Kota Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 30 November 2015

Sudah lama Fitri menantikan kepastian dari Aziz tentang hubungan mereka. Sudah lama ia menunggu kabar darinya. Tak ada telepon, sms, dan surat yang ia dapatkan sejak Aziz tinggal di Malang. Fitri semakin dirundung nestapa dan kegelisahan. Hubungan mereka sudah berjalan selama lima tahun. Tapi, sejak Aziz bekerja di Malang sebagai guru, ia sudah tidak memberi kabar padanya. Fitri masih terus menanti dengan segudang kesabaran. Sebenarnya, Fitri bisa saja bertanya dengan kedua orangtua Aziz, di mana Aziz tinggal. Atau mungkin, ia bisa mendapatkan nomor teleponnya yang baru, agar ia bisa menghubunginya dan melepas kerinduan yang sudah kian memuncak. Tapi, entah kenapa, sikap kedua orangtua Aziz menjadi dingin dan cuek terhadapnya. Fitri semakin tidak enak dan bimbang akan sikap kedua orangtua Aziz. Apalagi, rumah mereka hanya berjarak beberapa meter saja.

Fitri berusaha mencari informasi tentang Aziz melalui Iqbal, sahabat dekat Aziz. “Iqbal, aku sudah lama tidak tahu kabar dari Mas Aziz. Aku mencoba menghubungi nomor teleponnya juga tidak aktif. Sikap kedua orangtuanya juga biasa saja denganku. Bahkan mereka seperti tak menganggapku.” Kata Fitri pada Iqbal.
“Lalu?” Taya Iqbal.
“Kamu kan sahabat dekat Mas Aziz, kamu pasti tahu kan?” Desak Fitri.
“Seberapa penting dia bagimu, Fit?” Tanya Aziz. Pertanyaan Iqbal memebuat hatinya kalut dan ada suatu sentuhan kata yang menyentil hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dia sangat berarti bagiku, Bal. Aku sangat mencintainya, dan dia sangat mencintaiku. Aku tahu itu. Kita sudah lima tahun menjalani hubungan yang serius. Karena itu aku berusaha untuk mempertahankannya.” Kata Fitri panjang.

“Aku memang tahu dimana Aziz berada.” Jawabnya lirih.
“Tolong katakan padaku, Bal! Aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dan mendengar suaranya. Sudah lima bulan ia sama sekali tak memberiku kabar.” Fitri memohon, dan perlahan air matanya menetes menuruni kedua pipinya. Iqbal semakin tak tega melihat sikap Fitri yang demikian.
“Aku tak bisa berbuat apa-apa, Fit. Maafkan aku, karena aku tidak bisa memberikan nomor telepon Aziz padamu. Karena, itu adalah permintaan dari Aziz sendiri, dan aku sudah mengiyakan permintaannya.” Kata Aziz yang membuat Fitri semakin cemas.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Bal?” Air mata Fitri justru mengalir semakin deras.
“Aku akan memberikan alamat kontrakan Aziz, dan kamu lebih baik datang sendiri untuk menemuinya.” Kata Iqbal. Ada sedikit kecurigaan dalam hati Fitri. Namun, ada sedikit perasaan lega dalam hatinya. Ada persaaan plong, karena bebannya selama ini perlahan terurai. Ada sedikit senyum berkembang dari bibirnya.
“Baiklah.” Kata Fitri.
“Ini alamat kontrakan Aziz.” Iqbal memberikan secarik kertas bertuliskan alamat kontrakan Aziz.
“Satu pesan dariku, Fit. Bicarakan masalah kalian dengan baik dan kepala dingin. Kalian sudah dewasa. Apapun keputusannya, yakinlah bahwa itu yang terbaik untuk kalian berdua.” Kata-kata Iqbal membuat Fitri tercengang dan mencoba mencerna maksud di balik kata-kata Iqbal itu.
“Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, Bal?|” Tanya Fitri dalam hati. Dan air matanya kembali menetes.

Fitri terus mengamati alamat kontrakan Aziz dalam secarik kertas itu. “Aku sangat merindukanmu, Mas. Aku ingin kita membicarakan rencana kita untuk menikah. Orangtuamu bersikap dingin terhadapku. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Aku malu dengan tetangga. Aku malu karena mereka sudah mengetahui hubungan kita dan bagaimana jika mereka tahu bahwa sikap kedua orangtuamu begitu dingin terhadapku. Aku ingin kita segera menikah.” Kata Fitri.

Ada pertanyaan dalam hati Fitri akan sikap Iqbal yang tidak mau memberitahukan nomor telepon Aziz. Tapi, ia berusaha menepis kecurigaannya itu. Kini, hatinya sedikit lega dan berbunga-bunga. Esok hari ia dan Adiknya Nimas, akan pergi ke Malang. Fitri akan mengantarkan Adiknya yang akan mengikuti tes masuk STAN. Fitri mulai membayakan bagaimana jika ia bertemu dengan Aziz. “Aku sangat merindukanmu, Mas. Aku akan meluangkan waktuku untuk bertemu, mengobrol, dan bercanda denganmu.” Kata Fitri sembari tersenyum saat duduk di kamarnya.

“Mbak, besok bangunin aku pagi, ya? Soalnya bajuku belum kering. Jadi besok harus disetrika.” Kata Nimas yang membuka pintu kamar Fitri tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Fitri terlihat gelagapan mendengar suara Nimas.
“Iya. Lain kali kalau masuk kamar mbak, ketuk pintu dulu, Nimas.” Nasihat Fitri. Nimas hanya tersenyum malu.
“Iya, Mbak.” Jawabnya yang kemudian menutup kembali pintunya.

Fitri bergegas berdiri dari atas kasur, dan mulai menyiapkan keperluannya untuk mengantarkan Adiknya ke Malang esok hari. Satu hal yang tidak boleh lupa dan ketinggalan. Yaitu alamat kontrakan Aziz. Jangan sampai, ia sudah jauh-jauh ke sana dan tidak bertemu dengannya. Ia berusaha membuka kembali tasnya dan mengecek barang bawaannya, agar tidak ada yang ketinggalan. Setelah semuanya siap, ia langsung membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Karena esok hari ia harus berangkat pagi.

Tepat jam lima pagi, Fitri dan Nimas sudah berada di halte. Ia menunggu bus dari Madiun yang akan ke Malang. Ia harus naik bus sampai ke Jombang, kemudian mencari bus mini yang menuju daerah Malang, terminal Landung Sari. Setelah bus berhenti menghampirinya, Fitri dan Nimas segera naik dan mencari tempat duduk. Dalam perjalanan, mereka hanya diam dan sedikit sekali terlibat dalam perbincangan. Nimas terlihat sibuk mempelajari kumpulan soal-soal. Fitri mengambil secarik kertas bertuliskan alamat dari dalam tasnya. Ia mengamatinya. “Aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu, bercanda, dan melepaskan kerinduanku padanya. Kerinduan yang teramat besar ini sudah bersarang lama pada diriku. Aku ingin menumpahkan semuanya. Apakah kamu juga merindukanku, Mas?” Tanya Fitri dalam hati.

“Satu pesan dariku, Fit. Bicarakan masalah kalian dengan baik dan kepala dingin. Kalian sudah dewasa. Apapun keputusannya, yakinlah bahwa itu yang terbaik untuk kalian berdua.” Kata-kata Iqbal masih terngiang di telinga Fitri.
“Aku tidak boleh memikirkan yang bukan-bukan.” Kata Fitri menenangkan hatinya yang tengah gundah memikirkan kata-kata itu. Masalah, ya.. masalah. Ia tak merasa memiliki masalah dengan Aziz. Atau mungkin masalah tentang pernikahan itu. Itu memang karena mereka belum memebicarakannya secara mendalam. Fitri berusaha mengalihkan perhatiannya dan melupakan kegelisahannya.

Setelah sampai di Malang, Fitri harus mencari penginapan yang dekat dengan tempat pelaksanaan tes Nimas, Yaitu di STIE Malang Kucecwara. Karena, jika dekat dengan tempatnya, Nimas akan dengan mudah saat berangkat dan tidak ada perasaan was-was karena takut terlambat. Akhirnya mereka menemukan tempat penginapan, sebuah kos yang memang sedang kosong. Mereka berdua pun beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.

Hawa dingin mulai menyergap tubuh mereka. Sebuah jaket yang melekat di tubuh mereka pun, enggan mereka lepaskan. Nimas terlihat tidur pulas saat tubuhnya ia rebahkan di atas kasur. Lagi-lagi, Fitri dibayangi keinginannya untuk segera bertemu dengan Aziz. Ia merasa jiwanya sudah dekat dengan Aziz. Dirinya yang sudah menginjak bumi Malang, membuatnya tidak sabar ingin bertemu dengan Aziz. “Aku ingin sekali bertemu denganmu sekarang juga, Mas. Aku tak peduli dengan rasa cape dan kantuk. Aku ingin bertemu.” Kata Fitri. Matanya menerawang jauh, dengan tatapan kosong penuh harapan.

Fitri memutuskan untuk bertemu esok hari. Karena, ia tak mungkin mencari dan mengunjungi kontrakan Aziz di malam hari. Selain itu, Fitri juga tak mengetahui seluk beluk kota Malang. Rasanya sulit jika mencari di malam hari. Dan ia pun memutuskan mencarinya esok hari, saat Nimas menjalani tes tulis. Karena, usai tes mereka akan segera meninggalkan kota Malang untuk pulang. Mereka tak akan berlama-lama, karena tujuan utamanya adalah mengantarkan Nimas Mengikuti tes STAN. Tapi, di balik itu ada tujuan Fitri, yaitu bertemu dengan Aziz.

Keesokan harinya, Fitri langsung pergi untuk mencari alamat kontrakan Aziz. Hatinya begitu senang setelah ia menemukan alamat tersebut. Fitri tak menyangka bahwa ia sudah berada di depan rumah itu. Ia sudah tidak bisa menahan kerinduannya. Ia ingin bertemu, memandang wajah orang yang sangat dicintainya, berbicara mengenai rencana pernikahan, dan tertawa bersama. Ia sudah membayangkan saat romantis dalam kebersamaannya dengan Aziz.

Ia masih berada di depan dengan menikmati lamuannnya, sembari tersenyum. Tiba-tiba pintu di depannya terbuka, dan muncul sosok wanita. Fitri sempat tercengang dan terkejut melihat ada wanita di kontrakan Aziz. Namun, ia tak menghiraukan hal itu. Ia lantas berjalan cepat menghampiri wanita itu.
“Apakah Maz Aziz ada? Apakah saya boleh bertemu dengannya?” Tanya Fitri pada Wanita itu.
“Iya, ada. Mari silahkan masuk.” Wanita itu mengajak Fitri masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk.

Beberapa saat kemudian, Aziz muncul. Mata Fitri mulai berkaca-kaca. Ada perasaan senang, sedih dan haru. Semua tumpah jadi satu.
“Mas Aziz. Aku sangat merindukanmu, Mas. Aku sudah lama menunggu kabar darimu. Kenapa kamu tidak memberi kabar padaku, Mas? Kenapa kamu membuatku cemas dan gelisah. Aku sudah lama menahan kerinduan padamu. Apakah kamu tidak merindukanku, Mas?” Fitri mengeluarkan semua pertanyaannya. Pertanyaan yang ingin ia dengar sendiri jawabannya dari Aziz.
“Maafkan aku, Fit. Aku sengaja tidak memberitahu kabar dan juga keberadaanku padamu.” Jawab Aziz dengan wajah tertunduk. Ia tak berani menatap wajah Fitri.
“Kenapa? Aku selama ini gelisah memikirkanmu, Mas. Aku khawatir memikirkan keadaanmu. Aku cemas memikirkan hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku ingin menagih janji Mas Aziz padaku.” Kata Fitri.

Kata Fitri membuat Aziz berani mendongakkan kepalanya untuk menatap Fitri.
“Janji apa, Fit?” Tanya Aziz.
“Janji Maz Aziz untuk menikahiku setelah aku lulus. Aku sudah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi. Kapan kita akan menikah, Mas? Aku ingin membicarakan semua ini. Agar pernikahan kita dapat segera dilaksanakan. Semua tetangga sudah mengetahui hubungan kita. Aku akan malu jika hubungan yang sudah lama dijalin ini tidak sampai ke jenjang pernikahan. Rumah kita juga dekat. Bagaimana kata orang nanti, Mas?” Jawab Fitri, panjang.

Fitri sudah mulai kehilangan kesabaran. Matanya sudah berkaca-kaca. Perkatannya yang panjang ke sana kemari, hanya dibalas dengan kata yang pendek, dengan nada cuek dan sedikit diacuhkan oleh Aziz. “Maafkan aku, Fit. Sekali lagi maafkan aku. Aku sudah menikah dengan wanita lain. Aku dikenalkan oleh budeku. Dan wanita tadi yang menemuimu adalah istriku.” Jawab Aziz. Seketika, air mata mengengucur deras dari kedua matanya. Dadanya sesak menahan tangis. Hatinya hancur, bagai dihantam godam. Hancur berkeping-keping tak bisa tergambarkan.

“Kamu anak pertama, dan aku anak ketiga. Aku juga tidak tahu bahwasanya aku adalah anak ketiga dari kedua orangtuaku. Karena, ternyata ada Kakakku yang nomor dua, dan ia meninggal. Aku baru mengetahuinya, setelah aku mengutarakan keinginanku untuk melamarmu. Tapi, kedua orangtuaku terutama Bapakku, melarangku melanjutkan hubungan kita sampai pernikahan. Karena anak pertama tidak boleh menikah dengan anak nomor tiga. Karena jika semua itu tetap dilakukan, kita akan memperoleh musibah. Bapak pernah berkata padaku, ‘Jika kamu masih ingin Bapak hidup dan tertawa bahagia melihat cucu-cucu Bapak, jangan menikah dengannya.’ Itu kata Bapak yang masih aku ingat, Fit. Aku tidak berani melawannya.” Jawab Aziz.

Fitri hanya bisa tertunduk sambil menangis. Ia tak kuasa menahan kesedihannya. Ia begitu sangat mencintai Aziz. Selama ini, ia menyangka bahwa Aziz akan menikahinya setelah ia lulus. Dan ternyata, ia sudah menikah. ‘Kenapa ibu dan bapak tidak mengatakan padaku bahwa Mas Aziz adalah anak ketiga dari kedua orangtuaya. Aku pasti tidak akan menyimpan perasaan dan harapan yang besar terhadapanya. Fitri diam, tertunduk dan terus mengusap air matanya dengan sapuan yang tidak tertaur.

Fitri menatap wanita yang berdiri di samping pintu kamar. Dia adalah istri Aziz. Fitri melihat wanita itu tengah mendengarkan perbincangannya dengan Aziz. Fitri bisa melihat, bahwa wanita itu menangis. Saat ia mengetahui Fitri menatapnya, ia langsung masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya. Fitri bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya Aziz. “Sungguh, aku tak berniat mengambil Mas Aziz darimu, Mbak. Dia sudah menjadi milikmu. Aku sudah tidak berhak lagi. Kalau pun dia belum menjadi suamimu, aku juga tidak akan bisa bersamanya. Maafkan aku telah memebuatmu sedih.” Kata Fitri dalam hati.

“Baiklah..” Fitri beranjak dari tempat duduknya. “Mungkin, ini memang yang terbaik untuk kita, Mas. Aku tidak akan mengusik lagi kehidupanmu dan juga istrimu.” Fitri terus menitikkan air mata. Ia berusaha mengusapnya dengan sapuan yang kasar dan tak beraturan. Hidungnya memerah dan matanya sembab. Aziz semakin tak tega menatapnya.
“Sampaikan maafku pada istrimu, Mas.” Kata Fitri yang kemudian langsung pergi.

Aziz berusaha meraih tangan Fitri. “Maafkan aku, Fit.” Kata Aziz pelan dengan mengusap air mata yang mengalir dari pipi Fitri. Fitri merasakan ada sentuhan hangat merasuk dalam jiwanya. Tangannya lemas dan berusaha menikmati genggaman Aziz. “Aku ingin sekali memelukmu, Mas. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Melebihi cinta istrimu padamu.” Kata Fitri dalam hati. Ia melihat Istri Aziz berdiri menatapnya dengan mata memerah, berlinangan air mata. Fitri tak tega menghancurkan hati istrinya Aziz. Ia kemudian melepaskan genggaman Aziz, dan pergi.

Saat perjalanan pulang, Fitri hanya bisa terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Nimas terlihat lelap dalam tidunya karena lelah. Fitri terus menatap pemandangan dari kaca bus yang melaju dengan perlahan karena jalan yang berkelok-kelok dari Malang menuju Jombang. Tatapannya kosong dan penuh dengan beban yang ia bawa. Hatinya hancur dan berusaha untuk menerima dengan ikhlas. “Rasanya, aku tak ingin kembali ke kota itu. Kota yang hanya menyisakan sedih, sesak dan sakit. Kota kenangan yang membuatku enggan untuk menginjakkan lagi kakiku ke sana. Semua itu hanya akan menyisakan luka dan membuka lembar kesedihan dalam hidupku.”

“Aku harus bisa melupakan semuanya. Sikap kedua orangtua Mas aziz terhadapku, lebih baik tak ku indahkan saja. Aku ingin pergi dari kota kelahiranku. Aku malu. Aku malu karena mas Aziz sudah menikah dengan orang lain. Apa kata tetanggaku? Aku seperti tak mempunyai keberanian untuk hidup dan harus bertatapan dengan banyak orang, terutama kedua orangtua Mas Aziz. Ya, Allah… berikan aku kekuatan untuk menjalani semua ini.” Fitri terus menitikkan air mata. Ia tak mempedulikan orang di sekitar tempat duduknya yang menatapnya.

Tiba-tiba bus yang melaju berhenti sejenak. Entah ada apa, Fitri sendiri juga tidak tahu. Bus itu berhenti di sebuah tempat ramai seperti pasar. Fitri menghela napas panjang. Di dalam sesak dan pengap. Kemudian, ada pengamen yang memainkan gendang, dan satunya lagi membawa sebuah topi. Kemudian mereka langsung menyanyi dan memainkan gendangnya.
“Ayang ku rindu kamu. Ingin mencium kening kamu. Ayang ku rindu kamu. Ingin memeluk mesra kamu
Sungguh rinduku menggelitik. Ingin bertemu ingin bertemu sama kamu. Ay dimana kamu. Bagaimana keadaannmu
Oh Ay di sini aku. Melamun memikirkan kamu.”

Fitri pun merogoh uangnya dari saku celananya. Kemudian memasukkan ke dalam topi yang di todongkan ke arah mukanya. “Terima kasih…” Kata laki-laki itu. Kedua pengamen tersebut turun dan bus pun kembali melaju. “Kenapa sebuah kepercayaan memisahkan kita. Apa hubungannya anak ketiga dan pertama? Aku sagat mencintainya dan aku juga tahu bahwa Maz Aziz juga mencintaiku. Kenapa?” Tanya Fitri dalam hati.

“Tidak, aku tidak boleh bersedih.” Kata Fitri menyemangati dirinya sendiri, dan mengusap air matanya. “Aku harus bisa melupakan Mas Aziz. Aku harus bisa bangkit dari kesedihan ini. Perjalananku masih panjang. Aku harus melupakan kejadian di kota kenangan itu. Malang, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke sana. Keindahanmu sudah terhapus oleh kenangan pahitku dengan Mas Aziz.” Kata Fitri dalam hatinya.

Malang, kota yang begitu diagungkan dan tempat yang menjadi tujuan wisata banyak orang, hanyalah kota kenangan di hati Fitri. Setiap kali ia mendengar nama kota itu, hatinya selalu teriris. Melihat perjuangannya, datang, mencari Aziz dan berusaha mencari jawaban atas hubungannya. Namun hanya kesedihan yang ia bawa pulang sebagai oleh-oleh. Tak ada apel, keripik buah dan oleh-oleh khas lainnya. “Malang, selamanya kau hanya akan menjadi kota kenangan yang menyisakan kesedihan di hatiku.”

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin

Cerpen Kota Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tulang Rusuk

Oleh:
Seluk beluk sinar sang mentari menari dengan gemulai melalui cela-cela awan putih. Kelopak bunga kembali menghiasi sudut pertepian bait jalanan kota, tiada henti untuk menampakkan keanggunan dan keindahan penciptaan

Mawar Hitam Desember

Oleh:
Cewek itu berceloteh riang. Selalu! Ia tak pernah kehilangan kata-kata apalagi mengganti lengkungan senyumnya yang langka itu. Senyum ketulusan. Seolah hidupnya mulus-mulus saja tanpa beban. Setiap kali Ikal bersama

Kaulah Cinta Terkahirku

Oleh:
Handphoneku bergetar tanda pesan singkat masuk, tertera di layar ‘sayangku’ yang mengirim pesan itu. “besok kamu akan aku jemput jam 10 tepat. tampillah cantik di hadapanku, aku akan membawamu

A Love Story (Part 2)

Oleh:
Semakin aku dengannya menghabiskan banyak waktu berdua, semakin besarlah pengetahuanku tentang Adam. Laki-laki yang amat sangat pintar, yang baik, yang iseng, dan yang selalu tampak lebih berkharisma saat ia

Hujan

Oleh:
Langit sudah menjadi kelabu, angin pun sudah mulai menyeruak, hari telah berganti sore seiring matahari yang tenggelam. Namun, aku masih di sini. Masih duduk dengan tenang di kursi panjang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *