Lelaki yang Kehilangan Cintanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 12 September 2020

Ahad malam, agaknya memang menjadi ritual bagi lelaki itu mengalunkan musik merdu nan lembut di tepian pantai lantaran kenangan terindah dalam hidupnya telah terkubur dalam-dalam di balik karang-karang laut. Ingin kudekati lelaki itu, namun melodi-melodinya mengisyaratkanku agar tetap duduk tenang memandanginya.

Lelaki itu konon adalah manusia paling berbahagia di kampungku, di tepian Selat Malaka. Kononnya begitu. Tak lama setelah angin darat berhembus, kebahagiaan itu ikut tertiup, melayang entah kemana, minggat dan melambung jauh dari lelaki itu. Hal itu terjadi lantaran cintanya kalah bersaing dengan adat istiadat keluarga sang mempelai.

Pernah suatu kali waktu aku kerja di pasar sebagai kuli angkut, kupandangi lelaki itu dengan gadisnya, bersepeda, berkeliling, beli itu beli ini, apapun itu asalkan keduanya bisa bersama, tak peduli dengan krisis moneter yang melanda. Keduanya kelihatan bahagia. Di taman kulihati lelaki itu memainkan gitar, melantunkan “Bukan Rayuan Gombal” karya Judika, berpuisi, berpantun, ah memang tak terbilang seninya, merayu perempuan itu sejadi-jadinya. Perempuan itu pun tersipu malu, mukanya memerah, tak kuat mendengar rayuan-rayuan itu untuk pertama kali dalam hidupnya. Wajar saja, suara lelaki itu memang bukan main, belum lagi skill-nya dalam memainkan gitar, macam John Lennon.
Pernah aku tak sengaja mendengar puisi lelaki itu untuk gadisnya. Indah nian.

Bidadariku
Wahai dikau yang turun dari kahyangan
Tidakkah di bumi ini engkau bosan?
Apakah kau sedang kehilangan
selendangmu yang cantik nian?
Biarlah itu kucarikan

Adapun gadis itu tak cuma diam tersipu malu. Ia membalas.

Singgahsana
Tak usahlah repot kakanda
Biarlah selendang itu sirna
Kahyanganku bukanlah di atas sana
Atau di negeri Atlantis sana
Biarlah hati kakanda
Kujadikan singgahsana

Mereka memang pasangan yang serasi, namun keduanya belum diikat oleh janji suci. Keduanya bermaksud mengadakan itu, namun kondisi kantong mereka tak mendukung. Lelaki itu pun membanting tulang. Pernah lelaki itu berkerja seharian di pasar, jadi kuli angkut, sama kayak aku, tukang sampah, tukang parut kelapa, tukang cuci piring, pelayan kedai kopi, kedai tuak, dan banyak pekerjaan lain yang tak bisa dibilang. Kalau pasar lagi tutup, lelaki itu pergi melaut, tak takut dihempas keras gelombang. Atau kalau laut lagi mengamuk, dia tak segan-segan jadi pengganti primata yang dipakai orang kampungku untuk memetik buah kelapa setinggi gedung pencakar langit. Semua itu dilakukannya untuk mengais rezeki. Nantinya uang itu digunakan untuk membeli cincin permata, mengajak gadis itu ke pasar malam, dan melamarnya di bawah sinar rembulan. Rencana yang matang.

Isnin sampai Jumat merupakan waktu bagi mereka untuk berkirim dan berbalas surat, karena pada waktu itu mereka berdua sibuk bekerja, sehingga tidak bisa saling bertatap wajah. Sedangkan Sabtu dan Ahad adalah waktu bagi mereka melampiaskan kerinduan mereka, berkencan, dan berkeliling kampung. Namun 13 hari belakangan, mereka tak melakukan ritual itu. Lelaki itu memang sengaja, lantaran di hari ke-14, ia ingin membonceng gadis itu ke pasar malam dan melamarnya disana. Semacam kejutan, walaupun orang-orang di kampung ini buta akan kejutan.

Dengan kemeja safari yang rapi dan cincin permata di saku kanan celananya, lelaki itu datang ke rumah gadis itu dengan sepeda ontelnya. Tiba disana, ia terkejut melihat orang-orang berjubah hitam dengan membawa tiang kayu, tali rami, dan ada yang membawa barang-barang sakral. Lelaki itu mencoba memanggil gadis itu. Namun yang keluar bukanlah dia, calon isternya itu. Pria tua bermuka layu, macam tak dikasih makan seminggu keluar dari rumah gadis itu. Ia tak lain adalah ayahanda gadis itu.

“Pulang kau, tak ada lagi cinta untukmu. Cintanya sudah sama yang lain.” Pria itu mengatakan demikian, bermaksud memberikan cinta anaknya kepada yang lain dengan cara menumbalkannya kepada dewa mereka. Menurut tradisi mereka, kalau ingin meminta sesuatu secara instant dari dewa, maka mereka harus mempersembahkan perjaka atau perawan di tepian pantai, diikatkan hidup-hidup di sebuah tiang setinggi enam meter yang didirikan sejauh enam meter dari bibir pantai, dengan tinggi permukaan laut enam sentimeter, dan harus pada bulan ke enam, Juni. Makin bagus paras korban itu, maka makin cepat dewa mereka mengambil dan menerima korban itu. Hal ini terpaksa dilakukan ayah gadis itu lantaran utang mereka yang segunung dengan tuan tanah.

Tak mau melihat orang-orang disitu naik pitam, lelaki itu pun pulang dan bermaksud untuk datang ke pantai dimana gadis itu akan dikorbankan untuk menyelamatkannya. Dia pulang.

Gadis itu ditenteng ke pantai, diikat di tiang kayu, ditancapkan dan dibacakan mantra-mantra oleh orang-orang berjubah hitam itu. Selesai ritual, gadis itu dibiarkan saja sampai subuh, supaya dewa tak malu-malu mengambil gadis itu.

Lelaki itu tak tinggal diam. Dia menghampiri gadis itu di tengah malam unuk menyelamatkannya.
“Kakanda”, ujar gadis itu lemas.
Lelaki itu pun membuka ikatan tali gadis itu, namun sesaat mau selesai, tombak dan panah menghujani mereka. Dengan segala kelihaiannya, lelaki itu berhasil menghindar dari panggilan malaikat maut. Namun lain halnya dengan gadis itu. Anak panah tepat menusuk jantungnya, tak dapat diselamatkan lagi. Orang-orang berjubah hitam itu tiba-tiba datang dengan tombak yang banyak. Sengaja dibunuhnya gadis itu, kalau tidak, dewa mereka akan murka dan kampung itu akan mendapat bala bencana.

Lelaki itu tak kuat, dia ingin menangis sekeras-kerasnya. Dia kabur dengan berlinang air mata. Di hari itu, ia baru saja kehilangan belahan jiwanya. Oleh karena itu setiap Ahad malam ia bernyanyi di bibir pantai, untuk mengenang masa-masa indah dalam hidupnya.

Waktu aku asyik duduk menikmati alunan melodi harmonika lelaki itu, tiba-tiba malam menjadi sunyi, hanya suara jangkrik yang melukis malam itu. Aku penasaran, ingin kudekati lelaki itu, mencari tahu kenapa dia berhenti mengumandangkan nada-nada galaunya itu.

Waktu kudekati, dia sudah pergi jauh, menuju ke pantai, dan aku hanya memandangnya dari kejauhan. Namun dia tidak sendirian. Sekumpulan orang menentengnya, mengikatnya ke tiang kayu, dan menancapkan kayu itu ke pasir pantai. Yang kuperkirakan, tiang kayu itu setinggi enam meter, didirikan sejauh enam meter dari bibir pantai, air laut yang setinggi enam sentimeter, hari itu tepatnya di bulan keenam, dan orang-orang itu semua berjubah hitam.

Cerpen Karangan: John Jovi Sidabutar
Blog / Facebook: John Jovi Sidabutar

Cerpen Lelaki yang Kehilangan Cintanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Bersamamu (Part 2)

Oleh:
Drrttt.. Tak lama kemudian aku mendengar getar dari Hp ku. Aku rasa orang tadi membalas pesanku. ‘Ini aku adnan, Kanaya’ aku mengerutkan kening. Kanaya? Batinku. Untuk apa ia menghubungiku

Penculikan Termanis

Oleh:
Saat kau mencintai seseorang, apa yang akan kau lakukan? Tiga tahun yang lalu, aku pernah menyatakan cinta kepada seseorang. Wanita tentunya. Dia bernama Juli dan dia cantik. Maksudku sangat

Liontin Niken (Part 1)

Oleh:
Berita itu pun kini sudah sampai di telinga Niken, bahwa kekasihnya, Rio, mengalami kecelakaan di jalan perempatan Sirandu, Kota Pemalang. Niken yang sedang mengerjakan tugas UAS di rumah salah

Perempuan Dalam Foto Itu Tersenyum

Oleh:
Setelah lama memandang sebuah foto di tangannya, laki-laki itu sadar hari sudah memudar. Maka dia beranjak turun dari kamar, bergegas menuju warung yang ada di bawahnya. Langkahnya sedikit goyah

Rindu Senja (Sebelum Senja Part 2)

Oleh:
“Terkadang hidupku, hidupmu dan hidupnya saling berhubungan. Terkadang hidup ini tak menentu dan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang juga hidup ini tak kita mengerti. Namun bagaimanapun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *