Lagu Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 20 January 2017

“Aku terlahir dan hadir, tiada lain hanyalah untukmu, kutercipta dan ada ka’rna kaupun selalu ada, satu yang kupinta darimu, tetaplah seperti yang dulu, selalu setia menanti hadirku…”

Itu sepenggal lagu yang sering dinyanyikan Dion setiap pagi. Tak jarang membuatku sakit kepala. Kupandangi wajahnya dari balik kaca rumahku. Nampaknya ia terlihat bersemangat pagi ini, namun lain halnya denganku. Aku merasa agak terganggu dengan suaranya itu, aku tau dia itu jago dalam urusan bernyanyi tapi kalau bernyanyi tanpa jeda kan bisa-bisa sakit juga telingaku ini.

Inginku membungkam mulutnya dan melabraknya, tapi selalu saja mama dan papa melarangku entah karena apa? Mama selalu bilang “Sudah biarkan saja” entah mengapa mama selalu membelanya bahkan terlalu membelanya.

“Tapi ma, aku udah nggak tahan lagi. dari pagi, siang, sore, sampai malem kenapa dia nyanyi terus, apa mulutnya nggak cape apa?” Keluhku pada mama.

“Udahlah, dengerin aja. Lagian suaranya kan bagus banget” lagi-lagi mama membelanya. Aku tak habis fikir mengapa semua orang membelanya apa sih istimewanya dia? Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah mendengarnya bernyanyi dan lama-kelamaan akhirnya aku terbiasa juga.

Tak jarang lagunya itu membuatku tersenyum sendiri entah karena apa? Ataukah karena dia yang bernyanyi ya! Entahlah.

Pagi ini tepat pukul 05:00 wib aku telah terbangun, ya bisa kalian tebak aku dibangunkan oleh suaranya Dion yang makin hari makin merdu aja.

“Salahkah diriku yang tak bisa, menggantikan dirimu dalam hatiku, aku tlah mencoba terusku mencoba namun tak bisa, hanyalah dirimu yang s’lalu ada, di hati ini hingga akhir bersamaku, aku t’lah mecoba terus ku mencoba namun tak bisa, aku tak bisa, aku tak bisa melupakan…mu”

Aku melangkahjan kakiku menuju kaca yang masih tertutup oleh kain gorden, aku agak membukanya. Terlihat wajah manisnya yang telah membuatku kagum akan dirinya.

“Eh Mel ngapain kamu ngumpet disitu?” Tanya Dion membuatku terbentur ke kaca karena kaget.
“Ngagetin aja sih kamu, nyanyi lagi dong”
“Nggak ah, entar kamu marah lagi” jawab Dion agak tersenyum.
“Enggak kok, aku nggak marah, ayo nyanyi lagi, satu lagu lagi ayolah” rengekku padanya.
“Oke. Tapi ini udah jam 05:00 lebih loh entar kamu telat lagi”
“Ayolah” aku masih membujuknya agar dia mau menyanyikan satu lagu lagi untukku.
“Oke, tapi kamu jangan di situ. Keluar dong. Kamu ke balkon rumah aja ya” pinta Dion agak terpaksa.
“Kok ke balkon?” Tanyaku membuatnya menggaruk kepalanya.
“Ya iyalah ke balkon, emang kamu nggak lihat aku ada di mana? Udah cepetan sini” ucap Dion agak ketus.
“Iya deh iya” jawabku yang segera melangkah menuju balkon tuk mendengarnya bernyanyi.

Kali ini lagunya dadali yang ia nyanyikan bersamaku. Kenapa perasaanku makin aneh saja dan kini aku pun tau apa yang ia rasakan. Apa lagi tentang penyakit yang dideritanya, sungguh membuatku menangis, dan tanpa kusadari aku makin dekat dengannya.

“Kirain kamu nggak jadi kesini?”
“Ya tentu aku pasti kesini dong kan aku udah janji sama kamu” ucapku agak tersenyum simpul.
“Nih aku ada hadiah untukmu, et jangan dibuka di sini, buka di rumah kamu aja ya, aku malu hehe”
Entah mengapa sikap Dion begitu aneh padaku, terlihat ada hal penting yang akan ia katakan tapi apa?
“Isinya apaan sih?” Tanyaku penasaran apa lagi melihat gerak-gerik Dion yang agak aneh padaku.
“Eh ada kak Meli rupanya, tumben kak Meli ada di sini jangan-jangan”
“Jangan-jangan apaan sih, anak kecil diem aja deh. Sana maen yang jauh sana” ucap Dion mengusir adiknya yang tiba-tiba datang memecah konsentrasinya.
“Ya deh kakakku yang bawel” jawab Dania yang segera pergi meninggalkanku bersama dengan Dion yang tengah duduk di kursi roda.
“Kasar banget sih kamu, kan dia kasihan”
“Biarin aja, lagian aku cuma mau satu hari ini sama kamu aja, bukan sama orang lain karena aku mau bilang sesuatu tentang apa yang saat ini aku rasakan”
Aku diam tak mengertikannya.
“Sebenarnya aku mau bilang, tapi kamu harus janji terlebih dahulu padaku”
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Iya aku janji”

Dion segera bersandar di bahuku, entah apa yang ingin ia katakan padaku.
“Terima kasih ya karena kamu selama ini mau nemenin aku, merawatku, menjagaku, aku tau kamu melakukan ini semua karena terpaksa bukan! Tapi aku janji setelah ini aku tak akan dan tak akan pernah mengganggumu lagi, aku telah capek. Aku udah lelah aku lelah Mel, aku mau tidur aja” ucap Dion membuatku diam dan menundukkan wajahku. Aku tau selama ini aku terlalu berpura-pura tapi itu dulu sebelum aku tau sifatnya padaku.
“Jika aku sampai tak bangun lagi, setidaknya aku masih bisa bersama orang yang paling aku sayangi” ucap Dion memandang wajahku dan perlahan lahan memejamkan matanya. Entah mengapa air mata ini mengalir setelah aku tau Dion telah tiada.

Mengapa aku bodoh bahkan tak mengerti apa maksud dari lagu lagu yang ia nyanyikan, sekarang apa yang bisa aku lakukan tanpa dia di sampingku. Memang benar kata orang penyesalan pasti datang terlambat.
Kini hanya lagu terakhir inilah yang bisa mengingatkanku padanya.

Cerpen Karangan: Sri Ambar
Facebook: Sri Ambar

Cerpen Lagu Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

Kegagalan

Oleh:
Perlahan ku buka sampul binder dari dalam tumpukan baju dalam lemari ku. Di lembar pertama terlihat jelas tulisan lamaku, sebuah kisah luka dengan gambar “Teddy Bear” di pojok kanan

Hari Ulang Tahun Alma

Oleh:
Gadis itu terduduk lemah ditempat tidur mewahnya pandanganya kosong seketika itu juga ia menangis seperti pungguk merindukan bulan. Alma itulah nama gadis itu gadis berwajah manis berambut hitam lurus

Aku Mencintai Kamu

Oleh:
Namaku kiki, aku bersekolah di SMAN 17 Makassar, aku mendapat kelas X6. Awal masuk SMA aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku tapi ada satu orang cowok yang betul-betul berbeda saat

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Hidupku selalu tertawa, ceria berubah temtram ketika melewati pasar malam sejak kecil gue doyan ke pasar malam tapi gue selalu menanti datangnya teman kecil gue… yang punya janji ngejagain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *