian.

“Ku Rela pergi, melepas cita dan cita dan meninggalkan dunia. Setidaknya satu keinginanku telah tuhan beri, sebelum ku pergi tuhan menyatukanku dengan cinta yang selalu hadir dalam mimpi, cinta yang selalu memberi warna hari-hari dan cinta yang menguatkanku dalam setiap langkah kaki. Terimakasih tuhan, setidaknya aku dapat satu cinta dari sekian banyak cita-cita”.

SELESAI

Cerpen Karangan: Anisah Fitriani
Facebook: Anisaftrni
Nama: Anisah Fitriani
Umur: 16 tahun
hobby: membaca

Cerpen Kisah Kasih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mix Group

Oleh:
Penonton bertepuk tangan menyaksikan penampilan 7 personil ini. Bahkan ada yang berteriak-teriak memanggil nama mereka. Inilah MIX grup dengan 7 personil. 4 cowok dan 3 cewek. “Terima kasih semua”

Maut Penggunting Cinta

Oleh:
Malam semakin larut, dan kian larut. Tapi aku tak tau apa yang akan aku lakukan. Aku bingung. Aku bimbang. Aku resah. Sehingga rasa itu campur aduk dan semakin membuatku

Langit Jingga (Siluet Kerinduan)

Oleh:
Ditemani debur ombak dan lembut belaian angin barat ia duduk di sana. Bersandar pada sebuah pohon nyiur yang melambai ia memendangi lepas pantai. Melihat keindahan bola jingga yang membias

Firasat

Oleh:
Kriiingg!!!. Pukul 3 sore bel sekolah akhirnya berbunyi lebih indah. Aku membereskan buku matematikaku yang sangat tak berguna ke dalam ransel putihku. Semua teman-teman di dalam kelas sudah hampir

Hujan Pertama

Oleh:
Mendung masih terlukis di langit sore. Awan-awan gelap yang menggelantung itu mengingatkan Keisa pada sore kemarin. Keisa yang sedang duduk termenung di balkon rumahnya, hanya bisa menahan kesedihan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *