Kotak Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 July 2016

Pribadi ceria yang pandai bergaul namun terkesan tertutup. Ya, itulah aku. Tapi tidak jarang juga ada yang bilang kalau saja aku ini sosok yang kaku dan dingin. Aku tidak peduli dengan semua itu. Yang aku pikirkan hanya masa depan dan orang-orang di sekitarku. Kepandaian dalam bergaul bukan berarti aku netral dengan semua pergaulan. Aku hanya bergaul dengan orang-orang yang punya mimpi dan mau untuk bergerak maju. Bergaul dengan orang yang tidak punya mimpi dan tidak mau bergerak maju, sama saja dengan menunggu dinding untuk berbicara. Aku tau itu mustahil terjadi.

Ini kisahku. Kisah luar biasa yang pernah aku rasakan. Jujur aku belum pernah menjalin hubungan asmara dengan seorang laki-laki. “Jomblo Abadi” Itulah candaan yang selalu keluar dari mulut teman-temanku. Jahat. Tidak, aku tahu betul sifat teman-temanku dan aku pun tidak mengganggap gurauan itu sebagai bullyan. Sejauh ini aku merasa belum ada sosok laki-laki yang berhasil menggetarkan hatiku. Semua aku anggap sama. Dan kehadiran teman-temanku cukup membuat duniaku berwarna. Hati yang kosong tak akan pernah ku rasa selama masih ada mereka.

Tiba di suatu ketika, aku dan teman-temanku makan di kantin sekolah. Tanpa aku sadari, sorot mataku tertuju pada seseorang. Perawakan ideal, hidung mancung dan terlihat tenang. “Dia” ya, laki-laki itu menyempurnakan koleksi warna dalam hidupku. “Dia” siswa lintas jurusan seangkatanku. Aku tidak pernah melihat “Dia” sebelumnya. Mungkin “Dia” yang selalu menjadi topik pembicaraan di kalangan siswi rumpi di sekolah. Dan dugaanku benar. Tiap melihat “Dia”, mataku tak henti mecuri pandang. Banyak gadis cantik di sekolah, mana mungkin aku bersaing dengan mereka. Mustahil untukku bisa dekat dengan “Dia”. Aku hanya bisa meliriknya dengan lirikan kagum. Kagum dengan sosoknya yang berhasil menyita perhatianku.

Semenjak aku melihat “Dia” seolah ada semangat baru yang tumbuh dalam diriku. Secara tidak langsung, aku menjadikan sosok “Dia” sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas diri. Meskipun tidak secantik gebetannya, minimal aku bisa menorehkan prestasi unggul dan mungkin dengan begitu “Dia” akan sedikit mengenalku. Kabar burung mengatakan kalau gebetannya sekarang berganti status sebagai kekasih. Sedikit kecewa, tapi segera kutepis perasaan konyolku itu. Aku hanyalah pengagum rahasia dan aku tidak berhak menaruh rasa cemburuku padanya.

Lirikan mataku tak segesit yang aku pikirkan. Salah seorang teman mengetahui kebiasaan baruku yang suka mencuri pandang pada si “Dia”. Kalau sudah tertangkap basah, hanya malu yang kurasa. Entah ini kebetulan atau tidak, ternyata “Dia” adalah teman dekat dari temanku. Aku baru menyadari hal itu sekarang. Tempat tinggalnya pun sekompleks dengan tempat tinggal temanku. Banyak informasi tentang “Dia” yang kudapat melalui perantara temanku. Bahkan sempat aku merasa malu bukan kepalang ketika keusilan teman dekatku kambuh. Dengan keusilan temanku itu, namaku pun kupikir sudah tidak asing lagi baginya.

Masa putih abu-abu telah berakhir. Tidak ada lagi sosok “Dia” yang kutatap dalam diam. Meskipun begitu, bayangnya selalu ada dalam benakku. Kurasa aku tidak salah menjadikannya sebagai motivatorku. Sekarang, aku dikenal sebagai arsitek muda berbakat di tingkat ASEAN. Sering kali, aku menghadiri acara di luar negeri. Ada 1 hal yang selalu aku sempatkan. Membeli barang untuknya. Meskipun aku sudah tidak tahu menahu kabar tentang “Dia”. Karena hubungan dengan temanku juga tidak seperti dulu. Kini terhalang oleh kesibukan jadwal masing-masing.

Aku selalu berharap dia baik saja dimanapun itu dan semoga dia mengingatku walau sekilas di benaknya. Tapi mana mungkin semua itu bisa aku harapkan. Bahkan dia tak mengenalku secara langsung hanya lewat candaan usang. Atau bisa jadi dia tak pernah tau siapa aku. Yang dia tahu hanya namaku. Dengan hal kecil seperti itu, aku sudah berani berpikir jauh. Entah ini sebuah kebodohan atau kesalahan kecil aku tidak peduli. Aku masih percaya kekuatan bayangan sosok “Dia” lah yang membuatku terus termotivasi untuk bergerak maju mencapai semua keinginanku.

Dari sekian banyak perermpuan pengagum “Dia” semasa SMA mungkin aku yang masih bertahan meski hanya ada bayangnya. Sebenarnya harapanku tidak terlalu tinggi. Dari dulu hingga sekarang, aku ingin mengenalnya lebih dekat. Sebatas teman. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang selalu ingin memiliki laki-laki yang diincarnya. Kalau aku berpikir untuk memilikinya itu jelas tidak akan mungkin terjadi. Bahkan bisa jadi aku tidak masuk dalam daftar pencarian pendamping dalam hidupnya. Bukannya berpendapat negatif tentang “Dia”. Itu bukti bahwa aku sadar betul siapa diriku, darimana asalku, dan bagaimana pula latar belakangku. Jelas jauh berbeda dengannya yang terlihat sempurna. Untuk mengenalnya sebagai teman saja sudah sangat sulit kurasa. Apalagi hayalan untuk hidup dengannya.

Setiap tahun usiaku semakin bertambah begitupun usianya. Hari itu aku menghadiri acara reuni reuni kelas. Beberapa berhalangan datang tapi untungnya teman yang biasa memberiku informasi bisa datang. Aku pun kembali mendapat informasi tentang “Dia”. Masih sama seperti dulu. Dan aku rasa sosok “Dia” adalah tipe laki-laki setia. Sempat ragu namun penasaran. Akhirnya “Dia” menambahkanku sebagai temannya di kontak BBM yang sebelumnya aku mengetahui PIN dari seorang temanku. Semangat semakin menggebu ketika aku melihat setiap updatean mengenai kesehariannya mulai dari ungkapan perasaan hingga kegiatan yangh sedang dilakoninya. Dengan membaca semua itu, seringkali senyuman membanjiri wajahku. Tidak jarang juga ‘Dia” mengupload foto mesra bersama kekasihnya semasa SMA terus lanjut sampai sekarang.
Mengetahui kabar pertunangan “Dia” membuat dadaku sesak. Entah perasaan apa yang menggangguku. Seakan kurasa sedih, kecewa, putus asa dan ingin marah. “Apakah aku benar-benar cemburu? Bukankah aku tidak berhak atas perasaan seperti ini?” rentetan pertanyaan membuat dadaku semakin sesak. Aku pun memutuskan untuk tidur dan berharap saat aku kembali membuka mata, semua ini hanyalah mimpi. Hariku sudah tidak lagi sesemangat sebelumnya. Serasa malas untuk melakukan sesuatu. Ingin ku hanya berdiam diri. Pertanyaan “kapan nikah?” dari keluargaku pun menambah beban pikiran. Memang usiaku terhitung hampir ideal untuk menikah. Aku rasa kisah asmaraku tak seberuntung karirku. Ya, inilah Aku.

Semenjak mengetahui berita pertunangan itu, aku merasa semakin lemah. Penyakit lamaku kambuh dan sedikit demi sedikit mulai menggerogoti tubuhku. Hanya sakit yang ku rasa. Kenyataan sungguh pahit. Ingin sekali ku menangis namun air mataku tak sanggup menetes. Tinggal menghitung hari menuju pernikahan sosok “Dia”. Aku membuka kotak yang dulunya ingin aku berikan untuk tanda pertemanan. Entah kenapa bibirku melontarkan senyuman setelah aku melihat isi kotak berwarna merah itu.

Ada beberapa barang yang sengaja aku beli dan ada pula beberapa lembar kertas bertuliskan kekagumanku padanya. Gelang kesayangaku akan ku ikut sertakan di dalam kotak. Sebelum kututup kembali kotak itu, air mataku tiba-tiba menetes membasahi gelang yang ada dalam kotak. Segera kuusap air mataku, kututup kotaknya yang kemudian aku kubur di halaman rumah. Aku ingin mengubur dalam-dalam semua harapanku padanya. Tidak ada yang boleh tau soal kotak merah itu. Aku mencoba tersenyum meski memang masih sangat berat kurasa.

Hari ini adalah hari kebahagiaan untuknya. Teringat masa dimana pertama kali aku melihatnya. Dan teringat pula akan hari ini. Cahaya putih sungguh menyilaukan mataku. Aku tidak bisa melihat apapun. Kupikir aku pingsan tapi ternyata aku salah. Batas waktuku telah habis. Mungkin Tuhan tidak tega kalau harus melihatku menderita tertekan oleh asmara. Kabar kematianku cepat sekali menyebar. Aku melihat banyak temanku yang datang ke rumah untuk melayat. Dan beberapa dari mereka, ikut mengantarkan jenazahku ke pemakaman. Tak terkecuali temanku yang selalu memberiku informasi tentangnya.

Kini aku sudah tidak lagi merasakan sakit. Aku tenang di sisi Tuhan. Dan di sini pula aku masih menuggu sosok “Dia”. Aku hanya ingin menjabat tangannya dan mengobrol dengannya. Kotak merah yang terkubur menjadi saksi bisu kesetiaanku padanya dan biarlah lapuk oleh waktu. Sampai kapanpun akan selalu menjadi inspirasiku. Dialah Georaisa Prima Eka Priyosa.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Kotak Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ucapan Terakhir Untukmu

Oleh:
“Ting Tong…” terdengar bel rumah Kevin, Di depan rumah kevin berdiri gadis manis berkacamata dengan rambut dikuncir dua berperawakan gemuk sambil memegang 2 kotak besar di tangannya, “iya tunggu

Kenapa Harus Kamu? (Part 2)

Oleh:
Kami pun sama-sama memacu kendaraan kami masing-masing. Aku yang merasa agak canggung, entah kenapa kami jadi membisu kembali. Aku pun memulai pembicaraan dikala itu, dengan kendaraan bergandengan. “maaf ya

Dialog Hujan

Oleh:
Tak sengaja aku datang ke kota itu. Tempat pertama kali kita bertemu. Ada senyum dan tatapan tajam matamu. Sadarkah kau? aku rindu. Kota tua ini hujan lagi, tanahnya basah

Mimpi Untuk Nana

Oleh:
Pagi yang indah untuk memulai aktivitas. Namun keindahan itu seakan lenyap ditelan satpam yang meniupkan peluit pertanda gerbang sekolah akan ditutup. Aku harus berlari, masih ada jarak lima belas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *