Kita Yang Beda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Reifan Gerald, dialah cowok yang berhasil merebut hatiku. Aku sama dia udah pacaran selama 1 tahun lebih. Aku bahagia memiliki dia. Dia baik, pengertian dan penuh kasih sayang. Tapi sayang, orangtuaku terutama ayahku melarang hubungan kami. Karena kami beda. Yah, kami beda dalam menyebut nama Tuhan kita. Aku menyebutnya dalam sujudku, dan dia menyebutnya dengan menyatukan tangan di depan wajahnya.

“Pagi, Put,” sapa Gerald saat aku sedang duduk termenung di dalam kelas. Namaku Putri Anindia. Teman-temanku kerap memanggilku Putri.
“Pagi juga Gerald,” balasku sambil tersenyum manis padanya.
“TET TET..” bel istirahat berbunyi semua siswa berhamburan ke luar kelas menuju kantin. Tapi tidak dengan yang masih setia duduk di bangku kelasku.
“Put aku duluan ke kantin ya, udah ditunggu Radit?” Pamit Eva teman sebangkuku.
“Iya Va,” jawabku sambil menatap Eva yang berlari ke luar kelas. Kadang aku merasa iri dengan Eva dan Radit. Kedua orangtua mereka selalu mendukung hubungan mereka. Karena mereka tidak beda seperti aku dan Gerald.

“Put, Putri.” Suara Gerald membuyarkan lamunanku tentang Adit dan Eva.
“Eh iya Gerald. Kenapa?” Ucapku kaget melihat Gerald yang sudah berada di sampingku.
“Enggak ke kantin kamu?” Tanya Gerald padaku.
“Enggak, udah kenyang aku.” Ucapku pada Gerald. Aku membohonginya dengan pura-pura kenyang. Padahal dari tadi pagi aku belum sempat sarapan.
“Emm, ya udah deh aku temenin kamu duduk di sini aja.” Ucapnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Aku bingung dengan semua ini, ayahku dengan tegas menentang hubungan kami.

Tapi aku tidak bisa bila harus mengakhiri hubunganku dengan Gerald. Karena aku sangat mencintainya. Ya Allah, kenapa engkau berikan rasa cinta ini padaku bila ke depannya terdapat benteng kokoh yang mungkin tak sanggup untuk aku robohkan. Setelah bel pulang sekolah, aku dan Gerald pulang. Dan seperti biasa Gerald selalu mengantarkanku walau hanya sampai depan komplek perumahanku. Karena aku takut ketahuan ayahku dan Gerald akan dimarahi oleh ayahku lagi.

“Put, aku tahu kita beda. Dan orangtua kamu menentang hubungan kita. Tapi, kamu mau kan berjuang untuk hubungan kita?” ucap dan tanya Gerald sambil memegang tangan kananku. Saat kita memutuskan mampir sebentar di taman. Aku mendongakkan kepalaku menatap Gerald yang juga sedang menatap mataku penuh harap. Lantas aku menganggukkan kepalaku sebagai jawaban pertanyaan Gerald. Dia begitu senang melihat anggukan kepalaku dan langsung mencium punggung tangan kananku. Namun, aku begitu ragu dengan jawabku tadi, aku masih memikirkan perkataan ayah yang yang menyuruhku untuk mengakhiri hubunganku dengan Gerald. Tuhan mengapa kita berbeda, mengapa kita bisa menyebut-Mu dengan cara yang berbeda, dan mengapa Tuhan harus mempertemukan kita dengan cinta di atas perbedaan ini?

“Putri, Ayah mau bicara sebentar sama kamu.” Ucap ayahku setelah selesai makan malam. Aku dengan cemas mendengarkan perkataan yang akan dibicarakan oleh ayah. Karena aku tahu ini menyangkut hubunganku dengan Gerald.
“Apakah kamu sudah mengakhiri hubunganmu dengan Gerald?” tanya ayahku. Aku bingung mau menjawab apa. Bila nanti aku mengatakan belum. Pasti ayahku akan sangat marah padaku. Tapi jika aku mengatakan sudah. Aku membohongi ayahku. Karena aku masih berhubungan dengan Gerald, bahkan aku kita mau berjuang sama-sama menerobos benteng kokoh itu. Lalu jawaban apa yang harus aku katakan pada ayahku.

“Putri, Ayah lagi bertanya padamu.” Sebelum aku menjawab pertanyaan ayahku. Ayah sudah berbicara lagi dengan kata-kata tegasnya.
“Em, em.” Ucapku kaku, karena aku sendiri masih bingung.
“Jawab yang bener Putri, atau jangan-jangan kalian masih berhubungan?” kata ayahku yang membuatku menundukkan kepalaku.
“Sudah Yah, sabar. Biar Putri menjawab dulu,” ucap bundaku menenangkan ayah yang sudah emosi. Bunda memang tidak terlalu menentang terhadap hubunganku dengan Gerald.

“Bel..belum Yah.” Jawabku akhirnya. Kemarahan apa pun dari ayah pasti aku akan menerimanya.
“Jadi kamu belum memutuskan hubunganmu degan Gerald. Mau kamu itu apa Putri? Kamu jangan buat malu Ayah dengan berpacaran dengan orang seperti Gerald.” ucap ayahku dengan nada yang terdengar marah dan kecewa pada. Aku sadar aku telah mengecewakan ayahku dengan berpacaran dengan Gerald, ayahku seorang yang taat dalam agama selalu menjunjung tinggi nilai agama. Jadi, sangat menentang hubunganku dengan Gerald yang berumat kristiani.
“Maaf Yah, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku mencintai Gerald.” Kataku pada ayahku sambil menahan bahuku yang bergetar menahan tangis.

“Kamu bilang cinta Putri, apa yang kamu tahu tentang cinta Putri? Setelah kamu lulus SMA kamu harus melanjutkan kuliahku di universitas agama islam di surakarta.” Aku pun dengan refleks mendongakkan kepalaku mendengar ucapan ayahku yang membuatku kaget. Aku hanya diam tidak bisa mengeluarkan kata-kataku karena ucapan ayahku pasti tidak akan pernah dirubahnya. Ayahku adalah seseorang yang tegas dan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku langsung berlari ke kamarku, menumpahkan tangisku yang sedari tadi ku pendam.

“Drttt Drttt..” Gerald calling.
Sambil mengatur napasku agar tak terdengar seperti habis menangis aku mengangkat telepon dari Gerald.
“Halo Putri,” sapa Gerald di seberang.
“Iya Gerald, kenapa?” tanyaku padanya.
“Emm tidak apa-apa. Ada apa dengan suaramu Putri. Kamu habis menangis?”
“Tidak Gerald, aku cuma sedkit engak enak badan.” bohongku padanya karena aku enggak mau, dia nanti bertanya macem-macem.
“Ya udah, kamu cepet istirahat aja, malem Putri. Nice dream.”
“Iya, malem juga.” langsung ku putuskan sambungan telepon dan langsung ku lemparkan hp-ku ke kasur.

Matahari dengan semangat menjalankan tugasnya. Membuat pagi ini menjadi cerah, namun tak mampu membuat hati secerah pagi ini. Semalaman aku menangis sampai pagi, tak bisa merasakan tidur nyenyak. Akibatnya sekarang aku menjadi lemas tak bertenaga.

“Gerald aku mau ngomong sama kamu.” Ucapku pada Gerald yang sedang duduk di pinggir koridor sekolah.
“Ngomong apa Put?” Tanyanya sambil berdiri di depanku.
“Nanti aja istirahat kita ketemu di taman belakang.” ucapku.
“Oke Put, ya udah ayo ke kelas bentar lagi bel.” ucap Gerald sambil menggandeng tanganku menuju kelas.
Ya Tuhan, aku tak sanggup bila harus jauh darinya, aku begitu nyaman berada di dekatnya. Aku berjalan menuju taman belakang untuk menemui Gerald.

“Maaf Gerald, nunggu lama ya?” ucapku.
“Enggak kok, baru aja sampai sini aku. Mau ngomong apa Put?”
Aku tak sanggup mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya. Aku tidak mau mengecewakan ayahku lagi.
“Emm. Aku mau kita sampai sini aja. Aku enggak mau terlalu ngecewain Ayahku. Kita harus sadar. Kita berbeda Gerald. Aku dan kamu berbeda. Dan kita enggak mungin nerobos benteng tinggi itu.” ucapku sambil menahan napas agar tidak menangis. Dan ku lihat Gerald kaget langsung menghadapku.

“Kamu enggak bercanda kan Put?”
“Aku serius, setelah ujian nanti aku mau ke surakarta buat ngelanjutin kuliahku di sana.”
“Tapi Put, aku cinta sama kamu. Aku mau merjuangin kamu. Nanti pulang sekolah aku mau menemui Ayah kamu.” Ucapnya penuh emosi sambil memegang tanganku dengan erat.
“Aku juga cinta sama kamu. Kita sudah tidak bisa berjuang. Ini udah keputusan Ayahku, Ayahku enggak pernah main-main dengan yang diucapkannya.” Kataku sambil menahan isak tangis.
Beberapa menit kita diam membisu mengontrol emosi. Setelah mereda aku memutuskan untuk beranjak dari sana meninggalkan Gerald yang masih termenung.

“Gimana Putri, kamu sudah memutuskan hubunganmu dengan Gerald?” tanya ayahku yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. “Udah Yah.” Jawabku masih belum menatap ayahku.
“Maafin Ayah Put, bukanya Ayah enggak ingin lihat kamu bahagia. Ayah hanya ingin kamu memilih laki-laki yang seiman dengan kita. Yang bisa menjadi imam yang baik buat kamu kelak.” Ucap ayahku sambil memelukku dari samping.
“Iya Ayah, Putri ngerti kok.” Ucapku sambil mencoba tersenyum namun, hanya senyuman miris yang tercipta.
Semenjak aku mengakhiri hubunganku dengan Gerald, aku sama dia tidak pernah bertemu di sekolahan. Biasanya istirahat kedua dia selalu main basket di lapangan. Tetapi, sejak saat itu tak pernah terlihat lagi.

“TING TONG..”

“Ya sebentar.” ucapku sambil membuka pintu dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahku. Gerald, dialah yang sedang berdiri di depan pintu.
Kami hanya diam saling memandang. Saat tiba-tiba suara bunda dari dalam rumah menyadarkan kami.
“Siapa Put?” tanya bundaku.
“Eeh ini Bun,” kataku bingung mau berkata apa.

Saat bunda melihat orang yang berdiri. Bunda tak kalah kagetnya denganku. Namun, bunda langsung mengajaknya masuk rumah. Walaupun bunda tidak setuju dengan hubungan kami tapi bunda masih ramah sama Gerald. “Oh ayo masuk Nak Gerald.” Ajak bunda pada Gerald yang masih diam mematung di depan pintu.
“Ehh iya Tante,” ucapnya sambil mengikuti bunda di belakangnya dan aku mengikuti Gerald masuk ke dalam rumah.
Ayah sedang menonton tv di ruang tamu, saat melihat kedatangan Gerald ayah terlihat menahan emosi yang bisa meledak kapan saja. “Ada apa lagi kau datang ke sini?” Tanya ayahku pada Gerald dengan suara yang sangat dingin.

“Maaf Om, mungkin saya kurang sopan datang ke sini malam-malam. Tapi saya hanya ingin memperjuangkan cinta saya pada Putri.” Ucap Gerald sungguh-sungguh. Namun aku tak berani menatap mereka berdua. Aku hanya bisa duduk di samping bunda tanpa melihat ayah dan Gerald. “Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi, sampai kapan pun saya tidak akan merestui hubungan kalian. Kalian sadar kan. Kalian itu berbeda,” ucap ayahku dengan tegas.
“Saya sadar Om, sangat sadar malah. Tapi saya benar-benar mencintai Putri.” Ucap Gerald lagi meyakinkan ayahku.
“PLAK..” Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi sebelah kiri Gerald. Aku mendongakkan kepalaku melihat wajah Gerald yang meringis kesakitan dan mengalir darah segar di ujung bibirnya. “Pergi dari sini, sebelum saya menyeret kamu ke luar dari rumah ini.” Ucap ayah tidak mau dibantah.

Aku tidak menyangka ayahku akan menampar Gerald. Selama ini aku tak pernah melihat ayah menggunakan kekerasan. Semarah itukah ayah pada Gerald, hingga ayah menamparnya? Aku menyuruh Gerald untuk pulang, aku takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ayah langsung pergi dari ruang tamu masuk ke dalam kamar. Diikuti oleh bunda. Lalu aku mengantar Gerald sampai pintu depan.

“Maafin Ayah Gerald, Ayah tidak bermaksud menamparmu,” ucapku iba melihat Gerald seperti itu.
“Tidak apa-apa.” ucapnya sambil memelukku.
“Ya udah kamu pulang aja,” ucapku sambil melepaskan pelukan Gerald.
“Aku akan selalu mencintaimu Putri.” Ucap Gerald, lalu mencium keningku. Dan melangkah pergi meninggalkan rumahku.

Seminggu setelah ujian nasional aku akan berangkat ke surakarta untuk melanjutkan kuliah di sana. Dan besok pagi aku harus berangkat. Sebelum ke bandara aku menuju rumah Gerald untuk menitipkan sesuatu lewat satpam rumah Gerald karena aku tak sanggup untuk menemuinya langsung. “Jaga diri baik-baik ya sayang.” ucap ibu sambil mencium kening dan memelukku. Ayahku pun ikut memelukku. Mungkin kedua orangtuaku berat untuk melepaskanku karena hanya akulah anak mereka satu-satunya. Dengan enggan aku menginjakkan kakiku pada tangga pesawat yang akan aku tumpangi. “Selamat tinggal Gerald.” ucapku dalam hati.

“Dear Gerald. Aku telah berangkat ke surakarta Gerald, memenuhi keinginan Ayahku. Maaf untuk sikap kasar Ayahku padamu. Ayah hanya ingin yang terbaik buat kita. Mungkin kita memang tak bisa bersama dalam perbedaan ini. Semoga Tuhan memberikan kita kesamaan pada kesempatan lain untuk kita bisa bersama. Dan percayalah cinta ini selalu memelukkmu dalam doa. Anindia Putri.”
“Putriii… kenapa kamu ninggalin aku.” Teriak Gerald penuh dengan perasaan frustasi.

Ya inilah kisahku dengan Gerald. Kita yang berbeda dan dipertemukan dengan cinta. Saat cinta kita bersemi di dalam hati, agama perpedoman dalam diri, saat kita berjuang namun gagal, dan saat kita tak mampu menerobos benteng tinggi itu. Kita sadar aku dan kamu sulit untuk menjadi kita.

Cerpen Karangan: Lily Anggraeni
Facebook: Lily Anggraeni Anggraeni

Cerpen Kita Yang Beda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nathan dan Thalia

Oleh:
Thalia yang masih saja duduk sendiri di café, sambil menikmat vanilla latte panas kesukaannya yang sengaja dia nikmati sembari memandang hujan yang mulai menyentuh dinding kaca café itu. Thalia

Lima Menit

Oleh:
“Fan, dengerin dulu. Jangan gegabah ngambil keputusan. Takutnya nanti nyesel.” Nasehat Afiq diiringi suara gemercik hujan, bak angin yang berlalu di telingaku. Aku terlanjur kecewa. Bahkan memberi sedikit penjelasan

Takdir Bukan Untuk Kita

Oleh:
“Siapa itu kak, kenapa gak disuruh masuk?” Ibu melihat aku sedang bercakap di depan pintu rumah, dengan dia yang pernah singgah di kehidupanku. “Temenku bu, cuma sebentar kok.” Aku

Separuh Aku

Oleh:
Dan terjadi lagi… Kisah lama yang terulang kembali… Kau terluka lagi… Dari cinta rumit yang kau jalani… Namaku Cakka Nuraga, cowok yang amat sangat beruntung bisa memiliki sahabat seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *