Lady’s Diary

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 29 August 2017

Diari ini masih tetap berdiri, bersandar pada dinding kamarku. Di cover depannya tertulis Lady’s Diary. Ibumulah yang menyerahkan buku itu malam tadi. Lembar demi lembar berisi tulisan tanganmu bergaya italic handwriting. Bagiku begitu indah dan sempurna.

Di lembar pertama, aku tersenyum. Kau rupanya sudah mengagumiku sejak pandangan pertama. Saat itu kita bertemu di acara bedah buku. Kau bilang aku ini begitu kritis dan idealis. Sampai berani mengedepankan Jauce. Kau kagum terhadap diriku yang cerewet bilang bahwa, sebuah karya akan bagus dan menakjubkan bukan karena penulisnya sudah terkenal, melainkan oleh ada banyaknya penikmat sastra yang kritis. Tapi aku juga merasakan apa yang kamu rasa. Kau tahu? Saat kau menambahkan pernyataanku saat itu, mataku seakan tak mau berpaling dengan kecantikanmu dan kefasihanmu dalam berbicara. Saat itu hatiku terasa berdegup kencang melihat bibir eksotismu yang merah sempurna dengan polesan lipstick cherry. Terlihat manis. Meskipun kelihatan chubby, justru itulah daya tarik yang membuatku penasaran untuk mengenalmu lebih jauh.

Kau bilang namamu Prinses. Oh ya Tuhan, memang kamu seperti bidadari. Sungguh. Aku menimpali tantanganmu. Karena aku tahu penambahan yang kau berikan itu, terdengar seperti genderang yang bertalu-talu, menantang untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi. Ya, kita berdua -dengan nada lugu yang sedikit nyeleneh- membredel penyaji dengan segudang pertanyaan dan pernyataan. Sambil sekali aku memandang wajah ovalmu yang bagiku mirip dengan wanita-wanita oriental, kusambung bahwa gaya yang dipakai penulis dalam puisinya -yang bagiku baru dalam dunia perpuisian kita, pernah muncul dalam khazanah syair oleh salah satu penyair sebelumnya. Namun ajaib! hasilnya berbeda. Kau lihat aku dengan matamu yang berbinar bak kejora dalam pekat malam dan tak sengaja kita berpandangan. Kau tahu? Aku merasakan aliran darahku mengalir deras! Terbesit dalam hati “mengapa bisa bersamaan? Apa kau sengaja menuggu moment itu, supaya saat mataku memandang wajahmu lalu dengan bersamaan sengaja kau luruskan juga dua bola ajaib itu ke arahku”

Kubuka lembaran yang ke dua, aku terhenyak. Akulah lelaki pertama yang bisa meluluhkan hatimu. Aku suka tulisanmu. Hingga tak terasa air mata tumpah bercucuran. Ada rasa sesal. Mengapa akhirnya, jalan itu yang kau ambil.
Memang. Malam itu aku duduk di kafe dan minum secangkir kopi hitam kesukaanku. Wanita yang duduk di sampingku itu adalah teman kerja di kantor. Dia gadis bebas. Kau bisa lihat sendiri. Pakaiannya nyentrik serba ngetat dan mini. Ayahnya baru meninggal. Kondisi dia waktu itu sedang guncang. Bukan berarti bermesraan jika kami berbincang berdua sambil minum secangkir kopi. Hanya karena aku prihatin, dan mencoba menghiburnya. Dengan menjadi teman ngobrol semalaman. Apakah itu salah?

Kau bilang aku pengkhianat. Sama dengan lelaki bajingan lainnya. Yang bisa mempermainkan perasaan wanita. Oh iya, waktu itu kau tak disengaja pergi ke kafe itu. Melihat semua kejadian yang dengan seketika kau simpulkan hanya dari sudut pandangmu bahwa aku seorang bajingan. Oh itu sungguh tak adil.

Ingat, sayang. Tak semua lelaki bajingan. Kau terlalu terburu-buru dan ceroboh adili aku. Coba kau pandangi langit malam. Bintang dan bulan terlihat sama ukurannya dengan bola matamu bukan? Seakan mereka bisa masuk dalam genggaman tanganmu yang halus. Seolah mereka bisa bergantian menggantikan matamu itu (dengar, bukan berarti aku lebih mengagumi bintang-bintang daripada matamu yang indah itu, ini hanya perumpamaan saja). Lalu, jika kau mau, perhiasan langit itu bisa kau letakan di matamu. Tapi pengetahuan astronomi membuktikan kalau mereka sama besar seperti bumi yang kita pijak. Bahkan ada yang besarnya seperjuta milyar dari planet kita. Hebat kan?

Penyair sensasional katamu. Gara-gara kita yang tergila-gila dengan dia dan karya hebatnya, akhirnya kita bertemu. Kau benci pertemuan itu. Menyesal. Ya, menyesal. Mengapa ada aku saat itu? Dan mengapa juga ada kamu? Kataku. Namun, bukan salahnya kita bertemu dan berakhir seperti ini. Justru kau lah yang kurang teliti. Kenapa ada suara dan bahasa jika tak kau gunakan untuk mufakat. Mencari kebenaran. Diam bukan berarti emas dalam hal ini. Sayang…

Jika tahu akhirnya akan seperti ini, tak bakalan aku menghiburnya. Walau dia merengek, menjerit dan meronta-ronta di hadapanku, biar! Biar aku menjadi binatang. Dan aku juga tak akan berkomentar waktu itu. Biar kau tak melihat dan jatuh hati padaku. Tapi semuanya menjadi berbeda. Serba menarik dan menantang. Puisi baru yang keluar dari pakem para penyair era masa kini begitu membahana. Renyah dan gurih. Ibarat kita makan tiap hari dengan tempe. Lalu makan dengan ayam goreng. Atau mungkin seperti kita yang terbiasa makan dengan ayam goreng, lalu pulang ke kampung halaman disuguhkan sayur dan ikan asin sama Ibu. Jelas terasa perbedaannya.

2 bulan 22 hari lagi. Katamu semua menjadi hancur berkeping-keping karena wanita itu. Kau lihat aku duduk berduaan di bawah sinar temaram samar-samar hitam. Kadang dipeluk hangat dan mesra, padahal dibalik pelukannya itu, dia terisak basah di kemeja hitamku. Meraung. Tak dengar? Ya memang gema musik terlalu riuh saat itu. Ditambah karena dirimu berdiri jauh di belakangku. Di depan pintu kafe yang hanya sebentar, lalu pergi berlari. Suara tangismu tak ada yang tahu, karena hujan lebat membuat dinding berdebam dan jalanan berkecipak. Tangisan temanku itu? semua orang tahu. Mereka melihat jasku yang kuyup di bagian dada bekas dia menangis.

Dalam keadaan sakit, kau deskripsikan wajahmu dalam diary ini. Mukamu pucat, matamu berubah sayu dan gelap. Seluruh badanmu mengempis berdaging tipis. Tak sebiji nasi pun kau makan. Hanya minuman alkohol yang memenuhi perutmu. Kau tergopoh-gopoh berjalan ke sebuah apotek. Tengah malam. Ya, tengah malam, pelan dalam sunyi. Kau takut bertemu denganku. Kenapa? Kau selalu menghindar, handphonemu tak bisa menermia telepon hanya dariku saja. Kau alihkan. Kukirim pesan selalu saja pending.

Pantas saja aku tak bisa menemuimu, merawatmu. Itu kau yang larang. Semua seakan tidak terjadi apa-apa. Kau sembunyikan semua. Hingga kabar itu terdengar lembut dan pelan masuk ke telingaku, menjalar dan menyebar perlahan seperti ruh pengambil nyawa. Saat itu semua terasa hancur. Puluhan botol minuman alkohol, suntikan, dan pil berwarna kuning mematikan tercecer di dekat tubuhmu. Dari mulutmu yang keunguan keluar busa-busa yang mampu membuat jantungku terasa copot dari tempatnya.

Namun, itu tak lebih membuatku syok. Yang membuatku tak percaya setengah gila, ketika Almarhumah Ibumu mendatangiku. Dan menunjuk sebuah buku diary milikmu. Kebetulan saat itu aku sedang memutari rumahmu. Buku itu kubawa dan kusimpan di kamarku. aku sudah lelah mencarimu. Mungkin saja dengan buku diary ini, kau akan mendatangiku.

Saat ini sudah tak berarti lagi dirimu dan cintamu. Yang pasti, aku tak rela dijebloskan ke neraka tanpa pengadilan. Aku akan menuntutmu! Bukti? Aku masih ingat malam itu kau memberiku buku kumpulan puisinya James Joyce disertai satu botol minuman soda!
Dimanakah kau?

17 Juli 2014 Sawahkurung, Bandung.

Cerpen Karangan: Jajo Sarwa
Blog: jajosarwa.blogspot.com

Cerpen Lady’s Diary merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjuangan Sang Benalu

Oleh:
Setiap Pagi rasanya di sekolah berasa indah sekali, menikmati kehidupan remaja yang masih duduk di bangku SMA, yang bisa dibilang masa terindah untuk merasakan yang namanya cinta. Namun semua

Hidupku Hancur Karena Sahabat

Oleh:
Namaku Erena Claudia Vindy, aku mempunyai sahabat bernama Sita Devi. Kita berdua kelas 1 SMP di salah satu sekolah terfavorit di Jakarta. “Ren Ke kantin yuk” ajak Sita. “Hmm…

Nesha, Memandang Langit

Oleh:
“Kenapa?” Ia terkejut mendengar apa yang baru saja aku sampaikan padanya. Matanya menatapku lebih tajam. Aku bisa menangkap maksud dari guratan wajah yang ditampakkan tepat di mukaku. Kuhentikan sejenak

Hati yang Terluka

Oleh:
“Jangan pergi! Tolong tetaplah tinggal!” seru Reina meraih tangan lelaki bertubuh tinggi tegap. Matanya nampak berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya itu. Sementara pria tersebut hanya diam tak menyahut apapun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *