Kopi Pahit Dalam Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 16 October 2013

Lagi-lagi pria itu duduk dalam keadaan bermenung di atas dipan bambu di beranda tua dengan secangkir kopi yang mengaromakan kenikmatan luar biasa serta bisa juga sengaja diramu untuk obat pelepas kantuk. Pria itu duduk mengadah ke langit, ada sesuatu yang di ingatnya pada tempo bertahun-tahun silam. Seorang wanita muda, cantik, berkebaya merah muda terlukis di benaknya. Tangannya mulai mencari-cari cangkir kopi agar segera menyeruput kopi pahit sehitam jelaga itu. Karena belum puas memandang langit sore, pria itu terbayang kembali akan masa lalunya.

Tujuh tahun silam, pria itu masih terlihat sangat tampan dan gagah. Ketampanannya membuat seorang gadis cantik tertarik. Bermula dari sebuah saputangan yang terdampar di sungai yang mulai keruh akibat kemarau melanda desa tersebut. Gadis itu kehilangan sapu tangan itu saat sedang melintasi sekitar sungai. Pria itu pun dengan tidak sengaja memperhatikan kain rajutan persegi empat berwarna krim itu. Dan mengahantarkannya kembali kepada gadis yang baru melintas itu. Kerena itulah kedua insan itu mulai saling mengenal dan tanpa disadari terbangunlah galeri cinta yang terajut dalam jiwa keduanya.

Karena ingin selalu bersama ia pun melamar gadis itu, harapan tersandung. gadis itu telah hilang, tidak.. bukan hilang, tepatnya telah pergi entah kemana. Tiada salam perpisahan hanya saja sebuah surat yang terselip di batu pinggir sungai yang dititipkan gadis itu pada alam seolah-olah tekut berjumpa dengan pria itu.

12-Maret-1998
Kepada kanda yang tengah direndung kehilangan yang dahsyat
Kanda, bukan maksud hati tidak ingin duduk dipelaminan bersamamu. Bukan pula tidak ingin lagi merajut kasih sayang yang telah lama tumbuh dalam sanubari. Hanya saja satu kendalanya kanda, aku harus berlayar ke negeri seberang sana. Maaf kanda, aku tidak dapat memberi tahu alasannya. Jangan tunggu aku pulang, jangan sia-siakan hidupmu. Pinanglah gadis lain yang menyayangimu seperti aku menyayangimu.
Salam rindu tiada tara
Arindha

Tahun yang terus berjalan, pria itu tetap saja tidak menikah. Tetap saja hidup membujang. Baginya tiada cinta selain gadis yang telah pergi itu.

Pria itu menyeruput kembali kopi pahitnya, masa lalunya sama pahitnya seperti kopi yang berada dalam cangkir bundar itu. Kopi seakan tadah masa lalu kepahitan yang selalu diseruput olehnya. Kemudian masa lalu itu berliku-liku kembali dalam kepahitan hidupnya dan kepahitan itu ia racik dan ia muntahkan dalam secangkir kopi hitam. Ia teringat akan sesuatu. Sebuah benda yang berisi helai helai karya sastra baru, novel. Novel yang ia baca selalu sebelum tidur. Pria itu mangambil benda itu dari rak yang penuh dengan debu. Ia kembali ke dipan dan mulai membuka lembaran pertama
“Karena tuhan memiliki prinsip untuk setiap umat yang mencintai dan aku siap menjalani prinsip itu.” Kata-kata indah itu menjadi pembuka awal dari isi novel tersebut. Di cover depan tertulis tegas sebuah judul novel yang menarik “Tuhan dan prinsip cintanya” sebuah nama penulis itu pun tergelar indah di sampul halaman depan, Arindha. Sebuah nama yang singkat namun menggetarkan hati. Pria itu kembali membaca dari helai awal, perlahan air matanya menetes jatuh tepat di sudut nomor halaman. Tangis untuk gadis yang meninggalkan nya tanpa alasan yang jelas dan tangis kegetiran menahun yang ditanggungkannya akibat hidup membujang.

Cerpen Karangan: Mareta Asryanti
Facebook: Mareta Asryanti AZ
Maeta Asryanti, 19 Maret 1997.
Saya seorang siswa SMAN1 simpang Kiri Kota Subulussalam, NAD

Cerpen Kopi Pahit Dalam Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Resto Maghoni

Oleh:
Sekali lagi aku membaca papan nama restoran yang ada di depanku. Tak terasa sudah sepuluh tahun aku tak mendatangi restoran ini, restoran yang aku kira akan tutup karena letaknya

Hanya Untukmu

Oleh:
Cinta yang harus berbagi akan segalanya baik senang, sedih, duka, luka ataupun yang lainnya. Lukisan indah tuhan di atas amat sangat indah hari ini dengan cahaya yang begitu bersinar

Irma

Oleh:
Sangat indah mata gadis dalam lukisan ini, pupil matanya yang hitam dilingkari warna coklat muda dan tampak bening, menatap sendu kepada orang yang memandangnya, dan seakan gadis itu benar-benar

Ketika Hujan Turun

Oleh:
Kenangan bersama orang yang pernah kita sayang tidak akan pernah terlupa begitu saja. Kadang kala kita mengingatnya di waktu-waktu tertentu. Namun, jangan terus terpaku pada kenangan itu karena semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kopi Pahit Dalam Kenangan”

  1. Bisanya cuma komen says:

    Ihhhhh…..Seeeeraaam! Gue baru kali ini baca dongeng hantu kopi pahit, saluut deh bikin cerita horror yg berani hantu beda. Satu jempul untukmu dan satu jempol untuku….Lam kenal Ya…

Leave a Reply to Bisanya cuma komen Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *