Last Valentine

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Aku hanya seorang wanita yang juga ingin merasakan kebahagian. Kebahagian yang aku butuhkan sangat sederhana. Aku hanya ingin merasakan indahnya hari Valentine, bersama orang yang aku sayangi. Aku masih ingat terakhir kali aku bisa merasakan Valentine. Saat itu tanggal 25 Januari, aku mendapat kartu undangan untuk merayakan Valentine day. Aku benar-benar merasa bahagia, kebahagiaanku ini tidak bisa ku gambarkan dengan jelas. Rasanya seperti ada kembang api di dalam hatiku, tetapi itu hanya sesaat. Karena Mama dan Papa tidak mengizinkanku untuk ikut. Mereka mengatakan kondisiku yang masih memburuk.

Aku baru saja menjalani operasi dan opname untuk penyakitku ini, penyakit yang sudah menggerogoti jiwaku ini selama 6 tahun dan hingga sekarang saat umurku 17 tahun. Dimana pada umurku yang ke-17 aku ingin merasakan indahnya Valentine. Mereka mengatakan itu bisa membahayakanmu, mereka juga mengatakan bahwa mereka mengkhawatirkan kondisiku. Dan aku tahu itu, tetapi apa mereka tidak mau melihat anaknya ini bahagia. Hanya itu kalimat yang selalu aku ucapkan di saat-saat aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, menurut mereka ini cukup egois. Tapi tidak untukku karena bagiku ini adalah hakku, hak untuk bisa bahagia.

Hingga pada hari menjelang Valentine, aku mendengarkan kabar bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Pada saat itulah aku melihat Mama dan Papaku menangis, dan entah kenapa aku merasakan setetes demi setetes air mataku ke luar dari mataku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku hanya bisa menangis dan meratapi keadaanku ini. Di saat aku membutuhkan sebuah kata-kata penyemangat, orang yang aku sayangi tidak ada orang yang spesial untukku. Mama dan Papa tentu saja memberiku semangat dan menenangkanku, tetapi dia kekasihku tidak ada. Baru saja kemarin dia memutuskan hubangan denganku, dengan alasan yang tidak begitu berarti, “Maaf aku tidak bisa bersamamu.” hanya itu yang terucap dari mulutnya. Aku merasa bahwa takdir telah membuat sakit perasaanku.

Pada saat Valentine kondisiku memburuk. Aku batuk darah, Mama khawatir melihatku, saat itu aku masih ingin untuk datang ke pesta Valentine. Tapi Mama terus memintaku untuk tidak ke sana, tapi aku telah membuat janji dengan semua teman-temanku. Hingga akhirnya, Mama mengizinkanku dengan satu syarat mereka harus ikut untuk menemaniku. Awalnya aku tidak mau karena di sana ada banyak orang yang menemaniku, tapi akhirnya aku menyetujuinya. Valentine memamang benar-benar indah dan meriah sama seperti yang banyak orang bicarakan. Bahkan apa yang aku harapkan tentang Valentine tidak sebanding dengan ini, ini semua very beautiful. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang. “Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.” Aku merasa senang tapi kesenanganku ini tak bertahan lama, ketika rasa pusing dan keluarnya darah dari hidungku membuatku merasa khawatir campur dengan perasaan takut.

Saat itu aku merasa kalau aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku ini, rasanya berat, berputar-putar, dan lain-lain. Saat aku membuka mataku aku melihat kedua orangtuaku menangis di sampingku, aku mencoba untuk menenangkan mereka, “Mama Papa jangan nangis entar aku jadi ikutan nangis, Mama Papa pernah bilang sama aku untuk jadi orang yang kuat. Dan sekarang aku sudah menjadi kuat kan, Pa Ma? Makasih ya, Ma, Pa aku seneng banget walau ini terakhir kalinya aku bisa merasakan Valentine, aku seneng banget.” mereka hanya mengangguk dan terus menangis.

Tepat saat itu aku melihat kekasihku bersimpuh di dekatku, “Maafkan aku, aku telah membuatmu terluka, aku sangat menyesal. Aku mencintaimu, aku sayang sama kamu, aku mohon bertahanlah setidaknya untukku. Kita pernah saling berjanji untuk membangun keluarga kecil kan? Sekarang mari kita wujudkan itu semua. Ku mohon bertahanlah!!!” Entah kenapa badanku mulai semaikn lemah, aku merasa semua energiku telah terkuras habis. Aku terus mengumpulkan sisa-sisa energiku untuk tersenyum ke orang-orang yang aku sayangi hanya satu kata yang aku ucapkan, “Tersenyumlah.”

Saat itu senyum manis dengan lesung pipi menghiasi wajahku. Lalu aku terlelap di pelukan orang-orang tersayangku. Kepergianku memberi luka yang mendalam untuk keluargaku, dan juga orang-orang terdekatku. Aku pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan manis, yang terus terukir di hati mereka. Aku hanya bisa berharap mereka semua bisa kuat dalam menghadapi semua ini. Hanya sebuah kata-kata yang tertinggal untuk mereka.

“Tersenyum bukan berarti dia tidak memiliki masalah. Tetapi dia hanya berusaha untuk menutupi semua masalahnya dengan tersenyum dan terus tersenyum. Hanya untuk membuat orang-orang yang disayanginya bisa lebih tenang. Tersenyumlah.”

Cerpen Karangan: Safna Ayu Trisvani
Facebook: Sa Fna
Nama: Safna Ayu Trisvani
Tanggl Lahir: 24 Mei 2001
Star: Gemini
Gen: Cewek
Cerpen pertama semoga mengesankan. Paling gak suka sama orang yang suka ngepoin profil aku. Aku bukan tipe orang yang mudah akrab.

Cerpen Last Valentine merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Little Thing

Oleh:
Angin berhembus kencang mengibarkan rambut hitam panjangku. Desiran ombak terdengar di telingaku. Matahari tampak di ujung sana segera menghilang. Ku pegang erat sebuah kalung kerang di tanganku. Butiran air

Destiny

Oleh:
Tahun 2000 Malam begitu sunyi, meskipun banyak beribu bintang di langit, namun tak dapat menggantikan sinar sebuah mentari, dan seperti layaknya malam, yang identik dalam gelap yang menakutkan bagi

Payung Untuk Lael

Oleh:
Aku berdiri di depan jendela kaca. Pandanganku menerabas ke luar. Terdampar pada pinus-pinus di pucuk bukit yang perlahan ditelan kabut. Bintik air bertebaran seperti serbuk. Apa mungkin akan hujan?

Menuju Senja

Oleh:
Matahari senja terlihat begitu jingga di ufuk barat, indah. Suara gemuruh ombak kian terdengar, seolah menjadi nyanyian damaiku di senja kala ini. Aku masih termangu, menunggu lelakiku yang tak

Malam Berkabut Putih

Oleh:
Keheningan ini menciptakan sebuah kesunyian yang menyayat kalbu. Ku coba resapi lagi nafas yang masih memburu ini. Ku coba mengheningkan betapa malangnya nasib pagi ini. Aku berlari menerobos pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *