Lembayung Perindu Mentari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Hari yang cerah, cukup untuk membuatku melupakan berbagai masalah percintaan dan kehidupan. Saat ini, aku hanya ingin berdua dengan-Nya. Menikmati hidup dan menceritakan semua keluhan yang aku rasakan. Cukup berat memang, tapi aku tahu Dia Maha Penguat.

Namaku Vina, aku terlahir dari sesosok wanita kuat dan hebat yang tidak pernah mengeluh akan kejamnya kehidupan. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan satu adik perempuanku. Keluarga kecil memang sangat membuatku bahagia dibanding dengan banyak anggota keluarga tetapi susah untuk mendapatkan satu pemahaman. Ibuku selalu bicara, bahwa dengan siapapun kita hidup dan tinggal, kita harus mempunyai prinsip “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” maksudnya jika kita hidup dengan siapapun kita harus bisa menyesuaikan diri, tidak boleh egois. Aku tahu kenapa ibu bilang seperti itu, karena ibu telah merasakan bagaimana sulitnya tinggal bersama orang lain dan tidak pernah bisa sepemahaman. Hanya keegoisan yang selalu diutamakan. Ibu pun selalu menasehatiku tentang masalah percintaan hingga kehidupan yang sebenarnya. Dia tahu bagaimana cara agar dia bisa kuat dalam masalah percintaan.

Bicara masalah cinta, Januari tahun lalu aku dipertemukan dengan seorang pria yang terlihat cukup baik. Dia memiliki banyak teman dan kerabat hingga membuatku berpikir bahwa dia memang pria baik-baik. Satu bulan sudah aku dekat dengannya. Saling berbagi cerita tentang kehidupan, saling meminta saran untuk sebuah masalah. Ya, kini aku merasa nyaman bersamanya. Aku tahu, kedekatan kami tak lebih dari sekedar pertemanan. Tetapi apakah salah jika aku menaruh hati pada pria ini.

Dua bulan berlalu, aku sama sekali tidak pernah menyangka tentang perasaan dia. Aku kira semua perhatian dan kenyamanan yang dia ciptakan hanya rasa persahabatan. Tapi ini lain, dia mengungkapkan perasaan itu, sama persis dengan perasaan yang aku rasakan, yaitu cinta. Tak lama setelah dia mengungkapkan perasaannya padaku dan aku mencoba mempertimbangkannya, akhirnya kami resmi menjadi sepasang kekasih.

Dua bulan sudah, kami menjalankan hubungan ini, dan aku rasa semuanya baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, kami mulai saling terbuka mengenai kepribadian masing-masing. Aku dengan kecerewetanku, kebawelanku, dan dia dengan sikapnya yang ramah tamah dan pemalu. Kami nyaman dengan sikap kami masing-masing tanpa pernah ada salah satu dari kami yang keberatan dengan sepribadian itu.

Tidak terasa hubungan kami sudah menginjak satu tahun. Aku merasakan perubahan sikap dia yang sulit didefinisikan. Aku semakin tidak mengenal dengan sikap dia yang dulu, dan soal perasaanya padaku mulai semakin berkurang. Tapi apa penyebab dari semua ini? Apa dia sudah tidak mencintaiku? Ah, entahlah. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Sebulan setelah aku mencurigai perasaan itu, ada hal yang mengganjal di hatiku. Hal ini semacam hal aneh yang sulit aku uraikan. Aku mencari jawaban dari berbagai sumber tetapi tidak ada yang mengetahui hal ini. Hingga pada suatu hari, aku menemukan jawabannya sendiri. Dia tampak asing dan berbeda. Dia semakin berubah dengan kepribadiannya. Dia mulai menjauh dan tidak ingin lagi bertemu denganku. Semua itu sebab, dia telah menemukan hati yang lebih sejuk dibanding hatiku ini. Dia telah melihat lembayung yang lebih mempesona daripada aku. Bagaimana aku menghadapi masalah seperti ini? Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Sehingga aku sulit untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini.

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk mengambil keputusan sesulit ini. Walau hati terasa sakit, hidup terasa perih, aku tahu ada Sang Penguat yang akan menguatkan hati ini. Aku mengambil jalan terbaik, yaitu dengan mengakhiri hubunganku dengannya. Meski terasa berat bagiku untuk memutuskan hal ini, tapi itu harus. Aku harus memulai hidupku dengan kehidupan baru tanpa mentari yang menjauh dari lembayung. Tanpa bintang yang menghilang dari penglihatan sang rembulan. Aku sekarang sadar, mengapa ibu selalu cerewet terhadap masalah percintaanku. Karena ibu tidak mau, anak perempuan kesayangannya merasakan apa yang telah dia rasakan dulu mengenai percintaan. Ibu seseorang yang selalu menasehatiku akan hal ini, tetapi aku selalu mengabaikan dan mengacuhkannya. Hingga aku sadar, bahwa semua perkataan ibu kepadaku itu semata-mata karena dia sangat menyayangiku dan tidak ingin melihat aku terluka oleh hal yang bernama cinta.

Cerpen Karangan: Taty Nurhayati
Facebook: Tatthy Nayla Azahra
Nama: Taty Nurhayati
Tempat, tanggal lahir: Subang, 12 Januari 2000
Alamat: Kp. Karang Asih Purwadadi Subang
Instagram: @ttnhayati.12

Cerpen Lembayung Perindu Mentari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


5 Hari Untuk Rania

Oleh:
Sudah 5 tahun aku mengembara di negara yang sebesar ini untuk mengejar sebuah mimpi besar yang sangat aku impikan. Ingin sekali rasanya aku pulang, tapi mimpi yang memaksaku untuk

Tersimpan Sebagai History (Part 1)

Oleh:
Hai, mungkin kamu merasa terganggu dengan pesanku saat ini, tapi aku sangat berharap kamu membacanya hingga selesai hanya untuk menghargai jempolku yang kriting akibat menulisnya, aku hanya akan membuka

My Destiny

Oleh:
09.00 am. Wanita itu membuka pintu dan berjalan menuju meja nomor sembilan seperti biasa. Aku juga tahu bahwa sekitar lima menit lagi ia akan memesan coklat panas dan menghabiskannya

Cinta Yang Terkubur

Oleh:
“sayang, buka dong pintunya” seru ibunya. Sudah seminggu ini Tina selalu murung dan enggan membuka mulutnya agar dapat berbicara. “Gak, biasanya dia kayak gitu, apa gara-gara?” Seminggu yang lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *