Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 11 February 2015

“Ferdy!!” panggil seorang gadis.
Ferdy menoleh, “Eh, elo. Ada apa, Ryn?” jawab Ferdy.
“Lo tahu Rio gak?” tanya Ryana dengan senyum melebar.
“Tahu. Kenapa emang?” tanya Ferdy balik.
“Semalem, kan, Rio nembak gue.” Ryana duduk di kursi kelasnya.
“Terus?” potong Ferdy yang ikut duduk di sebelah Ryana.
“Ya, terus. Gue terima aja.” Sambung Ryana tersenyum gembira yang tidak memperhatikan raut wajah Ferdy. Ferdy? Emang kenapa sama Ferdy? Wajah Ferdy terlihat masam dan murung atau sedih mungkin. Kenapa?

DUARR!!
Sebuah petir menyambar hati Ferdy setelah mendengar Ryana bercerita tadi. ‘Ryana jadian sama Rio?’ batin Ferdy.
“Gue seneng banget, Fer. Lo tahu sendiri, kan? Rio, Fer, Rio. Cowok ganteng yang paling diidam-idamkan di sekolah kita, jadian sama gue. Bla bla bla…”
Karena hati Ferdy yang tersambar petir, Ferdy seakan-akan tak mendengar apa yang dikatakan Ryana. Seolah-olah dunia tidak memiliki suara. Ferdy hanya mematung dan menatap kosong ke arah papan tulis.
“Fer, Ferdy!” Ryana membuyarkan lamunan Ferdy.
“Eh, iya Ryn?” Ferdy kembali tersadar dan menatap Ryana.
“Lo denger, kan, apa yang gue bilang tadi?” tanya Ryana menatap Ferdy.
“Denger kok, Ryn.” Jawab Ferdy tersenyum hambar. Ryana menatap lurus-lurus Ferdy. “Apa?” tanya Ferdy mengerutkan dahi yang merasa risih dengan tatapan itu.
“Lo gak ngucapin selamat ke gue?” ucap Ryana.
“Selamat? Buat apa?” tanya Ferdy balik. Ryana kembali menatap Ferdy dengan tatapan yang mengisyaratkan ‘Hah!?’ , dengan cepat Ferdy bicara. “Oh, iya. Selamat, ya, lo udah jadian sama Rio. Keep romantic, long last, and long love.” Ucap Ferdy yang langsung menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan agar dirinya dapat lebih tenang. Ryana masih menatap Ferdy dengan tatapan aneh. Mungkin Ryana berpikir ‘kenapa Ferdy aneh banget hari ini?’
“Kenapa? Gue, kan, udah ngucapin selamat buat elo? Apa ada yang kurang?” ujar Ferdy agar Ryana berhenti menatapnya seperti itu.
Ryana menggeleng-gelengkan kepala perlahan, “Gak, kok. Makasi.” Ryana tersenyum hambar kemudian beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruang kelas. Ferdy menatap punggung Ryana yang meninggalkan kelas sampai sosoknya hilang dari pandangan Ferdy. Ferdy kembali menghembuskan napas beberapa kali dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Dddrrrttt dddrrttt…
“Halo?” ucap Ferdy mengangkat telepon dari Ryana.
“Ferdy.. Hiks hiks hiks..” Ujar Ryana disertai dengan suara tangisannya.
Ferdy terdiam, “Lo kenapa, Ryn?” Ferdy mulai menanyakan kenapa Ryana menangis.
“Gue pengen ketemuan sama lo.” Ryana berhenti menangis tapi suaranya terdengar serak.
“Oke, dimana?” tanya Ferdy mulai cemas dengan kondisi Ryana.
“Di taman samping rumah gue.”
Ferdy menutup telepon Ryana, dan dengan cepat mengambil kunci motornya. Mengeluarkan motornya dari bagasi dan mengendarainya ke tempat tujuan yang disebutkan Ryana tadi.

Sesampainya di tempat tujuan Ferdy melihat sosok Ryana yang sedang duduk di kursi panjang taman dekat kolam ikan. Ferdy memarkirkan motornya, dan langsung menghampiri Ryana.
Ryana menoleh ke Ferdy yang telah berdiri di depannya. Ryana bingung, sejak kapan Ferdy berdiri disitu? Kenapa begitu cepat sampai kesini? Padahal baru 10 menit yang lalu Ryana menelepon Ferdy. Apa mungkin Ferdy khawatir dengannya? Atau cemas? Atau perhatian? Oh, tidak. Buang jauh-jauh pikiran tersebut. Ferdy, kan, Cuma sahabat Ryana. Wajar saja jika Ferdy mengkhawatirkan keadaan dirinya. Pasti Ferdy juga menganggap Ryana itu adalah sahabatnya. Ryana pun melemparkan senyuman yang diusahakannya agar terlihat manis. Tapi mungkin tidak berhasil. Ryana kembali menunduk menatap kosong kolam ikan di depannya.

Ferdy menatap lurus-lurus Ryana. Memperhatikan matanya yang bengkak. Hidungnya yang merah. “Lo kenapa?” Ferdy mulai menanyakan tentang keadaan Ryana. Suaranya diusahakan agar terdengar pelan dan lembut agar tidak menyakiti hati Ryana. Tapi mungkin tidak berhasil, Ferdy tahu kalau suaranya itu besar dan berat. Tidak cocok jika dilembutkan atau di pelankan. Karena Ryana hanya terdiam, Ferdy duduk di sebelah Ryana dan kembali menatapnya tajam.
“Kenapa, Fer?” Ryana membuka suara setelah terjadinya keheningan di antara mereka beberapa saat.
Ferdy menoleh ke arah Ryana yang bingung dengan apa yang dikatakan Ryana barusan.
Ryana tahu mungkin Ferdy bingung dengan apa yang ia katakan. “Rio.” Gumam Ryana pelan tapi masih terdengar dengan jelas di telinga Ferdy karena memang suasana di taman sedang sepi.
“Rio kenapa?”
“Dia selingkuh, Fer. Rio selingkuh!” jawab Ryana dan air matanya mulai menetes.
“Selingkuh?” Ferdy mengulang apa yang dikatakan Ryana. Ryana mengangguk pelan.
Ferdy terdiam sejenak, “Lo kok tahu?” tanya Ferdy lagi.
“Semalem gue lihat dia jalan sama cewek lain di mall.” Jelas Ryana menangis.
“Belum tentu itu selingkuhan Rio. Siapa tahu itu sodaranya atau sepupunya. Lo jangan su’udzon dulu, dong.” Ferdy meyakinkan Ryana.
“Gak mungkin, Fer. Soalnya Rio itu ngerangkul cewek itu, mereka ketawa-ketiwi terlihat sangat senang. Sedangkan Rio gak pernah sesenang itu kalo lagi sama gue. Sakit, Fer, sakit banget.” Tangisan Ryana makin menjadi-jadi.
“Ya udah, lah, Ryn. Sabar aja. Gue tahu kok perasaan lo saat ini gimana. Bahkan yang gue rasain sekarang lebih sakit dari yang elo rasain saat ini.” Jelas Ferdy. Ryana menatap Ferdy lurus-lurus menunggu kelanjutan dari Ferdy.
“Gue punya perasaan sama seorang cewek. Tapi sayangnya cewek itu gak tahu sama perasaan gue. Bisa dibilang gak peka gitu. Padahal gue udah blak-blakan nunjukin rasa suka gue ke dia walaupun bukan dengan suara. Tapi dengan perhatian yang gue kasi ke dia. Tapi tetep aja tuh cewek gak peka juga.” Jelas Ferdy panjang lebar.
“Kenapa lo gak bilang langsung aja sama cewek itu?” tanya Ryana yang mungkin mulai melupakan masalah Rio.
“Sebenarnya seminggu yang lalu itu gue mau ngungkapin perasaan gue ke dia. Tapi ternyata di udah punya cowok lain. Akhirnya gue kurung niat itu buat ngungkapin perasaan gue.”
“Lo harus perjuangin cinta lo ke cewek itu. Masa lo langsung nyerah gitu aja? Cewek itu suka cowok yang mau berkorban buat ngedapetin dirinya. Lo harus berkorban, Fer.” Saran Ryana,
“Gue bukannya nyerah. Gue tahu, tuh cewek cuman nganggap gue itu seorang teman, gak lebih.” Ujar Ferdy.
“Lo tahu darimana?” tanya Ryana.
“Ya, tahu lah. Gue gitu loh.” Canda Ferdy yang membuat Ryana tersenyum lebar.
“Emang siapa cewek yang lo taksir itu?”
“Depannya L belakangnya O” jawab Ferdy.
“Berapa huruf?”
“Dua!”

HENING!

“Gue pulang dulu, ya. Mau mandi.” Ferdy beranjak dari kursi taman dan mengendarai motornya.
Tadi Ferdy bilang seminggu yang lalu dia mau ngungkapin perasaan ke cewek itu, seminggu yang lalu itu tanggal 18 Desember tepat hari dimana Ryana jadian sama Rio.

“Gimana kondisi anak saya Ferdy, Dok?”
“Gawat, Pak. Kondisi Ferdy semakin memburuk. Kita cuman bisa berdo’a agar Ferdy bisa selamat.”
Saat ini, Ferdy lagi di rumah sakit. Sebenarnya Ferdy punya penyakit jantung. Tapi sampai saat ini Ryana belum tahu tentang penyakit yang diderita Ferdy.
“Ferdy!”
“Ryana?”
“Lo gak apa-apa, kan, Fer? Lo kenapa?” Tanya Ryana cemas.
“Lo yang kenapa? Biasa aja kali. Gue gak apa-apa kok. Cuman kecapekan aja.” Jawab Ferdy meyakinkan Ryana. Ferdy gak mau kalo sampe Ryana tahu tentang penyakit Ferdy.
“Serius lo!”
“Iya gue serius, Ryana.”
“Ya udah, deh.”

“Ryn, lo tahu gak sih?”
“Tahu apa?”
“Gue suka sama elo.”
“Kok bisa?”
“Ya bisalah. Lo tahu kan, cewek yang gue ceritain di taman samping rumah lo. Cewek yang maksud itu elo, Ryn.”
“Yang bener lo?”
“Bener banget.”
“Awalnya, sih, gue emang nganggap lo itu sahabat doang. Tapi pas kejadian yang di taman samping rumah gue itu, gua mulai ada rasa sama lo. Gue juga suka sama elo, Fer.” Ryana tersenyum dan Ferdy juga tersenyum gembira.
“Makasi, ya, Ryn. Lo pastinya mau kan, jadi pacar gue?”
“Mau lah.” Jawab Ryn tersenyum.
Ferdy merangkul Ryana dan kepala Ryana bersandar di bahu Ferdy. Oh, iya, author sampe lupa ngasi tahu lokasi mereka berdua dimana 😀 mereka lagi duduk di kursi panjang di halaman rumah Ryana.

“Om, Tante. Ferdy kenapa?” tanya Ryana pada orangtua Ferdy sesampainya di rumah sakit. Ryana bingung dengan semua ini. Kenapa orangtuanya Ferdy nangis dan sedih? Atau jangan-jangan?
Ryana langsung masuk ke ruangan Ferdy, Ryana masih berdiri mematung di dekat pintu. Terlihat disana ada beberapa orang berpakaian putih mengerubungi tempat tidur Ferdy dan sekaligus Ferdy. Dokter yang menyadari kehadiran Ryana pun langsung berbicara sesuatu pada semua perawat dan dokter yang lain. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan ruangan Ferdy. Ryana menepi agar mereka bisa lewat. Semua terjadi seakan-akan dunia melambat. Ryana berjalan menghampiri tempat tidur Ferdy, ada Ferdy disitu tapi kini berbeda. Ferdy diselimuti seluruh badannya termasuk wajahnya. Perlahan beberapa tetes air mata membasahi pipi Ryana. Ryana mulai memberanikan diri membuka kain kafan di wajah Ferdy sambil menangis tersedu-sedu. Setelah dibuka, apa yang dia lihat? Wajah Ferdy begitu pucat, dengan cepat Ryana memeluk Ferdy dengan tangisan yang memecah keheningan di ruangan Ferdy. Akhirnya, Ferdy meninggal.

Cerpen Karangan: Sania Mulia
Blog: apaajagakjelas.blogspot.com

Nama: Sania Nur Mulia
Kelas: VIII
Sekolah: SMP Negeri 2 Binjai
TTL: Stabat, 31 Oktober 2000
Facebook: Sania Mulia
Twitter: @muliasania
Ask.fm: @muliasania111
Blog: apaajagakjelas.blogspot.com

Cerpen Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Hujan

Oleh:
Seluruh pekat mendung meluruh. Hujan deras menyentuh kota. Ia tercenung. Lama sekali. Dari balik jendela kedua matanya memandangi jalanan yang dipenuhi genangan. Pikirannya menyelami riuhnya kenangan. Air matanya jatuh

Tiba Tiba Cinta

Oleh:
Namaku Muthiara Dewi Wardhana. Aku duduk di bangku SMA tepatnya kelas XI IPA SMA Harapan Bangsa. Keluargaku mengalami broken home, tapi semenjak aku mulai mengenal yang namanya agama aku

Cinta Pertama dan Terakhir

Oleh:
Chelina adalah seorang gadis cantik yang sangat dikagumi para cowok-cowok di SMAnya, beberapa kali cowok nembak dia, dia enggak pernah mau menerima, katanya sih “pacaran itu sok penting, dan

Kau Punya Luka?

Oleh:
Selalu. Setiap mendung memayungi langit kota ini, aku melihat seorang perempuan menghampiri satu-persatu dari orang-orang yang melintas dan bertanya demikian, Kau punya luka? Aku heran, kenapa hanya setiap mendung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kita”

  1. devied says:

    ini keren bnget ini bgus bwat motifasi saya untuk di dunia menulis. cerpenmu.com I like it…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *