Kita Dalam Ingatanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 April 2016

Jemariku tergerak untuk menulis beberapa frasa tentang dirimu. Namun, ketika aku sadar bahwa gambaran tentang dirimu tak lagi terpajang dalam otakku, tiba-tiba aku kehilangan arah. Aku malah terdiam mencoba mengingat seperti apa sosok dirimu dalam hidupku? Apakah aku teman bagimu, atau kau adalah teman bagiku. Mungkin yang lebih tidak aku sadari, kau adalah seorang yang spesial yang tak pernah aku ingat. Sangat aneh bagiku, ketika aku membuka mata kau berusaha terlalu keras untuk meyakinkan diriku bahwa kau pernah ada dalam hidupku sebelum waktu merenggut kenangan ini. Aku sendiri bertanya pada diriku siapa aku ini, siapa namaku, dan apakah aku punya keluarga? Namun kau hanya bilang, “Aku adalah keluargamu”. Semuanya membuatku bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku sehingga aku mencoba membunuh diriku sendiri dengan meloncat dari jembatan dan masuk ke dalam sungai.

“Apa kau ingat aku pernah berkata bahwa kau orang gila? Mungkin kau coba bunuh diri karena hal itu?” kau berucap dengan santai di hadapanku. “Berhentilah bercanda! Itu sama sekali tidak lucu.” Ucapku jengkel, dan kau hanya tergelak riang. Sepertinya kau menganggapku sebuah lelucon sekarang.
“Tapi Jane..” Kau mendekatkan wajahmu pada wajahku seolah mereka akan beradu dalam beberapa detik jika saja aku tidak menjauhkan wajahku, dan kau memandangku selama beberapa sekon lalu, setelahnya berucap, “Apa kau benar-benar tidak ingat apa pun? Sangat aneh mendengar dokter mengatakan bahwa kau amnesia.”
“Kau pikir aku bercanda? Aku bahkan tidak ingat kehidupanku sebelumnya seperti apa.”

“Kau seorang perampok, kau gadis gila yang tidak takut apa pun, dan kau juga,”
“Aku seorang perampok?” aku membulatkan mataku, terkejut.
“Mencintai seorang lelaki selama 10 tahun,” Lanjutmu.
“Tunggu..” aku menjeda ucapanku, dan mencoba memikirkan tentang kalimat yang kau ucapkan. Aku memicingkan mataku padamu, menelisik apakah perkataanmu benar adanya atau tidak, “Jika aku seorang perampok, apa mungkin kau seorang penipu? Bahkan kata-katamu sulit dipercaya.” Ucapku. Kau menggelengkan kepalamu, aku mengernyit, “Kenapa?”
“Aku orang paling jujur di antara kita,” kau tersenyum jahil, “Dan orang paling berengsek,”

Aku menatap mukamu sejenak, lalu ketika aku yakin bahwa kau tidak berbohong, aku menundukkan kepalaku, “Jadi aku ini seorang pencuri?”
“Perampok,”
“Memang apa bedanya, itu sama saja,”
“Bagiku berbeda, pencuri adalah orang yang mengambil satu hal, sedangkan perampok adalah orang yang mengambil banyak hal,”

Aku mendesah berat, “Begitukah? Ah, aku memang berandal,”
Lagi-lagi kau menatapku, “Kau tidak ingin bertanya lagi? Tentang hidupmu yang lain mungkin?”
“Berapa umurku sekarang? Siapa nama lengkapku, dan juga siapa namamu tadi?”
“Namamu Jane adam, umur 22 tahun, dan namaku adalah Fachri,”
“Fachri?”
“Kau harus mengingat namaku dengan baik, kau mengerti,”
Aku mengangkat kedua alisku seraya mengangguk kecil, “Akan ku usahakan,”

Hari esok, aku masih belum mengingat apa pun dan aku masih belum diperbolehkan ke luar dari rumah sakit. Kau bilang akan ada yang menjemput kita di hari keluarnya aku dari ruang terkutuk itu. Sayangnya, kau enggan menyebut nama orang itu karena dia datang dari luar negeri dan itu akan menjadi kejutan untukku. Terkadang, kau menjadi orang yang luar biasa di luar dugaanku, membuatku tenang berada di sisimu kendati aku masih belum ingat siapa kau untukku.

“Rumah sakit sangat menjengkelkan,” Ungkapku ketika kau datang dengan semangkuk bubur nasi putih di tanganmu, “Dia membuatku menjadi seperti orang sakit,”
“Kau memang sakit, bodoh!”
“Tapi, aku merasa sudah sehat.”
Kau menaruh buburnya di atas nakas tanpa bermaksud memberikannya padaku, “Jika kau memang sudah sembuh, berarti kau sudah ingat tentang hidupmu.”
“Tidak sama sekali,”

“Kalau begitu berhentilah mengatakan kalau kau sudah sembuh, dan makan buburmu,”
“Hmm..”
“Kalau kau tidak memakan buburmu, aku akan memmbuatmu merasakan bagaimana rasanya berada di rumah sakit selama seminggu kedepan,”
“Heii! Kau mau menyakitiku?”
“Apa kau mau disakiti?”

Aku menelan ludah. Ternyata memang tidak ada cara untuk menolak kata-katamu, itu membuatku penasaran siapa kau sebenarnya malam terakhir, kau bilang seperti itu padaku. Aku merasa senang karena dokter mengizinkanku pulang besok, kau juga berjanji padaku bahwa besok kau akan membuatku mengingat siapa aku dan siapa kau di hidupku.

“Aku tidak sabar menunggu besok,”
“Aku berharap besok tidak akan datang,” Ucapmu. Aku menoleh ke arahmu yang duduk di sampingku, aku mengernyit heran. “Kenapa kau berharap seperti itu?” tanyaku.
“Karena aku tidak mau kau mengetahui semuanya,”
“Memangnya kenapa kalau aku tahu? Ku rasa itu bukan dosa.”
Kau hanya tersenyum ke arahku, lalu kau mengusap pucuk kepalaku dengan lembut, “Tidurlah, ini sudah malam,”

Dan aku pun tertidur beberapa menit kemudian. Kau tahu apa yang aku inginkan dalam mimpiku? Aku ingin kau datang, aku ingin aku ingat semuanya dalam mimpi, dan ketika aku terbangun semuanya akan indah. Namun, keinginanku dalam mimpi tidak pernah terwujudkan, pun dalam dunia nyata. Saat aku terbangun, dirimu yang semalam hilang digantikan oleh seseorang yang tidak asing di hidupku.

“Kau sudah bangun?” tanyanya.
Aku melihat sekeliling, tidak ada dirimu di ruangan kecil ini, aku menoleh pada lelaki yang kini sedang membenahi pakaianku, “Kau siapa?”
Ia menoleh, lalu melangkah ke arahku, “Jadi benar, kau amnesia.”
“Aku tanya kau siapa? Dan di mana Fachri?”
“Aku temanmu, Dindra.” Ia menatapku sejenak, “Dan sepertinya kau mimpi indah semalam?”

“Apa maksudmu?”
Ia tak menjawab tanyaku. Aku pulang bersamanya ke rumah yang dia bilang adalah rumah kita bertiga.
“Sebenarnya siapa itu kita? Kenapa kau tidak menjawab satu pun tanyaku?” akhirnya aku jengkel dengan sikapnya.
Ia berkacak pinggang dan menaruh tatapan padaku, matanya memerah, wajahnya pucat, “Baik, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawabnya sekarang.”
Aku sedikit terkejut, lalu ku tatap sekelilingku. Ini adalah rumah kita yang ia bilang, warnanya biru pastle dengan bermacam-macam hiasan bunga baby breath.

“Kita itu siapa?”
“Aku, kau, dan Fachri,”
Tanganku tiba-tiba bergetar, “Kau siapa?”
“Temanmu, aku sudah mengatakannya tadi.”
“Maksudku siapa namamu?!” tanyaku dengan suara keras.
“Kau memang sungguh tidak mengingatku, aku sudah mengatakannya saat di rumah sakit bahwa namaku Dindra.”
Aku mencoba menarik napas dalam untuk menenangkan diriku dengan semua suasana asing ini, “Lalu di mana Fachri?”
Hening.

Orang bernama Dindra itu terdiam, ia menundukkan kepalanya dan aku melihat setetes air mata jatuh di pipinya, “Dia sudah meninggal,” aku mematung, tubuhku tiba-tiba tak bisa digerakkan, rasanya sangat berat. Wajahku rasanya terasa panas, aku mencoba untuk tertawa. Ah, ada apa dengan diriku sebenarnya. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku terduduk di lantai, “Hei, aku sedang tidak ingin bercanda sekarang.”
“Aku tidak bercanda, tidak ada gunanya.” Aku membangunkan tubuhku dan menatap orang yang bernama Dindra itu, “Kau pasti berbohong, mana mungkin orang yang semalam bersamaku tiba-tiba meninggal! Berhenti mempermainkanku!”
“Kau pikir aku bermain dengan kematian seseorang?! Kau hanya bermimpi semalam, selama ini kau terlalu sulit untuk hidup di dunia nyata, dan kau..”

Plakk!

Aku menampar wajahnya. Air mata sudah memenuhi wajahku, “Omong kosong,”
Lelaki itu menghela napas panjang, lalu mengarahkan tatapannya padaku, “Bisakah..” suaranya terdengar bergetar di tengah air mata yang terus bercucuran di wajahnya, ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat, “Bisakah kau untuk tidak membuatku gila, Jane.” aku melihat betapa hancurnya ia di hadapanku.

“Aku.. Sudah cukup dibuat gila karena kematian Fachri, aku juga mencoba menenangkan diriku dengan keadaanmu yang begitu hancur setelahnya,” Jeda, ada sebuah perasaan menyakitkan menghampiri hatiku ketika aku melihat betapa menyedihkannya ia sekarang, “Kau mencoba bunuh diri dan sekarang, kau bahkan tidak ingat apa pun. Bisakah, kau menerima kenyataan Jane? Aku mohon hentikan, uh. Berhentilah membuatku seperti ini.” setelahnya, yang terdengar hanyalah suara tangis lelaki itu dan tubuhku yang ambruk ke lantai. Fachri.. Apa kau benar-benar meninggal? Lalu, apa kau di hari kemarin hanyalah imajinasiku?

Aku menatap gundukan tanah bertuliskan namamu dan sebingkai foto kita bertiga. Sulit dipercaya, Fachri yang menemaniku di rumah sakit telah meninggal.
“Siapa kita bertiga?” tanyaku pada Dindra.
“Sahabat, ah tidak, kita adalah saudara. Kita bertemu saat umur 12 tahun di jalanan, kita yatim piatu yang memutuskan tinggal bertiga.”
“Benarkah? Lalu kenapa Fachri bisa pergi meninggalkan kita?”
“Kecelakaan lalu lintas saat ia mencoba menjemput kita di halte bus, kita memaksanya ke luar rumah untuk menjemput kita yang terbendung hujan,”

“Tapi, Fachri mengatakan padaku bahwa aku seorang perampok, apa itu benar?”
Dindra tersenyum dan mengangguk, “Ya, itu benar. Kau terlalu banyak merampok seluruh hidupnya, hati, dan cinta,”
Aku menoleh, “Apa maksudmu?”
“Dia jatuh cinta padamu,”
“Lalu, apa yang ku lakukan?”
“Kau menolaknya dengan alibi bahwa kita hanya sahabat,”

Aku melihatmu tersenyum dalam foto itu, merangkul erat padaku dan Dindra. Lagi-lagi ku teteskan air mataku. Sekarang aku sadar, bahwa waktu berlalu dan kau sungguh pergi meninggalkan dunia ini. Jadi, hari dimana aku dirawat, adalah hari terakhirku melihat sosokmu yang bahkan tak tersimpan dalam ingatanku. Fachri. Maukah kau bertemu denganku lagi dan menghabiskan waktu bersama. Ajarkan aku bagaimana caranya mengingatmu kembali, dan beri aku kesempatan untuk meminta maaf padamu.

The End

Cerpen Karangan: Rooby (FL)
Facebook: Feni Latifah

Cerpen Kita Dalam Ingatanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Narina (Part 2)

Oleh:
“Narina apakah ada yang salah dengan ucapanku? Christian apakah dia meninggalkanmu?” Narina menunduk bahkan untuk mengangkat kepalanya Ia benar-benar kesulitan. Allena tak tau apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya

Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Klara

Oleh:
Hari itu hari minggu, 29 juli 2015. Hari yang paling berat dalam hidupku, hari dimana aku benar benar kehilangan orang yang mencintaiku dengan tulus. Hari yang akan selamanya ku

Problema Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Jangankan menyapanya, melihatnya saja rasanya aku sudah enggan. Entah kenapa perasaan yang dulunya berbunga-bunga ini, tiba-tiba berubah menjadi batu yang sulit untuk dipecahkan. “hei, yang lagi ngelamun. Hayo, ngelamunin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *